Kebangkitan Harvey York Bab 5839 – 5840

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5839 – 5840 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5839 – 5840.


Bab 5839

Mendengar ucapan Rodger yang tak tahu malu, Astria tak kuasa menahan diri.

Ia menyindir, “Tuan Muda Wright, Anda terdengar begitu masuk akal — mengapa Anda tidak maju saja?”

“Gunakan teorimu untuk mengalahkan Takeo!”

Wajah Rodger berubah muram ketika mendengar teguran itu, bibirnya mengeras seperti pisau. Ia hendak menyambar kata-kata pembelaan, namun Lennard memotong sebelum suasana makin memanas.

“Cukup! Perhatikan baik-baik!” Lennard berseru, menyipitkan mata, seluruh tubuhnya tertarik ke depan seperti busur.

Bang!

Di tengah lapangan, Harvey segera mundur, gerakannya tenang namun penuh perhitungan. Dengan satu ayunan, ia melepaskan mantelnya ke depan — sebuah gerak yang terasa sederhana namun penuh maksud.

Peluru timah menghujam mantel tersebut; memanfaatkan momentum, ia mengayunkannya ke samping seperti perisai kain.

Melihat peluang, Takeo mencibir. Ia memanfaatkan celah itu dan melompat ke depan, dua tinjunya siap melancarkan serangan.

Swish!

Harvey bergerak lagi, menghindar pada saat-saat paling kritis, tubuhnya seolah menghilang dari garis pukul.

Bang!

Dua tinju mendarat; dentang itu mengoyak batu bata biru menjadi serpihan, mengubah struktur menjadi debu dalam sekejap.

Puing-puing beterbangan, awan kecil abu menari di udara — pemandangan yang membuat penonton tersentak.

“Baga!” teriak beberapa orang. “Sialan!” seruan lain menggema.

Takeo melancarkan rentetan gerakan mematikan; dia tak lagi menyembunyikan senjatanya.

Namun, meskipun ia bertindak seagresif itu, ia tetap tak mampu menembus pertahanan Harvey.

Kekalahan sebelumnya masih membekas: napasnya memburu, sarafnya tegang, ketakutan akan kembali kalah merayap ke dalam dada.

Amarah Takeo memuncak. Menurutnya, memadukan genetika Amerika dan seni bela diri Jepang adalah perpaduan sempurna — kombinasi yang seharusnya membuatnya tak tertandingi.

Lalu, bagaimana bisa Harvey menjadi lawan yang tidak sebanding dengannya?

Ia mundur beberapa langkah, wajahnya berubah menjadi keruh. Perlahan ia mengeluarkan sesuatu — serpihan tajam atau potongan kecil — dari kulitnya sendiri, kemudian menusukkannya ke belakang kepalanya.

Pemandangan itu membuat semua orang berdiri merinding; tindakan brutal itu menegaskan satu kebenaran: Takeo kini bukan lagi manusia biasa.

Jolita dan Rodger saling bertukar pandang, ada kilatan pengakuan di mata mereka.

Mereka mulai menerima kemungkinan yang tak diinginkan: mungkin Harvey memang sekuat klaim Takeo. Mungkin, meskipun Takeo tampak mengerikan, ia memang belum setara dengan Harvey.

Jika Takeo dikalahkan lagi, hinaan-hinaan sebelumnya akan menjadi bukti kebesaran Harvey — fondasi kekalahannya akan menjadi lajur kesuksesan lawan.

Rodger tidak tahan melihat Harvey seolah berjongkok dan mempermainkannya; Jolita pun sulit menerima kenyataan ini. Semakin hebat Harvey, semakin jelas pula bahwa mereka meremehkannya.

Bagi mereka berdua, melihat Harvey bertahan hidup dan sehat adalah sesuatu yang tak bisa ditolerir.

“Master Takeo, meskipun Anda ingin menguji hasil modifikasi genetik Anda, itu tidak akan memakan waktu lama, kan?” Rodger berujar sinis, nada suaranya mengiris.

Dalam benaknya terpatri satu rencana: “Mari kita selesaikan Harvey ini dalam satu gerakan.”

“Setelah kita selesai menghadapinya, aku akan melawanmu dengan adil!” tambahnya, berpura-pura menjunjung tinggi seni bela diri.

“Akan kutunjukkan padamu apa itu seni bela diri sejati!” ucapnya penuh gertak, meski dalam hatinya ada rasa bersalah yang tidak ingin diakui.

Pandangan mereka yang tak tahu apa-apa saling bertukar — mungkinkah Rodger benar-benar seorang master sejati?

Atau mungkinkah, seperti dikatakan Takeo, orang yang paling harus ditakuti adalah Harvey?

Mungkinkah Tuan Muda Wright, dengan semua klaim dan arogansinya, justru yang harus diandalkan untuk mengembalikan kehormatan mereka?

