Kebangkitan Harvey York Bab 4847 – 4848

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4847 – 4848 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4847 – 4848.


Bab 4847

Swish!

Hanya dalam sekejap, tangan kanan Kenshin melayang ke arah pedang panjang Jepang yang tergantung di pinggangnya.

Tanpa membuang waktu, tubuhnya berubah wujud, menukik tajam ke bawah, dan sebilah pedang menebas ke arah wajah Harvey—tajam dan senyap, secepat bayangan yang melintas!

Kekuatan luar biasa Kenshin membuat semua orang yang menyaksikan adegan itu terperangah.

Bahkan mereka yang semula mengelilingi Tuan Muda Johnings dengan tawa sinis kini menghentikan cemoohan mereka dan memandang Kenshin dengan mata berbinar.

Sulit disangkal bahwa kekuatan sejati, di mana pun berada, akan selalu mendapatkan penghormatan.

Namun, menghadapi serangan mematikan itu, Harvey hanya menjentikkan jarinya dengan tenang.

Klang!

Ujung jarinya mengenai sisi pedang Kenshin. Dentuman halus namun menggetarkan menggema dari tanah. Dalam sekejap, tubuh Kenshin terlempar, terbanting oleh benturan senjatanya sendiri.

Meski dikenal karena kecepatannya yang legendaris, kali ini Kenshin justru terhempas, terpaksa mundur dua belas langkah sebelum akhirnya menghentikan geraknya.

Tanah di bawahnya mencetak dua tapak dalam yang jelas.

Ia mendongak, sorot matanya memancarkan keterkejutan. Sulit baginya untuk percaya apa yang baru saja terjadi.

Meski tadi ia hanya menggunakan tiga puluh persen kekuatannya, tetap saja, seharusnya tak mudah untuk ditangkis.

Tapi pria ini—Harvey York—tak hanya menangkis, bahkan melakukannya dengan satu sentuhan ringan?

Kenshin menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan riak darah yang menggelegak dalam dirinya. Tatapannya mulai berubah—ia tak lagi meremehkan Harvey.

Seorang pria yang mampu menghabisi adik seperguruannya tentu bukan orang sembarangan.

“Aku akui, kamu memang punya kemampuan.”

“Tapi sayang sekali, lawanmu kali ini adalah aku.”

Detik berikutnya, Kenshin kembali melesat, tubuhnya seakan membelah udara. Di langit, dua sosok bayangan muncul bersamaan, masing-masing mengayunkan pedang dari dua sisi berbeda.

Begitu cepat—teramat cepat!

Bukan benar-benar ada dua Kenshin, melainkan kecepatannya menciptakan ilusi optik yang begitu nyata.

Bayangan itu menyatu Kembali… lalu kembali terbelah—menjadi tiga sosok yang bergerak serempak!

Itulah jurus pamungkas dari Perguruan Abito, salah satu dari Tiga Pedang Hantu, teknik tingkat tinggi yang jarang diperlihatkan.

Kenshin, sang ahli waris langsung perguruan itu, kini turun tangan langsung dengan serangan mematikan. Ini bukan hanya soal kekuatan—ini bentuk penghormatan terhadap kekuatan Harvey.

Semua orang menahan napas.

Pedang Kenshin akan segera jatuh, dan nasib Harvey… bisa jadi berakhir di situ.

Menurut legenda, tak ada satu pun saksi hidup yang pernah melihat bentuk sejati dari jurus ini.

Karena siapa pun yang menyaksikannya, telah mati.

Betapa besar kebencian Kenshin pada Harvey, hingga ia langsung mengerahkan jurus pembunuh ini?

Di sisi lain, sekelompok wanita dari kalangan atas menyaksikan peristiwa ini dengan sorot penuh semangat, seperti bunga mawar berduri yang haus drama.

Mereka tak tahan melihat pria yang mereka anggap pecundang tiba-tiba menunjukkan taringnya.

Harapan mereka sederhana: Harvey harus kalah.

Namun, di tengah serangan yang begitu cepat dan mematikan, Harvey justru menyunggingkan senyum tipis.

Langkah kakinya maju, tenang namun pasti, lalu dengan satu ayunan tangan ke belakang, ia menampar sosok bayangan di sebelah kirinya.

Plaak!

Tamparan itu mengoyak udara dengan suara tajam.

Dalam sekejap, tiga sosok bayangan di udara menyatu, dan berubah menjadi satu sosok nyata—Kenshin—yang kini berada tepat di bawah telapak tangan Harvey.

Seketika itu juga, tubuh Kenshin terpental keras, menghantam pilar marmer di belakangnya.

