Kebangkitan Harvey York Bab 4791 – 4792

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4791 – 4792 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4791 – 4792.


Bab 4791

Daiharu menarik napas panjang, berjalan mendahului Julian dengan langkah tegap.

Ia menahan napas, memusatkan seluruh kesadaran, lalu mengerahkan seluruh tenaga—bukan hanya seratus persen, melainkan seatus dua puluh persen.

Ia bersiap menebas Julian hingga tewas, berharap bisa merebut kembali harga diri yang sempat terinjak.

Namun di sisi lain, Julian tetap berdiri santai, dengan sikap acuh seolah semua yang terjadi tak ada sangkut pautnya dengannya.

Sang pembawa acara pun melangkah maju, ekspresinya tegang dan gugup. Tatapannya beberapa kali tertuju pada Daiharu.

Setelah melihat anggukan pelan darinya, ia pun berseru lantang, “Mulai!”

“Bunuh!” teriak Daiharu membahana.

Dengan raungan menggema, pedang panjang khas negeri kepulauan yang ia genggam berubah menjadi kilat menyilaukan, menebas udara laksana badai yang menggulung.

Saat itu juga, suara gemuruh ombak dan pekikan binatang buas seakan terdengar menggema dari balik langit.

Seisi arena, bahkan angkasa yang membentang, seakan hanya dipenuhi oleh satu hal—tajamnya pedang Daiharu.

Sorot mata para penonton seolah tersihir oleh pancaran kekuatannya yang menakutkan. Pedang itu seakan menutupi langit dan bumi, menelan segalanya.

Segelas demi segelas anggur merah di tangan para tamu beriak pelan, seolah memberi bukti betapa mencekam energi yang dilepaskan.

Beberapa gadis cantik yang menyaksikan dari barisan depan tak kuasa menyembunyikan ketakutannya—wajah mereka memucat, tubuh gemetar.

Mereka belum pernah menyaksikan kekuatan sehebat ini secara langsung. Benar-benar mengerikan.

Namun di tengah ancaman tajam itu, Julian tetap tenang. Acuh. Pengalaman getirnya di Hong Kong dan Penang telah membentuk ketenangannya.

Tatkala pedang memecah udara ke arahnya, ia hanya menyipitkan mata sedikit.

Pah!

Dalam sekejap yang tak terduga, ketika semua orang mengira Julian akan terbelah oleh pedang Daiharu, pria itu justru melangkah maju dan—

dengan gerakan sederhana namun telak—menampar wajah lawannya dari arah samping.

Tubuh Daiharu, yang semula gagah, langsung terlempar seperti karung kosong dan menghantam tepi ring dengan keras.

Tampak bekas telapak merah menyala di wajahnya. Ia terbaring dengan ekspresi terhina, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Ia melirik pedang panjang yang masih tergenggam, seolah tak mampu menerima kenyataan bahwa dirinya, dengan segala kemampuan dan reputasi, bisa dijatuhkan dengan tamparan belaka.

Ini adalah kekalahan yang amat memalukan.

Sebagai putra tanah negeri kepulauan, bagaimana mungkin ia kalah dari orang Daxia?

Kalaupun ia harus kalah, seharusnya itu oleh jurus puncak lawan. Tapi sekarang?

Ia dipermalukan hanya dengan tamparan. Benar-benar keterlaluan!

Keheningan menyelimuti seluruh arena. Tak seorang pun bersuara. Semua saling berpandangan dengan mata membelalak, tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Suasana menjadi begitu mencekam hingga terasa menyesakkan.

Mata Blaine menyipit tajam, sementara wanita cantik di sisinya menatap dengan pupil mengecil, penuh ketidakpercayaan.

Kraak—

Segelas anggur hancur di tangan Ferdo, namun ia bahkan tak sadar bahwa cairan merah itu menetes dari jarinya.

Di sisi lain, Kairi, Stannis, dan yang lain hanya menyunggingkan senyum. Mereka sudah memperkirakan ini.

Jika Julian tidak memiliki keyakinan penuh atas dirinya sendiri, mana mungkin ia berani bertindak sedemikian tenang?

Yang paling mencolok adalah—Daiharu kembali kalah.

Kali ini, dia bahkan sudah bersiap secara penuh, namun tetap saja gagal. Ini bukan hanya kekalahan, ini adalah kehinaan mutlak!

“Julian! Apa-apaan kamu ini!” seru Harvey dengan amarah yang membara.

“Kenapa kamu menyerang Daiharu diam-diam lagi? Dia adalah master dari negeri kepulauan! Ini tidak sah! Pertarungan ini tidak sah!”

“Ayo ulang lagi! Kita bertarung lagi!”

Julian hanya tersenyum mendengar teriakan itu, lalu mengisyaratkan dengan jari ke arah Daiharu.

Dengan rahang mengatup erat, Daiharu maju lagi. Dan lagi-lagi, Julian menampar wajahnya tanpa ragu.

Plaak!

