Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5641 – 5642 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5641 – 5642.
Bab 5641
Setelah menyeka keringat di wajahnya, Rogier melirik Theon dengan senyum tipis dan berkata,
“Theon, kamu cukup berbakat dalam seni bela diri. Tapi jangan terlalu sering menghabiskan waktu di tempat dansa!”
Ia menegakkan tubuhnya, nada suaranya mengeras.
“Berlatihlah lebih banyak!”
“Berlatihlah lebih giat lagi!”
“Suatu hari nanti, mungkin kamu akan cukup layak untuk melawanku!”
Jelas, di mata Rogier Cobb, tak satu pun murid yang hadir hari itu pantas menantangnya. Aura keangkuhan memancar dari sikapnya.
Theon, dengan nada penuh kekaguman sekaligus kepatuhan, menjawab, “Tuan Muda Cobb, dengan latar belakang dan kemampuanmu, kamu benar-benar tak terkalahkan di Akademi Dizong!”
“Bagaimana mungkin kami bisa menandingi kehebatanmu?”
“Kalau ada kesempatan, tunjukkanlah beberapa jurus. Kami bahkan tak berani bermimpi untuk melawanmu.”
Kata-kata Theon disambut riuh sanjungan.
Semua murid tahu diri — di hadapan seorang jenius sehebat Rogier, mereka hanyalah pengagum tak berarti.
Namun Rogier menanggapi pujian itu dengan dingin. Ia hanya menangkupkan kedua tangan di belakang punggung dan berjalan santai ke arah penonton, wajahnya tenang dan tak berperasaan.
Begitu Rogier duduk, Theon menoleh, menatap Harvey yang berdiri di antara kerumunan, lalu mencibir sinis.
“Halo, teman sekelas York.”
Ia menarik napas panjang dan mengucapkan dengan nada menantang, “Ada aturan di kelas Sanda kita — setiap murid boleh menantang murid lain!”
“Yang ditantang boleh menolak, tapi harus berlutut dan mengakui kekalahan!”
Tatapan Theon berubah tajam, suaranya menekan udara.
“Jadi, kamu ingin bertukar beberapa jurus denganku, atau langsung berlutut dan mengaku kalah?”
Wajah Theon Fairham bersinar dengan kesombongan, matanya memantulkan cahaya puas.
Suasana kelas tiba-tiba menegang. Semua murid memandang ke arah Harvey — pria yang kini menjadi pusat perhatian.
“Bukan kah Theon salah satu petarung terkuat?” bisik seseorang.
“Mengapa dia menantang seorang pemula? Bukankah ini perundungan terang-terangan?”
Beberapa murid berbisik, tapi begitu mendengar alasan di balik penolakan Harvey terhadap Lorey sebelumnya, ekspresi mereka berubah — dari kasihan menjadi penasaran.
Harvey sendiri tampak sama sekali tak terganggu. Wajahnya tenang, seperti air yang tak terusik.
Ia hanya menatap Theon sekilas sebelum menjawab datar, “Kamu yakin ingin melawanku?”
“Aku khawatir, kalau tidak hati-hati, kamu akan menangis.”
“Lebih baik lupakan saja.”
Kalimat itu membuat semua orang melongo.
Apakah pria Dataran Tengah ini sudah kehilangan akal sehat? Atau terlalu banyak makan bawang putih hingga lidahnya terbakar sombong?
Semua tahu, meski Theon tak punya latar belakang sebesar Rogier, dia petarung tangguh. Sejak SMA ia sudah menumbangkan sekelompok preman sendirian. Kekuatannya bukan main.
Kini Harvey berani memprovokasinya seperti itu? Itu bukan keberanian, tapi bunuh diri.
Lorey memandangi Harvey dengan senyum sinis. Dalam hatinya, ia mencibir — pria ini benar-benar tak tahu cara mengeja kata “mati”.
Seandainya Harvey diam saja, Theon mungkin hanya memaksanya berlutut dan meminta maaf. Tapi sekarang? Dengan mulut besar itu, kemungkinan besar ia akan kehilangan lebih dari sekadar harga diri.
Theon, yang awalnya hanya setengah serius, kini wajahnya menegang. Ia mencibir,
“Awalnya aku berniat membiarkanmu pergi kalau kamu berlutut dan mengaku kalah. Tapi sekarang aku berubah pikiran.”
Nada suaranya menurun, penuh ancaman.
“Kecuali kamu mematahkan salah satu tanganmu sendiri, urusan ini belum selesai.”
Ia memutar lehernya perlahan, suara sendinya berderak — seperti peringatan akan datangnya badai.
Harvey melirik ke arah pelatih, tapi pria itu hanya menatap ke tempat lain, seolah-olah tidak peduli apa yang akan terjadi.
Jelas, ini sudah diatur sejak awal.
Harvey mendengus pelan, lalu menatap Theon dengan tenang.
