Kebangkitan Harvey York Bab 4849 – 4850

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4849 – 4850 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4849 – 4850.


Bab 4849

Kraak!

Tanpa basa-basi, Harvey menghunjamkan tendangan keras yang langsung melumpuhkan kaki Ferdo yang satunya. Dalam sekejap, kedua kakinya patah.

Tubuh Ferdo ambruk menghantam tanah, wajahnya memucat karena nyeri yang tak tertahankan, seolah dunia sedang runtuh di dalam dirinya.

Ia mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan, berjuang mempertahankan sisa-sisa martabat yang masih dimilikinya.

Saat itu juga, Harvey memungut pedang panjang khas Jepang yang tergeletak di tanah. Dengan tenang, ia menempelkan ujung pedang itu ke leher Ferdo, lalu bersuara datar.

“Ferdo, aku tahu kamu merasa dirimu adalah sosok penting.”

“Kamu tak keberatan bermain-main denganku.”

“Tapi dengar ini baik-baik.”

“Andai saja ini tidak melibatkan istriku, aku masih bisa bersabar dan terus mempermainkanmu. Aku bisa mematahkan tanganmu, membuat tubuhmu benar-benar lumpuh.”

“Tetapi karena ini menyangkut wanita yang kucintai, aku tidak punya waktu untuk bersenda gurau.”

“Aku akan bertanya sekali saja. Di mana dia?”

“Kalau kamu tidak mau bicara, kamu akan mati. Dan percayalah, aku tetap akan bisa menemukannya.”

Tatapan Harvey begitu dingin, matanya memancarkan niat membunuh yang tak bisa dibendung. Ferdo, yang semula bersikap sinis dan pasrah, kini tanpa sadar gemetar di bawah tekanan itu.

Bagi Ferdo, satu-satunya kartu andalan adalah keyakinannya bahwa Harvey tidak akan benar-benar membunuhnya.

Namun sekarang, Harvey tampak seperti sosok yang bisa mencabut nyawa tanpa ragu jika jawabannya tidak memuaskan. Keyakinan Ferdo pun mulai runtuh.

“Apa? Seorang pria terhormat bisa dibunuh, tapi tak boleh dihina, begitu maksudmu?”

Harvey menatap Ferdo yang mulai gelisah, lalu lanjut berkata dengan nada kalem.

“Kalau begitu, kamu bahkan tak bisa dibandingkan dengan ayahmu.”

“Setelah kekalahannya, ayahmu tahu cara bertahan. Ia mampu bersabar, menahan luka selama bertahun-tahun.”

“Tapi kamu? Bukannya belajar, kamu justru menyangkal semuanya. Karena dorongan sesaat, kamu menyeret dirimu sendiri ke ujung jalan buntu.”

“Jelas kamu bukan tandingan ayahmu.”

Sorot mata Ferdo berkedip, menunjukkan keraguan yang semakin besar.

Namun Harvey belum selesai. Ia terus menekan, suaranya bagai palu godam yang menghantam kepala.

“Kamu mungkin berharap ayahmu akan membalaskan kematianmu. Tapi kalau aku tak salah, kamu masih punya saudara-saudari lain, bukan?”

“Kematianmu justru akan membuka jalan bagi mereka untuk menduduki posisi yang kamu miliki sekarang.”

“Dan demi menjaga kekuasaan mereka, bukan tak mungkin mereka malah mengubur namamu dalam-dalam dan berpura-pura kamu tak pernah ada.”

“Kematianmu tidak akan berarti apa pun. Tak ada harga, tak ada nilai. Menyedihkan, bukan?”

Sembari berkata demikian, Harvey perlahan menurunkan pedang di tangannya, hingga ujung bilahnya menyentuh kulit Ferdo.

Rasa sakit tajam seketika menyeruak, membuyarkan keberanian yang tersisa dalam diri Ferdo.

Nyeri itu seperti cambuk yang mencabutnya dari lamunan dan menghadapkannya pada kenyataan pahit: jika ia mati, maka semuanya akan lenyap.

Harga diri? Martabat? Itu hanya berarti jika seseorang masih hidup.

Dan Ferdo—betapa pun kerasnya ia bertahan—tak mampu menerima kemungkinan bahwa ia akan mati sia-sia, ditinggalkan, dilupakan.

Dengan rahang mengatup, ia akhirnya bersuara pelan namun mantap, “Aku akan lepaskan.”

“Aku akan membiarkan Mandy pergi sekarang juga!”

Mendengar itu, Harvey menarik kembali pedangnya.

Ferdo menatap Harvey dengan mata yang rumit—campuran marah, malu, dan tak berdaya—sebelum ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan sebuah nomor.

Tak lama kemudian, terdengar suara perempuan di ujung sana. Suaranya memiliki aksen Jepang yang samar. “Tuan Muda Wanner, ada perintah apa?”

“Sakura, bawa Mandy kembali! Sekarang juga!” seru Ferdo dengan nyaris meraung.

Mendengar nama “Sakura,” dahi Harvey sedikit mengernyit. Ada rasa familiar yang menggantung di benaknya. Tapi ia tetap menjaga ketenangannya.

