Novel Kebangkitan Harvey York Bab 6117 – 6118 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 6117 – 6118.
Bab 6117
Steffon menatap keadaan di depannya dengan sorot mata yang meredup, wajahnya dipenuhi kemuraman yang sulit disembunyikan.
Alisnya yang tajam menaut rapat, seakan menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri.
Melihat bagaimana ekspresi Steffon mengeras, ejekan Naoki justru semakin menjadi-jadi.
“Apa? Kejujuranku yang blak-blakan membuat murid Buddha kita terusik, begitu?”
“Marah?”
“Kamu bukan hanya memukul kekasihku, kamu bahkan berniat memukulku juga?”
“Sudahlah, jangan bilang aku tidak memberimu kesempatan.”
Naoki mendekat, begitu dekat hingga napasnya menyentuh wajah Steffon.
“Berlututlah di hadapanku.”
“Atau, pukul wajahku!”
“Cepat pilih!”
“Tiga detik sudah lewat.”
Harvey mengamati semuanya dari samping. Tatapannya dingin, tak ada sedikit pun simpati pada Naoki. Ia tahu, orang Jepang itu kebablasan dalam kesombongannya.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang Daxia?
Namun Harvey tidak gegabah. Ia hanya menunggu, membiarkan situasi berkembang.
Ia ingin melihat bagaimana Steffon menghadapi hinaan ini—ia ingin menyaksikan bagaimana tempaan hari ini membentuknya.
Dirinya tak selamanya bertahan di Saiwai; cepat atau lambat semuanya harus diambil alih oleh murid Buddha itu. Dan barangkali, kejadian seperti inilah yang dibutuhkan Steffon untuk melangkah lebih jauh.
Wajah Naoki semakin dekat. Mata Steffon berkedut, seolah ingin mengangkat tangan dan menamparnya—keinginannya hampir meledak keluar.
Namun pada akhirnya ia menahan diri.
Bertindak impulsif itu mudah.
Yang sulit adalah menerima konsekuensi setelahnya.
Dalam keadaan seperti ini, Steffon sadar bahwa jika ia menyentuh Naoki, para pembunuh Jepang yang bersembunyi di balik bayangan akan mendapat alasan untuk menyerang secara terang-terangan.
Dan mati di tempat seperti ini? Itu bukan hanya bodoh, tapi benar-benar sia-sia.
Plaak—!
Karena Steffon tak menampar dan juga tak mau berlutut, Naoki menamparnya lebih dulu. Telapak tangan itu menghantam pipi Steffon dengan suara yang membuat udara seolah berhenti sejenak.
“Murid Buddha, kamu sangat menyedihkan.”
“Kamu tidak berani menyentuhku, dan kamu juga menolak berlutut.”
“Kamu kira berpura-pura tidak tahu apa-apa akan menyelesaikan masalah?”
“Pantas saja posisimu sebagai tuan muda direbut.”
“Orang sepertimu memang ditakdirkan tidak punya hak untuk bangkit!”
Kata-kata Naoki mengalir bagai racun, menelusup ke setiap sudut ruangan. Dalam pandangannya, Steffon sama sekali tidak berharga.
Berani menampar seorang wanita, namun tak berani menyentuhnya?
Itukah sifat seorang pria dari Daxia?
Terlihat gagah, tapi tak punya keberanian sejati?
Telapak tangan merah besar menyala di pipi Steffon, sudut bibirnya meneteskan darah.
Ia tak mengusapnya, tak bergerak sedikit pun. Seluruh auranya menggelap, tenggelam dalam keheningan yang penuh tekanan.
Milda maju selangkah, lalu dengan dua pukulan cepat—satu lurus, satu backhand—ia mendampar Steffon berkali-kali. Lebih dari belasan pukulan menghantam wajah itu tanpa jeda.
“Kamu pikir kamu sangat mampu?”
“Kamu berani menamparku, ya?”
“Kamu berani menuntut bawahanku memberi penjelasan?”
“Apa? Sekarang punya masalah?”
“Kamu hanya pamer belaka!”
“Kamu terus bilang akan melawan kami sampai mati?”
“Ayo!”
“Aku ingin melihat seberapa besar amarah dirimu!”
Perkataan Milda membuat orang-orang di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa telah menyaksikan kehancuran total seorang murid Buddha.
Masih berani keras kepala dalam keadaan seperti ini?
Betapa lucunya!
Mata Steffon semakin membeku, amarahnya menebal. Tepat saat ia hendak memberikan komando terakhir—perintah untuk serangan putus asa—suara deru mesin mobil dari luar menerobos keheningan.