Tamparan kedua mendarat di sisi lain wajah Daiharu. Tubuhnya kembali terlempar ke samping!

“Tidak sah! Ini tetap tidak sah!”

“Kenapa kamu terus menyerang secara diam-diam?!”

“Kamu harus menunggu sampai pisau Daiharu menyentuh lehermu dulu, baru boleh menyerang balik. Paham?!”

Plaak!

Tamparan kembali mendarat. Sekelompok penonton hanya bisa menahan napas. Beberapa kelopak mata berkedut hebat, sementara Bradie nyaris memuntahkan darah.

Bab 4792

“Julian, apa sebenarnya yang kamu lakukan?!” seru Harvey, makin tak mampu menyembunyikan amarah.

“Aku sudah bilang, kamu baru boleh menyerang jika pisau Daiharu sudah berada di lehermu!”

“Kenapa kamu masih saja menyerang duluan?!”

“Kamu sama sekali tidak mencerminkan warisan peradaban Daxia yang telah berusia 5.000 tahun!”

“Para juri, aku usulkan agar pertarungan dilanjutkan.”

“Akan lebih baik jika kalian, sebagai juri yang adil, bersama-sama membuat pernyataan: jika Julian menyerang sebelum pisau Daiharu menyentuh lehernya, maka ia dianggap kalah!”

Nada Harvey begitu serius, tapi terselip senyum penuh makna saat ia melirik Bradie.

Kelopak mata Bradie terus berkedut. Ia tak menyangka Julian sekuat itu. Dan Harvey… lidahnya lebih tajam dari yang diduga.

Jika dia terus menyetujui permintaan Harvey, reputasi dirinya bisa rusak parah.

Kalau Daiharu kembali kalah, maka sebagai tetua sekte dari Gerbang Surga Barat Daya, ia bisa menjadi bahan cemoohan—tikus jalanan yang tak diinginkan siapa pun.

Namun, menghadapi tatapan Harvey yang tenang tapi penuh tekanan, memikirkan kehancuran citra Daiharu, Bradie akhirnya membuang gengsinya.

Dengan wajah memerah dan leher menegang, ia berseru, “Baiklah! Karena kamu begitu memohon, aku akan mengabulkannya!”

“Kamu sendiri yang memintanya, bukan aku yang memaksa!”

Ferdo ikut berdiri dan mencibir, “Apa maksudmu meletakkan pisau di leher? Itu penghinaan besar!”

“Daiharu adalah salah satu dari sepuluh master terbaik negeri kepulauan. Tidak pantas diperlakukan seperti itu!”

“Tapi aku sarankan agar dia tidak lagi menggunakan pedang tadi. Ganti saja senjatanya, dan lanjutkan pertarungan!”

Bradie langsung mengangguk, menimpali, “Benar! Alasan kegagalan Daiharu bukan hanya karena diserang diam-diam, tapi juga karena senjatanya tidak cocok!”

“Para juri setuju bulat: senjata bisa diganti!”

Tatapan membunuh langsung tertuju ke arah Bradie dari para juri lain.

Orang tua ini sangat keterlaluan!

Tak tahu malu itu masih bisa dimaafkan—tapi menyeret semua orang bersamanya?!

Sialan! Kalau hal ini terbongkar, bagaimana mereka bisa berhadapan dengan publik?

Menjadi tikus jalanan itu berat!

Di sisi lain, Blaine hanya menyipitkan mata tanpa berkata apa pun, tapi dari sorot wajahnya yang tersembunyi dalam bayangan, tampak guratan geli yang tak bisa disembunyikan.

Wanita cantik di sampingnya mendengus kecil, menatap Harvey dengan seringai.

Menurutnya, Harvey yang biasanya tampil kalem, kini tengah mempertahankan citranya mati-matian.

Dan jika Daiharu menggunakan senjata yang lebih familiar, mungkinkah Julian—seorang playboy yang hanya mengandalkan insting—masih mampu menandinginya?

Teriakan pun menggema dari para penggemar Daiharu.

“Ganti senjata! Ganti senjata!”

“Bertarung lagi! Lawan lagi!”

Pah——

Ferdo melambaikan tangan, dan salah satu bawahannya melemparkan koper ke atas ring. Dengan nada tenang, ia berkata,

“Daiharu, semua orang sudah memintamu mengganti senjata. Tak perlu merasa tertekan. Pilihlah senjata sesuai keinginanmu.”

Daiharu pun tersenyum—bukan senyum tulus, melainkan seringai penuh kepuasan. Ia memang tak punya semangat bushido sejati. Ajaran itu hanya digunakan untuk menipu orang luar.

Tanpa ragu, ia membuang Pedang Panjang Salju yang sebelumnya ia pegang.

Beberapa detik kemudian, dari dalam koper, ia menarik sebuah revolver klasik yang terlihat sangat mewah.

“Tak tahu malu!”

Arlette, yang menyaksikan dari sisi ring, langsung meledak.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4791 – 4792 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4791 – 4792.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*