Kebangkitan Harvey York Bab 5947 – 5948

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5947 – 5948 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5947 – 5948.


Bab 5947

Mendengar ucapan itu, Xylia refleks menoleh tajam ke arah Harvey, suaranya melengking penuh amarah.

“Harvey, apa yang kamu lakukan?!”

Semua orang yang hadir terkejut. Mereka jelas melihat Harvey bahkan tidak mendekati Emiel, apalagi menyentuhnya.

Namun kini, Emiel justru terkulai seperti itu?

Metode macam apa ini? Sihir jenis apa yang bisa membuat seseorang roboh tanpa tersentuh?

Jika kekuatan seperti ini benar-benar ada, siapa yang mungkin mampu menandingi Harvey?

Desas-desus mengenai pembunuhan dengan kutukan memang pernah terdengar—terutama di negeri-negeri kepulauan dan Asia Tenggara.

Namun Daxia, tanah yang menjunjung kehormatan dan rasionalitas, tidak pernah dikenal dengan praktik seaneh ini.

Tak ada yang pernah mendengar seseorang mati dengan cara seperti itu di sini.

“Aku tidak melakukan apa pun,” ujar Harvey datar, seraya mengangkat bahunya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Hanya saja, energi dingin di dalam tubuh Emiel baru saja menyerang meridian jantungnya.”

“Dalam kondisi seperti itu, bahkan kekuatan batu obat pun tidak akan berguna.”

“Kamu—” Xylia terdiam, pupil matanya menyempit saat kesadaran menyergap pikirannya.

Ia akhirnya paham.

Tentu saja, ada makna tersembunyi di balik tindakan Harvey sebelumnya—saat ia meminta Emiel menekan titik di bawah tulang rusuk ketiganya.

Ternyata, si bodoh Emiel itu justru menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam perangkap Harvey.

Masing-masing dari mereka adalah pelayan yang setia pada tuannya.

Dalam situasi seperti ini, mana mungkin Harvey berniat menolong?

Dan Emiel, seolah tanpa otak, justru mempercayainya begitu saja.

Sungguh konyol—dan tragis!

Dalam hatinya, Xylia diliputi kemarahan membara. Ia ingin menerjang dan menampar wajah Harvey sampai laki-laki itu mati di tempat.

Namun di sisi lain, ia tahu betul—jika Emiel benar-benar dilumpuhkan oleh Harvey, maka hanya pria itulah satu-satunya harapan untuk menyelamatkannya.

Jika tidak, bila Emiel mati di sini, konsekuensinya akan sangat mengerikan.

Bahkan dirinya sendiri, Xylia, takkan luput dari balasan.

Saat itu, pria berjas putih yang berdiri di samping Emiel tampak pucat pasi.

Ia sudah mencoba berbagai cara penyelamatan medis ala Barat, bahkan menggunakan adrenalin—obat yang seharusnya hanya digunakan pada saat kritis.

Namun wajah Emiel tetap pucat pasi, tubuhnya melengkung seperti udang, napasnya berat dan terputus-putus.

Ia lebih banyak mengeluarkan napas daripada menghirupnya. Kematian sudah begitu dekat.

Pria berjas putih itu akhirnya mendongak, menatap Harvey tajam dengan mata memerah.

“Brengsek! Aku tak tahu apa yang kamu lakukan,” geramnya.

“Tapi aku beri kamu waktu sebentar! Selamatkan Tuan Muda Higgens, lalu kita bisa membicarakan semuanya!”

“Kalau kamu tidak bisa menyelamatkannya, aku akan menguburmu hidup-hidup bersama tuanku!”

Namun Harvey hanya menjawab dengan ketenangan yang mencekam.

“Percuma,” katanya lirih, namun tegas.

“Sejak ia memilih mempertahankan hidup dengan cara busuk—berlatih kultivasi ganda, mengorbankan ribuan nyawa wanita muda demi menunda ajalnya—akhirnya sudah ditentukan.”

“Sebagai dokter, tidakkah kamu paham pepatah: meminum racun untuk menghilangkan dahaga?”

Ucapan itu membuat pria berjas putih itu terpaku. Ekspresinya berubah, seolah teringat sesuatu yang ia enggan akui.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Xylia kehilangan kesabarannya.

“Harvey! Siapa yang butuh khotbahmu?!” teriaknya, suaranya tajam seperti cambuk.

“Kalau kamu tidak bertindak, aku akan memotongmu hidup-hidup!”

“Tuan Muda Higgens akan mati—dan kamu juga akan mati!”

“Percuma saja, Nona Xylia.”

Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu, menggema di seluruh ruangan.

Nada itu begitu familiar di telinga Harvey.

“Harvey ini memang keras kepala,” suara itu berlanjut dengan ejekan dingin.

“Dia tidak akan tunduk kecuali kita mematahkannya lebih dulu. Patahkan tulangnya! Lemparkan dia ke hadapan Tuan Muda Higgens—biar dia tahu siapa yang harus diselamatkan!”

Harvey menoleh perlahan.

