Novel Kebangkitan Harvey York Bab 5139 – 5140 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 5139 – 5140.
Bab 5139
Sebaliknya, Alathia justru terkekeh sambil menoleh pada Kiefer.
“Kiefer, bukankah ini kerabatmu, Derreck?” tanyanya sinis.
“Mengapa kamu tidak memberitahuku sejak awal? Kalau aku tahu lebih cepat, tentu aku sudah memerintahkan anak buahku untuk bersikap lebih lunak.”
“Nona Carlson! Semua ini hanya kesalahpahaman!” Kiefer panik. “Kami tidak punya pilihan!”
Ia dan kelompoknya langsung berkeringat dingin, kelopak mata mereka bergetar. Mereka salah sangka, mengira Alathia dan pasukannyalah yang telah menaklukkan Derreck.
“Tidak ada pilihan? Apa gunanya?” Alathia tersenyum penuh kemenangan, berlagak seperti penyelamat.
“Habisi kultivasi mereka! Patahkan kaki mereka, lalu suruh mereka berlutut di aula duka agar menjadi tontonan!”
Harvey sedikit mengernyit mendengar perintah itu, tetapi ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
Bagaimanapun, Alathia masih bagian dari keluarga Gibson. Mengingat kesungguhannya mengurus jenazah Quillan, Harvey enggan memperdebatkannya.
Saat ini, ia sudah terlalu sibuk. Keberadaan Derwin dan yang lain masih tidak jelas. Kematian Quillan pun masih diselimuti misteri.
Semua itu jauh lebih penting ketimbang mengurus orang kecil macam Kiefer.
Lebih baik diserahkan saja pada orang Jepang seperti Alathia. Toh, Harvey yakin, meski bangsa itu mungkin tak banyak kelebihan, mereka punya seribu cara untuk menyiksa orang.
Membuat Kiefer dan kelompoknya hidup lebih sengsara daripada mati bukanlah hal sulit bagi mereka.
“Nona Carlson! Berhenti!” teriak Kiefer putus asa. “Aku kakak seniormu! Kamu tidak bisa begini padaku!”
Dengan suara gedebuk, ia jatuh berlutut.
“Aku salah! Aku benar-benar salah!” katanya memelas.
“Kamu orang penting. Kamu datang ke sini atas nama negara kepulauan Mikado dan Departemen Peradaban Aliansi Dunia! Bagaimana mungkin orang seperti kamu mengurusi pesuruh kecil seperti kami?”
“Oh, aku masih berguna! Aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Tuan Gibson, tapi aku tahu di mana Derwin dan kelompoknya berada!”
Melihat rekan-rekannya dilumpuhkan, Kiefer gemetar ketakutan. Ia berusaha menyelamatkan diri dengan mengungkap informasi.
“Tunggu!” seru Harvey tiba-tiba, menghentikan gerakan anak buah pulau. Semua terkejut dengan tindakannya.
Ia menatap Kiefer tanpa peduli pada tatapan lain. “Kamu tahu di mana Derwin dan yang lain?”
Kiefer melirik Alathia, lalu menjawab terbata, “Mereka dicegat dan ditahan Balai Penegakan Hukum saat masuk markas Gerbang Surga!”
“Mereka kini berada di Penjara Surgawi, sekitar tiga puluh mil dari sini. Konon, siapa pun yang masuk ke sana tidak pernah kembali.”
Mendengar nama itu, keluarga Gibson bergidik. Jelas, tempat itu mengerikan.
“Balai Penegakan Hukum? Penjara Surgawi?” Harvey bergumam datar dengan kedua tangan di belakang punggung.
“Pimpin jalan. Kalau hari ini kami menemukan Derwin dan yang lain, kamu akan hidup. Jika tidak—kamu mati.”
Alathia menimpali dengan dingin, “Kamu dengar itu? Cepat pimpin kami!”
Ia lalu menoleh pada Kensuke Yamamoto. “Kepala Pelayan Yamamoto, bawa timmu. Tinggalkan setengah pasukan untuk menjaga keluarga Gibson. Aku sendiri akan ke Penjara Surgawi dan membawa mereka kembali!”
