Kebangkitan Harvey York Bab 5681 – 5682

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5681 – 5682 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5681 – 5682.


Bab 5681

“Tuan Muda York, meskipun pelelangan ini diselenggarakan oleh Kuil Xiaofeng, sesungguhnya pemrakrasa di baliknya adalah Keluarga Surrey kami,” ucap Astria dengan nada lembut namun penuh rasa bersalah.

“Karena itu, kupikir undangan resmi tidak diperlukan. Lagipula, ini wilayah kami, dan mengirim undangan pada seseorang setinggi dirimu terasa… tidak pantas.”

Ia tersenyum getir. “Namun, aku tak pernah menyangka hal semacam ini akan terjadi.”

“Aku lancang. Maafkan aku.”

Keduanya berjalan berdampingan melewati koridor marmer menuju menara.

Meski tampak berjalan bersama, Astria sengaja menahan langkahnya setengah langkah di belakang Harvey — suatu bentuk penghormatan diam-diam yang jarang ia berikan kepada siapa pun.

Ia menatap profil Harvey dari samping: rahang tegas, mata yang teduh namun sulit ditebak, seolah menyimpan jarak dengan dunia.

“Ini hanya masalah kecil,” jawab Harvey tenang, suaranya datar tapi mengandung wibawa yang sulit dijelaskan.

Nada acuhnya membuat Astria diam-diam merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ia baru sadar — pria ini sama sekali tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia mereka.

Meski banyak tuan muda berkuasa di bawah langit Tembok Besar, tak satu pun memiliki ketenangan dan keanggunan seperti dirinya.

Ia memang tampak biasa, tapi auranya… tak bisa ditiru.

Mereka tiba di tangga batu berukir naga menuju lantai tiga, tempat pelelangan kecil itu digelar. Setiap langkah menimbulkan gema halus, menambah kesan khidmat pada suasana.

Begitu mereka masuk, udara di ruangan berubah. Banyak sosok duduk di sudut-sudut remang, menatap tenang, menyembunyikan kekuatan masing-masing di balik wajah datar.

Kehadiran Harvey dan Astria sontak menarik perhatian.

Namun, para tamu di lantai tiga adalah tokoh besar dari Tembok Besar Luar; mereka sudah terbiasa menyaksikan keajaiban dan tidak akan bereaksi kecuali demi kepentingan pribadi.

Tak lama kemudian, Harvey dan Astria duduk di barisan depan. Aroma dupa Buddha memenuhi ruangan, bercampur dengan bau kayu cendana tua. Suasana menjadi sakral namun juga penuh gengsi.

Beberapa menit kemudian, pelelangan resmi dimulai.

Karena Kuil Xiaofeng menjadi tuan rumah, barang-barang yang dilelang pun didominasi benda spiritual Buddhis.

Ada Relik Buddha, besi langit berusia seabad, plakat sembilan persegi delapan trigram dengan aura feng shui yang mendalam, dan banyak lagi.

Satu demi satu harta kuno itu diperlihatkan, disambut gumaman kagum dari para peserta.

Harvey hanya mengamati dengan pandangan acuh. Di balik ketenangannya, matanya yang tajam seolah menilai setiap benda tanpa benar-benar tertarik.

Pelelangan itu membuktikan satu hal: di luar Tembok Besar, ada banyak orang kaya dan berpengaruh yang mengejar kekuatan spiritual.

Barang-barang Buddhis itu terjual dengan harga puluhan juta, namun bagi mereka, uang bukanlah masalah.

Akhirnya, barang terakhir dibawa ke atas panggung.

Sebuah kotak kayu kecil perlahan dibuka oleh juru lelang dengan tangan bergetar penuh hormat.

“Manik Dzi Mandala Mata Satu!” seru juru lelang.

Tatapan Harvey langsung berubah tajam. Pupil matanya mengecil, dan tubuhnya condong sedikit ke depan tanpa sadar.

Sebelum datang ke Tembok Besar, ia sudah meneliti banyak tentang wilayah ini.

Menurut legenda Sekte Bumi Buddhisme, Mandala adalah tempat suci tempat para Buddha bersemayam — lambang supremasi dan pahala yang tak terhingga.

Sedangkan Manik Dzi Satu Mata melambangkan kejernihan pikiran, pandangan tanpa kabut, dan kebijaksanaan abadi.

Kombinasi keduanya — Manik Dzi Mandala Satu Mata — adalah keajaiban langka di antara segala manik Dzi.

Lebih dari itu, dikatakan manik tersebut merupakan yang pertama dibuat oleh pendiri Sekte Bumi sendiri. Nilainya tak bisa diukur oleh emas atau permata.

Harvey menarik napas perlahan. Aura lembut namun kuat terpancar dari manik itu, membuat ruangan terasa lebih hening dari sebelumnya.

“Bantu aku menawar manik Dzi ini,” katanya datar pada Astria.

“Berapa pun harganya.”

Astria menatapnya, sedikit tertegun. “Tuan Muda York, sepertinya saya perlu berkonsultasi dengan Kakek dulu. Lagipula, harga awal manik ini—”

“Kamu tidak perlu membayar.”

Harvey memotong tenang. Ia menggeleng sedikit, matanya tajam tapi tenang.

