Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5703 – 5704 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5703 – 5704.
Bab 5703
“Seorang bocah dari Dataran Tengah berani menyinggung bangsawan wilayah kita di luar Tembok Besar? Harvey benar-benar mencari mati!”
“Harland, aku peringatkan kamu!”
“Kamu sudah lama menjadi sosok yang tersisih di Keluarga Higgens.”
“Kalau sampai muncul masalah besar karena orang luar ikut campur tanpa dasar yang jelas, bahkan langit pun tak akan bisa menolongmu!”
Nada Whitney Cobb terdengar tajam dan penuh kejengkelan.
Ia berjalan cepat menuju lobi kantor polisi dengan langkah mantap, kedua tangannya terlipat di dada. Aura dominannya menekan udara di sekitarnya.
Belinda, yang berjalan di belakang mereka, tampak ragu. Di antara kedua orang tuanya, ia lebih memilih diam — menjadi sosok tak terlihat di antara dua api yang berlawanan.
Sementara itu, Harland hanya mengernyit tipis.
“Whitney,” ujarnya datar, “kalua kamu ingin mengurus urusan Harvey, silakan saja. Kalau tidak, sebaiknya jangan ikut campur.”
“Aku sendiri akan menemukan cara untuk menolongnya. Aku tidak butuh bantuanmu.”
Whitney mendengus keras, matanya berkilat sarkastik. “Oh? Tidak butuh bantuanku, katamu?”
“Tadi sapa langsung panik seperti semut di atas wajan panas setelah mendengar kabar?”
“Menanyakan kabar seratus kali, lalu dengan berani datang ke sini setelah kukatakan aku ingin bicara?”
Ia menatap suaminya dengan senyum sinis, tatapannya menusuk seperti belati.
“Harland, aku peringatkan kamu sekali lagi.”
“Tak apa bagiku jika aku harus hidup dengan suami yang tidak berguna.”
“Tapi aku tidak akan membiarkan putriku bernasib sama — menikah dengan pria yang tak punya daya guna!”
“Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan Harvey York, berapa lama kalian kenal, atau seberapa besar rasa iba yang kamu miliki.”
“Tapi dengar baik-baik! Aku tidak akan pernah membiarkan Harvey terus berhubungan dengan putriku!”
“Kecuali dia setuju memutuskan pertunangan itu dan berhenti mengejar pernikahan dengan Belinda.”
“Kalau tidak, aku tidak akan menggerakkan satu jaripun untuk menolongnya!”
Harland hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya tampak letih, seperti seseorang yang sudah lama kehilangan harapan dalam perdebatan rumah tangganya sendiri.
“Whitney,” katanya pelan, “memang benar Harvey dan putri kita sudah bertunangan, tapi itu hanya sebatas janji lisan.”
“Tidak ada ikatan resmi. Dua anak muda yang saling mengenal — jika merasa cocok, baguslah. Jika tidak, biarkan saja. Kita tak bisa memaksa.”
“Sekarang zaman sudah berubah. Ini era cinta yang bebas. Kita, sebagai orang tua, tidak seharusnya terlalu ikut campur…”
Whitney menyeringai sinis. “Cukup, jangan bermain kata-kata denganku.”
“Waktu aku sudah mengatur hal-hal seperti ini, kamu masih kencing di pinggir jalan!”
“Sudah kukatakan, aku tidak akan menelepon direktur tanpa janji tegas dari Tuan York hari ini.”
“Aku ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan kalau keadaan jadi seperti itu!”
Dengan langkah penuh kemarahan, mereka bertiga akhirnya memasuki aula utama kantor polisi.
Setelah mengisi beberapa formulir sederhana, seorang petugas membawa mereka menuju ruang interogasi.
Begitu melihat Harvey bersandar santai di kursi, membaca koran seolah tak ada yang terjadi, Harland yang datang lebih dulu langsung menghela napas lega.
“Harvey! Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak sebodoh itu, sampai-sampai menyinggung orang penting di wilayah Saiwai!”
“Paman sangat cemas memikirkanmu!”
Kedua agen yang menjaga Harvey berdiri tegak dan memberi hormat. “Halo, Tuan Higgens.”
Walau pengaruh Harland tak sebesar istrinya, ia tetap dikenal sebagai orang yang memiliki koneksi dan posisi cukup kuat di wilayah Saiwai.
Cukup untuk membuat petugas menghormatinya.
Harvey menoleh pelan. Tatapannya menelusuri wajah Harland yang cemas, lalu berpindah ke Belinda yang tampak acuh, dan akhirnya berhenti pada Whitney yang memandangnya penuh sindiran.
Sebelum Harvey sempat bicara, Harland melirik para agen itu, lalu melambaikan tangan.
“Apa pun yang dilakukan keponakanku, biar aku yang bertanggung jawab.”
“Bagaimanapun, dia hanya seorang mahasiswa. Tidak pantas berada di sini terlalu lama.”
