Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5181 – 5182 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5181 – 5182.
Bab 5181
“Ya Tuhan!”
Tatkala Tetua Ketujuh Gibson—yang selama ini dikenal congkak—ditampar begitu saja oleh seseorang dari lingkaran Harvey, keterkejutan pun bergemuruh dari segala arah.
Sekilas, semua orang sudah paham: Rachel bukanlah sosok biasa, melainkan seorang ahli sejati, selevel dengan Raja Prajurit.
“Bajingan! Beraninya kamu menamparku? Kamu…”
Hayden menutup wajahnya, bangkit dengan tubuh bergetar.
“Apakah kamu tahu siapa aku? Aku adalah Tetua Ketujuh dari Dewan Tetua!”
“Apakah kamu sadar apa konsekuensi menyentuhku?”
Namun Rachel, dengan sorot mata dingin dan langkah santai, kembali mengayunkan tangannya.
Plaak!
“Apa salahnya menamparmu?”
Plaak!
“Tetua Ketujuh, apa kamu benar-benar pantas bersikap arogan?”
Plaak!
“Sudahkah kamu memikirkan akibatnya saat berani mengancam Tuan Muda York?”
Plaak!
“Dengan kemampuan seadanya, masih berharap Tuan Muda York berlutut di hadapanmu? Apakah kamu sedang bermimpi?”
Suara tamparan berulang-ulang menggema.
“Sebagai bagian dari keluarga Gibson, bukannya menjunjung kehormatan keluarga, kamu malah bergantung pada keluarga Lowe dan Bowie. Tidakkah itu mempermalukan darah keturunanmu sendiri?”
“Sebagai anggota keluarga Gibson, kakakmu difitnah, dan bukannya membela, kamu malah ikut menikamnya dari belakang.”
“Orang sepertimu masih berani menghardik Tuan Muda York? Apakah kamu layak?”
Setiap kata yang terucap, diiringi dengan tamparan baru.
Dalam sekejap, wajah Hayden babak belur, memar di sana-sini, darah merembes dari sudut bibirnya.
Para pengawal rahasia sempat berniat menyerang. Namun, menyaksikan kedahsyatan Rachel, nyali mereka luruh, keberanian mereka tersapu habis.
Saat itu juga, Harvey melemparkan token ke lantai dengan santai.
Itu adalah token pemimpin Gerbang Surga.
Melihat token itu sama artinya dengan menyaksikan sang pemimpin sendiri.
Sekilas pandang pada token tersebut membuat wajah para anggota Gerbang Surga di sekitar berubah serius. Hanya dalam sekejap, mereka berlutut serentak tanpa keraguan!
Hayden dan Calvin barangkali bisa mencari alasan untuk tidak menghormati token itu. Namun bagi anggota biasa, siapa yang berani menentangnya?
Bahkan para pengawal rahasia pun akhirnya berlutut, meski wajah mereka tampak muram.
Hanya Hayden yang masih ragu, berdiri dengan wajah lebam dan tubuh bergetar.
Rachel melangkah maju. “Katakan padaku! Apakah token Pemimpin Sekte di tangan Tuan Muda York ini sungguh sah atau tidak?”
Kelopak mata Hayden berkedut. Ia ingin menyangkal, tetapi sadar benar bahwa dirinya bukan tandingan Rachel.
“Kamu tak berani menjawab, bukan?”
Ekspresi Rachel semakin membeku.
“Kalau begitu, biar aku yang menjawab!”
“Jika token ini jatuh ke tangan orang tak berguna, tentu kamu akan mencari-cari alasan untuk melawannya.”
“Tapi kini, token ini berada di tangan Tuan Muda York. Itu mutlak adanya!”
“Menolak menghormati token sama saja dengan merendahkan Tuan Muda York!”
“Dan itu berarti kamu layak mati!”
“Penghianat seperti ini harus dibunuh tanpa ampun!”
Aura membunuh memancar kuat dari tubuh Rachel. Ia tahu persis, hanya dengan cara seperti inilah seseorang seperti Hayden bisa ditundukkan.
Melihat Harvey yang masih tetap tenang, membiarkan pelayannya menaklukkan Hayden, semua orang di sekeliling hanya bisa tertegun, penuh kebingungan.
Wajah Hayden berubah-ubah. Akhirnya, ia menghela napas panjang, lalu berlutut dengan suara keras di hadapan semua orang.
Dalam seni bela diri, ia kalah telak.
