Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4853 – 4854 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4853 – 4854.
Bab 4853
Pada saat itu, semua orang memiliki satu niat yang sama—menghabisi Harvey demi hadiah besar yang dijanjikan.
Namun, di balik tekad tersebut, tak seorang pun cukup nekat untuk menjadi korban pertama.
Siapa pun sadar, jika nyawa mereka melayang, maka segalanya akan berakhir sia-sia.
Kelompok elite dari negeri kepulauan yang semula beringas dan penuh semangat tempur, kini perlahan mundur. Mata mereka menyipit penuh kewaspadaan, takut menjadi korban berikutnya di tangan Harvey.
Swish!
Mendapati celah dari kepanikan itu, Harvey menghentakkan kaki, menendang pintu mobil hingga terhempas terbuka, lalu menerobos keluar seperti anak panah lepas dari busurnya.
Tanpa ragu, ia melangkah menuju sekelompok master dari negeri kepulauan itu.
“Serbu! Bersama-sama!”
Teriak salah satu pemimpin kecil, menguatkan tekadnya sembari menerjang ke depan, menggenggam pedang panjang dengan erat.
Kraak!
Dalam sekejap, Harvey menghentakkan tangannya, menghancurkan bilah pedang lawannya lalu menancapkannya tepat ke arah tenggorokan si pemimpin.
Darah memuncrat, namun Harvey sama sekali tak terpengaruh. Ia justru meraih pedang Jepang bergagang pendek dari tangan si lawan, lalu mengayunkannya ke belakang dengan presisi mematikan.
Dua master Jepang yang bersiaga dengan senjata Jarum Hujan Bunga Pir tak sempat bereaksi. Mereka terhuyung dan roboh ke tanah, memegangi leher yang bersimbah darah.
Jarum Hujan Bunga Pir itu kini sudah berpindah ke tangan Harvey, yang segera memutarnya tanpa ragu.
Swish, swish, swish—
Rentetan suara tajam jarum perak bersiul di udara. Satu per satu master dari negeri kepulauan ambruk tak berdaya, wajah mereka memucat penuh kepasrahan.
Sementara itu, di dalam kuil, Sakura tengah bersembunyi sambil menyeret Mandy bersamanya.
Harvey yang menyadari hal itu segera menyusul masuk ke dalam kuil. Dengan beberapa tendangan keras, ia merobohkan delapan Onmyoji yang mencoba menyergapnya di ambang pintu.
Begitu memasuki kuil, pandangan terbuka lebar. Di tengah ruangan berdiri sebuah patung tanah liat yang wajahnya tertutup rapat.
Di hadapan patung tersebut, berdiri sebuah altar tua, dan di atasnya terletak sebuah cermin giok yang memancarkan cahaya lembut nan misterius.
Tuan Muda Abe sudah lebih dulu sampai di altar. Ia berlutut, menggumamkan mantra dalam bahasa asing, sepenuhnya terfokus pada ritualnya, seakan pertempuran di sekeliling tak pernah terjadi.
Di sisi lain altar, Sakura mencengkeram rambut Mandy dengan kuat.
Melihat seluruh kekuatan yang ia kerahkan tak mampu menahan laju Harvey, ekspresi Sakura pun berubah suram. Tatapannya menajam, dan ia berteriak lantang, “Serang! Semuanya, serang!”
Puluhan master Perguruan Shindan maju serentak, gigi mereka terkatup rapat, menggenggam senjata masing-masing.
Plaak! Plaak! Plaak—!
Namun sebelum mereka sempat mendekat, Harvey telah lebih dulu bergerak. Tamparannya melayang begitu cepat dan keras. Dalam sekejap, para ahli itu terpental, menabrak dinding dengan keras dan tak mampu bangkit lagi.
Sebagian besar tergeletak tak sadarkan diri, entah hidup atau mati.
“Harvey, bajingan!”
Sakura meraung, wajahnya menunjukkan keterkejutan dan kemarahan. Ia tahu Harvey tangguh, tapi kekuatan pria itu kali ini jauh di luar perkiraannya.
Dalam kemarahan yang tak terbendung, ia membalikkan badan, menampar wajah Mandy keras-keras. Ia berniat membangunkannya, menggunakannya sebagai alat tawar untuk menekan Harvey.
“Terlambat.”
Suara datar Tuan Muda Abe terdengar saat itu. Di telapak tangannya, muncul bayangan Shikigami berwarna hitam putih, siap dilepaskan kapan saja.
Di saat bersamaan, Mandy yang setengah sadar melihat kekacauan di sekelilingnya dan menjerit ketakutan, “Harvey, jangan pedulikan aku!”
