Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5851 – 5852 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5851 – 5852.
Bab 5851
Keheningan mendadak menyelimuti seluruh ruangan, seolah waktu berhenti sejenak.
Tak lama kemudian, seorang pria Barat berambut pirang dan bermata biru melangkah masuk. Tubuhnya tinggi menjulang, hampir mencapai satu meter delapan puluh lima.
Ia mengenakan setelan jas rapi, kaca mata berbingkai emas bertengger di hidungnya, dan kedua tangannya terlipat di belakang punggung.
Di belakangnya mengikuti empat pria lain, semuanya berkulit putih, berjas putih bersih, dan bertubuh kekar.
Dari mereka memancar hawa mematikan yang nyaris bisa dirasakan di kulit.
Para siswa yang hadir terpaku kaku. Tak seorang pun dari mereka pernah melihat sosok seperti itu sebelumnya.
Suasana berubah dingin, napas mereka tertahan, tatapan mereka kosong oleh keterkejutan dan ketakutan.
Tak ada yang tahu mengapa pria Barat itu muncul di saat genting seperti ini.
“Kamu?”
“Siapa yang mengizinkanmu masuk?!”
“Keluar segera!”
Nyonya Pedlar bangkit, terkejut, suaranya tajam namun berusaha tetap tenang.
Namun, yang lain justru bereaksi berbeda. Judyth, yang wajahnya memucat karena kaget, berkata dengan nada tak percaya, “Ayah… kenapa Ayah ada di sini?”
Pria itu tersenyum lembut. “Sayangku, Ayah sudah berjanji akan menemuimu setiap tahun di hari ulang tahunmu.”
Ia melangkah lebih dekat, suaranya hangat namun penuh kekuatan. “Bagaimana mungkin Ayah melewatkan ulang tahunmu yang kedelapan belas?”
“Lagipula, hari ini bukan hanya hari ulang tahunmu—ini juga hari di mana kamu resmi bisa mewarisi gelar keluarga kita.”
Senyumnya melembut, namun matanya memancarkan kedalaman yang tak bisa ditebak. Tatapannya kemudian beralih kepada Nyonya Pedlar.
“Issy, kamu ingat apa yang pernah kukatakan.”
“Selama putriku belum genap delapan belas tahun, kamu ingin dia hidup tenang. Aku setuju.”
“Tapi setelah hari ini, dia harus menerima takdirnya—meneruskan misi keluarga dan menjadi pewaris garis darahku.”
Ucapan pria itu mengguncang semua orang di ruangan. Mereka saling berpandangan, tak menyangka bahwa ayah Judyth ternyata memiliki identitas seagung itu.
Selama bertahun-tahun, tak pernah ada kabar atau penampakan dirinya di Saiwai. Kini, tiba-tiba ia muncul di pesta ulang tahun putrinya.
Di hari yang tampak seperti kebetulan, tapi terlalu tepat untuk sekadar keberuntungan.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar, namun Harvey hanya menatap diam ke arah pintu.
Di sana berdiri seorang pria tua Barat berambut putih, bersandar santai di kusen pintu.
Sekilas, ia tampak seperti orang tua biasa, namun Harvey merasakan aura mengerikan yang samar-samar menekan udara di sekitarnya.
“Dewa Perang dari Rusia…” gumam Harvey dalam hati.
Dari aura itu saja, ia sudah tahu siapa pria tua itu—dan siapa sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
Ayah Judyth bukanlah orang sembarangan.
Kalau tidak, mustahil seorang Dewa Perang datang sendiri untuk melindunginya.
Dan lebih dari itu—kenapa ia muncul tepat saat sembilan manik surgawi bermunculan satu demi satu?
Apakah ia datang hanya untuk merayakan ulang tahun putrinya? Ataukah ada maksud tersembunyi di balik kehadirannya?
Karena di dunia ini, tidak ada kebetulan yang benar-benar murni.
Saat keheningan menebal, seseorang berbisik pelan, “Hei, kalian pernah dengar tentang ini? Seratus mil ke barat Daxia, di wilayah Rusia, ada satu daerah kekuasaan besar.”
“Itu milik satu-satunya marquis asing di Rusia—Silvery Knight!”
“Konon, Silvery Knight dulunya hanyalah rakyat biasa. Tapi setelah berjasa besar di medan perang, memenangkan banyak pertempuran besar, ia akhirnya dianugerahi gelar bangsawan.”
“Namun gelar di Rusia tak bisa dibeli seperti di Kekaisaran Inggris. Di sana, hanya mereka yang benar-benar menorehkan prestasi militer luar biasa yang bisa diangkat menjadi marquis.”
“Sedangkan di Kekaisaran Inggris, bahkan kekayaan pun bisa membeli kehormatan itu.”
Semua orang mulai menatap Judyth dengan mata membesar. Mungkinkah… ayahnya adalah sosok Marquis itu?
Khalia, yang terkenal berwawasan luas, segera mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu dengan cepat. Setelah beberapa detik, ia tertegun, lalu berbisik pelan, “Benar… tidak salah lagi.”
“Silvery Knight dari Rusia, Kreig Pedlar.”
Bab 5852
Silvery Knight dari Rusia?!
