Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5693 – 5694 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5693 – 5694.
Bab 5693
Sesaat kemudian, Harvey menarik Manik Dzi Mandala dari genggamannya. Cahaya manik itu memantul lembut di matanya yang tenang.
Ia tersenyum tipis.
“Aku bisa merasakan ketulusan Master Auguste,” katanya ringan.
“Untuk manik Dzi ini—karena memang milikku—aku akan menyimpannya dengan baik.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada santai namun menusuk:
“Tapi kudengar Kuil Xiaofeng akan segera mengadakan upacara besar. Mungkin saja nanti aku akan membawa manik ini ke sana.”
“Siapa tahu, aku bisa minum teh hangat bersama Buddha.”
Setelah kata-kata itu terucap, Harvey berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Keheningan tebal menyelimuti ruangan.
Semua mata mengikuti punggungnya yang menjauh, dan yang tersisa hanyalah rasa takjub bercampur gentar.
Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya pemuda itu.
Namun satu hal pasti—dia menakutkan.
Ia baru saja membuat seorang murid agung Sekte Bumi menelan hinaan pahit dan kehilangan segalanya dalam sekejap.
Steffon berdiri perlahan, gerakannya kaku. Tatapannya kosong, tanpa emosi, namun tangan kanannya bergetar halus menahan amarah yang membara.
Andai sedikit saja ia menuruti dorongan hatinya, mungkin Harvey sudah jadi abu.
Namun, tidak sulit memahami amarahnya.
Tujuannya datang hanyalah satu: membawa pulang Manik Dzi Mandala Bermata Satu ke Kuil Xiaofeng.
Andai ia berhasil, kisahnya akan menjadi legenda di dunia Buddhisme.
Statusnya akan naik ke puncak, mungkin bahkan menjadikannya calon kepala kuil di masa depan.
Namun kemunculan Harvey telah menghancurkan semuanya—rencana, reputasi, dan harga dirinya.
Yang tersisa hanyalah rasa malu yang menyesakkan dada.
Mulai hari ini, Steffon tahu, ia akan jadi bahan tertawaan di seluruh Sekte Bumi.
Milena, dengan wajah masih bengkak dan mata sembab, melangkah mendekat. Suaranya bergetar, namun berusaha tegar.
“Murid Buddha, maafkan aku… semua ini salahku.”
“Aku yang membuatmu menerima penghinaan sedalam ini.”
Ia menunduk, lalu melanjutkan dengan tatapan penuh dendam:
“Tapi jangan khawatir. Takkan ada satu pun kabar hari ini yang keluar.”
“Siapa pun yang berani menyebarkan berita… aku pastikan seluruh keluarganya akan dimusnahkan!”
Tatapan Milena berkeliling, menelusuri setiap wajah di ruangan itu. Sorot matanya dingin dan tajam seperti bilah pedang, membuat semua orang menunduk ketakutan.
Siapa yang berani menentangnya?
Di belakangnya ada kekuatan Sekte Bumi—dan Kuil Xiaofeng.
Steffon mengembuskan napas pelan.
“Cukup. Urusan ini berakhir di sini,” katanya datar.
“Selidiki pria bernama Harvey itu.”
Ia memejamkan mata sejenak, lalu melanjutkan:
“Karena dia tahu tentang Upacara Saifo dan berani bersaing denganku untuk memperoleh salah satu dari sembilan manik Dzi…”
“Itu berarti dia tahu lebih banyak dari yang kita kira.”
“Upacara Saifo tidak boleh gagal. Pastikan semuanya berjalan sempurna.”
“Dan… ketika waktunya tiba, kirimkan undangan kepada Harvey itu.”
Milena terkejut, menatapnya tak percaya.
“Murid Buddha, aku tidak mengerti!” serunya.
“Upacara Saifo adalah perayaan suci. Bahkan bangsawan di luar Tembok Besar pun jarang diundang.”
“Pria itu sudah mempermalukanmu di depan umum! Mengapa kamu masih ingin…”
Steffon memotongnya dingin.
“Kalau ingin mengambil sesuatu… kamu harus rela memberi lebih dulu.”
Tatapannya tajam menembus Milena.
“Kamu sudah lama di sisiku, tapi masih belum memahami kebenaran sesederhana itu?”
Nada suaranya membuat Milena langsung membungkuk hormat.
“Murid Buddha sangat bijaksana dan berpandangan jauh. Aku mengerti!”
“Aku akan mengirim orang ke Dataran Tengah untuk menyelidiki asal-usul Harvey.”
“Dan mengenai penghinaan hari ini… aku bersumpah akan membalasnya seratus kali lipat!”
Steffon menatapnya sekilas. Ekspresi wajahnya sedikit melunak.
Ia lalu menyapu ruangan dengan tatapan datar, seolah menimbang siapa yang harus hidup dan siapa yang sebaiknya lenyap.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat tangan dan berkata datar,
“Ayo. Kita kembali.”
Udara di ruangan seketika terasa lebih berat. Tak ada yang berani bicara, hanya langkah-langkah pelan mengikuti Steffon menuju pintu keluar.
