Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4957 – 4958 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4957 – 4958.
Bab 4957
“Sakamoto, bagaimana mungkin kamu bisa berlaku begitu kasar pada Nona Patel? Dia teman sekelasku,” tegur Masato dengan nada tenang sambil menyesap anggur dari pialanya.
Kairi menatap Masato dengan sorot tajam. Suaranya pelan namun mantap, “Tuan Muda Abe, kamu tahu betul bahwa kita hanya teman sekelas.”
“Lalu meminta anjingmu menggigit kekasihku,” ucapnya dingin. “Sudahkah kamu mempertimbangkan risiko yang akan kamu tanggung?”
Sorot mata Masato tiba-tiba menggelap. Ia menyipitkan matanya, lalu berkata dengan suara dalam yang menekan amarah, “Kairi, selama ini aku selalu menganggap kamu wanita yang cerdas.”
“Dan wanita yang cerdas tahu kapan harus bersikap bijak, bukan sembrono.”
“Demi hubungan baik kita, aku minta kamu menarik kembali perkataanmu barusan.”
“Siapa pria ini sebenarnya?”
Kairi menatap langsung ke mata Masato tanpa keraguan sedikit pun. Dengan nada dingin, ia menjawab, “Dia kekasihku!”
Pah!
Cangkir yang berada di tangan Masato seketika terjatuh, menghempas lantai. Wajahnya berubah muram, seperti langit yang mendadak diselimuti awan hitam.
Ia berdiri, kedua tangan dikaitkan di belakang tubuhnya, langkahnya tenang namun penuh tekanan saat mendekati Kairi. Pandangannya menusuk, dan ia berkata lirih, “Ucapkan sekali lagi?”
“Dia kekasihku,” jawab Kairi sambil tersenyum penuh percaya diri.
Plaak!
Tamparan keras mendadak mendarat di pipi Kairi, begitu cepat hingga tak sempat ia hindari. Tubuhnya terdorong mundur, terpaku sesaat dalam keterkejutan.
Namun, Kairi bukan wanita yang bisa dihancurkan begitu saja. Raut wajahnya berubah gelap, dan dengan nada meledak, ia membalas, “Masato, kamu benar-benar cari mati!”
Belum sempat ia bergerak lebih jauh, lebih dari selusin pengawal Jepang tiba-tiba menyerbu ruangan.
Beberapa di antara mereka menghunuskan pedang katana panjang, sementara yang lain telah mengarahkan senjata api ke tubuh Kairi.
Mereka semua bersiap menghadang jika Kairi berani melakukan serangan.
“Aku yang cari mati?” ujar Masato. “Tidak, justru kamu yang melangkah ke ambang kehancuran.”
Dengan tangan masih terlipat di belakang, aura Masato menjulang, menyebar seperti badai yang menekan siapa pun di sekitarnya. Wajah tampannya kini memancarkan dingin menusuk.
“Aku bangsawan dari Negara Kepulauan, bintang politik yang tengah bersinar, dan salah satu Onmyoji paling berpengaruh dari keluarga Tsuchimikado.”
“Bisa menarik perhatianku adalah kehormatan besar bagimu!”
“Kamu—seorang wanita—bukan hanya tak tahu berterima kasih, tapi juga berani membawa pria lain untuk menampar wajahku.”
“Kamu kira aku seseorang yang bisa kamu hina seenaknya?”
Nada bicaranya semakin sinis, “Jangan salah sangka. Ketertarikanku padamu bukan berarti aku tak akan menyentuhmu.”
“Kalau kamu terus membuatku kesal, aku bisa saja tidur denganmu hanya untuk memuaskan egoku, lalu membinasakanmu setelahnya.”
“Aku bersumpah, bahkan Klan Patel di Jinling tak akan mampu berkata lebih dari sekadar memprotes.”
Sakamoto, yang memegang Harvey dengan pistol di tangan, ikut mencibir, “Tuan Muda Abe, kalau wanita ini memang tidak tahu diri, kenapa tidak langsung kita beri pelajaran?”
“Kamu makan daging, kami para pelayan juga berhak mencicipi kuahnya!”
Ucapan cabul itu disambut gelak tawa dari para pria yang mengelilingi mereka.
Di sisi lain, Gretna Lee menonton semuanya dengan mata berbinar. Ia menyaksikan peristiwa ini seolah-olah sedang menikmati pertunjukan yang telah lama dinantikannya.
Kairi, yang lahir dari keluarga terpandang, memiliki pesona alami, tubuh anggun, dan kesucian yang belum ternoda. Ia bagaikan burung phoenix di antara kawanan ayam hutan seperti Gretna.
Justru karena itulah, para wanita seperti Gretna sangat menginginkan kejatuhan Kairi—untuk melihatnya dihancurkan, dinodai, dijatuhkan dari singgasananya.
