Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4677 – 4678 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4677 – 4678.
Bab 4677
Senyuman tipis menghiasi wajah Harvey. Suaranya tetap tenang, nyaris tanpa emosi saat berkata, “Tak apa.”
“Kamu masih muda dan tampak tenang di permukaan, tapi sikapmu sembrono.”
“Selain karena kamu lama tinggal di dunia Barat dan banyak terpengaruh budaya mereka yang penuh kepura-puraan, alasan lainnya adalah karena kamu berlatih tinju internal layaknya tinju eksternal.”
“Energi dalam tubuhmu tidak bisa mengalir dengan bebas, sehingga api di dalam hatimu kian berkobar.”
“Ditambah lagi, kamu baru saja terjerumus dalam kisah cinta yang buruk, membuat seluruh tubuhmu dipenuhi bara kemarahan.”
“Dalam pertarungan antara kekuatan internal dan eksternal, kamu seperti bara api yang setiap saat siap meledak.”
“Kemarahanmu padaku hanyalah reaksi bawah sadar.”
“Bukan aku yang kamu jadikan sasaran, melainkan semua orang.”
“Atau lebih tepatnya, terhadap siapa pun yang ada di hadapanmu.”
Ucapan Harvey membuat Quillan terdiam. Di matanya yang awalnya penuh amarah, kini muncul selintas keraguan dan perenungan mendalam.
“Hehe,” Penney tertawa kecut, lalu menyeringai dengan sinis. “Meski aku akui kamu memahami ilmu Feng Shui dan fisiognomi, dan meski aku akui kehebatanmu dalam bela diri…”
Ia melanjutkan, “Tinju Gerbang Surga ini adalah teknik eksklusif dari sekte utama Gerbang Surga di barat daya! Jurus seperti ini tidak akan mungkin bisa dipahami oleh orang luar seperti kamu!”
Namun Harvey hanya tersenyum samar.
Tidak bisa memahami?
Itu lelucon.
Ia adalah sosok dewa perang sejati, puncak dari segala puncak. Ia telah menguasai segala jenis teknik mematikan dunia beladiri. Hanya dengan sekali tatap, ia bisa menembus esensi dari seni tinju internal.
“Tinju Gerbang Surgamu itu memang tampak megah dan menggetarkan.”
“Tapi kalau tidak keliru, jurus ini sebenarnya hanya setengah dari keseluruhan formasi.”
“Mungkin teknik pengaturan napas internalnya telah hilang dalam proses pewarisan.”
“Atau justru orang yang memberimu teknik ini sengaja menyembunyakan bagian pentingnya.”
“Akibatnya, seni bela diri internal ini kini hanya menjadi sekumpulan gerakan yang tampak mencolok namun kosong makna.”
“Energi dominan dalam tubuh tidak bisa dikeluarkan pada saat genting. Sebaliknya, malah merusak organ-organ vital saat kamu melatih tinju ini. Dan, tidak ada solusi untuk itu.”
“Semakin dalam kamu berlatih, maka semakin besar bahayanya bagi dirimu sendiri.”
“Jadi, daripada menyebutnya Tinju Gerbang Surga, seharusnya disebut Tinju Tujuh Cidera!”
“Sebelum mencelakai lawan, kamu sudah lebih dulu menyakiti tubuhmu sendiri.”
“Ketika teknik ini mencapai tingkatan tertentu, kamu akan mulai merasa sesak di dada, sulit tidur, dan kerap diteror mimpi buruk.”
“Jika kamu terus mendalaminya, tubuhmu akan melemah, sesak napas, batuk parah, bahkan hingga batuk darah.”
“Dan di tahap paling akhir, seseorang bisa saja langsung memuntahkan darah dan menemui ajalnya!”
“Aku bahkan bisa menebak, siapa pun yang mendalami Tinju Gerbang Surga ini tidak akan pernah mencapai usia lebih dari enam puluh tahun.”
“Mereka semua akan meninggal dengan cara yang sama—batuk darah hingga paru-paru mereka luruh.”
“Lihat saja Penney. Kemampuan bertarungnya memang sedikit meningkat, tapi kamu tak bisa tidur tenang setiap malam. Kamu mengira dirimu sedang jatuh cinta.”
“Dan Anda, Tuan Gibson. Setiap kali menggunakan tinju ini, Anda harus menanggung sesak napas selama tiga hari penuh. Otot Anda melemah, tubuh nyaris lumpuh, hanya bisa bertahan dengan satu tarikan napas.”
“Meski begitu, Anda masih butuh bantuan ahli bela diri untuk merangsang napas internal setiap tiga bulan agar fungsi tubuh tidak sepenuhnya kolaps.”
“Anda mau menyangkalnya?”
Kata-kata Harvey diucapkan begitu tenang, tapi justru membuat Quillan dan Penney terdiam membeku. Mereka saling bertatapan dengan mata yang membelalak, penuh keterkejutan.
Jelas mereka tak menduga bahwa pemuda di hadapan mereka ini begitu mendalam pengetahuannya dalam dunia seni bela diri.
Harvey bukan hanya mampu menjabarkan gejala-gejala yang mereka alami, tetapi juga menguraikan kondisi yang menimpa para leluhur keluarga Gibson selama beberapa generasi.
