Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5271 – 5272 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5271 – 5272.
Bab 5271
“Brengsek! Berani sekali kamu mengancam Nona Carlson!”
Seorang pendekar pedang dari negeri kepulauan melangkah maju, menatap Harvey dengan sorot penuh kebencian.
“Kamu pria yang hanya bisa berpura-pura hebat lewat video palsu. Apa kamu sungguh berpikir mampu menantang kami?”
“Kamu ingin kami berlutut? Meminta maaf?”
“Kamu ingin kami belajar menulis kata beradab?”
“Kalau begitu, akan kukatakan!”
“Beradab hanya bisa ditulis dengan darah!”
Begitu kalimat itu meluncur, pria Jepang itu menghunus pedangnya dengan penuh kesombongan.
Ia dikenal sebagai pendekar yang cukup termasyhur di tanah kelahirannya, dengan reputasi yang menonjol di kalangan generasi muda.
Tanpa menyadari kekuatan Harvey yang sesungguhnya, ia kini maju dengan angkuh.
Swish!
Pedangnya berkelebat, memancarkan cahaya dingin disertai aura yang tajam.
“Kamu?”
Harvey melirik sejenak, bahkan tak sudi menatap wajah lawannya.
Kraak!
Dengan sedikit tenaga yang ia kerahkan dari kakinya, sebongkah batu bata biru hancur berkeping-keping lalu melesat ke depan.
Swish!
Batu-batu pecah itu melesat di udara, bagaikan anak panah tajam yang ditembakkan.
Pemandangan itu membuat ekspresi para pendekar Jepang di belakang Alathia berubah drastis.
“Kamu—”
Pendekar Jepang yang menyerang mendadak merasakan hawa membunuh menusuk tajam. Dalam kepanikan, ia buru-buru mengubah gerakan, mengangkat pedangnya secara horizontal untuk bertahan.
Klang!
Suara logam memekakkan telinga terdengar ketika pedang panjangnya patah menjadi dua.
Puing-puingnya menghantam dadanya.
Puff!
Ia memuntahkan darah segar, tubuhnya terpelanting mundur. Ketika mendarat, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan penampilannya amat menyedihkan.
Dalam satu gerakan saja, ia kehilangan seluruh kemampuan bertarungnya.
Pemandangan itu membuat orang-orang Jepang, India, hingga Asia Tenggara terperangah.
Bagaimana mungkin seorang tuan muda terkenal dari negeri kepulauan tumbang dengan begitu mudah?
Keheningan mencekam menyelimuti aula pemakaman.
Wajah Alathia dan Kensuke seketika berubah kelam.
Mereka sama sekali tak menyangka, kekuatan Harvey ternyata jauh lebih menakutkan dari yang mereka bayangkan.
“Bagaimana mungkin?!”
Para tamu terkejut, nyaris tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Awalnya, banyak yang meragukan kebenaran video itu. Namun setelah melihatnya langsung, semua keyakinan mereka terguncang.
Harvey benar-benar memiliki kekuatan untuk menghancurkan Lawton seratus kali lipat.
Mungkinkah dia benar-benar seorang Dewa Perang?
Dan Dewa Perang yang masih sangat muda?
Sosok seperti itu mengguncang pandangan dunia banyak orang.
“Sepertinya kita tak bisa membiarkan orang lain menentukan semuanya begitu saja.”
“Kita sendiri yang berhak.”
Suara Harvey terdengar tenang, kedua tangannya bersedekap di belakang punggung.
“Pangeran Gibson, lemparkan orang itu ke dalam makam. Biarkan dia jadi yang pertama dikubur bersama.”
“Aku akan melempar yang lain satu per satu.”
“Karena kalian sudah datang ke sini, jangan bermimpi bisa pergi.”
Melempar para pengacau ke dalam makam agar terkubur bersama?
Ucapan Harvey membuat hawa dingin merayapi tulang belakang semua orang, disertai amarah yang menyesakkan dada.
Apa dia benar-benar berpikir dirinya tak terkalahkan?!
Memangnya kenapa kalau dia Dewa Perang?
Bukankah negeri kepulauan juga punya? Bukankah Evermore juga memiliki?
Beraninya Harvey menantang mereka seperti ini!
Apakah dia tidak paham bahwa langkah itu bisa menyeretnya pada kehancuran?
Sungguh, Harvey sama sekali tak tahu diri!
“Harvey!”
Alathia mengejek dengan senyum sinis.
“Beraninya kamu melukai salah satu putra kebanggaan negeri kepulauan!”
“Kamu sudah tamat!”
“Kamu akan menebusnya dengan nyawamu!”
