Kebangkitan Harvey York Bab 5643 – 5644

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5643 – 5644 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5643 – 5644.


Bab 5643

“Teman sekelasku yang terhormat,” suara Rogier terdengar dalam dan tegas, “Theon Fairham tetaplah temanmu, apa pun yang terjadi.”

Ia menatap Harvey dengan sorot mata penuh makna.

“Karena kamu lebih kuat darinya, seharusnya kamu menahan diri. Untuk apa menggunakan tangan besi seperti itu?”

Ucapan Rogier itu membuat seisi ruangan terdiam. Tatapan heran berputar ke segala arah.

Apa maksudnya?

Harvey menggunakan tangan besi?

Bukankah sejak tadi dia hanya duduk tenang, bahkan tampak tak bergerak karena ketakutan?

Bisik-bisik segera memenuhi aula latihan.

Harvey hanya menatap Rogier sekilas, wajahnya sama sekali tak berubah — datar, acuh, dan dingin seperti batu karang di tengah ombak.

Rogier mengeraskan nadanya.

“Orang lain mungkin tidak melihat, tapi aku tahu.”

“Saat tendangan Theon meleset, kamu memanfaatkan kelengahan semua orang dan mengulurkan kaki kirimu untuk menyapu telapak kakinya.”

“Itu bukan gerakan besar, tapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh keras ke lantai hingga tangannya patah.”

Rogier menegakkan punggungnya, menatap tajam.

“Tuan York, kuakui kamu memiliki sedikit kemampuan. Tapi tindakan menyerang diam-diam seperti itu sangat memalukan bagi seorang pria sejati.”

Serentak, gumaman riuh meledak dari para penonton.

“Oh, jadi begitu!”

“Pantas saja tangan Theon patah!”

“Pria dari Dataran Tengah ini sangat tak tahu malu!”

Desas-desus dan cibiran berputar di udara seperti badai kecil.

Namun Harvey hanya menghela napas perlahan, lalu menaruh minuman sodanya di meja. Ia tak menatap Rogier, hanya berbicara pelan dengan nada yang menusuk:

“Matamu yang mana yang melihatku menyerang pecundang itu secara diam-diam?”

Nada suaranya setenang air, tapi setiap kata terasa seperti bilah dingin.

Rogier menatapnya tajam. “Aku tidak perlu melihat. Aku tahu dari caranya jatuh.”

Harvey mengangkat alis, seulas senyum samar muncul di wajahnya.

“Oh, jadi kamu menebak,” katanya. “Menuduhku tanpa bukti hanya berdasarkan dugaan?”

Ia melirik ke arah kerumunan.

“Tidak ada satu pun di sini yang melihatnya, kan?”

“Kita kesampingkan dulu soal itu. Theonlah yang lebih dulu menantang dan menyerangku tanpa malu.”

Nada suaranya kemudian menurun, tapi justru membuat tekanan semakin berat.

“Kalau menurutmu aku bisa menyerang diam-diam tanpa seorang pun menyadari gerakanku…”

“…pernahkah kamu berpikir apakah Theon layak menerima serangan seperti itu?”

“Layak, Rogier?”

Kata terakhir itu diucapkan lembut, tapi mengandung duri tajam.

Mata Rogier menyipit sedikit. Sekilas rasa canggung melintas di wajahnya. Ia tahu Harvey benar.

Jika Harvey benar-benar memiliki kemampuan secepat itu — cukup cepat hingga menipu pandangan semua orang — maka tingkat kekuatannya jauh di atas para siswa di sini.

Dan dalam konteks itu, Theon memang tidak pantas dijadikan lawan.

Rogier merasakan sedikit rasa malu menyelinap di dadanya. Tapi sebagai senior, ia tak bisa mundur.

Theon adalah murid di bawah bimbingannya, dan kini lengannya patah. Ia tak bisa tinggal diam.

Maka ia berdiri perlahan, menatap Harvey dengan tatapan serius dan nada berwibawa.

“Tuan York, kita tak perlu memperdebatkan benar atau salah tadi.”

“Tapi karena kamu telah menghina seni Sanda, menyebut kami sekadar pengamen jalanan…”

“Maka, sebagai mahasiswa baru terbaik di Akademi Dizong, aku merasa berkewajiban mengajarkanmu sedikit tentang apa itu teknik Sanda sejati.”

Ia mengangkat dagunya. “Beranikah kamu melawanku?”

Kata-kata itu mengguncang ruangan.

Seketika, semua tatapan beralih ke Harvey — sebagian iba, sebagian lainnya puas menunggu kehancurannya.

Di sudut ruangan, Theon yang masih tergeletak menahan nyeri menatap Harvey dengan kebencian membara.

Baginya, Harvey pantas menerima hukuman.

Sementara itu, Lorey memandang Rogier dengan mata berkilat kagum.

Bagi Theon, Lorey adalah dewi impian.

Tapi di mata Lorey, sosok Rogier Cobb — dengan nama besar, bakat luar biasa, dan aura bangsawan — adalah cinta sejati yang sesungguhnya.

Kini, melihat Rogier berdiri membela “kehormatan” kelas, Lorey yakin pria yang diam-diam membuatnya kesal itu akan segera hancur di bawah tangan sang Tuan Muda.

