Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5583 – 5584 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5583 – 5584.
Bab 5583
Begitu Harvey turun dari mobil, belum sempat ia membuka mulut, suara tawa bergema lantang.
Harland melangkah cepat dengan wajah penuh sukacita. “Harvey, sudah lebih dari sepuluh tahun kita tak bertemu! Kamu sudah tumbuh dewasa!”
“Sejak kamu tiba di perbatasan ini, anggaplah tempat ini rumahmu.”
“Tidak perlu sungkan dengan aku Pamanmu.”
Harvey sempat mengernyit tipis, namun segera menyesuaikan diri dengan peran barunya. Senyum tipis terbit di wajahnya. “Terima kasih, Paman Higgens.”
“Bagus, bagus sekali!” Harland tertawa terbahak, bahunya berguncang karena girangnya.
“Mari kuperkenalkan seseorang. Ini putriku, Belinda! Dia kuliah di universitas yang sama denganmu.”
“Kalau tidak salah ingat, usianya hanya beberapa bulan lebih muda darimu. Kamu harus menjaganya baik-baik!”
“Jangan khawatir, Paman Higgens,” jawab Harvey tenang.
Ia menoleh sejenak. Sosok gadis dengan gaun hitam Givenchy berdiri anggun di samping. Belinda Higgens.
Putri tunggal Harland—dan juga tunangan dari Harvey yang asli.
Meski Harvey merasa tidak pantas terlibat terlalu jauh dengan gadis ini, ia tetap berinisiatif.
“Halo, namaku Harvey, dari Jinling. Jika di kemudian hari kamu butuh bantuan, jangan ragu mengatakannya.”
Namun, usai mengucapkan kalimat itu, Harvey hanya menatapnya sekilas lalu mengalihkan pandangannya, sama sekali tak menunjukkan ketertarikan.
Tindakan itu mengejutkan Belinda.
Sejak sekolah dulu, ia adalah primadona kampus, pujaan banyak pria. Para pangeran dari keluarga bangsawan luar Tembok Besar pun pernah mencoba merayunya.
Siapa sangka, lelaki dari Dataran Tengah ini—yang jelas-jelas bukan siapa-siapa—justru begitu dingin padanya?
Hmph! Dia pasti berpura-pura. Berlagak acuh, padahal ingin membuat dirinya penasaran. Itu hanya trik murahan untuk mengejar.
Begitulah Belinda menduga. Sorot matanya memancarkan kilau nakal saat ia mengulurkan tangan kanan, pura-pura ramah.
“Baiklah, Saudara Harvey. Jangan lupakan ucapanmu barusan.” Senyumnya tipis, namun penuh tantangan.
“Kamu harus melindungiku!”
Namun, Harvey dengan cepat menarik tangannya kembali, enggan menyambut jabatan tangan itu.
Sekilas senyum Belinda memudar. Di balik hatinya, rasa muak menyembul.
Memang benar, pecundang tetaplah pecundang. Walau berasal dari kota besar, ia tetap tidak pantas.
Jika saja ia beruntung menyentuh tangannya hari ini, mungkin ia akan membual sepanjang hidup.
Harvey tidak memedulikan ekspresi gadis itu. Ia memang jarang berinteraksi akrab dengan perempuan asing, terlebih yang usianya jauh lebih muda.
Ia sadar betul, bila pria dewasa bersikap lancang pada gadis muda, cepat atau lambat hanya akan mendatangkan masalah.
“Baiklah, ayo pulang dulu.”
Harland, yang melihat interaksi singkat mereka, tersenyum lega. Hatinya hangat seolah melihat harmoni.
“Nanti akan kuperkenalkan dengan bibimu. Selama ini dia hanya pernah melihat foto masa kecilmu. Dia takkan menyangka kamu sudah tumbuh setampan ini.”
Harland kembali menatap Harvey lekat-lekat. Meski tubuhnya agak kurus, wajahnya sedikit pucat, namun menurut Harland, begitulah ciri khas orang dari Dataran Tengah.
“Baiklah,” Harvey menjawab dengan senyum sopan.
Mereka bertiga pun berjalan menyusuri jalan setapak perumahan. Udara sore membawa angin kering, debu tipis berputar di bawah cahaya matahari.
Harvey sempat menoleh ke kejauhan, tatapannya tertuju pada sebuah gunung yang menjulang gagah di cakrawala.
Melihat pandangan itu, Harland ikut menoleh lalu tertawa, “Harvey, itu adalah Gunung Tianti—tempat wisata paling terkenal di daerah pedalaman kita!”
Bab 5584
“Konon, sejak zaman kuno, orang-orang dari Suku Serigala Tembok Besar Luar menganggap Gunung Tianti sebagai gunung suci,” jelas Harland sambil menghela napas bangga.
