Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5147 – 5148 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5147 – 5148.
Bab 5147
Sebelum Penjaga Green Snake sempat menuntaskan ocehannya, Harvey dengan tenang melangkah maju.
Hanya dengan satu gerakan sederhana, batu bata biru di bawah kakinya hancur berkeping-keping.
Puing-puing beterbangan ke segala arah.
Puff, puff, puff—
Dalam sekejap mata, sekelompok besar Penjaga dari Aula Penjaga terpental ke belakang, dada mereka terhantam hebat. Ada yang membentur sudut dinding hingga pingsan, ada pula yang kejang-kejang di tempat.
Satu langkah saja, dan segalanya porak-poranda.
Kayson dan Riddley merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Kelopak mata mereka berkedut tak terkendali.
Kekuatan yang luar biasa.
Mengerikan.
Apakah Quillan, yang selama ini dianggap berada di puncak kekuatannya, bahkan hanya sekuat ini?
Mungkin hanya Tetua Pertama dan Kedua dari Dewan Tetua yang sanggup menahannya.
Wajah Green Snake berubah drastis. Meski ia tidak sampai terhempas, ia sadar bahwa Harvey sengaja menahannya. Jika tidak, nasibnya pasti sama tragis seperti para Penjaga lainnya.
Tingkat kekuatan ini benar-benar mencengangkan.
Untuk pertama kalinya, Green Snake merasa seluruh tubuhnya menegang. Keangkuhannya lenyap seketika.
Bahkan Penjaga Agung yang selama ini ia idolakan, tampak tak ada apa-apanya dibanding pemuda di hadapannya.
Green Snake, Kayson, dan Riddley saling berpandangan dengan wajah muram.
Pria itu tampak begitu biasa, tetapi tekanan yang ia pancarkan terasa seakan mampu menghancurkan langit.
Dari belakang, Alathia yang menyaksikan adegan itu sampai terperangah, dadanya naik-turun. Ia bersyukur dalam hati tidak bertindak gegabah.
Tak pernah ia sangka, Harvey—yang ia anggap hanya bajingan licik—ternyata memiliki kemampuan sehebat itu.
Dalam benaknya, hanya Butler Yamamoto yang mungkin sanggup menahan kekuatan ini. Bahkan harus digabungkan dengan dirinya agar seimbang.
Para pengawal Jepang yang hadir juga terperangah, mulut mereka terbuka lebar tanpa suara.
Sementara Rachel dan para murid Gerbang Naga tampak tenang. Bagi mereka, itu sudah sewajarnya.
Jika Tuan Muda Sekte tidak memiliki kemampuan seperti ini, bagaimana ia layak disebut sebagai pewaris Sekte?
Mengabaikan keterkejutan semua orang, Harvey berkata datar, “Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Maukah kamu berlutut?”
Pah, pah, pah—
Green Snake, Kayson, dan Riddley akhirnya kehilangan tenaga. Mereka terkulai, lalu serentak berlutut di hadapan Harvey.
Mereka paham betul, sebanyak apa pun orang yang bisa mereka kerahkan, sebesar apa pun kekuasaan yang mereka miliki—jika tidak segera menundukkan kepala, maka kematianlah balasannya.
Bahkan jika suatu hari ada yang menuntut balas, mereka tetap tidak akan hidup cukup lama untuk menyaksikannya.
Harvey menatap mereka dengan tenang, lalu berkata dingin, “Lumayan. Setidaknya kalian tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur.”
“Mulai sekarang, kalian hanya akan mengerjakan tugas-tugas rendahan untukku.”
Green Snake mendongak, wajahnya pucat, “Kamu terlalu sombong! Kamu benar-benar ingin kami, para pemimpin Gerbang Surga, jadi pesuruhmu?”
“Kamu pikir kamu ini siapa?”
Belum sempat Harvey menjawab, pintu gerbang kembali terdorong.
Sekitar selusin sosok masuk perlahan, aura mereka menindas hingga membuat udara seakan menegang. Urat pelipis mereka menonjol, menandakan kekuatan dalam yang luar biasa.
Green Snake dan kawan-kawan yang masih berlutut kontan berseru penuh harap, “Pelindung Agung!”
Tak lama, seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan melangkah masuk. Tubuhnya kurus, berpakaian sederhana, kedua tangannya bersedekap di belakang. Namun, aura yang ia pancarkan begitu menggetarkan hati.
Dialah Pelindung Agung dari Aula Penjaga Gerbang Surga.
Meski baru saja menyaksikan kedahsyatan Harvey, ia tetap melangkah dengan arogan. Itu saja sudah cukup untuk menunjukkan betapa mengerikannya sosok Pelindung Agung ini.
