Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4901 – 4902 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4901 – 4902.
Bab 4901
Sebelum Mandy sempat mengucapkan sepatah kata pun, Lilian lebih dulu berseru lantang, “Putriku tak mungkin membiarkan bajingan itu datang!”
“Orang tak tahu malu itu pasti menyusup ke sini!”
Jelas, Lilian tak ingin Bibi Wendt melampiaskan amarahnya kepada Mandy. Bagaimana jika ledakan emosi itu menggagalkan rencana kencan butanya?
“Apa?! Mandy tidak mengundangnya, tapi dia malah datang seenaknya dengan wajah penuh keangkuhan?”
“Dan dia bahkan berani memesan makanan?!”
Wajah Bibi Wendt kini memerah karena marah, urat di pelipisnya tampak menonjol.
“Bajingan!” hardiknya.
“Bagaimana kamu bisa sebegitu tak tahu malu?!”
“Sebagai manusia, seharusnya kamu tahu batas diri dan paham akan tempatmu berada!”
“Daripada merusak suasana di sini, lebih baik kamu enyah!”
“Apa kamu benar-benar tidak sadar diri?”
“Seekor burung pegar tak akan pernah sebanding dengan burung phoenix!”
“Dan kodok tak layak menikmati daging angsa!”
“Orang rendahan sepertimu berasal dari dunia yang sepenuhnya berbeda dengan Mandy!”
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan dengan terus mengganggunya?”
“Aku ingatkan! Kalau kamu berani menghancurkan pernikahan Mandy, aku sendiri yang akan mencekikmu sampai mati!”
“Aku masih memberimu satu kesempatan sekarang. Pergi atau tidak?!”
“Kalau tidak, aku akan hubungi polisi, dan kupastikan kamu tahu mengapa bunga-bunga itu bisa begitu merah!”
Dengan penuh emosi, Bibi Wendt mengeluarkan ponselnya, sikapnya sok berkuasa meskipun sorot matanya pengecut. Tangannya menekan tiga angka dengan cepat.
Namun, Harvey hanya menyesap teh di cangkirnya dengan tenang, lalu berkata, “Memanggil polisi? Untuk menangkapku?”
“Dengan alasan apa? Karena aku tak sanggup bayar makanan, atau karena aku menghancurkan properti?”
“Kamu bukan pemilik Red Mansion ini.”
“Aku hanya minum teh dan duduk di sini. Apa urusannya denganmu?”
“Yohoo? Bisa seenaknya bertindak ya?” ejek Bibi Wendt sambil mencibir.
“Berhentilah berpura-pura angkuh!” lanjutnya dengan penuh emosi.
“Kalau kamu tidak mau berbicara dengan kami, lalu apa kamu pikir pelayan di sini peduli padamu?”
“Dengan tampang lusuhmu, para satpam bahkan sudah terlalu baik membiarkanmu tetap duduk di sini!”
Bagi Bibi Wendt, yang memuja kekayaan dan membenci kemiskinan, seseorang seperti Harvey adalah hinaan bagi martabatnya.
Pria kere macam Harvey tak hanya menyedihkan, tapi juga menjijikkan, seperti noda yang mencemari seisi ruangan.
Namun Harvey tak menggubris wanita cerewet itu. Ia hanya melirik dingin dan berkata, “Keluar dari sini!”
“Bajingan! Apa kamu menantangku?!” teriak Bibi Wendt semakin geram.
“Aku akan panggil satpam sekarang. Kita lihat seberapa besar nyalimu!”
Harvey tersenyum tipis. “Aku hanya minum teh, dan kamu menyebutku pembuat keributan?”
“Kalau begitu, akan kutunjukkan padamu seperti apa keributan yang sebenarnya!”
Dengan santai, Harvey mengeluarkan setumpuk uang tunai dan melemparkannya ke meja sebagai pembayaran. Ia pun bangkit dan melangkah tenang ke arah Mandy.
“Mandy, ayo. Aku ingin mengajakmu makan camilan malam.”
“Besok… kita akan menikah lagi.”
Mandy baru hendak merespons ketika terdengar langkah kaki mendekat dari luar ruangan.
“Sungguh waktu yang menarik untuk datang, bukan?”
Suara yang terdengar setengah tertawa itu muncul dengan keangkuhan yang halus.
“Atau jangan-jangan Keluarga Jean dari Kota Modu memang berniat mempermainkan Keluarga Johnings dari Jinling sejak awal?”
“Kalau begitu, ini masalah serius.”
Begitu suara tenang itu terdengar, ekspresi Lilian dan Bibi Wendt seketika berubah. Bahkan Simmon dan Mandy pun terlihat tegang.
Hanya Harvey yang menoleh perlahan, tatapannya datar dan dingin saat menatap pria yang baru saja memasuki ruangan.
Pria itu mengenakan setelan adibusana dari Armani, memancarkan aura keanggunan yang tak terbantahkan.
