Kebangkitan Harvey York Bab 4815 – 4816

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4815 – 4816 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4815 – 4816.


Bab 4815

Keesokan harinya, segalanya berlangsung sebagaimana biasanya. Seratus nomor atrian dilepaskan.

Di bawah arahan Harvey, seluruh proses berjalan tenang dan terkendali, seolah tak ada hal genting yang perlu dikhawatirkan.

Menjelang malam, Leondra pulang dari pekerjaannya. Dengan langkah ringan, ia mulai menyiapkan makan malam untuk Harvey.

Malam ini, ia berencana menyajikan ayam panggang khas Tujia—hidangan tradisional yang tengah viral di media sosial.

Bukan hanya karena cita rasanya yang lezat dan gurih, tetapi juga karena ia membawa kesan pedesaan yang kental dan menghangatkan.

Bagi Leondra yang sejak kecil tumbuh besar di lingkungan urban, menyentuh budaya kuliner semacam ini adalah pengalaman yang begitu segar dan mendalam.

Sementara itu, Harvey, pria yang telah malang-melintang dalam berbagai pengalaman hidup, sudah cukup akrab dengan ragam masakan seperti ini.

Ia bersandar santai di kursi goyang, memperhatikan gerak-gerik Leondra dengan senyum simpul di wajahnya, sesekali memberikan arahan ringan.

Adapun Kellan, Cliff, dan yang lainnya, mereka memilih untuk berpesta di tempat lain malam itu, seakan dengan sengaja ingin memberikan ruang pribadi bagi Harvey dan Leondra.

Bahkan Julian pun mereka bawa serta.

Harvey hanya bisa tersenyum masam menghadapi tingkah laku mereka yang terkesan terlalu memahami, meski sebenarnya dangkal.

Tampaknya mereka mengira karena ia baru saja bercerai, maka segalanya harus segera diganti dan diperbaiki. Seolah semua luka bisa ditambal begitu saja.

Padahal, tidak semua perkara bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa.

Sebiji melon yang dipaksakan untuk dipetik tidak akan memuaskan dahaga—dan yang lebih penting lagi, rasanya pun tak akan manis.

Setelah ayam panggang khas Tujia dinikmati dan sisa makanannya disimpan rapi, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Anehnya, Julian dan rombongannya belum juga kembali.

Jarang-jarang Harvey merasa bersemangat seperti malam itu. Ia lalu meminta Leondra menyiapkan meja panjang lengkap dengan kuas dan tinta Cina, berniat melatih kembali keterampilannya dalam kaligrafi.

Namun, ketika ia baru saja mengangkat kuas, tiba-tiba terdengar suara tawa dingin yang samar menyelinap di antara angin malam.

“Betapa romantisnya, seorang wanita cantik menemanimu membaca di malam hari.”

“Bahkan andai kata kamu mati malam ini, Harvey, bukankah itu akan disebut sebagai kematian indah di bawah bunga peony? Sebuah akhir penuh cinta, meski hanya sebagai arwah!”

Seiring langkah kaki yang mendekat, suara tepuk tangan terdengar riuh. Sesosok pria berjalan masuk ke halaman, menebar senyum mengejek.

Leondra spontan mengernyit, wajahnya menegang karena terganggu. Seseorang telah mencemari keheningan malam yang seharusnya menjadi milik mereka berdua.

Ia berbalik, dan alangkah terkejutnya dia melihat puluhan—bahkan nyaris seratus—orang telah merangsek ke halaman.

Masing-masing dari mereka menggenggam pedang panjang bergaya Jepang. Sosok yang memimpin tampak begitu mencolok: seorang pria tampan berbaju putih, dengan aura feminin yang begitu kental.

Tatapannya menyisir Harvey, lalu berhenti pada Leondra.

Anehnya, pandangan matanya bukanlah hasrat atau kekaguman seperti kebanyakan pria saat melihat wanita cantik. Justru ada kecemburuan yang membara—cemburu terhadap Leondra, bukan sebagai saingan, tapi sebagai perempuan.

Pandangan itu membuat bulu kuduk Leondra meremang. Ia bergeser mundur beberapa langkah, ketakutan yang tak tertahankan menyeruak dari dalam.

Namun, ia segera menegakkan tubuh dan maju satu langkah. Dengan sorot mata dingin, ia berseru, “Siapa kamu sebenarnya?”

“Kamu sadar tidak, menerobos rumah orang lain tanpa izin adalah tindakan kriminal?”

Tawa sinis langsung menggema dari segala arah.

“Dasar gadis kecil. Apa kamu jadi bodoh karena terlalu banyak membaca, atau memang sejak awal polosnya minta ampun?”

Pria feminin itu menyeringai, bibirnya melengkung membentuk ejekan.

“Kalau begitu, haruskah aku meminta maaf karena telah mencemari kepolosanmu?”

Nada sarkastiknya membuat wajah Leondra menegang.