Rachel refleks berdiri di depan Harvey, khawatir lelaki tua itu mendadak menyerang.
Bab 5148
Kiefer hampir tak sanggup menahan diri. Jika ia tidak terus-menerus mencubit filtrumnya agar tetap siuman, mungkin sudah lama ia berlutut atau jatuh pingsan.
Aura Pelindung Agung begitu menindas hingga membuat semua orang terperangah.
Hanya Harvey yang terlihat santai. Ia mengangkat bahu lalu berkata tenang, “Pelindung Agung? Kedengarannya cukup hebat.”
“Tapi aku penasaran, apakah dia lebih kuat dari Kepala Balai Penegakan Hukum yang kini berlutut di hadapanku?”
Pelindung Agung menyipitkan mata, suaranya dalam dan penuh tekanan.
“Anak muda, kamu benar-benar keterlaluan!”
“Kamu berani menerobos ke Gerbang Surga, masuk ke wilayah terlarang kami, menyelamatkan seorang penjahat besar, bahkan menindas pejabat tinggi kami.”
“Dan sekarang, kamu masih sempat-sempatnya menghina aku?”
“Sepertinya kamu benar-benar tidak mengerti arti Gerbang Surga ini, atau apa yang dimaksud dengan tanah suci seni bela diri!”
Harvey tetap tenang. “Mereka sendiri yang mengatakannya.”
“Itulah sebabnya mereka kini berlutut di hadapanku.”
“Jadi, apakah kamu juga akan berlutut?”
“Berlutut?” Pelindung Agung terkekeh, seakan mendengar lelucon paling konyol di dunia.
“Tidak ada gunanya lagi berlutut.”
“Karena kamu seorang pria hebat, aku akan memberimu kesempatan.”
“Kamu ingin bunuh diri dengan terhormat, atau menunggu aku mengirimmu ke alam baka?”
Jelas sekali, Pelindung Agung tidak bermaksud berlama-lama. Ia ingin menghabisi Harvey saat itu juga, demi menegakkan wibawa Aula Penjaga.
Harvey menatapnya datar dari ujung kepala hingga kaki. “Kamu hanya sedikit menyentuh level Raja Prajurit. Begini saja—kalua kamu mampu menerima satu tamparanku, aku akan melepaskanmu.”
“Kalau tidak, kamu akan bernasib sama seperti mereka: berlutut dan mengerjakan pekerjaan rendahan untukku.”
Ucapan acuh tak acuh itu membuat Green Snake dan yang lainnya terperangah.
Harvey memang hebat, mereka mengakuinya. Tapi di mata mereka, Pelindung Agung adalah eksistensi yang tak tergoyahkan.
Menantang orang sekuat itu? Itu sama saja menggali kubur sendiri.
“Anak muda zaman sekarang…” Pelindung Agung mendengus. “Mereka baru sadar arti hormat setelah rumput di pusaranya tumbuh setinggi tiga kaki.”
Wajahnya mengeras. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu aura dahsyat meledak dari tubuhnya.
Tangan kanannya terangkat, membentuk cakar yang tajam bagaikan elang, lalu melesat tepat ke wajah Harvey.
“Keluar! Itu Teknik Cakar Elang milik Pelindung Agung!”
“Konon, teknik ini diwariskan sejak dinasti feodal!”
“Konon, dengan cakar ini, baja pun bisa ditembus!”
Para pengikut Green Snake berteriak kaget. Mereka tak menyangka Pelindung Agung langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Kiefer bergetar hebat. “Selesai sudah dia, dia pasti mati…” gumamnya.
Rachel di sisi lain merasakan kegelisahan. Bukan karena khawatir pada Harvey, tapi karena ia tahu persis betapa mengerikannya Teknik Cakar Elang.
Ia membayangkan dirinya di posisi Harvey, dan sadar bahwa tanpa bertarung mati-matian, hanya dengan satu serangan saja ia bisa remuk.
Gerbang Surga memang pantas disebut tanah suci seni bela diri.
Namun, tepat ketika semua orang menahan napas, Harvey malah menghela napas panjang.
“Hanya ini?” katanya lirih dengan wajah penuh kekecewaan.
Lalu ia melangkah maju, mengangkat tangan, dan melepaskan sebuah tamparan.
Tamparan sederhana itu seolah datang lebih dulu daripada serangan lawan.
Di mata Pelindung Agung, gerakan Harvey membesar, menjelma seperti gunung runtuh yang menghantam wajahnya.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5147 – 5148 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5147 – 5148.
Leave a Reply