Pandangan Alathia dan Kensuke bertemu. Ia tahu, jika Harvey berniat menyelamatkan, maka ia harus ikut terlibat. Lagi pula, setelah melihat sendiri kekuatan Harvey, Alathia tak ingin ketinggalan.
Selain itu, ia menyimpan tujuan tersendiri—siapa tahu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkap rahasia Tinju Gerbang Surgawi.
Bab 5140
Harvey menoleh sekilas pada Alathia dengan senyum samar, tapi ia tidak bicara. Ia hanya berkata datar, “Ayo berangkat. Jangan buang waktu.”
Melihat Alathia juga ikut serta, Kiefer tak berani mengulur waktu. Ia segera maju memimpin.
Di satu sisi, ia sadar bahwa Derreck yang tangguh saja bisa binasa di tangan Alathia. Ia bukan tandingan, jadi harus tunduk.
Di sisi lain, ia masih berharap, bila Derreck benar dibawa ke Penjara Surgawi, mungkin ia bisa membalas dendam dengan bantuan Balai Penegakan Hukum.
Tak lama, rombongan itu tiba di reruntuhan di barat markas Gerbang Surga. Tempat itu dulunya gudang, kini sepi dan terbengkalai.
Bahkan bagi anggota Gerbang Surga sendiri, lokasi itu dianggap terlarang. Semua tahu, Balai Penegakan Hukum bersemayam di sana.
Kepala Balai, kepala Penjara Surgawi, hingga kapten penjaga markas sering muncul di sini. Bagi murid Gerbang Surga, memasuki tempat itu lebih menakutkan daripada mati dalam pertempuran.
Harvey dan rombongannya melangkah melewati reruntuhan dengan wajah tenang. Alathia berjalan sejajar dengannya, seolah dirinya tokoh utama.
Rachel justru sengaja menahan jarak. Ia dan beberapa murid Gerbang Naga lain harus tetap waspada, bukan hanya pada bahaya yang mengintai, tapi juga pada gerak-gerik Alathia beserta pasukannya.
Sementara itu, Kiefer memimpin dengan tubuh gemetar. Pandangannya terus mencuri ke arah Alathia. Ia yakin wanita itu hanya akan menimbulkan masalah. Begitu memasuki Penjara Surgawi, pertikaian bisa pecah kapan saja.
Tapi ia tidak punya pilihan—mengingat nasib Derreck, ia tahu bila mencoba lari, ia akan mati di tangan Alathia dan orang-orang pulau.
“Beraninya kalian!”
Suara kasar menyambut mereka ketika sampai di depan pintu masuk yang menyerupai benteng bawah tanah.
Beberapa pria berjubah khas Balai Penegakan Hukum muncul dengan wajah congkak. Tatapan mereka, ketika melihat Rachel dan Alathia, dipenuhi nafsu yang menjijikkan.
“Halo, teman-teman! Aku Kiefer, sepupu Derreck. Kita pernah bertemu beberapa kali di jamuan makan!” Kiefer buru-buru bicara, berusaha meredakan ketegangan.
Ia segera merogoh saku, mengeluarkan setumpuk uang kertas berwarna-warni. “Tolong, aku mohon, tunjukkan sedikit kelonggaran.”
Salah satu pengikut Balai Penegakan Hukum menyipitkan mata, lalu menjawab dengan nada dingin, “Sepupu Derreck? Kalian bukan siapa-siapa! Cepat pergi! Apa kalian kira bisa masuk seenaknya?”
Ia menambahkan dengan tatapan cabul, “Para pria, pergi! Wanita, tinggal di sini dan bersenang-senanglah dengan kami! Kalau tidak, kalian semua akan kubunuh!”
Di tempat ini, jelas Balai Penegakan Hukumlah yang berkuasa. Meski markas Gerbang Surga dihuni puluhan ribu orang, hanya sedikit yang benar-benar berstatus tinggi.
Para murid Balai sudah hafal wajah-wajah penting itu. Bagaimana mungkin mereka bersikap hormat pada Harvey dan kelompoknya, yang dianggap orang asing tanpa nama?
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 5139 – 5140 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 5139 – 5140.
Leave a Reply