“Wow!”

Tubuhnya jatuh berguling, dan seteguk darah kental menyembur dari mulutnya, disertai beberapa gigi yang terlepas.

Ia berusaha bangkit, namun akhirnya ambruk kembali ke tanah. Tak mampu melawan.

Satu tamparan saja?

Apa… tadi itu sungguh hanya satu tamparan?

Seluruh hadirin membeku. Tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Bab 4848

Siapa Kenshin?

Ia bukan orang biasa.

Ia adalah kakak senior tertinggi dari Perguruan Abito, jenius langka dari negeri kepulauan—dijuluki sebagai calon dewa perang di masa depan.

Sepuluh tahun ia menyendiri di Hutan Bunuh Diri, melatih dirinya hingga sanggup membelah air terjun dengan satu tebasan.

Ia adalah kartu truf andalan Ferdo Wanner—anak emas yang diagung-agungkan negaranya!

Namun kini, pria sehebat itu justru tumbang oleh satu tamparan menantunya?

Bukan sekadar terbang—tetapi lumpuh total!

Seluruh hadirin terdiam dalam absurditas yang nyaris tak masuk akal.

Bahkan tangan Blaine yang sedang mengangkat cangkir pun terhenti di udara, matanya berkaca-kaca menyimpan keterkejutan.

Vaughan sontak berdiri, tatapannya tak berkedip menatap Harvey, seolah sedang menyaksikan keajaiban.

Sementara Kinsley dan Maisy, dua wanita yang sejak awal memandang Harvey dengan penuh penghinaan, kini menutup mulut rapat-rapat. Ingin berteriak, tapi takut harga diri mereka runtuh.

Setelah menampar Kenshin, Harvey mengeluarkan selembar tisu basah. Ia menyeka tangannya dengan perlahan, seperti sedang menghapus debu, bukan darah.

Kemudian ia melayangkan tatapan santainya ke arah Ferdo, yang masih membeku di tempat.

“Tuan Muda Wanner,” ucap Harvey ringan, “sepertinya andalan terbesarmu sudah tak bisa diandalkan lagi.”

“Jadi, bagaimana? Maukah kamu menanggapiku dengan serius sekarang?”

Para pengawal Grup Wanner hanya bisa terdiam. Mereka tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Selama ini mereka mengira telah melihat puncak kekuatan, namun kali ini, Harvey York benar-benar di luar dugaan mereka.

Akhirnya, Ferdo bergerak.

Kejutan dan ketakutan di matanya perlahan menghilang, berganti dengan sorot dingin menusuk.

Ia menyeringai, nada bicaranya datar, “Maaf, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah.”

“Kalau kamu memang punya nyali, sentuh aku.”

Kraak!

Tanpa sepatah kata pun, Harvey menendang keras betis kiri Ferdo.

Tulangnya patah seketika—putih, tajam, menembus daging, darah mengucur deras.

Sebuah pemandangan yang bahkan membuat para sosialita menjerit tertahan. Sebanyak apapun adegan kejam yang pernah mereka tonton, tetap saja pemandangan ini membuat bulu kuduk berdiri.

Blaine dan Vaughan tampak mengernyit, memandang Harvey dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara hormat dan jijik.

Bagi mereka, orang dari kalangan atas, yang paling menyakitkan bukan luka fisik—melainkan serangan balik dari seseorang yang mereka anggap tak berarti.

Dan Harvey… baru saja menyentuh titik paling rapuh dalam ego mereka.

“Ugh!”

Ferdo jatuh terkulai, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun sebagai pria yang keras kepala, ia tetap menggigit lidahnya, berusaha agar tak mengerang meskipun tubuhnya nyaris tak mampu bergerak.

Harvey tidak peduli pada penderitaan itu. Ia melangkah maju, menatap Ferdo dengan dingin.

“Dengar baik-baik. Di mana dia?”

“Di mana dia sekarang?”

Ferdo menggeram, darah menetes dari sudut bibirnya, namun ia tertawa sinis. “Aku tahu… tapi aku tidak akan memberitahumu. Aku tidak akan melepaskannya meski aku telah menangkapnya.”

“Kalau berani… bunuh aku!”

Adegan itu menggetarkan banyak hati.

Para wanita kaya yang menyaksikan dari jauh hanya bisa menatap nanar. Dalam hati mereka bergumam bahwa Ferdo memang pria sejati. Sayangnya, masa depannya telah hancur.

Kalau tidak, mungkin salah satu dari mereka rela menikahinya—dan bahkan memberinya seorang anak.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4847 – 4848 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4847 – 4848.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*