Statusnya saat ini bukan sembarangan—ia adalah kepala ahli Feng Shui untuk Real Estat Jinling sekaligus tokoh berpengaruh di industri perfilman Jinling. Siapa yang berani berbicara begitu kasar padanya?

Namun, saat ia hendak membalas, Harvey mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat agar Leondra mundur.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mulai menulis sambil tersenyum tenang:

“Apakah Ferdo yang mengutusmu ke sini… untuk menemui ajal?”

Bab 4816

Mendengar kalimat tajam Harvey, pria feminin itu terhenyak sejenak sebelum kembali mencibir dengan nada menyindir.

“Wah, kamu cukup pintar juga rupanya.”

“Tapi kamu tahu, orang yang terlalu pintar biasanya tidak berumur panjang.”

“Kamu tahu terlalu banyak, dan itulah sebabnya kamu harus mati malam ini.”

Matanya menyapu seluruh penjuru halaman dengan penuh waspada, lalu kembali menatap Harvey dengan sikap meremehkan.

Awalnya ia mengira Harvey telah mempersiapkan sesuatu. Namun kini, ia justru merasa Harvey sama sekali tak berniat melawan—seolah dengan sengaja menunggu ajalnya tiba.

Sikapnya benar-benar menyebalkan.

“Aku memang tahu banyak hal.”

“Tapi tak sekalipun aku punya niat untuk mati.”

Harvey tetap tenang, menggoreskan kuasnya perlahan.

“Sungai Yangtze bergulung ke timur, menghempas para pahlawan ke dalam gelombang.”

Setiap goresan tinta mengandung hawa dingin yang menyusup ke tulang. Ada semacam tekanan tak kasatmata dalam kaligrafi itu, seolah setiap karakter menyimpan hasrat membunuh yang menggetarkan nurani.

“Sok hebat! Teruslah berpura-pura!”

Pria feminin itu mendengus, muak dengan sikap Harvey yang menurutnya sok tenang.

“Yang perlu kamu tulis sekarang bukan kaligrafi, tapi surat wasiatmu!”

“Bagaimana kamu akan menyusunnya?”

“Lalu, izinkan aku memberimu saran terakhir: sumbangkan hartamu pada panti asuhan!”

“Karena setelah kamu mati, Tuan Muda Wanner akan menghabisi seluruh keluargamu!”

“Kesembilan klanmu akan menerima ganjaran atas kelancanganmu!”

“Jadi, nikmatilah malam terakhirmu!”

Harvey menanggapi dengan senyum tenang. “Oh? Hanya sembilan klan? Kamu tak sekalian menggali kubur nenek moyangku sampai delapan belas generasi ke belakang dan menghancurkan mereka jadi abu?”

“Kamu boleh saja kejam, tapi tetap belum cukup tangguh!”

Pria feminin itu sejenak terdiam, tertegun dengan jawaban Harvey yang begitu santai namun penuh sindiran. Lalu ia mendengus lagi, “Sombong!”

“Angkuh!”

“Tidak tahu diri!”

“Tapi kamu tidak sepenuhnya bodoh…”

“Kamu pikir aku tak tahu siapa Julian, pengawal kesayanganmu dari Klan York Makau-Hong Kong?”

“Aku sudah mengirim puluhan pembunuh untuk menghadangnya!”

“Kalaupun dia tidak mati, dia akan disiksa sampai sekarat! Tak ada yang bisa menolongmu malam ini!”

“Jadi jangan terlalu percaya diri!”

Sementara itu, Harvey tetap menulis dengan tenang.

“Benar dan salah, sukses dan gagal—semua akan lenyap bersama senja.”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, ia meletakkan kuas, menatap lawannya sambil tersenyum.

“Kapan aku pernah bilang bahwa Julian adalah kartu trufku?”

“Gunakan pion untuk melawan Raja Perang? Kamu bercanda?”

“Kalau mau menang, setidaknya panggil biksu iblis India atau pendekar dari negara pulau!”

“Kamu terlalu meremehkanku. Bertindak ceroboh begini… Ferdo pasti akan menamparmu sampai mampus.”

“Kamu…”

Pria feminin itu mencak-mencak, wajahnya memerah karena dipermalukan. Namun ia tetap berusaha mempertahankan sikapnya.

“Tuan York, hentikan sandiwara ini!”

“Biarpun anak buahku tak bisa melawan Julian, mereka bisa menahannya cukup lama!”

“Dan setelah kamu tewas, kami akan memburunya sampai ke ujung dunia!”

Tawanya meledak keras.

Di sisi lain, Leondra telah mengambil ponselnya. Dengan tangan gemetar dan mata penuh kewaspadaan, ia berdiri melindungi Harvey.

“Keluar dari sini!”

“Jika tidak, aku akan segera memanggil polisi dan menyeret kalian semua ke penjara!”

Meskipun ia tahu Harvey bukan pria biasa, namun nalurinya sebagai seorang perempuan tetap tak bisa menahan kekhawatiran.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4815 – 4816 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4815 – 4816.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*