Namun di tengah semua sorakan dan tatapan itu, Harvey hanya tersenyum tipis.

Ia mengangkat pandangan, suaranya tenang namun tajam bagai pisau:

“Menantangku? Apakah kamu tidak takut aku hajar?”

Bab 5644

Harvey tidak sedang bercanda. Ia berkata apa adanya.

Dia benar-benar tidak berniat membuang waktu dengan orang-orang seperti Rogier.

Bukan karena takut, tapi karena sulit baginya menahan kekuatan sendiri — terlalu mudah untuk menghancurkan mereka.

Ia tahu, jika ia tidak hati-hati, satu gerakan ringan pun bisa membuat tulang seseorang retak.

Namun, sikapnya yang tenang justru membuat para siswa semakin kesal.

“Tuan York, apa Anda tidak sehat?” seru salah satu murid laki-laki.

“Apakah Anda pikir bisa sebanding dengan Tuan Muda Cobb?”

“Dan masih berani mengancamnya? Anda pikir semua orang di sini takut padamu hanya karena bicaramu tajam?”

“Anjing galak tidak perlu menggonggong,” ejek yang lain.

Gelombang ejekan muncul bertubi-tubi.

“Dia hanya beruntung waktu melawan Theon,” ujar seorang murid perempuan dengan sinis.

“Menyerang diam-diam, lalu menganggap dirinya jagoan? Dasar pengecut.”

“Kecuali Tuan Muda Cobb berbaik hati, pria ini akan berakhir di rumah sakit seumur hidupnya.”

Sorakan dan tawa sumbang bergema.

Namun di tengah semua suara itu, Harvey tetap tak menunjukkan reaksi apa pun. Wajahnya datar, matanya tenang.

Bagi Harvey, Rogier bukan ancaman — hanya serangga yang terlalu berisik.

Ia bangkit perlahan, berniat pergi.

Baginya, perdebatan ini sia-sia. Tidak ada gunanya menukar kata dengan mereka yang tak mengerti apa-apa.

Lorey mendengus kecil, lalu berkata dengan nada congkak, “Tuan York, Anda tidak tahu siapa Tuan Muda Cobb kami.”

“Dia bukan hanya ahli Sanda.”

“Sejak kecil dia berlatih seni bela diri leluhur dari Suku Gajah Emas!”

“Kalau dia mau, dia bisa menjatuhkanmu hanya dengan satu tamparan.”

Ucapan itu membuat beberapa siswa tertawa puas.

Namun Harvey tidak menanggapi.

Sementara pelatih Sanda yang sejak tadi diam hanya menatapnya dengan pandangan tajam, lalu berkata dengan nada dingin, “Kalau kamu ingin bertarung, ayo.”

“Tapi ingat, berhentilah saat waktunya berhenti.”

“Jika kamu terluka, Tuan Muda Cobb tak akan bisa dimintai pertanggungjawaban.”

Kalimat itu jelas bermakna satu hal — tak seorang pun peduli jika Harvey yang terluka.

Semuanya sudah berpihak pada Rogier.

Namun Harvey tetap berbalik, melangkah menuju pintu.

“Harvey, kamu takut?” teriak seseorang.

“Kalau begitu, berlututlah dan minta maaf pada Theon!”

“Kalau tidak, kamu tak akan bisa keluar dari sini hari ini!”

Langkah Harvey terhenti ketika Rogier maju dan berdiri di hadapannya, menghalangi jalan.

Dengan tangan di belakang punggung, tubuh tegap, dan senyum sombong di bibirnya, Rogier tampak seperti pahlawan yang menegakkan keadilan dalam drama televisi.

Sementara Harvey, yang dituduh pengecut dan licik, tampak seolah-olah sedang melarikan diri dari tanggung jawab.

Di mata semua orang, satu kesimpulan terbentuk:

Harvey takut.

Rogier akan menjatuhkannya hanya dengan satu serangan.

Lagipula, Akademi Dizong di pinggiran Tembok Besar bukanlah tempat bagi orang asing dari Dataran Tengah untuk menunjukkan kesombongan.

Harvey menatapnya lama, lalu mendongak menatap langit-langit aula. Ia menghela napas perlahan, seakan menimbang kesabaran terakhirnya.

“Kalau kamu ingin bertarung,” katanya akhirnya, datar tapi penuh tekanan, “Ayo, kita bertarung.”

Keheningan menggantung sesaat.

Namun bagi penonton, nada itu terdengar congkak, seolah ia sedang menghina lawannya.

“Dasar sombong!” gumam Rogier, wajahnya mengeras.

Ia bukan tipe orang yang berteriak atau menantang dengan kasar seperti Theon, tapi kesombongannya jauh lebih dalam — tenang, tapi beracun.

Baginya, di Akademi Dizong hanya segelintir orang yang pantas menarik perhatiannya.

Dan Harvey York, jelas bukan salah satunya.

Namun sikap dingin Harvey, ketenangannya yang nyaris menghina, cukup untuk menyalakan bara amarah di dada Rogier Cobb.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5643 – 5644 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5643 – 5644.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*