Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5907 – 5908 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5907 – 5908.
Bab 5907
Satu hari setelah Ambros menuruni gunung dan kembali menapaki dunia fana, Harvey sudah duduk di kursi belakang Rolls-Royce sejak pagi buta, melaju menuju Royal Club di pinggiran Kota Saiwai.
Ledgertelah menghubunginya semalam, mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sesuatu yang disebut “surat penyerahan diri”, dan kini menunggu Harvey datang untuk menyaksikannya.
Meski Harvey belum tahu apa yang sedang dirancang Ledger, karena pria itu sudah mengambil langkah lebih dulu, Harvey tidak keberatan untuk melihat ke mana arah permainan ini akan berujung.
Sebelum meninggalkan Villa No. 1, Harvey sempat memberian perintah kepada Romena agar mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk melindungi Harland sekeluarga.
Ia telah memikirkannya matang-matang—di seluruh wilayah Saiwai, tampaknya tak ada lagi siapa pun atau apa pun yang perlu dikhawatirkan.
Bahkan Mandy pun telah mengirim pesan kepadanya kemarin. Ia berkata bahwa setelah menemui seorang tamu penting hari ini, ia akan berangkat menuju Yanjing dengan penerbangan malam.
Harvey berniat, setelah urusannya dengan Ledger selesai, ia akan makan malam bersama Mandy lalu mengantarnya ke bandara.
Sekitar tengah hari, Rolls-Royce yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang Royal Club—sebuah tempat legendaris yang dulunya merupakan taman kekaisaran.
Meskipun terletak di wilayah utara, hawa di sini selalu terasa seperti musim semi yang abadi.
Begitu melangkah keluar dari mobil, Harvey menatap sekeliling dengan mata menyipit. Hutan purba di sekitar taman itu menjulang tinggi, menebarkan bayangan seolah menyimpan rahasia lama.
Dari dalam hutan, ia bisa merasakan samar-samar hawa membunuh yang menelusup di antara dedaunan.
Namun sesaat kemudian, aura itu lenyap begitu saja, seolah tak pernah ada.
Di saat berikutnya, sosok pria berambut abu-abu dengan jubah Tang berjalan tergesa mendekat. Ekspresinya penuh rasa hormat yang sedikit dipaksakan.
“Tuan Muda York, akhirnya Anda datang!” serunya dengan suara yang dibuat hangat. “Bisa makan bersama Anda hari ini adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya!”
Pria itu tentu saja adalah Ledger.
Harvey tersenyum tipis. “Tuan York, Anda terlalu sopan. Saya datang dengan penuh harapan. Saya harap Anda tidak mengecewakan saya.”
Ledger menepuk dadanya, tertawa kecil. “Tentu tidak! Acara hari ini pasti akan membuat Anda puas, Tuan Muda York!”
Ia menunduk sedikit, nada suaranya penuh penegasan. “Lagipula, kalau saya tak bisa menunjukkan bukti kesetiaan saya yang sejati, Anda pasti akan melenyapkan seluruh Keluarga York kami, bukan?”
“Meski saya lancang, saya tidak cukup gila untuk menganggap hal seperti ini sebuah lelucon.”
Harvey berkata datar, “Saya harap begitu.”
Ledger segera mempersilakannya masuk. Ia berjalan di depan, memimpin Harvey menuju sebuah rumah halaman yang dijaga ketat.
Penjaga berdiri di setiap lima langkah, dan setiap sepuluh langkah lainnya ada pengawal tambahan—pengamanan yang luar biasa rapat, jelas dipersiapkan demi menyambut Harvey.
Meja panjang sudah dipenuhi buah-buahan segar yang langka ditemui di Saiwai.
Begitu mereka duduk berhadapan, Ledger mengisyaratkan semua bawahannya untuk mundur.
Setelah ruang itu benar-benar sunyi, ia sendiri mengambil tusuk gigi, menusuk sepotong melon, lalu menaruhnya di depan Harvey dengan senyum menyanjung.
Harvey hanya menatapnya sekilas. Ia tidak mengulurkan tangan, melainkan berkata ringan, “Tuan York, dengan sambutan sebesar ini dan hidangan pembuka semewah ini, saya harap acara utamanya tidak akan membuat saya kecewa.”
Ledger tertawa nyaring, lalu mengeluarkan sebuah tas arsip dari dalam mantel. Dari dalamnya, ia menarik keluar foto agak buram dan meletakkannya di atas meja.
“Tuan Muda York, lihatlah,” katanya dengan nada serius. “Ini adalah Aula Resepsi Kuil Jinlong di Pegunungan Qilian.”