“Jangan pikirkan aku, aku—”
Plaak!
Tamparan Sakura kembali mendarat di pipi Mandy. Matanya berkilat murka. Niatnya jelas: Mandy harus memohon agar bisa membuat Harvey lengah, bukan malah berteriak menantang.
Bab 4854
Plaak!
Tanpa gentar, Harvey menampar ahli Jepang lain yang berlari menebasnya dengan pedang panjang. Usai itu, ia menarik tisu, menyeka jarinya perlahan, lalu menatap Sakura dengan dingin.
“Kalian ini seperti anjing kecil dan kucing jalanan. Tak satu pun mampu menghentikanku.”
“Lepaskan dia, atau potong tanganmu sendiri, dan aku tidak akan membunuhmu.”
“Jika tidak, kamu mati.”
Nada suaranya datar, tapi menggema seperti vonis mutlak. Para master Perguruan Shindan yang mendengarnya, seolah ditarik kembali ke masa lalu—ke Kota Modu, saat Harvey juga berdiri menghadang mereka sendirian.
Saat itu, mereka merasakan kemarahan, tapi juga rasa tidak berdaya yang menyesakkan.
Dan malam ini, semuanya berulang.
Harvey berdiri, menantang sendirian, seolah menjelma dewa perang yang tak terkalahkan.
Ketakutan menguasai mereka. Semangat juang mereka musnah bahkan sebelum pertarungan dimulai.
Mereka ingin membunuh Harvey dengan segala cara, tapi pada akhirnya, mereka menyadari kebenaran yang pahit—bahkan jika menyerang bersama, mereka hanya akan menjadi tumbal di medan pertempuran.
Langkah Harvey mendekat. Para master Perguruan Shindan yang tersisa mundur tanpa sadar, tak satu pun berani maju.
Beberapa bahkan memilih memalingkan pandangan, takut jika melihat Harvey terlalu lama, mereka akan bertekuk lutut.
Kraak!
Seperti penjudi yang kehabisan modal, Sakura mengeluarkan pistol genggam kecil dari balik saku, memutar pengamannya, lalu menodongkannya ke pelipis Mandy.
Dengan suara penuh ejekan, ia mencibir, “Harvey, ternyata aku benar-benar meremehkanmu!”
“Kamu masuk ke sarang harimau sendirian, dan bahkan berani melawan kami semua!”
“Beraninya kamu!”
Harvey hanya menatap dingin.
“Punya nyali atau tidak, itu bukan urusanmu.”
“Tapi ingat, aturan dunia bela diri tak berlaku di sini. Kamu melanggarnya, maka kamu harus menerima akibatnya.”
“Aku sudah melumpuhkan Ferdo. Jika kamu lepaskan Mandy sekarang, aku hanya akan melumpuhkanmu, bukan membunuhmu.”
“Tapi kalau Mandy kehilangan satu helai rambut saja… aku akan menguburmu dengan tanganku sendiri.”
Tatapan Harvey tajam dan dingin, meski hatinya penuh kekhawatiran. Ia tak bisa memperlihatkan kelemahan sedikit pun. Karena pada saat genting seperti ini, celah sekecil apa pun bisa menjadi keuntungan bagi musuhnya.
“Apa kamu sedang mengancamku?” Sakura mengejek.
“Tuan York, kamu pikir apa yang kulakukan selama ini?”
“Aku telah menyelidikimu—di Perguruan Shindan, dari Shanghai ke Hong Kong, dari Makau ke Wucheng, sampai Penang dan Jinling.”
“Setiap langkahmu telah terdokumentasi dan masuk dalam laporan.”
“Jadi, aku tahu persis gaya bertarungmu.”
“Kamu tegas dan tak pernah ragu. Tapi Mandy… dia adalah kelemahan terbesarmu.”
“Dan hari ini, aku akan memanfaatkan kelemahan itu!”
“Ayo kita jujur saja dan buat kesepakatan.”
“Lepaskan Ferdo dan biarkan kami pergi dengan selamat, maka aku akan membiarkan Mandy hidup.”
“Setuju? Kalau kamu setuju, kamu bisa membawanya sekarang.”
“Soal balas dendam, kita tangguhkan hingga esok hari.”
Saat berkata demikian, Sakura melirik Tuan Muda Abe yang berdiri di belakangnya, masih memegang Shikigami.
“Harvey, jangan percaya! Mereka hanya mengulur waktu!”
Teriak Mandy panik.
“Aku sempat mendengar mereka hendak memanggil Shikigami untuk membunuhmu!”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4853 – 4854 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4853 – 4854.
Leave a Reply