Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4873 – 4874 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4873 – 4874.
Bab 4873
Maisy mengerucutkan bibirnya malas, enggan menyia-nyiakan tenaga hanya untuk mengejek Harvey.
Bagaimana mungkin seorang pria dari kalangan akar rumput biasa bisa sesumbar, seolah kekuasaan sudah berada dalam genggamannya, hanya karena mendapat sokongan dari Keluarga Braff yang tersembunyi itu?
Apa ia begitu buta hingga tak mampu melihat betapa dalam jurang yang memisahkan dirinya dari para tokoh kelas atas?
Lupakan saja statusnya sebagai penerus dari Jinling. Bahkan bila seseorang dari kalangan atas Jinling bertemu dengan elit Daxia, bukankah mereka akan langsung merendah, menunjukkan penghormatan tanpa syarat?
Pada saat itu, Mandy melangkah maju secara naluriah, suaranya lembut, “Tuan, kami bersedia membayar ganti rugi seperti yang diminta oleh pihak penggugat. Kami…”
Plaak!
Kwek!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mandy. Vaughan melayangkannya tanpa peringatan.
“Apa aku menyuruhmu berbicara?” tanyanya tajam.
Melihat Mandy—wanita secantik itu—ditampar tanpa ampun, wajah Maisy berubah. Sebuah senyum geli tersungging, seolah ia sedang menonton drama yang menghibur.
Maisy paham betul cara kerja Vaughan. Bukan berarti lelaki itu tak memiliki rasa empati terhadap perempuan. Tapi Vaughan adalah tipe yang penuh perhitungan.
Jika ingin menyingkirkan Harvey, ia memerlukan pembenaran yang cukup kuat.
Dan dengan mempertimbangkan penyelidikan mereka terhadap Harvey, tamparan ini bukanlah tindakan impulsif, melainkan jebakan yang disengaja untuk memancing amarah.
Jika Vaughan bertindak di bawah dalih emosi, maka siapa pun yang berniat menentangnya takkan berani membuka suara. Bahkan jika perintahnya adalah untuk membunuh Harvey sekalipun.
Ekspresi Soren langsung berubah. Ia maju setapak, suaranya berat, “Supervisor Thompson, Nona Zimmer-lah yang menjadi korban. Bagaimana mungkin kamu—”
Plaak!
Tanpa membiarkan kalimat itu rampung, Vaughan kembali melayangkan tamparan kedua.
“Aku tanya, siapa yang menyuruhmu berbicara?”
Darah mengalir dari sudut bibir Soren, dan tubuhnya terhuyung. Untunglah seorang detektif yang berdiri di belakangnya bergerak cepat menangkapnya sebelum ia tumbang.
Namun, dari cara Vaughan berdiri, dari sorot matanya yang dingin, dari aura yang memancar dari tubuhnya, satu hal menjadi jelas—ia tidak sedang bermain-main.
Kegagalan mutlak.
Hari ini adalah hari naas bagi Harvey.
Dari kejauhan, kerumunan yang menonton menyembunyikan senyum menyindir. Pertunjukan yang dibawakan Vaughan terasa begitu sempurna—skenario yang tampaknya telah dirancang dengan cermat dan dipersiapkan agar semua mata menyaksikan.
Wajah Marelyn tampak pucat pasi. Ia ingin membantu Harvey, tetapi tak tahu harus mulai dari mana.
“Tuan Muda York, bagaimana kalau aku mencoba menghubungi ayahku dan yang lainnya—”
Namun, Harvey hanya tersenyum ringan, lalu mengangkat tangan, menghentikan niat itu. Ia melangkah ke depan, berdiri tegak, langsung berhadapan dengan Vaughan.
Seolah sudah diprediksi, beberapa pria berbadan kekar yang mengenakan seragam mendekat dari belakang. Mereka mencabut senjata dari pinggang, membuka kunci pengaman, dan mengarahkannya lurus ke dahi Harvey.
Satu gerakan saja—satu tanda perlawanan—pelatuk akan ditarik.
Sementara itu, senyum jenaka di wajah Maisy semakin dalam.
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pecundang dalam situasi seperti ini? Berlutut adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal.
Punya keterampilan? Memiliki jaringan luas? Apa gunanya semua itu?
Kalau mereka benar-benar ingin menyingkirkan seseorang, para anak muda dari keluarga berpengaruh ini selalu punya cara untuk menyelesaikannya diam-diam.
“Aku jadi penasaran,” ucap Harvey, matanya menyipit, suara tenangnya memecah ketegangan. Ia sama sekali tak peduli pada senjata yang mengarah ke kepalanya.
“Apakah ini semua hasil rencanamu sendiri? Ataukah Blaine yang menyusun semuanya dari balik layar?”
Vaughan menyipitkan mata, seolah terkejut mendengar pertanyaan itu. Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi, “Memangnya kenapa kalau itu aku? Kenapa pula kalau itu Tuan Muda Johnings?”
“Kalau ini rencana Blaine, berarti pandangannya terlalu dangkal.”
“Kalau ini hasil kerja kamu sendiri, maka aku harus akui, untuk seseorang yang ditakdirkan gagal, kamu sudah bekerja cukup baik.”
“Tapi, sayang sekali… visimu sempit. Tidak heran kamu selalu berada di belakang Hector.”