Bab 5272
Begitu kata-kata itu terucap, Alathia melambaikan tangannya.
Para master di belakangnya, meskipun waspada terhadap Harvey, tetap maju menyerbu. Mereka berniat mengepung sekaligus menghabisinya.
Mereka sadar Harvey tangguh, namun mereka juga yakin—dua tangan tak akan mampu melawan puluhan tinju.
“Kamu pikir karena tak bisa mengalahkanku satu lawan satu, maka kalian bisa menang dengan keroyokan?”
Harvey menatap pemandangan itu dengan senyum tipis.
“Baiklah. Kalau itu yang kalian mau, aku akan layani.”
Usai berkata, Harvey menepuk tangannya.
Sekejap kemudian, ratusan putra dan cucu berbakti yang sebelumnya berlutut kini berdiri tegak. Masing-masing menggenggam Busur Silang Zhuge, membidik ke arah para master yang hendak menyerang.
Jumlah kubu Alathia tak sampai seratus orang, sedangkan pasukan Gerbang Surga di tempat itu tak kurang dari seribu.
Bagaimanapun, ini adalah wilayah Gerbang Surga. Bagaimana mungkin Alathia dan rombongannya bisa menandingi?
Melihat barisan bersenjata yang sudah siap tempur, wajah Alathia menegang. Ia bertukar pandang dengan Kensuke, keduanya menarik napas panjang dengan berat.
Mereka tak menyangka Harvey memiliki kendali sebesar itu atas Gerbang Surga.
Dengan satu perintah saja, para penguasa Gerbang Surga rela maju demi dirinya.
“Harvey!”
Setelah hening beberapa saat, Alathia maju selangkah, mengejek dengan nada tinggi.
“Mengandalkan jumlah orang tak ada artinya bila dibandingkan dengan keberanian seorang pahlawan sejati!”
“Kalau kamu memang hebat, lawan kami satu lawan satu!”
Harvey tersenyum, nada suaranya penuh sindiran.
“Alathia, mungkin kamu gagal belajar banyak hal di negeri kepulauan, tapi satu hal yang pasti: kamu sudah sangat lihai dalam seni berbohong.”
“Siapa yang mengandalkan jumlah? Kamu benar-benar tidak tahu?”
“Atau kamu merasa mulutmu bisa memuntahkan apa pun sesuka hati?”
Kata-kata Harvey membuat wajah para pendekar kepulauan memerah, seolah mereka baru saja dipaksa menelan kotoran.
Sementara itu, para tamu dari Nanyang dan India saling pandang. Mereka bimbang—harus menyerang atau tidak?
Jika menyerang, Busur Silang Zhuge itu pasti akan dimuntahkan. Dan siapa yang berani menjamin mereka tak jadi korban?
Namun jika tidak menyerang, apa gunanya mereka hadir untuk membuat keributan?
Bukankah tujuan utama mereka memang untuk menangkap Harvey?
Alathia menggertakkan giginya, lalu mendengus dingin.
“Harvey, hentikan ocehanmu!”
“Kami datang ke sini untuk satu hal: menuntut penjelasan. Kalau memang berani, hadapi pasukan kami satu lawan satu!”
“Katanya seni bela diri terbaik di dunia berasal dari Daxia. Kalau begitu, buktikan!”
“Satu orang, satu pedang, mari kita buktikan siapa yang lebih unggul!”
“Jika kamu bisa meyakinkan kami, kami akan rela merebahkan diri di bawah peti mati Quillan!”
“Namun kalau kamu mengandalkan jumlah, kami akan memilih mati bersama!”
Usai berkata, Alathia menepuk tangannya.
Tiba-tiba, delapan pria Jepang melangkah maju, masing-masing membuka kancing jaket besar yang mereka kenakan.
Di balik jaket itu, melekat bom C4 yang menyala merah terang.
Adegan itu membuat semua penonton tersentak ngeri, keringat dingin bercucuran di pelipis mereka.
Orang Jepang itu benar-benar kejam!
Mereka bahkan menyiapkan pasukan bunuh diri hanya demi membuat kekacauan!
Pangeran Gibson, Azarel, dan yang lainnya mengernyit. Mereka tahu betul, daya ledak C4 sangat mengerikan.
Jika diledakkan, bahkan para ahli bela diri sekalipun takkan bisa lolos tanpa korban.
Belum lagi, di tempat ini ada banyak orang biasa yang tak berdaya.
Orang-orang Jepang itu, dengan memanfaatkan kerumunan untuk mengancam Harvey, sungguh tak tahu malu!
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5271 – 5272 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5271 – 5272.
Leave a Reply