“Tak pantas bagiku untuk tampil di depan umum. Kamu saja yang menawarnya.”

Ia menjentikkan jarinya pelan. Sebuah kartu bank berwarna hitam pekat mendarat di pangkuan Astria.

Astria menunduk sekilas — dan dalam sekejap, seluruh darahnya seolah berhenti mengalir.

Kartu Emas Hitam!

Bab 5682

Kartu itu bukan sekadar kartu.

Itu adalah simbol status tertinggi — lambang kekuasaan, pengaruh, dan kekayaan yang nyaris tak terbayangkan.

Astria menatap kartu itu, napasnya tersangkut di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang.

Ia selalu mengira Harvey hanyalah ahli bela diri dengan kemampuan unik — pria misterius dengan sedikit keangkuhan alami.

Tapi kini, pandangannya terbalik sepenuhnya.

Ternyata, di balik ketenangan itu tersembunyi kekuatan besar yang bahkan Keluarga Surrey pun tak mampu ukur.

Ia memiliki kemampuan bela diri mendekati dewa perang, dan sekarang terbukti pula bahwa ia memegang kendali atas sumber daya keuangan yang nyaris tak terbatas.

Pria seperti itu… bukan hanya kuat. Ia berkuasa dalam diam.

Faktanya, di Jinling, tak ada kekuatan mana pun yang berani menentangnya. Mungkin itulah sebabnya Keluarga Surrey gagal mengusut siapa dirinya.

Karena posisinya terlalu tinggi untuk dijangkau oleh siapa pun.

Astria kini memahami.

Sikap acuh Harvey bukanlah sombong kosong. Itu adalah ketenangan seorang naga di atas awan — tak peduli pada riuh rendah di bawah.

Naga akan tetap naga.

Dan serangga, selamanya tetap merayap di tanah.

Menelan rasa malu dan sisa-sisa gengsi, Astria menunduk hormat.

“Tuan Muda York,” ujarnya pelan, “aku dengar banyak kekuatan besar di luar Tembok Besar juga mengincar manik Dzi ini. Harganya pasti sangat tinggi…”

Harvey hanya menjawab ringan, tanpa menoleh,

“Kuulangi lagi. Berapa pun harganya.”

Nada suaranya tidak meninggi, tapi mengandung kekuatan yang membuat siapa pun di dekatnya enggan membantah.

Astria menarik napas dalam-dalam dan tidak berani bicara lagi.

Namun sebelum lelang dilanjutkan, langkah kaki berat terdengar dari arah tangga menuju lantai tiga.

Beberapa detik kemudian, sekelompok pria berpenampilan mewah masuk dengan aura yang luar biasa.

Pemimpin rombongan itu adalah seorang pria berkepala plontos dengan tinggi hampir satu delapan meter.

Wajahnya tegas, matanya dalam, dan dari setiap geraknya terpancar aura dominan khas orang luar Tembok Besar.

Di sampingnya berjalan seorang wanita bergaun putih polos, kecantikannya lembut namun memabukkan. Gaunnya sederhana, tapi keanggunannya tidak dapat disembunyikan.

Kaki jenjangnya seputih giok berkilau, membuat beberapa orang menahan napas tanpa sadar.

Ia berjalan sangat dekat dengan pria botak itu, tubuhnya nyaris menempel.

Senyumnya lembut, penuh pesona yang membuat siapa pun di ruangan itu menunduk — bukan karena sopan, melainkan takut tertarik.

Di belakang mereka mengikuti sekitar selusin pria dan wanita berpakaian indah. Di antara mereka, seorang pria tua botak tampak tenang namun menyiratkan aura berwibawa.

Rombongan itu berjalan tanpa menghiraukan tatapan siapa pun, langsung menuju barisan depan dan duduk di tempat terhormat.

Pria botak yang memimpin kini memegang tasbih bintang-bulan berwarna hitam, butirannya besar dan berkilau. Ia mengusapnya perlahan, bibirnya membentuk senyum samar.

Wanita di sampingnya, tanpa ragu, meletakkan kakinya yang jenjang di pangkuan pria itu, seolah pemandangan itu adalah hal biasa.

Pria itu menepuk lembut kakinya, sementara ruangan tetap sunyi.

Tak seorang pun berani berkomentar — justru beberapa tokoh besar berdiri dan memberi hormat.

Bahkan juru lelang membungkuk dalam-dalam, wajahnya dipenuhi rasa hormat dan kekaguman.

Tatapan Harvey dan Astria bersamaan beralih ke arah pasangan itu.

Harvey tersenyum tipis, suaranya tenang namun sarat makna.

“Nona Surrey,” ujarnya perlahan, “bukankah itu adikmu?”

“Siapa suaminya?”

Astria menatap tajam. Wanita bergaun putih itu tak lain adalah Milena Surrey, putri keempat keluarga Surrey — adik kandungnya sendiri.

Harvey dan Milena pernah bertemu di rumah leluhur keluarga Surrey; ia tahu betapa sombongnya wanita itu.

Sekarang Milena tampak begitu jinak, bahkan menempel pada pria berkepala plontos itu dengan sikap tunduk dan lembut.

Sudah cukup untuk menjelaskan satu fakta — pria itu bukan orang sembarangan.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5681 – 5682 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5681 – 5682.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*