Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5345 – 5346 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5345 – 5346.
Bab 5345
Watson terhuyung karena tamparan itu, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Sesaat ia benar-benar tak mampu bereaksi.
Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun menjabat posisi tinggi, hampir tak ada seorang pun yang berani membentaknya, apalagi menamparnya.
Dan kini, di saat kritis ini, tak satu pun pengawal berada di sisinya.
“Apa? Kamu tidak mendengarku?”
Ayaka, yang dua hari terakhir menahan rasa tertekan, kini melampiaskan amarahnya. Ia kembali mengayunkan tamparan keras.
“Keluar!”
“Kalian orang Daxia lebih menjijikkan dari babi dan anjing. Setiap kali melihat wajah kalian, aku muak! Keluar sekarang juga!”
Ayaka menyerang Watson tanpa henti, sementara Yamato sama sekali tidak peduli. Tatapannya justru melekat pada Arlette yang berdiri lemah di sisi Harvey. Sepasang matanya memancarkan gairah mendidih.
Meskipun Yamato telah melihat berbagai wanita di negeri kepulauan, pesona perempuan Daxia baginya bagaikan kuda liar—liar, menantang, dan semakin membangkitkan nafsu penaklukannya.
Pil biru kecil yang telah ia telan membuat darahnya semakin panas. Napasnya memburu, dan dengan nada tak sabar ia menggeram, “Cepat!”
Mendengar itu, Ayaka menendang Watson hingga jatuh terkapar, lalu menjerit marah, “Kamu dengar?! Segera enyah dari sini!”
Watson perlahan bangkit. Sorot matanya meredup, namun ucapannya tetap tegas.
“Aku tidak peduli apakah kamu dari Jepang atau Korea. Sudahkah kamu pikirkan konsekuensi dari kesembronoanmu di bawah kedaulatan Daxia?”
“Bahkan jika aku membiarkanmu lolos, hukum negeri ini tidak akan membiarkanmu.”
“Yo-ho?” Ayaka mencibir penuh penghinaan.
“Hukum Daxia? Aku benar-benar ketakutan!”
“Apakah kamu lupa kami memiliki hak ekstrateritorial? Hukummu tidak berlaku bagi penduduk pulau!”
Namun, sebelum tawa congkaknya sempat berlanjut, sebuah suara dingin memecah udara.
“Tapi orang-orang Daxia tetap bisa menundukkan penduduk pulau sepertimu.”
Harvey, yang berdiri di dekat meja teh, meraih asbak dan menghantamkan benda itu tepat ke kepala Ayaka.
“Aarrgghh!”
Ayaka menjerit, abu bercampur darah menutupi pandangannya. Ia terhuyung, tak lagi bisa melihat jelas, tapi tetap menunjuk ke arah Harvey.
“Baka! Berani-beraninya kamu menyentuhku!”
Pah!
Sebelum para pengawal Jepang sempat bereaksi, Harvey telah meraih cangkir teh tiga warna dan membantingnya ke wajah Ayaka.
Bunyi pecah terdengar, disertai jeritan memilukan. Wajah Ayaka terpercik teh panas, nyaris membuatnya cacat. Ia berguling-guling di lantai, menahan sakit yang menyengat.
“Ap—apa?!”
Orang-orang Jepang di sekitarnya melongo, seolah tak percaya apa yang baru saja mereka saksikan.
Siapa pun tahu Ayaka adalah perwakilan kedutaan Jepang di Jinling. Di kota ini, statusnya ibarat penguasa bayangan.
Anak muda ini, yang entah dari mana asalnya, tidak tahukah ia apa konsekuensi berani menyentuh Ayaka?
Namun Yamato justru menyipitkan mata, seulas senyum tipis terbit di wajahnya. Ada rasa tertarik yang jarang ia tunjukkan. Jarang sekali ia melihat orang berani menentang keluarga Abe, apalagi seorang dari Daxia.
Harvey sama sekali tidak mengindahkan tatapan mereka. Ia mengambil tisu, menyeka tangannya perlahan, lalu berkata dingin, “Bagaimana? Haruskah aku bertindak lebih jauh lagi, supaya kalian benar-benar mengerti?”