Bab 6118
Boom—
Pintu area VIP terlempar terbuka karena tendangan keras.
Tak lama berselang, puluhan biksu berkepala plontos menerjang masuk. Langkah mereka serempak, aura mereka tebal dan menekan, dipimpin oleh Aryon dari Kuil Xiaofeng.
Aura Aryon begitu mengerikan hingga udara seolah bergetar. Dengan suara yang mengguncang ruangan, ia berteriak penuh kemarahan, “Bajingan mana yang berani menyentuh murid Buddha-ku di sini?!”
“Kamu semua sudah gila?!”
Setiap biksu memegang busur panah berulang. Wajah mereka dingin, tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Ujung-ujung panah diarahkan tepat ke loteng, ke tempat para pembunuh Jepang bersembunyi.
Sedikit saja ada provokasi, panah-panah itu akan melesat.
Di saat yang sama, Aryon bersama delapan biksu kuat melaju cepat mendekati Steffon.
Melihat wajah sang murid Buddha bengkak dan terluka, raut Aryon berubah drastis—malu, marah, sekaligus terhina atas nasib muridnya.
“Murid Buddha! Apakah kamu baik-baik saja?”
“Dewa Vajra baru saja mengeluarkan dekrit!”
“Mulai saat ini, semua orang Kuil Xiaofeng—baik terang-terangan maupun diam-diam—bebas bertindak!”
“Siapa pun yang berani menentangmu akan menghadapi murka kami!”
Nada suara Aryon penuh hormat. Dukungan langsung dari Vali bukanlah hal kecil.
Bagi Aryon, seorang penganut Kuil Xiaofeng yang setia, kesempatan untuk bertindak di hadapan murid Buddha adalah kehormatan besar. Ia takkan menyia-nyiakannya.
Steffon menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja.”
“Tapi malam ini… semuanya tidak akan selesai dengan mudah.”
“Lagipula, kamu tahu alasan aku berada di sini.”
Aryon menjawab dengan sangat serius, “Buddha, tentu aku tahu mengapa kamu di sini.”
“Orang-orang ini mungkin adalah pihak yang menyerang Pondok Qiyin kita.”
“Kalau kita tidak mengurusi mereka, jika kita tidak memaksa mereka memberikan penjelasan…”
“Bagaimana Kuil Xiaofeng bisa menghadapi dunia?”
“Buddha, kamu membawa terlalu sedikit orang. Itu tidak cukup.”
“Mulai sekarang, biarkan aku yang menanganinya.”
Begitu selesai bicara, Aryon merendahkan suaranya, dingin dan menancap seperti bilah.
“Bajingan, siapa yang berani mempermainkan Kuil Xiaofeng?”
“Berani menyentuh Murid Buddha-kami?”
“Majulah sekarang! Aku bersumpah kau tidak akan lolos!”
Ucapan Aryon tidak membuat Fengchen Eric menoleh sedikit pun. Ia kembali duduk di sofa dan tersenyum pada Milda.
“Sayang, kalian dari Daxia memang menarik.”
“Tidak ada yang berani berteriak padaku seperti itu.”
“Apakah dia tidak sadar kalau murid Buddha-nya saja diperlakukan seperti anjing di hadapanku?”
“Dia? Dia bukan siapa-siapa.”
Milda mendengkus, lalu menatap Aryon dengan sorot dingin.
“Aryon dari Kuil Xiaofeng, ya?”
“Kudengar kamu cukup penting. Lalu kenapa kamu begitu bodoh?”
“Murid Buddha-mu sudah kutampar lebih dari selusin kali, dan dia tidak berani mengeluarkan suara.”
“Dan kamu? Berani berteriak padaku?”
“Tarik anak buahmu, bersujud dan akui kesalahanmu, lalu enyahlah!”
“Kalau tidak, tanpa satu pun anak buahku bergerak, aku, Milda, akan mengajarimu arti kematian!”
Milda?
Klan Osborne Barat Laut?
Mata Aryon berkedut keras.
Saat ia datang tadi, ia mengira lawannya hanyalah orang-orang Ambros—tak terlalu penting.
Bagaimanapun, Kuil Xiaofeng sudah bersiap memutus hubungan dari Sekte Bumi.
Namun ternyata, pihak yang ia hadapi adalah Klan Osborne Barat Laut?
Lebih tepatnya… Milda, pemimpin baru Klan Osborne Barat Laut?
Jantung Aryon serasa jatuh ke dalam jurang. Ekspresinya berubah kaku, penuh tekanan dan kecanggungan yang tak bisa disembunyikan.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 6117 – 6118 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 6117 – 6118.
Leave a Reply