Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5997 – 5998 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5997 – 5998.
Bab 5997
Setelah Vinson dan rombongannya pergi dengan wajah malu dan langkah berat, Harvey duduk tenang di hadapan Khalia, seolah tak terjadi apa pun.
Erno, yang sejak tadi diam membisu, segera tersadar, melambaikan tangan dan memerintahkan seseorang menyiapkan secangkir teh hangat untuk Harvey.
“Tuan York,” katanya dengan nada penuh hormat, “terima kasih sekali lagi atas bantuan Anda menyelesaikan masalah ini.”
Khalia menatap Harvey, senyumnya sedikit kaku, wajahnya menampakkan campuran antara rasa kagum dan canggung.
“Hanya saja… Vinson memang bukan orang yang mudah dihadapi.”
“Meskipun kamu kuat, aku khawatir masalah ini mungkin akan merepotkanmu.”
Harvey tersenyum tipis sambil menggeleng. “Tidak ada yang merepotkan,” ujarnya pelan.
“Kalau aku bisa menghadapinya sekali, aku juga bisa menanganinya untuk kedua kalinya.”
“Kalau dia cukup pintar, seharusnya dia tahu batasnya. Mulai sekarang, dia tidak akan berani menggangguku — juga tidak akan mengganggumu.”
Nada tenang Harvey membuat Khalia kehilangan kata-kata.
Ia bisa merasakan keyakinan mutlak dalam setiap ucapannya — keyakinan yang hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar berkuasa.
Ia tahu, pria ini bukan orang biasa. Tapi karena Harvey tidak menjelaskan siapa dirinya, Khalia juga cukup bijak untuk tidak bertanya.
Setelah menyesap teh dan berbicara singkat mengenai pengelolaan Gerbang Naga Cabang Saiwai, Harvey bangkit, bersiap pamit.
Ia tak memberi janji apa pun tentang membantu memperkuat cabang itu — hanya memberi Khalia sedikit dorongan untuk melangkah dengan bijak.
Baginya, tidak ada salahnya jika Khalia, sebagai putri tertua, ingin memperkuat cabang tersebut.
Dan kalau pun di tengah jalan muncul kesalahan atau gangguan, selama Jasmeen masih mengawasi, itu bukan masalah besar.
Harvey bahkan sempat berpikir, bila ada waktu nanti, ia akan mengajukan perintah resmi dari markas besar Gerbang Naga — agar Khalia atau Jasmeen bisa memimpin Gerbang Naga Cabang Saiwai secara sah dan terbuka.
Khalia sempat menahan kepergiannya, mengundangnya makan malam. Namun Harvey menolak halus.
Baginya, urusan hari ini sudah selesai. Jasmeen bisa mengurus sisanya.
Ia tidak peduli apakah Jasmeen sengaja menciptakan situasi ini untuk menarik perhatiannya, atau menyimpan niat lain di balik permintaan bantuan.
Ia tidak ingin terlalu dekat — baik dengan Khalia, maupun dengan segala intrik di sekitarnya.
Setengah jam kemudian, taksi yang ditumpangi Harvey mengarah kek kompleks vila Gunung Tianti.
Namun sekitar lima kilometer sebelum gerbang utama, mobil itu tiba-tiba mogok.
Sopir taksi tampak gelisah dan berkali-kali meminta maaf.
Harvey hanya menatap singkat, lalu keluar tanpa berkata apa-apa, berjalan santai di sepanjang jalan menuju kompleks vila.
Malam itu terasa aneh.
Biasanya, jalan menuju Gunung Tianti ramai oleh mobil-mobil mewah yang keluar-masuk, tapi kali ini sangat sunyi.
Bahkan lampu jalan yang biasanya terang, kini padam seluruhnya, menyelimuti jalan dalam kegelapan pekat.
Harvey menyipitkan mata. Suara mesin terdengar dari kejauhan — rendah, berat, dan berirama.
Beberapa saat kemudian, deretan Toyota Prado tanpa plat nomor berhenti berjejer.
Pintu mobil terbuka serentak, disertai suara langkah-langkah keras yang bergema di antara bayangan malam.
Dari dalam mobil keluar selusin biksu berjubah kuning, wajah mereka kaku, tatapan dingin.
Namun yang paling mencolok adalah empat sosok berjubah hitam di belakang mereka.
Langkah keempatnya lamban dan kaku, tubuh mereka membawa hawa kematian.
Meski diam, aura dingin yang mereka pancarkan membuat udara seakan membeku.
Tatapan kosong mereka mengarah lurus ke Harvey — penuh kebencian, tapi juga… kehampaan.
Harvey tersenyum samar. “Biksu Iblis Sekte Bumi, ya?”
Ia melangkah sedikit ke depan.
“Tidak terduga kalian bisa menghentikanku di sini. Tapi aku penasaran…” katanya pelan, nada suaranya seperti ejekan halus.