Bab 5346
“Bajingan, kamu…”
Ayaka akhirnya berhasil menyeka debu dan abu dari wajahnya. Dengan gemetar, ia berdiri.
Tepat saat hendak memerintahkan para pengawal membunuh Harvey, matanya menangkap jelas wajah pria itu.
Sekejap saja tubuhnya bergetar hebat, hampir refleks. Ia masih ingat betul kejadian di rumah sakit—kehinaan yang membuat wajah cantiknya ditempeli cap telapak tangan.
Dan kini, bajingan yang sama kembali mempermalukannya dengan menyiram wajahnya menggunakan teh panas.
Sialan!
Harvey melirik dingin. “Apa? Pelajaran semalam di rumah sakit belum cukup membuatmu sadar? Kamu masih berani menindas pria maupun wanita?”
“Benarkah kamu mengira selembar kartu identitas dua sen itu memberimu hak untuk berbuat semaumu?”
“Bajingan!”
Ayaka menarik napas panjang, lalu berteriak, “Seseorang, panggil polisi! Hubungi Kepolisian Jinling!”
“Katakan ada yang menyerang kami, orang Jepang yang mulia!”
Ia yakin, dengan statusnya serta kehadiran Yamato, mereka bisa dengan mudah menekan Harvey. Bahkan membuatnya meringkuk di penjara seumur hidup pun bukan perkara sulit.
Terlebih, keluarga Braff kini telah kehilangan pengaruh di Jinling. Pemerintahan sudah sepenuhnya didominasi Keluarga Johnings.
Dengan hubungan dekat antara keluarga Abe dan Keluarga Johnings, menyingkirkan seorang pria biasa seperti Harvey tidaklah sulit.
“Silakan lapor polisi,” ucap Harvey tenang, mengangkat bahu.
“Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan. Kamu ingin memakai pengaruh Keluarga Johnings untuk menekanku, bukan? Aku tidak keberatan.”
“Tapi pikirkan baik-baik, Damont Johnings baru saja berkuasa, dan sekarang sudah menimbulkan perselisihan internasional sebesar ini. Apakah menurutmu Damont masih bisa mempertahankan kedudukannya?”
Kata-kata itu membuat Ayaka refleks bergidik.
Ia baru sadar, meskipun Keluarga Johnings kini berkuasa, insiden ini terjadi pada hari pertama Damont resmi menjabat. Bukankah itu tamparan telak di wajahnya?
Meskipun Damont mungkin bersedia membantu orang Jepang, pertanyaan terbesarnya: dengan hubungan panas antara Daxia dan negeri kepulauan, apakah Damont berani secara terbuka mendukung mereka?
Menyadari hal itu, Ayaka menahan napas panjang.
“Bajingan kecil! Kamu beruntung kali ini! Aku tidak jadi melaporkanmu ke polisi. Aku akan meminta Tuan Muda Kedua Abe sendiri yang menghabisimu!”
Setelah berkata demikian, ia mendekati Yamato dan bersuara berat, “Tuan Muda Kedua, itulah dia! Itu Harvey! Aku yakin dia ada hubungannya dengan kematian Abe Nobuyuki.”
“Kenapa tidak kita tangkap saja sekarang? Bawa dia pulang, siksa dia, pasti kita akan menemukan sesuatu!”
“Oh, jadi dia?” Yamato mengangkat alis, matanya menyipit. “Jadi dia yang membunuh anjingku?”
Senyum tipis muncul di wajah Yamato. Ia melangkah santai mendekati Harvey, meneliti dari atas ke bawah, lalu mencibir.
“Menarik… Anjingku bersumpah akan memberiku kejutan besar saat datang ke Daxia. Siapa sangka dia mati sehari setelah tiba.”
“Kukira dia bertemu orang luar biasa. Dan ternyata… yang ia temui hanyalah pria seperti kamu.”
“Kamu membunuh anjingku, lalu sekarang berani merebut wanita yang kuincar. Hebat juga kamu, Nak…”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5345 – 5346 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5345 – 5346.
Leave a Reply