Bab 4678
Pandangan Harvey perlahan berpindah ke Derwin. Dengan nada lembut namun penuh tekanan, ia berkata,
“Tuan Gibson, kondisi Anda yang nyaris lumpuh dan sekarat beberapa waktu lalu, memang ada kaitannya dengan Telapak Tangan Xuanyin dari klan Corpse Walkers Xiangxi.”
“Tetapi, Tinju Gerbang Surga barangkali bukan pemicu utama.”
“Karena, sebelum Anda sempat melukai siapa pun, tubuh Anda sendiri lebih dulu menjadi korban. Kondisi fisik Anda sudah jauh lebih lemah dibandingkan seniman bela diri biasa.”
“Begitu cedera menimpa, akan sangat sulit bagi Anda untuk pulih. Bahkan, tubuh Anda akan semakin memburuk dari waktu ke waktu.”
Wajah Derwin menggelap. Setelah terdiam lama, ia berkata lirih, “Benar… Aku selalu yakin bahwa sekuat apa pun teknik Telapak Tangan Xuanyin, itu tidak akan melampaui Tinju Gerbang Surga kita.”
“Lagipula, tempat kami berasal adalah tanah suci dunia bela diri, bukankah begitu?”
“Pantas saja… saat itu, hanya dengan satu serangan dari orang itu, aku langsung terjerembab di kursi roda.”
“Sekarang aku mengerti.”
“Dan kalau dipikir-pikir kembali, dari tiga garis keturunan utama pemegang jurus warisan Gerbang Surga barat daya, tak ada satu pun pewaris Tinju Gerbang Surga yang mampu bertahan hidup melewati usia enam puluh tahun.”
“Aku dulu sempat mengira ada yang salah dengan Feng Shui keluarga kami. Ternyata… masalah sebenarnya justru ada pada jurus tinju itu sendiri.”
Ucapan Derwin berhenti di situ. Ia tak tahu lagi ekspresi apa yang pantas ia tunjukkan.
Jika yang dikatakan Harvey benar, bahkan ahli Feng Shui sehebat apa pun tak akan mampu memperbaiki nasib keluarga Gibson.
Karena semua ini, bukanlah soal Feng Shui.
Wajah Quillan berubah-ubah. Setelah terdiam cukup lama, ia akhirnya berujar lirih, “Saudara York… jadi menurut Anda, tidak ada masalah apa pun dengan Feng Shui keluarga Gibson?”
Usianya kini nyaris memasuki kepala enam, dan kekhawatiran akan kematian perlahan menghantuinya.
Maka, mendengar pemaparan Harvey barusan, Quillan mulai menaruh harapan.
Selama ini banyak ahli Feng Shui mengatakan bahwa keberuntungan keluarga Gibson bermasalah, namun tak satu pun bisa memberikan solusi nyata.
Siapa sangka, hari ini Harvey justru memberikan penjelasan yang mencengangkan.
Bencana yang menimpa keluarga Gibson dari generasi ke generasi ternyata bersumber dari Tinju Gerbang Surga itu sendiri.
Harvey mengarahkan pandangannya ke dahi Quillan, lalu mengalihkan tatapannya ke arah rumah utama keluarga Gibson yang tak jauh dari tempat itu.
Ia mengeluarkan gulungan Sutra Seratus Tahun dan membacanya perlahan, sebelum akhirnya berkata dengan ringan,
“Feng Shui rumah keluarga Gibson memang agak lemah, paling tidak, Harimau Putih telah surut dan Kura-kura Hitam telah berpaling arah.”
“Ini memang membuat peruntungan kalian kurang baik, tapi tak sampai menimbulkan bencana besar.”
“Lagi pula, Feng Shui seperti ini biasa ditemui di kalangan keluarga besar seni bela diri. Asal memiliki dua atau tiga peninggalan leluhur, cukup untuk menetralisirnya.”
“Contohnya, Tuan Gibson, dahi Anda memang tampak menghitam, tapi tidak sampai menandakan bahaya besar. Bahkan, saya bisa menanganinya kapan saja.”
“Tetapi masalah terbesar yang Anda hadapi tetaplah Tinju Gerbang Surga itu sendiri.”
Harvey menyipitkan matanya dan melanjutkan dengan nada serius, “Pikirkan baik-baik. Tak hanya keluarga Gibson. Selain keluarga Anda, berapa banyak praktisi Tinju Gerbang Surga yang hidup bahagia hingga tua?”
Quillan sempat terdiam, lalu setelah merenung sejenak, ia menghela napas panjang dan tersenyum pahit.
“Dulu, hanya keluarga Gibson yang diperbolehkan mempelajari Tinju Gerbang Surga.”
“Dan karena semua praktisinya masih di bawah usia enam puluh, kami selalu mengira masalahnya ada pada Feng Shui, tak pernah menyangka penyebabnya justru teknik itu sendiri.”
“Sekarang kalau diingat kembali… pamanku juga mendalami Tinju Gerbang Surga, dan dia juga meninggal sebelum mencapai usia enam puluh.”
“Aku selalu mengira semua itu hanya kebetulan…”
Penney pun tampak murung. Dengan suara pelan, ia bertanya, “Kakek Gibson… kalau begitu, apakah itu berarti kita tak boleh lagi melatih Tinju Gerbang Surga di masa depan?”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4677 – 4678 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4677 – 4678.
Leave a Reply