“Nona Miyamoto, bukan? Saya Harvey.”

“Saya peringatkan, jika Mandy terluka sedikit saja, maka Ferdo akan menerima ganjarannya.”

“Kamu mengerti?”

Bab 4850

Dari seberang telepon, sejenak hanya terdengar keheningan.

Lalu terdengar tawa kecil—namun tawa itu terdengar mengerikan, mirip suara hantu kesepian yang baru saja dipukul, bercampur gumaman mengigau yang membuat bulu kuduk berdiri.

Ferdo menjadi cemas, lalu berbisik tajam, “Sakura, apa kamu tidak mengerti maksudku?!”

“Bawa dia kemari!”

Namun suara dari ujung sana terdengar santai, nyaris sinis.

“Tuan Muda Wanner, maafkan aku.”

“Kerja sama antara Perguruan Shindan dan Tsuchimikado dengan Evermore-mu… sampai di sini saja.”

“Aku tidak akan menyerahkannya.”

“Kamu sendiri saja yang mengurusnya.”

Bip—Bip—

Telepon terputus.

Di tengah lapangan, Ferdo masih mencengkeram ponsel di tangannya, wajahnya seputih kertas. Pandangannya kosong.

Ia ditinggalkan.

Ferdo Wanner—putra tertua keluarga Wanner, anggota utama Evermore—dibuang begitu saja seperti pion tak berguna.

Mata Harvey menggelap.

Perguruan Shindan dan Tsuchimikado… Bukankah mereka sekutu dari negara kepulauan itu? Bukankah mereka juga yang pernah ia kalahkan habis-habisan di Kota Modu?

Tak disangka, bahkan setelah kehilangan ahli pedang sehebat Akio Yashiro, mereka masih berani membuat onar di Jinling.

Dan Sakura Miyamoto… Harvey merasa pernah membunuh wanita itu.

Namun sekarang, ia masih hidup—dan bahkan berani kembali menantangnya?

Kraak!

Langkah Harvey mendekat. Tanpa ekspresi, ia meremukkan tangan kiri Ferdo hingga terdengar suara patahan yang memekakkan telinga.

“Waktu kamu tinggal tiga menit,” katanya datar.

“Kalau tidak bicara, maka aku ulangi lagi: tahun depan, tanggal ini akan menjadi hari kematianmu.”

Bang!

Pada saat yang sama, di sebuah gudang bobrok yang diterpa angin dingin, Sakura Miyamoto—mengenakan yukata khas Jepang—membanting ponselnya hingga hancur.

Wajahnya tak lagi menawan seperti dulu. Sebagian masih memancarkan kecantikan, tetapi sisi lainnya seperti dilahap api, meninggalkan bekas luka mengerikan, membuatnya tampak seperti setengah manusia, setengah iblis.

Wajah Sakura dipenuhi ekspresi garang, putus asa, dan menyimpan kegilaan yang tersembunyi.

Setelah hening beberapa saat, ia membuka kotak kecil berisi obat cair langka, mengambil satu ampul, dan menyuntikkannya ke tubuhnya sendiri.

Perlahan, ekspresi beringas itu mereda, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan datar.

Gudang tempatnya berada begitu luas dan kosong, kecuali beberapa prajurit elite dari negeri kepulauan yang berdiri kaku dalam formasi.

Di tengah ruangan berdiri singgasana kayu sederhana, dan di atasnya terbaring Mandy yang tak sadarkan diri.

Meski dalam kondisi ditawan, Mandy tampaknya tidak mengalami penyiksaan yang berarti.

Namun saat ini, perhatian Sakura tidak tertuju pada Mandy. Matanya menatap jauh ke bagian paling dalam gudang—di mana berdiri sebuah kuil darurat bergaya Jepang.

Kuil itu, lengkap dengan gerbang torii-nya, terlihat begitu nyata, seakan seluruh kompleks kuil dari negeri kepulauan dipindahkan ke tanah Daxia.

Sakura menyipitkan mata, keningnya sedikit berkerut, namun sorot matanya tetap menunjukkan ketegangan dan rasa dingin yang menusuk.

Kedatangannya ke Daxia kali ini membawa misi tersendiri.

Namun setelah mengetahui bahwa Evermore—sekutu bangsanya—memiliki niat mencelakai Harvey, ia merasa perlu turun tangan.

Di satu sisi, ini demi membalas dendam keluarga Miyamoto. Di sisi lain, ia juga ingin melampiaskan amarahnya atas nama Shinkage, yang merasa harga dirinya diinjak-injak.

Sayangnya, segalanya tak berjalan sesuai harapan.

Perguruan Abito, para biksu iblis dari India, bahkan Evermore yang selama ini ditakuti—semuanya tak mampu menandingi Harvey.

Dan Ferdo, yang menjadi taruhan terakhirnya, justru memilih menyerah.

Itu berarti bukan hanya misinya gagal, tetapi besar kemungkinan ia sendiri akan kehilangan nyawa di tangan Harvey.

Sesuatu yang tak bisa ia terima.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4849 – 4850 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4849 – 4850.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*