Dari ambang pintu, sosok yang berdiri tegak menatapnya dengan tatapan membara penuh kebencian.

Welton York.

Sejak insiden terakhir dengan Gifford, hubungan mereka benar-benar retak.

Dan kini, Harvey tahu—Welton bukan hanya ingin menghancurkannya, tapi juga bermaksud memanfaatkan kekuatan Xylia dan Emiel untuk menyingkirkannya sekali dan untuk selamanya.

Bab 5948

Xylia dan semua orang di tempat itu sempat terpaku. Namun sesaat kemudian, mereka paham maksud Welton.

Berdebat dengan Harvey takkan menghasilkan apa-apa.

Satu-satunya cara untuk membuatnya tunduk adalah dengan kekerasan.

Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan.

Jika Harvey ingin hidup, maka ia harus menyerah.

Jika tidak—ia akan mati di tempat.

“Dasar brengsek!”

Pria berjas putih itu mendengus, jelas-jelas mendukung perintah Welton.

Ia berdiri tegak, otot-otot di tubuhnya menegang hingga jas putihnya robek berkeping-keping.

Kulitnya berubah menjadi kehijauan, matanya menyala merah padam seperti bara neraka. Dalam sekejap, wujud lembutnya menghilang, digantikan oleh sosok raksasa yang mengerikan.

Langkah pertamanya menghantam lantai seperti gelegar guntur.

Setiap gerakan membawa aura kekuatan yang mengguncang udara.

Ia bukan lagi manusia biasa—melainkan hasil eksperimen genetika, seorang raksasa buatan dari dunia Barat.

Harvey menatapnya dengan rasa ingin tahu, bukan takut.

Ia tahu, teknologi genetik Amerika memang luar biasa—mereka mampu memodifikasi otot dan darah untuk melahirkan kekuatan tak wajar.

Namun bagi Harvey, semua itu hanyalah permainan sains belaka, jauh dari kesempurnaan kekuatan sejati.

Meski demikian, ia tetap tidak berniat menyerang. Ia hanya mengamati, tenang seperti lautan di bawah badai.

Romena, di sisi lain, tidak bisa menahan diri. Ekspresinya berubah tajam.

Dengan gerakan lincah, ia melambaikan tangan, memberi aba-aba.

Belasan pembunuh di belakangnya serempak mengangkat senjata api, memutar pengaman, dan menarik pelatuk.

Bang! Bang! Bang!

Rentetan tembakan memekakkan telinga.

Peluru-peluru timah menghujani tubuh pria berjas putih itu, namun hasilnya mengejutkan—setiap peluru hanya meninggalkan goresan tipis di kulitnya, lalu memantul dan lenyap seolah ditelan udara.

Kebal peluru.

Romena tertegun, wajahnya berubah pucat. Ia membuang senjatanya, menarik belati dari pinggang, lalu melesat maju seperti kilat.

Dengan satu ayunan cepat, belatinya menebas ke wajah raksasa itu.

Pah!

Namun pria berjas putih itu hanya menoleh sekilas dengan ekspresi jijik.

Tangannya yang sebesar daun pintu bergerak cepat, mengayun seperti kipas baja.

Seketika, Romena terpental ke belakang, belatinya terlepas dari genggaman. Wajahnya memerah, lalu semburan darah keluar dari mulutnya.

“Romena bahkan tak sanggup menahan satu pukulan pun?” seru seseorang dengan nada tak percaya.

Xylia dan yang lain pun terpaku.

Mereka tahu pria berjas putih itu kuat, tapi tidak menyangka kekuatannya sebesar ini.

Romena, meski bukan petarung terkuat di dunia, tetaplah seorang ahli bela diri berpengalaman.

Namun kali ini, ia dijatuhkan hanya dengan satu gerakan.

Suasana mendadak berubah.

Para murid Sekte Bumi bersorak, seolah kemenangan sudah di tangan.

Beberapa murid perempuan bahkan menatap Harvey dengan tatapan menghina dan penuh perintah.

Teruslah bersikap angkuh, pikir mereka.

Teruslah berpura-pura tak terkalahkan.

Sekarang, ayo lihat bagaimana kamu diseret ke tanah dan dipaksa menolong tuanku karena rasa malu.

Pria berjas putih itu menyeringai kejam, melangkah ke depan hingga berdiri tepat di depan Harvey.

Tangan kanannya terangkat, siap mencengkeram leher pria itu dan mencabiknya seperti seekor ayam.

Namun sebelum serangan itu mendarat—Harvey, yang sedang menyesap teh dengan santai, hanya mengangkat pandangan.

Tatapannya singkat, namun dingin seperti mata pisau yang baru diasah.

Sekejap kemudian, pria berjas putih itu membeku.

Seluruh tubuhnya menegang, hawa dingin menjalar dari tulang punggungnya hingga ke ubun-ubun.

Gerakannya terhenti, matanya membulat, seolah-olah baru menyadari bahwa dirinya telah berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari apa pun yang ia bayangkan.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5947 – 5948 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5947 – 5948.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*