“Aku ingin membawanya keluar. Jika kalian perlu jaminan, katakana saja! Aku akan pastikan jaminan tersedia.”
Bab 5704
Kedua agen itu saling pandang, jelas kebingungan. Wajah mereka menegang, tapi tak berani berkata apa pun.
Masalahnya bukan soal jaminan atau tidak.
Justru, apakah Tuan Higgens menyadari siapa yang mereka tangkap ini?
Kapten Fredric mereka sendiri hampir kehilangan bentuk wajah setelah dihantam pria itu!
Bahkan selama mereka menjaga Harvey, tak satu pun berani berbicara keras — seolah suara sedikit saja bisa memancing bahaya.
Namun kini, orang seperti Harland justru bersikap seolah takut mereka menindas Harvey?
Lelucon macam apa ini? Siapa yang berani menindas orang seperti Harvey!
Sebelum mereka sempat mengungkapkan kebingungan itu, Whitney mengerutkan alis, lalu berkata dingin, “Harland, apakah kamu lupa apa yang aku katakan?”
“Kamu ingin menanggung jaminannya?”
“Dengan apa? Dengan vila kita? Atau dengan uang di rekening atas namaku?”
“Kamu gila!”
Selesai berbicara, Whitney mengubah nada suaranya menjadi manis dan sopan. Ia menatap kedua agen itu sambil tersenyum tipis. “Bolehkah kami berbicara sebentar saja secara pribadi?”
Kedua agen itu spontan melirik ke arah Harvey. Melihat wajahnya yang tetap tenang dan acuh, mereka pun ragu-ragu namun akhirnya keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Harland langsung duduk di hadapan Harvey. Suaranya berat dan penuh ketegangan.
“Harvey, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Cepat jelaskan, supaya aku bisa mencari cara menolongmu.”
Baru kali ini Harvey menurunkan koran yang ia baca. Ia menatap Harland, menyadari ketulusan pamannya dan penghinaan dari Whitney. Senyum kecil muncul di ujung bibirnya.
“Paman Higgens, aku menghargai niat baikmu.”
“Tapi paling lama sepuluh menit lagi, aku akan keluar dari sini.”
“Kalian tidak perlu repot mengurus apa pun. Jadi, tolong jangan khawatir.”
Belum sempat Whitney menanggapi, Belinda sudah menimpali dengan nada tajam.
“Harvey, bisakah kamu berhenti menyombongkan diri?”
“Hanya sepuluh menit, katamu? Mengapa tidak sekalian bilang Kapten Fredric akan datang berlutut memohon agar kamu pergi?”
“Dalam hidup, seseorang seharusnya tahu diri. Sedikit kerendahan hati tidak akan membunuhmu.”
“Aku tidak mengerti mengapa Ayah selalu menganggapmu istimewa — bahkan menganggapmu orang yang jujur dan tulus!”
Whitney terkekeh kecil, menikmati setiap kata putrinya.
Ia tahu betul bahwa Belinda tak pernah menyukai Harvey, dan kini gadis itu hanya menyuarakan isi hatinya.
Harland, di sisi lain, tampak tidak senang. Ia menatap putrinya dengan wajah suram.
“Belinda, cukup!” katanya berat. “Harvey pasti punya alasan mengatakan hal itu.”
“Mungkin saja Keluarga Surrey sudah bergerak untuk menolongnya.”
Namun, setelah mengatakan itu, Harland sendiri tampak ragu. Matanya menyipit ke arah Harvey, seolah mencoba menebak sesuatu yang tak ia pahami.
Bagaimana mungkin keponakannya ini bisa punya hubungan dengan Astria — putri kelima dari Keluarga Surrey yang termasyhur itu?
Dari sudut pandang mana pun, mereka berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda.
“Keluarga Surrey?” Whitney menatapnya tajam, lalu mencibir. “Mereka pemimpin dari empat klan besar. Apa kamu pikir mereka akan bertindak demi seorang anak dari Dataran Tengah?”
“Mereka pasti lebih peduli pada reputasi mereka.”
Ia melangkah mendekati Harvey, menatapnya lurus dengan tatapan dingin dan kata-kata yang terukur.
“Harvey, cukup sudah. Hentikan omong kosongmu.”
“Sejujurnya, tanpa persetujuanku, Paman Higgens-mu pun tak akan bisa menyelamatkanmu.”
“Asalkan kamu berjanji untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga kami — terutama dengan putriku — aku akan menggunakan koneksiku untuk membebaskanmu.”
Whitney yakin betul bahwa inilah kesempatan terbaik untuk memutuskan seluruh ikatan antara Harvey dan Belinda.
Jika ia melewatkan momen ini, pertunangan itu akan jauh lebih sulit untuk diputuskan secara terang-terangan di kemudian hari…
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5703 – 5704 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5703 – 5704.
Leave a Reply