“Setiap musim semi dan panen musim gugur, mereka mengadakan upacara pengorbanan di sana.”
“Meski di era modern ritual itu sudah banyak ditinggalkan, kebanggaan kami sebagai Suku Serigala tak pernah pudar.”
“Bahkan hingga kini, banyak keluarga merasa terhormat tinggal di lereng Gunung Tianti.”
“Di tengah gunung itu berdiri kompleks vila megah, dibangun oleh orang terkaya di seluruh Tembok Besar Luar.”
“Konon, harga sebuah toilet di sana lebih mahal daripada satu rumah di sini.” Harland terkekeh getir.
“Pamanmu ini sudah bekerja keras sepanjang hidup, namun tetap tak mampu menjejakkan kaki sebagai pemilik di sana.”
Harvey menyipitkan mata, menatap pucuk Gunung Tianti yang diselimuti cahaya keemasan sore. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Aku sudah tahu sedikit tentang tempat ini sebelum datang. Kalau tak salah, orang terkaya di Tembok Besar Luar itu Keluarga Klein dari Suku Serigala, bukan?”
Harland menoleh, terkejut mendengar ketepatan informasi Harvey. “Benar. Di Tembok Besar Luar, Suku Serigala terbagi atas dua garis utama—Keluarga Higgens dan Keluarga Klein.”
“Meski aku bermarga Higgens, posisiku hanyalah cabang kecil, tak ada hubungan langsung dengan garis inti.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan senyum tulus.
“Oh ya, tentang vila. Kami memang punya satu, tak jauh dari sini. Walau ukurannya tidak sebesar yang di Gunung Tianti.”
“Begitu mendengar kabar kedatanganmu, aku langsung merenovasinya. Anggap saja ini hadiah sambutan. Mulai sekarang, kamu bisa tinggal di sana.”
Harland mengeluarkan kartu akses dan secarik alamat, menyerahkannya kepada Harvey.
Harvey menerima kartu itu, menatap alamatnya sekilas. Sebuah kawasan elit berisi gedung-gedung tinggi dan vila, kemungkinan besar dulu bekas kediaman cabang Keluarga Higgens Qi.
Dalam hati, Harvey mengakui kebaikan Harland terhadap Harvey asli. Ia menyimpan kartu itu dengan penuh rasa hormat, lalu tersenyum.
“Kalau begitu, aku tidak akan terlalu sopan. Tapi, aku juga tak akan tinggal gratis. Jika ada waktu, aku akan pergi ke Gunung Tianti. Kalau ada vila yang cocok, akan kuberikan padamu.”
Kalimat itu diucapkan Harvey tenang, namun mengandung tekad.
Bagi dirinya, meskipun harga vila di luar Tembok Besar menembus puluhan bahkan ratusan juta, itu bukan apa-apa.
Bila ia menghendaki, seluruh kompleks vila di Gunung Tianti bisa jatuh ke tangannya hanya dengan satu perintah.
Harland tertegun sejenak, lalu wajahnya merekah bahagia.
“Harvey, kamu anak baik! Paman tidak salah menaruh harapan padamu. Kamu tahu bagaimana cara berterima kasih.”
Di belakang mereka, Belinda yang mendengarkan percakapan itu mendengus kecil. Wajah cantiknya menegang, keningnya berkerut.
Ia tahu betul nilai sebuah vila di Gunung Tianti—puluhan hingga ratusan juta. Bahkan para pangeran dan tuan muda yang sering mengejarnya pun tak berani sesumbar seperti itu.
Siapa dia sebenarnya? Anak muda dari Dataran Tengah berani bicara seolah-olah bisa membeli vila Gunung Tianti?
Apa dia mengira dirinya bermarga Klein, orang terkaya di luar Tembok Besar?
Begitu sombong di usia muda. Ayah menganggapnya anak baik, padahal jelas-jelas omong kosong.
Belinda tahu Harvey dan dirinya pernah dijodohkan sejak kecil.
Awalnya ia menduga pria ini akan lebih unggul dari pemuda-pemuda lain. Namun kini, menurutnya, ia hanya pria biasa yang mencoba mati-matian menarik perhatiannya dengan kata-kata besar.
Obrolan berlanjut hingga mereka tiba di pintu Vila No. 9, satu-satunya kompleks vila.
Bangunan itu berupa rumah perkotaan dengan dekorasi khas gaya Suzhou, indah dan penuh sentuhan elegan.
Begitu melangkah masuk, suasana lembut khas kota air Jiangnan menyambut mereka.
Di ruang lobi, seorang wanita paruh baya dengan cheongsam anggun sedang menyiapkan teh. Gerakannya tenang, uap harum teh melayang-layang memenuhi udara.
Sekilas, Harvey langsung mengenalinya. Dia adalah Whitney Cobb—istri Harland.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5583 – 5584 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5583 – 5584.
Leave a Reply