“Kalau begitu,” katanya, datar namun tajam,
“patahkan salah satu tanganmu.”
“Kamu mau melakukannya sendiri, atau butuh bantuanku?”
“Dasar—!” Theon mendengus, wajahnya memerah oleh amarah.
Pria Dataran Tengah itu bukan hanya menolak tunduk, tapi malah berani membalas menghina!
Dengan langkah cepat, Theon melangkah maju. Suara “krak!” terdengar ketika kakinya menendang meja kopi hingga terbelah dua.
Sorak-sorai bergemuruh di antara para murid. Suasana semakin panas.
Theon menunjuk Harvey dari kejauhan.
“Kamu! Majulah, dan bersiap babak belur!”
Bab 5642
Menurut Theon, kekuatan dan keanggunan tendangannya hanya kalah dari Rogier di antara semua mahasiswa baru Akademi Dizong.
Ia yakin sekali — kali ini Harvey pasti akan berlutut meminta ampun.
Namun Harvey hanya menatap datar, lalu menepuk tangannya pelan.
“Lumayan,” katanya santai.
“Kamu sepertinya cocok jadi pengamen jalanan.”
Ucapan itu seketika membekukan udara di ruangan. Wajah Theon mengeras, rahangnya menegang. Bahkan Rogier dan sang pelatih yang berdiri di sisi lapangan langsung menoleh.
Kata-kata Harvey bukan sekadar penghinaan untuk Theon — tapi juga untuk seluruh murid kelas Sanda, seolah mereka hanyalah pemain jalanan tanpa harga diri.
Beberapa murid yang tadinya bersimpati pada Harvey kini menatapnya kesal.
Ia tak berbakat, tapi berani sombong — sungguh tidak tahu diri.
Theon tersenyum getir, nadanya bergetar menahan amarah.
“Siswa York, sepertinya kamu memang mencari kematian.”
“Kalau begitu, biarkan aku mengabulkan keinginanmu!”
Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju, tendangan melengkung langsung menuju pelipis Harvey.
Tendangan itu cepat dan tajam seperti cambuk — jika mengenai kepala, bisa membuat seseorang pingsan seketika.
Namun Harvey hanya memiringkan sedikit kepalanya, tak tergesa, nyaris acuh.
Swish!
Kaki Theon meleset, menghantam udara kosong.
Karena terlalu banyak tenaga, keseimbangannya hilang. Ia jatuh keras ke lantai dengan bunyi gedebuk! yang membuat semua orang ternganga.
Theon refleks menumpu dengan tangan kirinya, tapi tenaga itu justru menghancurkan tulang lengannya sendiri.
“Arrgghhh!”
Jeritannya menggema di ruangan. Suaranya menusuk telinga, tubuhnya menggeliat menahan sakit.
Semua murid terpaku.
Mereka menatap tak percaya — Theon… patah tangan?!
Tadi mereka semua yakin Harvey akan dipukul jatuh. Tapi kini, bahkan tanpa bergerak sedikit pun, Theon yang tumbang sendiri!
“Kok bisa?” seseorang berbisik panik.
“Theon terlalu lemah, ya? Tendangannya meleset, malah mematahkan tangannya sendiri?”
“Dia pasti ceroboh!”
“Tidak mungkin, aku yakin pria Dataran Tengah itu menyerang diam-diam!”
“Serangan diam-diam dari mana? Kamu lihat sendiri, dia bahkan tidak bergerak!”
Desas-desus beredar cepat di antara para murid.
Banyak yang awalnya mengira Harvey hanya beruntung, tapi sekarang, kebingungan mereka bercampur rasa kagum yang tak mau diakui.
Lorey menatap Harvey dengan wajah yang sedikit berubah.
Ia awalnya berharap Theon akan membuat Harvey lumpuh, tapi kenyataannya justru sebaliknya.
Theon tumbang, Harvey tetap berdiri tegak — bahkan tanpa menyentuhnya.
Kemenangan itu begitu bersih, begitu memalukan bagi Theon.
“Mahasiswa baru terbaik kedua, katanya,” gumam Lorey dengan suara rendah penuh ejekan.
“Ternyata tak lebih dari kandil berkarat yang dibungkus perak.”
Ia mendengus dingin, lalu memalingkan wajahnya. Tatapannya kepada Harvey kini bukan sekadar benci — ada rasa tidak percaya bercampur waspada.
“Sekali beruntung,” pikirnya dalam hati. “Tapi tak mungkin kamu bisa seberuntung itu setiap kali.”
Sementara itu, di barisan penonton, hanya Rogier yang tak bersuara.
Ia menyipitkan mata, keningnya berkerut halus, menatap Harvey lama — seolah mencoba menilai ulang siapa sebenarnya pria yang baru saja menumbangkan salah satu murid terkuat tanpa menggerakkan satu jari pun.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5641 – 5642 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5641 – 5642.
Leave a Reply