Begitu kata-kata itu keluar, suasana di ruangan seketika membeku. Semua orang memandang satu sama lain dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.
Bagi sebagian orang di Daxia, mungkin gelar itu terdengar asing. Namun bagi mereka yang mengenal Saiwai, nama “Silvery Knight” adalah legenda—nama yang bergema seperti petir di langit musim panas.
Selama bertahun-tahun, pasukan perbatasan Daxia dan tentara yang dipimpin oleh Silvery Knight kerap bentrok di garis depan. Hasilnya selalu seimbang—setengah menang, setengah kalah.
Keseimbangan itu bukan karena kelemahan, tapi karena kedua pihak saling menahan diri, menjaga agar api besar tidak menyala.
Namun, bahkan setelah Pelatih Kepala Daxia menyapu bersih lima kekuatan besar di luar negeri, tak ada satu pun yang mampu menundukkan pasukan Silvery Knight sepenuhnya.
Fakta bahwa pertempuran mereka bisa tetap imbang saja sudah membuktikan betapa luar biasanya kepemimpinan dan karisma pria itu.
“Konon,” seseorang mulai berbisik, “leluhur Silvery Knight Kreig Pedlar dulunya berasal dari Daxia juga. Mereka bermigrasi ke Rusia sekitar seratus tahun lalu.”
“Awalnya mereka hidup susah, hampir tidak punya apa-apa. Tapi melalui peperangan, pernikahan politik, dan berbagai cara keras lainnya, mereka akhirnya menancapkan pengaruh di wilayah barat Rusia.”
“Sekarang, Silvery Knight sangat dihormati oleh kaisar agung Rusia. Ia adalah tokoh yang disegani di jajaran atas negeri itu.”
“Dan Judyth… ternyata putrinya?”
Khalia menatap Judyth tak percaya. Sebelumnya, gadis itu hanyalah teman sekelas biasa—cantik, ramah, dan sederhana.
Kini, kenyataan menampar kesadarannya: Judyth adalah putri tunggal Silvery Knight Kreig Pedlar—pewaris gelar yang menggetarkan dunia militer.
Dengan status seperti itu, bahkan empat suku besar maupun dua klan serigala di luar Tembok Besar pun tak akan berani menentangnya.
Kreig tersenyum tenang, lalu berkata dengan suara dalam yang bergema di seluruh aula, “Kalian semua adalah teman sekelas sekaligus sahabat putriku.”
“Aku, Kreig Pedlar, Silvery Knight dari Rusia, berterima kasih karena kalian telah hadir untuk merayakan ulang tahunnya yang kedelapan belas.”
“Jika suatu hari kalian menginjakkan kaki di Rusia, sebut saja namaku. Aku akan menganggapnya sebagai balasan atas kebaikan kalian yang telah menemani putriku selama ini.”
Nada bicaranya ringan, namun aura yang terpancar dari tiap kata membuat semua yang hadir merasa seolah mereka berhadapan dengan gunung yang tidak bisa digoyahkan.
Mendengar pengakuan itu, tak seorang pun berani tetap duduk. Mereka semua berdiri dan menunduk hormat, serempak menyapa, “Marquis Pedlar!”
Namun hanya Harvey yang tetap tenang, seolah tak mendengar apa pun. Ia mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan, pandangannya tetap datar.
Bagi orang lain, mungkin tindakannya terlihat lancang. Tapi bagi Harvey, apa arti seorang Marquis dari Rusia?
Bahkan para adipati tertinggi negeri itu pun akan menunduk dan menyebutnya “Pelatih Kepala” jika mereka bertemu dengannya.
Seorang Silvery Knight? Tidak lebih dari seorang pemain kecil di papan besar yang ia kendalikan.
Kreig menatap sekeliling dengan tenang. Tatapannya sempat melintas pada Harvey, tapi ia tak berhenti. Ia lalu tersenyum ringan pada Alverio. “Alverio, bagaimana kabar ayahmu?”
Wajah Alverio berseri-seri. Ia segera berdiri, menunduk hormat.
“Tuan Pedlar, ayah saya dalam keadaan sehat berkat Anda. Beliau sering menyebut ingin sekali minum bersama Anda lagi.”
Dari percakapan singkat itu saja, semua orang bisa menebak: Suku Dapeng—salah satu dari empat suku besar di luar Tembok Besar—pasti memiliki hubungan erat dengan Silvery Knight.
Kreig mengangguk ringan dan mempersilakan Alverio duduk di sisinya.
Tapi kemudian, matanya beralih perlahan ke arah Harvey yang masih duduk santai dengan teh di tangan. Tatapan itu berubah sedikit tajam.
“Apakah Anda Harvey York?” tanyanya dengan suara dalam namun penuh tekanan.
Sekejap, seluruh ruangan menjadi hening lagi. Semua pandangan langsung tertuju pada Harvey.
Mereka menatapnya dengan campuran heran dan cemooh.
Bagaimana mungkin seseorang bersikap begitu santai di hadapan sosok seperti Silvery Knight?
Apakah dia terlalu berani—atau tidak tahu betapa dalamnya lautan yang sedang ia pijak?
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5851 – 5852 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5851 – 5852.
Leave a Reply