Beberapa bahkan telah mengeluarkan ponsel diam-diam, bersiap merekam momen langka ini. Momen ketika martabat Kairi diinjak-injak. Sebuah kesempatan emas yang tak muncul setiap hari.
Namun, mata Kairi tetap sedingin es. Tangan kanannya telah merogoh ke tas kecil di pinggangnya, meraba sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Bab 4958
“Apa?” Masato tersenyum mengejek. “Kamu marah padaku?”
“Kamu ingin membunuhku dengan racunmu?”
Wajahnya yang memesona menampilkan ekspresi sarkastik penuh tantangan. “Silakan. Ayo, coba saja.”
“Lihat apakah kamu sanggup menghabisiku, lalu hadapi apa yang terjadi setelahnya.”
“Pikirkan berapa besar harga yang harus dibayar Klan Patel Jinling setelah kematianku.”
“Atau, kenapa kamu tidak menamparku dulu untuk menenangkan dirimu?”
Sambil mengatakan itu, Masato mencondongkan tubuh ke depan, mendekat ke arah Kairi.
Sementara itu, Harvey mengamati semuanya dengan tenang. Tatapannya mengeras. Ia tahu, pria Jepang ini terlalu sombong. Tapi Harvey juga sadar, kesombongan seperti ini pasti menyimpan rencana tersembunyi.
Demi keselamatan Kairi, Harvey memilih untuk menahan diri. Ia percaya Kairi tahu apa yang dilakukannya. Kalau tidak, dia tak akan memancing Masato ke titik ini.
Tangan Kairi sudah terangkat, nalurinya ingin menghajar Masato dan mengakhiri penghinaan ini. Namun, ia menahan diri.
Masato datang sebagai utusan diplomatik. Jika ia dilukai, konsekuensinya bisa meluas menjadi konflik antarnegara. Bahkan Klan Patel pun bisa jatuh karena skandal ini.
Plaak!
Tamparan kedua kembali mendarat di wajah Kairi, keras, tanpa ampun.
“Kamu bahkan lebih tidak berguna dari yang kubayangkan!” cibir Masato.
“Dan pria yang kamu bela? Dia bahkan tak berani bergerak!”
“Dengan perlakuanku seperti ini, kamu kira dia bisa berbuat sesuatu? Bahkan kentut pun dia tak berani!”
“Sebagai wanita cerdas, kamu seharusnya tahu harus memilih jalan yang mana, bukan?”
Di wajah Kairi, kini tampak dua bekas tamparan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah, dan penampilannya tampak kacau.
Sementara itu, Gretna dan para wanita lainnya menyaksikan pemandangan ini dengan senyum jijik. Menyaksikan wanita semurni dan sesuci Kairi dipermalukan seperti ini adalah hiburan bagi mereka.
Namun Kairi tetap menahan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang namun tegas, “Tuan Muda Abe, apa pun hubungan kita di masa lalu…”
“Tapi karena kamu telah menamparku dua kali…”
“…maka mulai detik ini, semuanya berakhir.”
“Aku harap kamu tidak akan menggangguku lagi setelah ini.”
“Dan tolong, berhentilah bersikap seperti CEO arogan dalam drama murahan.”
“Itu menjijikkan.”
Masato yang tadinya hendak duduk kembali, berhenti sejenak. Ia memiringkan kepalanya, menyipitkan mata, lalu menatap Kairi dengan senyum menyebalkan.
“Hanya karena dua tamparan? Kamu pikir semua ini bisa selesai begitu saja?”
Ia kembali melangkah ke arah Kairi, lalu menepuk-nepuk pipinya dengan santai. “Dengarkan baik-baik.”
“Kamu memang ditakdirkan menjadi wanitaku.”
“Tapi kamu telah kehilangan hak untuk menjadi istriku.”
“Mulai sekarang, statusmu hanya sebagai simpanan.”
“Dan setelah aku bosan padamu, baru aku akan mengusirmu.”
“Saat itulah kamu akan bebas.”
“Aku sudah menjelaskannya dengan sangat gamblang. Apa kamu mengerti?”
Kairi menatapnya, lalu menghela napas pelan.
“Aku datang malam ini dengan niat baik, berharap kita bisa menyelesaikan semua ini secara damai.”
“Tapi sepertinya, Tuan Muda Abe, kamu tidak memberikan satu pun kesempatan.”
Masato bersandar santai di sofa, kedua lengannya merangkul dua wanita Jepang di sisinya. Dengan ekspresi santai dan kaki bersilang, ia menatap Kairi sambil tersenyum samar.
“Nona Patel, jadi apa yang akan kamu lakukan?”
“Kamu mau membunuhku?”
“Kamu pikir kamu punya cukup keberanian untuk melakukannya?”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4957 – 4958 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4957 – 4958.
Leave a Reply