Bab 4874
Ekspresi Vaughan mengeras. “Apa kamu mengenal Hector?”
Hector adalah putra sulung dari keluarga Thompson—pewaris sah sekaligus rival terkuat Vaughan dalam keluarga.
Jika ternyata Harvey punya hubungan dengan Hector, maka semua perhitungan Vaughan hari ini akan sia-sia. Ia bisa benar-benar terjebak.
Membaca isi pikirannya, Harvey menyunggingkan senyum samar.
“Tenang saja,” katanya. “Kalaupun kamu berani menyentuhku, Hector tak akan mempermasalahkannya. Bisa jadi… ia justru akan berterima kasih padamu.”
“Sialnya, kamu tidak punya keberanian itu.”
“Dan dari ekspresimu, kelihatannya memang kamu yang menyusun semua ini, ya?”
“Tapi… kamu bahkan tidak memberi tahu Blaine lebih dulu sebelum melakukan langkah sebesar ini?”
“Kalau rencanamu gagal dan justru menjadi bumerang, apa kamu sudah menyiapkan penjelasannya?”
“Kamu tahu apa akibatnya?”
“Dasar bajingan! Sudah di ujung tanduk pun kamu masih bisa melontarkan omong kosong!”
Maisy tak mampu lagi menahan amarah. Suaranya meninggi, nyaris meledak.
“Kamu pikir kami akan membiarkanmu begitu saja hanya karena kamu bisa mengarang beberapa kalimat manis?”
“Jangan bermimpi!”
“Tuan Muda Thompson, tidak usah buang waktu lagi dengan si Harvey ini!”
“Bawa saja dia! Masukkan ke Penjara Langit! Biar kita lihat, seberapa keras kepala mulutnya dibanding sikap kita!”
Namun Harvey masih tetap tenang, ekspresinya datar. Ia baru akan berbicara, saat kerumunan di sekitarnya mendadak bergeser.
Beberapa saat kemudian, sekelompok pria dan wanita elegan muncul, berpakaian mewah, penuh wibawa, aura mereka terpancar kuat dan tak bisa diabaikan.
Petugas dari Inspektorat Kepolisian Kekaisaran sempat mencoba menghentikan mereka, namun langsung disingkirkan oleh para penjaga keamanan berbadan besar yang mengenakan jas resmi.
Mata Vaughan menyipit. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Salah satu dari sepuluh keluarga besar yang paling berpengaruh di Luzhong… keluarga Foster.
Dan yang datang adalah Amoura Foster.
Amoura mengenakan gaun rancangan Givenchy. Jahitan gaun itu menempel pas di tubuhnya, membentuk lekuk tubuh yang nyaris sempurna—memancarkan pesona yang tak tertandingi.
Kakinya yang panjang dan putih seputih porselen tampak begitu menonjol saat ia melangkah.
Ia hadir dengan aroma parfum mahal yang lembut namun mencolok, dan setiap geraknya memancarkan keanggunan mutlak.
Bahkan Maisy, secantik apa pun ia, merasa dirinya seakan menjadi angsa yang menjelma bebek saat berdiri di dekat Amoura.
Namun, kali ini sosok dominan itu terlihat berbeda. Ada kegugupan di wajahnya. Ketegangan dan kekhawatiran membayang dalam matanya.
Vaughan, yang biasanya angkuh dan keras kepala, langsung menurunkan nada suara. “Nona Foster.”
Maisy buru-buru maju, memberi hormat, “Saudari Amoura, apa yang membawamu ke sini?”
Amoura mengangguk kecil pada mereka, namun matanya langsung tertuju ke pusat keramaian. Dengan nada dingin dan sedikit cemberut, ia bertanya, “Apa yang sedang terjadi di sini?”
Ketegangan di lapangan terasa jelas. Melihat wajah Soren yang memerah akibat tamparan, ia segera menyadari—ini bukan konflik biasa.
Maisy melirik Harvey dengan penuh dendam, lalu berseru, “Orang buta bermarga York ini berani menggagalkan rencana Tuan Muda Johnings, bahkan membunuh Ferdo!”
“Tentu saja kami harus membawanya untuk mempertanggungjawabkan semuanya!”
Vaughan yang berdiri di sebelahnya, langsung memutar bola mata, kesal bukan main.
Dalam hati ia mengumpat—perempuan bodoh.
Ada banyak hal yang boleh dilakukan, tetapi tidak seharusnya dikatakan dengan lantang.
Dengan bicara sembarangan, dia malah memberikan kesempatan emas bagi lawan untuk menyerang balik.
Itulah sebabnya ia lebih suka bekerja sama dengan Kinsley daripada Maisy. Kinsley mungkin tak semenarik Maisy secara fisik, tapi setidaknya ia tahu kapan harus diam.
Maisy memang cantik dan bertubuh menggoda, tapi dia terlalu polos.
Kalau tidak hati-hati, dia bisa mati tanpa tahu apa penyebabnya.
“Nona Foster, mohon abaikan perkataan Maisy barusan,” ucap Vaughan sambil merapikan kerah seragamnya.
“Kedatangan saya ke Jinling kali ini adalah bagian dari misi pengawasan Departemen, guna meninjau penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Kepolisian Jinling.”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4873 – 4874 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4873 – 4874.
Leave a Reply