Dalam aturan, token itu mengekang geraknya.
Jika ia masih berkeras, cukup dengan satu kata dari Harvey, nyawanya bisa melayang.
Bab 5182
Pemandangan itu membuat semua penonton tercengang.
Tak seorang pun pernah membayangkan bahwa Hayden, sosok yang selama ini terkenal bengis di Gerbang Surga, akhirnya harus bertekuk lutut.
Biasanya, siapa pun yang berani memprovokasinya, pasti akan dihukum berat, bahkan kehilangan nyawa.
Namun hari ini, ia tampak sangat menyedihkan.
Menyaksikan ekspresi datar Harvey, semua yang hadir segera menilainya sebagai sosok berbahaya.
Hari ini, seekor naga perkasa benar-benar menundukkan tiran setempat.
Rachel kemudian mengambil kembali token pemimpin sekte itu, dan Harvey dengan tenang menyimpannya. Ia bangkit berdiri tanpa sekalipun melirik Hayden lagi.
Barulah ketika sampai di pintu keluar, ia seakan teringat sesuatu. Langkahnya terhenti sejenak.
“Pergilah ke aula duka. Berlututlah di sana.”
“Dan pikirkan kembali siapa dirimu sebenarnya, serta apa yang seharusnya kamu lakukan.”
Sekembalinya ke rumah leluhur keluarga Gibson, suasana terasa berbeda.
Alathia berdiri di gerbang dengan dahi berkerut, ekspresinya muram. Tak jauh darinya, Kensuke dan para ahli dari pulau lain berdiri dengan sikap penuh wibawa, tangan terlipat di depan dada.
Saat melihat Harvey, tatapan mereka sempat berubah aneh, meski akhirnya kembali diam.
Harvey menanggapi dengan senyum tipis. “Ada apa, Nona Carlson?”
Alathia memandangnya dengan serius. Setelah jeda cukup lama, ia menghela napas. “Tuan Muda York, bagaimana kalau kita berbicara di taman?”
Harvey mengangguk ringan. Ia memberi isyarat pada Rachel agar melanjutkan urusannya, lalu mengikuti Alathia menuju taman di rumah leluhur keluarga Gibson.
Taman itu tak luas, hanya sekitar lima ratus meter persegi, dipenuhi pohon redbud yang ditata rapi. Tidak megah, tapi justru indah karena terawat dengan penuh perhatian.
Harvey berjalan santai, dalam hatinya sempat berkhayal: seandainya Mandy yang menemaninya, tentu suasananya akan jauh lebih romantis.
Sayangnya, di sisinya kini hanya ada seorang wanita pulau yang kerap bersikap pura-pura suci.
Setelah beberapa langkah dalam diam, Alathia akhirnya bersuara. “Tuan Muda York, barusan Hayden datang bersama para pengawal rahasianya.”
“Mereka semua kini berlutut di aula duka Tetua Gibson dan menolak pergi.”
“Bagaimana mungkin kamu mengancamnya dengan token Pemimpin Sekte? Tidakkah kamu tahu betapa berbahayanya Hayden?”
“Jika ia murka dan mengamuk, bukankah sebagai kepala para pengawal rahasia, ia bisa dengan mudah menahan kita di markas Gerbang Surga ini?”
Harvey tersenyum tipis, nadanya santai. “Aku tidak memaksanya. Semua pilihan ada di tangannya.”
“Jika ia datang, berarti ia ingin hidup. Jika tidak, maka berart dia ingin mati.”
Alathia terdiam sesaat, wajahnya tampak gusar. “Tuan Muda York, saya harus mengingatkan Anda. Token Pemimpin Sekte bukanlah sesuatu yang mahakuasa.”
“Mereka yang tunduk padanya, belum tentu benar-benar setia.”
“Aku mengatakan ini bukan untuk melawanmu, melainkan karena kita berada di sisi yang sama. Aku tak ingin kelakuan gegabahmu menyeret kita semua menuju kematian di markas Gerbang Surga ini.”
Harvey menanggapinya dengan tenang. “Kalau kamu takut, silakan pergi kapan pun kamu mau. Tidak ada yang akan menghalangimu.”
Alathia mendelik tajam. “Aku datang untuk menghadiri pemakaman Tuan Gibson. Apa kamu benar-benar lupa, atau hanya berpura-pura tidak tahu?”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5181 – 5182 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5181 – 5182.
Leave a Reply