Bab 5694
Lelang malam itu berakhir tanpa suara, seolah tak pernah terjadi apa pun.
Peristiwa di lantai tiga ditakdirkan untuk menjadi rahasia kelam yang tak akan pernah sampai ke telinga publik.
Semua orang tahu, ancaman Milena bukanlah omong kosong.
Siapa pun yang berani membuka mulut, bahkan sedikit saja, akan diseret keluar dan dihapus bersama keluarganya.
Bahkan nama Harvey, meski dibisikkan dengan kagum, tetap jarang dibicarakan terang-terangan.
Namun di kalangan atas Perbatasan, namanya kini melekat dalam ingatan semua orang.
Mereka sadar, meskipun mereka tak berani menyinggung Steffon, mereka juga tidak boleh sembarangan bersinggungan dengan Harvey York.
Seseorang yang bisa memiliki kartu emas hitam, membuat murid Buddha sekelas Steffon berlutut, jelas bukan orang biasa.
Di luar pagoda, malam terasa dingin. Angin bertiup lembut di area parkir yang diterangi cahaya kuning lampu jalan.
Astria berdiri di samping mobil, menatap Harvey dengan wajah bimbang.
“Tuan Muda York,” katanya pelan, “saya khawatir Anda telah menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh.”
Harvey menatap langit sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Mengapa? Karena dia terlihat begitu berkuasa? Menurutmu aku tak sanggup menyinggungnya?”
Nada suaranya datar, namun sarat dengan kepercayaan diri.
Ia bahkan tidak menanyakan siapa sebenarnya Steffon—karena baginya, pria itu tidak layak diingat.
Astria menghela napas.
“Tuan Muda York, sepertinya Anda belum tahu.”
“Menurut legenda, Steffon adalah seorang yatim piatu… anak serigala yang ditemukan di padang rumput oleh seorang Prajurit Buddha dari Kuil Xiaofeng.”
Harvey menoleh sekilas, alisnya terangkat.
“Anak serigala?”
Astria mengangguk.
“Ya. Ia dibesarkan oleh kawanan serigala hingga usia tiga tahun, sebelum diselamatkan oleh Prajurit Buddha.”
“Prajurit itu bukan sembarang biksu. Ia memperlakukan Steffon seperti putranya sendiri, dan mengajarinya segala jurus serta ajaran Kuil Xiaofeng.”
“Ia adalah seorang Prajurit Buddha, pendekar sejati tingkat dewa perang.”
“Menyinggung Steffon sama dengan menyinggung sang Prajurit itu sendiri.”
Harvey terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.
“Anak serigala? Prajurit Buddha? Menarik.”
Ia melirik Astria dengan senyum menggoda.
“Jadi, menurutmu, bagaimana murid Buddha itu akan membalas dendam padaku?”
“Apakah dia akan mengadu pada gurunya, dan sang guru turun gunung untuk menaklukkan iblis sepertiku?”
Nada suaranya ringan, tapi jelas mengandung ejekan.
Astria terdiam; ia tidak tahu harus menjawab apa.
Di seluruh wilayah utara Tembok Besar, hanya mendengar nama Prajurit Buddha saja sudah cukup membuat orang gemetar ketakutan.
Namun Harvey York… justru tampak tenang, bahkan keliatannya tertarik.
Mungkinkah dia benar-benar ingin berhadapan langsung dengan sang Prajurit Buddha dari Kuil Xiaofeng?
Kenyataannya, ketertarikan Harvey bukan tanpa alas an.
Dalam legenda, semua Prajurit Buddha menjalani pengasingan panjang demi mencari pencerahan sejati—mencapai kesatuan antara surga dan manusia.
Kitab suci, mantra, dan meditasi mereka konon berperan penting dalam membuka rahasia keabadian.
Dan bagi Harvey, hal itu terdengar… terlalu menarik untuk diabaikan.
“Manik Dzi… kesatuan surga dan manusia,” gumamnya lirih.
Ia mengeluarkan manik Dzi Mandala dari saku, membiarkan permukaannya berkilau di bawah cahaya bulan, lalu memainkannya dengan santai di antara jemarinya.
Untuk saat ini, ia belum menemukan rahasia apa pun di dalamnya. Namun entah kenapa, ia tahu manik ini akan membawanya ke sesuatu yang lebih besar.
Astria hanya bisa memandangnya dengan campuran rasa kagum dan cemas.
Sosok pria ini begitu berbeda—angkuh, tenang, namun misterius.
Dengan hormat, ia membukakan pintu mobil mewah Maybach itu.
Harvey masuk dengan langkah ringan, masih memainkan manik Dzi-nya.
Astria menutup pintu dengan lembut, lalu memberi isyarat pada sopir.
Maybach itu melaju perlahan ke dalam gelapnya malam, membawa dua sosok yang berbeda dunia—namun takdir telah menautkan mereka di jalur yang sama.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5693 – 5694 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5693 – 5694.
Leave a Reply