Alasan Harvey mampu menahan begitu banyak pukulan ternyata bukan kebetulan: Takeo sedang menguji hasil modifikasi genetiknya.

Bab 5840

Kabar itu menyebar di antara penonton yang tak mengerti, dan tatapan mereka berubah: mereka menatap Takeo dengan campuran kagum dan ngeri.

Sementara terhadap Harvey tampak ada hinaan yang sulit disembunyikan.

Bagaimanapun juga, di mata banyak orang, yang terpenting bagi seorang ahli bela diri adalah martabat.

Di atas panggung ini, Harvey tampak seperti alat latihan—dipermainkan, didera, diperlakukan seolah bukan lawan sejati.

“Master Takeo, tunjukkan padaku kemampuanmu yang sebenarnya!” Rodger berseru dari kerumunan. “Aku ingin melihat sejauh mana modifikasi genetikmu!”

“Apakah kamu takut memperlihatkan kekuatanmu kepadaku sehingga akhirnya kamu tak dapat mengalahkanku?” satu teriakan menantang melayang.

“Kalau tidak, aku tidak akan menonton!”

Kata-kata Rodger menjadi semakin serius; dengan tubuh yang dipenuhi kepura-puraan ia berbalik, menampilkan sikap sombong.

“Ayo, cepat kalahkan Harvey itu, baru kita bisa bertarung dengan adil!” serunya.

Bagi Rodger, tiada yang lebih penting daripada membunuh Harvey — pria yang pernah menampar wajahnya — sebelum urusan lain dipikirkan.

Apa pun yang terjadi, ia ingin Harvey hancur; soal pertarungan antara dirinya dan Takeo, itu bisa ditunda sampai kehormatan keluarga Wright kembali terjawab.

Klaang!

Di tengah lapangan, ekspresi Takeo berubah mendadak semakin tajam saat mendengar pekikan-pekikan di sekelilingnya.

Dengan jentikan tangan kanan, sebilah pedang panjang Jepang terlepas dari lengan bajunya. Ia menggenggam gagangnya, menarik napas, lalu membuang jurus andalannya.

Swish, swish, swish—

Dengan jurus Petir itu, kecepatannya kini tiga kali lipat. Sosoknya menggandakan bayangan — selusin siluetnya muncul seperti hantu di semua sisi Harvey, menyergap sekaligus menyerang dengan satu pukulan yang menyatu.

Udara mengandung bau hangus akibat listrik, gelombang tekanan merambat keluar, membuat kulit terasa panas.

Rodger, yang menonton dengan penuh perhatian, mundur secara naluriah; matanya berkedut tak tertahankan.

Adegan itu mempertegas satu hal bagi Rodger: meskipun ia suka membual, ia jelas tak layak menantang Takeo. Satu pukulan saja dari pria itu bisa membunuhnya.

Lebih jauh lagi, ada perasaan gemilang yang menyelinap ke dalam dada Rodger — bayangan bahwa Harvey, yang selalu bertikai dengannya, kali ini akan mati secara memalukan!

Gembira yang kotor, tapi nyata.

Dihadapkan pada kilatan pedang yang melesat selaju petir, Harvey tetap tenang — acuh tak acuh dalam ketangguhannya.

Bagi penonton luar, kecepatan pedang itu hampir sebanding kilat; namun bagi Harvey, gerakannya begitu lambat, serupa siput yang meraba.

Ia hanya melangkah ke samping, dan pada saat yang hampir mustahil, ia berhasil menangkis serangan fatal Takeo.

Di tempat Harvey berdiri, tanah penuh bekas-bekas pisau yang menghitam, jejak-jejak hangus tersisa.

Seandainya bekas itu mengenai manusia, daging pasti telah terpanggang seperti babi di pemanggang.

Namun, anehnya, serangan-serangan dahsyat itu tetap gagal menyentuh Harvey.

Apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan Takeo, si hasil rekayasa genetika ini? Gerakan yang sedahsyat itu, namun tidak mengenai target—apakah itu semata untuk menakut-nakuti Harvey sampai patah arang?

Atau apakah Takeo mencoba menyiksa lawannya, menghadirkan kesakitan yang tak terbayangkan, baik secara tubuh maupun jiwa?

Meski demikian, bagi banyak pengamat, tindakan ini tampak tak masuk akal. Bukankah lebih praktis memotong anggota tubuh lawan, merendahkannya di tanah, menginjak—menghancurkan seluruh kehendaknya?

Mengapa membuang waktu pada sirkus gerakan bila tujuan akhir hanyalah kehancuran?

Perbuatan Takeo membuat banyak orang bergumam: tindakan orang Jepang ini sungguh aneh, penuh sandi dan ambisi yang tak sedikit pun masuk akal.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5839 – 5840 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5839 – 5840.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*