“Para penghuni vila Gunung Tianti kebanyakan bangsawan dan orang berkuasa. Bagaimana caranya kalian membuat mereka tidak keluar malam ini?”
Bab 5998
Biksu terdepan memandangi Harvey dari kepala sampai kaki, lalu menjawab dingin, “Sesulit itukah menurutmu?”
“Kami hanya perlu membuat alasan sederhana — perbaikan jalan, misalnya. Dengan begitu, semua kendaraan dialihkan ke jalur lain.”
“Dan ya,” ia menambahkan, senyum dingin tersungging di wajahnya, “ada lebih dari satu rute menuju Gunung Tianti.”
Harvey mengangguk pelan, seolah menikmati percakapan itu.
“Begitu rupanya.”
“Sepertinya sopir taksi tadi juga bagian dari kelompok kalian, ya?”
“Kalian sudah menungguku cukup lama.”
“Jadi, siapa kalian sebenarnya? Orang-orang Ambros, atau antek-antek Steffon?”
Suara biksu itu berubah rendah dan penuh tekanan.
“Nak, kamu sepertinya tidak tahu posisi siapa yang lebih berbahaya di sini.”
“Kamu yang terjebak, kami yang bertanya.”
“Izinkan aku bertanya — apakah kamu orang yang memaksa Penjaga Gifford berlutut dan mengakui kesalahannya?”
“Apakah kamu juga yang membuat Tuan Muda Emiel koma?”
“Atau mungkin… kamu pula yang menyebabkan Xylia kami kini duduk di kantor polisi?”
Semakin lama ia bicara, semakin kuat aura membunuhnya.
Harvey hanya tersenyum tenang. “Sepertinya memang kalian orang-orang Ambros.”
“Tapi aneh, bukankah Tuan Muda kalian sudah memperingatkan agar tidak menggangguku untuk sementara waktu?”
“Jangan bilang aku kembali merusak rencana besar kalian?”
Ia berhenti sejenak, nada suaranya menjadi tajam.
“Vinson begitu lancang sampai berani melanggar aturan dan menindas orang seenaknya. Jadi, itu rencana Sekte Bumi, ya?”
“Kalian ingin memakai dia untuk mengendalikan Gerbang Naga Saiwai?”
“Ambisi yang luar biasa…” ia tersenyum tipis.
“Kalian bahkan berani mencampuri urusan Empat Pilar.”
“Itu bukan ambisi lagi — itu resep kematian.”
Harvey menatap mereka, tatapannya dalam dan menusuk.
Ia heran, Sekte Bumi yang selama ini sudah berkali-kali menderita di tangannya, kini justru muncul lagi… dengan niat membunuh.
Berarti, ia telah menggagalkan sesuatu yang besar.
“Bagus, karena kamu tahu alasan kematianmu,”
sebuah suara serak dan berat terdengar dari dalam salah satu Toyota Prado.
Jendela mobil perlahan turun, menampakkan wajah tua penuh luka bakar.
Bekas penahbisan di kulitnya masih merah, menambah kesan menyeramkan.
Ia menatap Harvey dengan jijik, lalu berkata datar namun tajam seperti pisau.
“Di Saiwai, siapa pun yang menyinggung Sekte Bumi, tidak akan mati dengan tenang.”
“Terlebih lagi, kamu telah berkali-kali menghancurkan urusan Sekte kami.”
“Sekarang, bahkan Heinrik sendiri menuntut penjelasan dari kami.”
“Dan kami tidak ingin mempermalukan tuan kami.”
Suara pria itu semakin dingin.
“Jadi, jika kamu melumpuhkan dirimu sekarang dan menyerah tanpa perlawanan, kami akan membawamu hidup-hidup.”
“Aku berjanji — tidak akan membunuhmu.”
Pria itu tersenyum menyeringai, tapi senyumannya lebih menakutkan daripada ancaman.
Wajahnya botak, kulit kepalanya berkilat di bawah cahaya remang.
Orang itu adalah Jedd Zonder, salah satu dari dua Pelindung Dharma Ambros — dalang di balik jebakan malam ini.
Harvey menatapnya dengan santai, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Kalau kamu tahu banyak, berarti kamu juga tahu kekuatanku.”
“Kalau begitu, aku penasaran,” ia berkata pelan, tapi penuh tekanan,
“apa yang membuatmu berpikir bisa datang ke sini dan mengancamku untuk melumpuhkan diri sendiri?”
“Tidakkah kamu sadar betapa bodohnya itu?”
Pelindung Jedd mencibir dingin. “Heh, hanya karena kamu disebut Dewa Perang, kamu pikir dunia ini tunduk di bawah kakimu?”
“Anak muda, ingat — selalu ada langit di atas langit, dan selalu ada orang yang lebih kuat darimu.”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5997 – 5998 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5997 – 5998.
Leave a Reply