Novel Kebangkitan Harvey York Bab 6477 – 6478 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 6477 – 6478.
Bab 6477
Meski wanita berambut pendek itu tampak murka, ketakutan yang terpendam tetap tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya dari sorot matanya.
Getaran halus di sudut bibirnya mengkhianati kegelisahan batin yang berusaha ia tekan mati-matian.
Bagaimanapun juga, sebagai seorang seniman bela diri, ia telah menyaksikan terlalu banyak hal hanya dari satu telapak tangan sederhana.
Itu adalah simbol kekuatan.
Kekuatan yang cukup untuk menghancurkannya tanpa ampun di jalur seni bela diri.
Karena itulah, meski tubuhnya gemetar dan rasa takut menyusup ke tulang-tulangnya, status dan kesetiaannya tidak mengizinkannya menunjukkan kelemahan sedikit pun.
“Tanah Suci Seni Bela Diri?”
Harvey berbicara dengan nada datar, suaranya tenang seolah sedang membicarakan sesuatu yang tak berarti.
“Maaf, orang-orang dari Tanah Suci Seni Bela Diri tidak layak mendapatkan hormat dariku.”
“Sombong! Bodoh!”
Wanita berambut pendek itu membentak, matanya menyala oleh amarah yang bercampur kepanikan.
“Kamu sama sekali tidak tahu apa arti kata-kata ‘Tanah Suci Seni Bela Diri’!”
Saat kata-kata itu keluar, ia mengibaskan tangannya dengan kasar dan berteriak dingin, “Serang! Serang bersama!”
“Orang ini berani menyinggung Tuan Muda Wright dan menghina Tanah Suci Seni Bela Diri; dia pantas mati!”
Begitu perintah itu dilontarkan, belasan orang yang mengaku sebagai master langsung menyerbu ke depan, pedang panjang tergenggam erat di tangan mereka.
Bilah pedang berkilauan, mengeluarkan suara mendesing tajam di udara, berubah menjadi garis-garis cahaya yang tampak siap mencabik-cabik Harvey hingga tak bersisa.
Namun, menghadapi para master yang arogan dan kejam itu, ekspresi Harvey nyaris tak berubah sedikit pun.
Ia melangkah santai, berjalan lurus melewati kerumunan seolah sedang berjalan di taman yang sepi.
Plaak—! Plaak—! Plaak—!
Suara tamparan bergema berturut-turut, cepat dan tajam, namun tak seorang pun bisa menangkap gerakan Harvey dengan mata mereka.
Yang bisa mereka lihat hanyalah para master itu terlempar ke belakang satu per satu.
Setiap kali tubuh mereka menghantam lantai, jeritan mengerikan pun terdengar, memecah keheningan aula.
Melihat pemandangan ini, wanita berambut pendek itu terpaku, pikirannya seakan membeku.
Apa-apaan ini?
Memang benar bahwa dalam seni bela diri, kecepatan sering disebut sebagai senjata pamungkas. Namun tidak ada yang benar-benar tak terkalahkan.
Namun apa yang ia saksikan sekarang sudah di luar nalar!
“Kamu—”
Tenggorokan wanita berambut pendek itu terasa kering.
“Bagaimana kamu melakukannya?”
“Kamu pasti menyergapku, kamu—”
“Menyergap?”
Harvey tersenyum tipis.
“Coba perhatikan baik-baik!”
Sambil berbicara, Harvey mengangkat telapak tangannya dan melayangkan pukulan ringan.
Kali ini gerakannya tidak cepat.
Namun justru saat itu, wanita berambut pendek tersebut merasakan gelombang ketidakberdayaan yang luar biasa, seakan seluruh ruang di sekitarnya ditekan oleh kekuatan tak kasat mata.
Plaak—!
Detik berikutnya, tamparan keras mendarat di wajah wanita berambut pendek itu.
Ia menjerit, refleks memegangi pipinya, tubuhnya terlempar ke belakang dan menghantam vas porselen biru-putih lain dengan suara pecah yang nyaring.
“Kekuatan luar biasa! Tingkat ini hampir setara dengan Dewa Perang.”
Janis yang sebelumnya tidak terlalu memikirkan Harvey, kini langsung menunjukkan ekspresi serius. Wajahnya mengeras ketika satu per satu anak buahnya tumbang di tangan Harvey.
Ia menyipitkan mata menatap Harvey, lalu berkata dingin, “Aku tidak menyangka kamu memiliki kekuatan seperti ini di usia semuda ini.”
“Tidak heran kamu berani melawan Tuan Muda Wright. Rupanya, kamu memang punya kepercayaan diri seperti itu.”
“Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku salah menilaimu kali ini.”
Harvey menjawab dengan tenang, “Kurasa kamu masih salah menilaiku.”
Janis mendengus dingin. “Seseorang boleh percaya diri, tetapi jangan terlalu percaya diri.”
“Karena kepercayaan diri yang berlebihan adalah kesombongan.”
“Dewa Perang setengah langkah memang kuat, tetapi bukan berarti tak terkalahkan.”
“Kamu tidak punya kesempatan melawanku.”
Saat kata-kata itu keluar, sorot mata Janis dipenuhi rasa iba ketika menatap Harvey.