“Dan pria yang ada di dalam foto ini—adalah Ambros.”
“Dia tiba di wilayah kota Saiwai kemarin.”
Bab 5908
Harvey melirik foto itu sekilas. Tatapannya tetap tenang, suaranya dingin, “Apa kamu sudah melumpuhkannya?”
“Atau… membunuhnya?”
Ledger menegang seketika. Wajahnya membeku, lalu memaksa tawa canggung.
“Tuan Muda York, Anda bercanda.”
“Bahkan tanpa mempertimbangkan kekuatan Ambros sendiri, dua pengawalnya saja—Jedd dan Gifford—adalah master tingkat Dewa Perang!”
“Kedua orang suci yang mendampinginya juga tak dapat diprediksi kemampuannya.”
“Dan yang lebih menakutkan lagi, ia membawa keluar tiga puluh enam Prajurit Perunggu dari Kuil Jinlong!”
“Konon, Formasi Penakluk Iblis yang dibentuk oleh mereka dapat dengan mudah menaklukkan bahkan Dewa Perang sekalipun.”
Ledger menelan ludah sebelum melanjutkan, “Dengan kekuatan seperti itu, mana mungkin saya berani menentangnya, Tuan Muda York?”
“Bahkan jika seluruh Keluarga York Saiwai bersatu, mungkin kami tetap tak sanggup mendekatinya.”
Harvey menghela napas pelan. Tatapannya setenang air, namun terselip kilatan dingin.
“Jadi maksudmu,” katanya datar, “memberikan informasi ini padaku sudah cukup untuk disebut sebagai bukti kesetiaanmu?”
Ledger menatapnya lurus-lurus, suaranya datar namun terukur. “Mengapa tidak?”
“Tuan Muda York tentu paham—Ambros bukan sosok biasa. Siapa yang dibawanya dan kekuatan mereka, semuanya rahasia besar.”
“Di era informasi seperti sekarang, hanya dengan memiliki cukup data, Anda bisa bertahan. Anda bisa membaca arah angin sebelum badai datang.”
“Mengetahui lebih dulu berarti tetap hidup lebih lama.”
Ia menepuk dadanya, seolah menegaskan pengorbanannya. “Jika ini bukan bukti kesetiaan saya, apa lagi yang bisa saya berikan?”
Mata Harvey sedikit menyipit. Meski ucapan Ledger terdengar berlebihan, namun ada benarnya juga.
Di masa seperti ini, informasi adalah senjata. Siapa yang lebih dulu tahu, dialah yang menang.
Dan jika menilik kekuatan Ambros yang ditakuti bahkan oleh para Dewa Perang, jelas mustahil Keluarga York dapat menjatuhkannya dengan kekuatan sendiri.
Harvey mengambil sepotong melon di hadapannya, menggigit perlahan, lalu berkata datar, “Informasi ini… belum cukup untuk dianggap tanda kesetiaan.”
“Namun, nyaris sampai.”
Ia menatap Ledger dengan tatapan tajam namun tenang. “Agar benar-benar berguna, aku ingin kamu melakukan satu hal.”
Ledger segera berdiri tegak, posturnya penuh kepatuhan. “Katakan saja, Tuan Muda York. Apa pun perintah Anda, saya akan melaksanakannya!”
“Sekalipun harus melewati api dan air, membunuh atau membakar, saya tidak akan mundur!”
Harvey tersenyum tipis. “Tidak perlu sejauh itu, Tuan York. Aku tidak memintamu menumpahkan darah atau membakar apa pun.”
“Aku hanya ingin satu hal darimu.”
“Tulis semua yang baru saja kamu katakan padaku dalam bentuk surat.”
“Bubuhkan sidik jarimu dan tanda tanganmu di atasnya. Lalu kirim satu salinan ke Departemen Militer Perbatasan, dan satu lagi ke cabang Evermore.”
“Jika kamu melakukannya—aku akan mengakui kesetiaanmu.”
Ledger tertegun. Wajahnya berubah sedikit pucat, tapi ia akhirnya menggertakkan giginya.
“Baiklah! Karena ini perintah Tuan Muda York, saya pasti akan patuh!”
Namun sebelum sumpah itu sempat keluar sepenuhnya dari bibirnya—
Bang!
Pintu gerbang halaman tiba-tiba terbuka lebar. Suara kerasnya bergema di antara tembok batu.
Sebuah tubuh terhempas dari luar dan jatuh berguling di tanah.
Udara mendadak membeku.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5907 – 5908 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5907 – 5908.
Leave a Reply