Ia adalah Blaine, putra sulung Keluarga Johnings dari Jinling.
Ekspresinya kalem, namun ada senyum samar di ujung bibirnya.
Bab 4902
Tatapan mereka bertemu tanpa sepatah kata pun. Mata Harvey tetap tenang, seolah tak terpengaruh, sementara Blaine menyunggingkan senyum kecil.
Lilian, Bibi Wendt, dan lainnya melirik penuh rasa risih. Kekesalan mereka terhadap Harvey semakin menjadi-jadi.
Bagaimana tidak? Blaine tampil elegan dalam busana rancangan desainer terkenal, sedangkan Harvey hanya mengenakan pakaian diskon dari pasar malam.
Blaine adalah simbol kelas atas, figur karismatik dari keluarga terhormat. Sementara Harvey hanyalah lelaki biasa yang nyaris tak dianggap.
Ya, Harvey memang punya reputasi sebagai ahli feng shui dan sempat merambah bisnis Jinling. Tapi dibandingkan Blaine, eksistensinya tak lebih dari kelap-kelip kunang-kunang di bawah sinar rembulan.
Para hadirin mencibir dalam diam, bertanya-tanya dari mana Harvey memperoleh keberanian untuk menatap Blaine tanpa gentar.
Melihat itu, Bibi Wendt buru-buru menyambut, “Tuan Muda Johnings, Anda datang tepat waktu!”
“Orang ini hanyalah sopir Keluarga Zimmer! Sopir rendahan yang punya nyali untuk mendekati Nona Mandy!”
“Nona Mandy sudah bilang dia sedang jatuh cinta. Mana mungkin kodok menyentuh daging angsa?!”
“Namun orang ini… sungguh-sungguh tidak tahu malu!”
“Diam!”
Suara Blaine tenang, namun mengandung tekanan kuat yang langsung membungkam Bibi Wendt.
Ia merasa seperti dicekik di tenggorokan—ingin bicara tapi tak sanggup. Napasnya sesak.
Lilian, Simmon, Elodia, dan yang lain membeku di tempat. Aura Blaine membuat mereka ciut, tak berani buka mulut.
Hanya Mandy yang memberanikan diri bicara dengan tenang, “Tuan Muda Johnings, izinkan saya memperkenalkan secara resmi. Ini Harvey, mantan suami saya. Kami berencana menikah kembali.”
Pernyataan itu membuat mata Blaine menyipit pelan.
Namun reaksi Lilian sangat berbeda. Ia meluap dalam kemarahan, “Mandy! Sejak kapan aku menyetujui pernikahan itu?!”
“Kamu masih punya rasa hormat sebagai anak atau tidak?! Kamu mau membuat ibumu ini mati berdiri?!”
“Sudah kubilang, kalau kamu bersikeras menikah lagi dengan brengsek itu, lebih baik aku mati sekarang juga!”
“Tuan Muda Johnings adalah pasangan ideal! Apa kamu buta mata dan hati?!”
“Harvey, kuperingatkan kamu—!”
“Diam!” Suara tegas Harvey memotong ucapan Lilian, membuat wanita itu nyaris muntah darah karena kesal.
Melihat situasi memanas, Blaine menyunggingkan senyum tipis.
“Tuan Muda York cukup percaya diri rupanya.”
“Aku sudah beberapa kali melihatmu, Tuan Muda York, tapi belum pernah kita sempat bicara langsung.”
“Kurasa hari ini saatnya.”
“Karena setelah ini… tak akan ada lagi kesempatan.”
Setelah itu, Blaine menarik kursi dan duduk santai. Ia menyalakan cerutu panjang, lalu menghembuskan asap ke arah Harvey.
“Kau dengar itu?! Tuan Muda Johnings ingin berbicara denganmu! Apa kamu tidak tahu berterima kasih?!” bentak Elodia dengan nada menghina.
“Bagi pecundang seperti kamu, diberi perhatian oleh Tuan Johnings adalah keberuntungan seumur hidup!”
Namun Harvey tetap tak menggubris. Ia malah duduk dengan tenang, menatap tajam ke arah Blaine.
“Kamu benar. Kita harus bicara.”
“Karena sesudah ini, memang tak akan ada kesempatan lagi.”
Blaine tersenyum lagi.
“Tuan Muda York benar-benar percaya diri.”
“Tapi kamu memang punya alasan untuk itu.”
“Berkat keahlian feng shui-mu, kamu berhasil memikat hati Klan Patel di Jinling, memenangkan dukungan Enam Keluarga Tersembunyi, bahkan mendapatkan token kepemimpinan Gerbang Surga Barat Daya.”
“Sekarang, kamu adalah pemimpin sementara Gerbang Surga Barat Daya di Jinling.”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4901 – 4902 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4901 – 4902.
Leave a Reply