Seolah-olah di matanya, Harvey—meski berbakat dan kuat—sama sekali tidak memahami sopan santun dunia ini.
Ia tidak mengerti bahwa ada hal-hal yang layak dihormati, dan ada orang-orang yang sama sekali tidak boleh disinggung!
Singkatnya, di mata Janis, semua yang dilakukan Harvey tak ubahnya tindakan bunuh diri.
Bab 6478
“Kamu bicara seolah-olah kamu hebat.”
Harvey mengangkat bahu, ekspresinya santai.
“Bagaimana kalau kamu memberiku pelajaran?”
“Heh—”
Janis mencibir pelan, lalu berdiri dan melemparkan mantelnya ke atas sofa.
Ia melangkah maju satu langkah, dan seketika itu juga aura menakutkan menyebar dari tubuhnya, menekan udara di sekitarnya hingga terasa berat.
Tanpa memberi Harvey kesempatan untuk menyerang lebih dulu, tangan kiri Janis mencuat cepat, jari-jarinya melengkung seperti cakar elang, langsung mengarah ke wajah Harvey.
Teknik Cakar Elang Perkasa.
Namun ekspresi Harvey tetap tenang. Ia menanggapi serangan mendadak itu dengan cara yang sama—mengayunkan telapak tangannya sendiri.
Plaaak—
Pukulan telapak tangan yang tampak ringan itu menghantam jari dan telapak tangan Janis, menghasilkan bunyi gedebuk teredam yang berat.
Janis terhuyung. Pandangannya seketika mengabur, dan tubuhnya terdorong mundur lebih dari sepuluh langkah.
Pada saat yang sama, ia merasakan energi internal yang mengerikan dan merusak menyebar ke seluruh tubuhnya, menghantam organ-organ dalam tanpa ampun.
Detik berikutnya, rasa manis mengalir di tenggorokannya, dan setetes darah menetes dari sudut bibirnya.
Saat akhirnya pulih dari keterkejutannya, wajah Janis dipenuhi keheranan dan ketidakpercayaan. Ia menatap Harvey dengan saksama, seolah menolak menerima kenyataan di hadapannya.
Bagaimana mungkin ini terjadi?!
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Selama bertahun-tahun, ia mengikuti Emmery, mempelajari tak terhitung kitab seni bela diri, serta menelan banyak ramuan berharga.
Semua itu telah menempanya menjadi Dewa Perang setengah langkah di usia yang relatif muda.
Namun kini, dalam pertarungan pertamanya melawan Harvey, ia langsung dikalahkan?
Mungkinkah orang ini…?
Sebuah pikiran mengerikan melintas di benak Janis, namun segera ia tekan dengan paksa.
Menarik napas dalam-dalam, Janis menatap Harvey dengan tajam dan berkata, “Kamu jelas bukan orang biasa!”
“Identitas apa lagi yang kamu miliki?”
“Mengapa kamu menargetkan Tuan Muda Wright seperti ini?”
Dalam ingatan Janis, Emmery tidak pernah menyinggung tokoh seberbahaya ini.
Penargetan Emmery oleh Harvey pasti memiliki alasan tersembunyi.
“Tida ada alasan.”
Harvey menjawab dengan tenang.
“Posisi presiden Aliansi Bisnis Daxia berikutnya adalah milikku.”
“Jordene juga milikku.”
“Kalau kamu bisa menerima semua ini, kita bisa berpisah dengan damai.”
“Sayangnya, Tuan Muda Wright tidak mau menerima fakta yang sudah ditetapkan ini dan malah memilih menentangku.”
“Kalau begitu, aku hanya bisa melindungi diriku sendiri.”
Mengatakan itu, Harvey mengangkat bahu, seolah benar-benar tak berdaya menghadapi situasi tersebut.
“Mencoba merebut apa yang menjadi milik Tuan Muda Wright, dan masih berpura-pura polos?”
Janis berbicara dengan nada penuh pembenaran diri.
“Percayalah, seseorang seperti Tuan Muda Wright memang ditakdirkan untuk memiliki segalanya di dunia ini.”
“Siapa pun yang mencoba bersaing dengannya sama saja mencari kematian.”
“Tidak ada yang berhak di masa lalu, dan tidak akan ada yang berhak di masa depan.”
“Kamu pun tidak terkecuali.”
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Janis menjentikkan tangan kirinya.
Sebuah revolver khusus meluncur keluar dari lengan bajunya. Ia langsung menggenggam gagangnya dan menarik pelatuk, mengarah tepat ke Harvey.
Suara tembakan menggelegar, percikan api berhamburan di udara.
Sebuah peluru timah melesat lurus, mengarah tepat ke wajah Harvey.
Wanita berambut pendek dan para ahli lainnya dari Aliansi Bela Diri Daxia menyaksikan pemandangan itu dengan mata berbinar penuh harap.
Karena mereka semua tahu, senjata api di tangan Janis adalah produk khusus dari Amerika Serikat—dirancang secara khusus untuk menembus pertahanan para ahli bela diri.
Sehebat apa pun Harvey, zaman telah berubah.
Di hadapan senjata api, ia ditakdirkan untuk menjadi tidak berarti.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 6477 – 6478 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 6477 – 6478.
Leave a Reply