Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4557 – 4558 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4557 – 4558.
Bab 4557
“Lagipula, saya harus bertemu dengan direktur eksekutif Jinling Real Estate. Kami perlu mendiskusikan perihal juru bicara mereka nanti.”
“Saya akan mengajakmu minum teh pagi setelah urusan ini selesai!”
Dari nada bicaranya saja sudah jelas—bagi Eisley, Harvey hanyalah sosok sepele yang sama sekali tak pantas diperhitungkan.
Sedangkan Xynthia… Andai dia tak mengetahui bahwa Harvey punya latar belakang kuat di Kaishan Group, kemungkinan besar Eisley bahkan tak akan repot-repot mendekatinya.
Apalagi Harvey, yang oleh Xynthia diperkenalkan sebagai kakak ipar. Di mata Eisley, pria itu tak hanya tak menarik, tapi menjijikkan.
Maka tak heran jika Eisley tidak hanya memandang rendah Harvey, melainkan benar-benar mengabaikan eksistensinya seolah ia tak pernah ada.
Sebagai perempuan berkulit putih, berharta, dan menawan, Eisley merasa lelaki seperti Harvey—yang menurutnya hanya mengandalkan keberuntungan untuk makan sehari-hari—tak layak mendapat penghormatan sedikit pun darinya.
Dalam benaknya, hanya pria dari kalangan elit seperti Blaine yang pantas menarik perhatiannya di seluruh Jinling.
Harvey sekilas melirik wanita itu, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Mana mungkin dia tidak menyadari sinisme yang tertanam dalam setiap gerak-gerik Eisley?
Namun, ia tak marah hanya karena perlakuan seperti itu. Bagi Harvey, pandangan meremehkan dari perempuan semacam Eisley tidak lebih dari angin lalu—tak layak ditanggapi.
“Oh, Eisley, kamu masih harus menghadiri jamuan makan malam ya?”
Nada suara Xynthia mengandung kekecewaan yang kentara.
“Padahal aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku.”
“Kamu kan teman pertamaku di dunia hiburan.”
“Kalau begitu, setelah semua urusanmu selesai nanti, mampirlah sebentar.”
“Aku berencana mengajak beberapa teman ke klub malam. Kita bisa bersenang-senang bersama!”
“Semua pasti senang bertemu denganmu—seorang bintang besar.”
Terlihat jelas bahwa Xynthia sungguh-sungguh menganggap Eisley sebagai sahabat. Kalau tidak, dengan karakternya yang selektif, mana mungkin ia melontarkan undangan tulus semacam itu?
Ia tahu Eisley masih asing dengan kota Jinling dan khawatir temannya itu akan merasa bosan. Karena itulah ia berusaha membawanya menikmati kebersamaan dan keceriaan, agar Eisley tak merasa sendirian di kota asing ini.
Eisley mendesah tipis dan mengerucutkan bibirnya, lalu menjawab dengan datar, “Sudahlah, Xynthia, aku tahu kamu bermaksud baik.”
“Tapi sungguh, hari ini aku tidak ada waktu.”
“Lagi pula, orang-orang yang kamu kenal di Jinling… siapa sih mereka sebenarnya?”
“Mereka semua tak lebih dari ikan-ikan kecil di tepi jalan.”
“Apa manfaatnya bergaul dengan orang semacam itu?”
“Kalau ada yang memotretku sedang bersama mereka, bisa-bisa muncul gosip atau bahkan ejekan.”
“Posisiku lebih tenar dirimu. Ke mana pun aku pergi, selalu jadi pusat perhatian.”
“Lebih baik lain kali kita bertemu di tempat yang elegan dan privat.”
Xynthia menunduk sedikit, tampak kecewa. “Baiklah, kalau begitu lain waktu saja.”
“Ngomong-ngomong, Eisley, kamu nggak mau aku antar ke kota?”
“Mau kubilang ke kakak iparku biar dia antarkan kamu?”
“Tak perlu,” sahut Eisley dengan datar. “Aku sudah pesan mobil pribadi.”
Bagi Eisley, naik kendaraan pribadi macam Audi, BMW, atau Mercedes-Benz adalah hal biasa.
Kendaraan itu mungkin memang model paling standar, tapi tetap lebih baik daripada bergantung pada mobil yang menurutnya usang.
Apalagi jika harus duduk di dalam mobil yang dikemudikan Harvey—ia bahkan tak tahu mobil macam apa yang dikendarai pria itu.
Barangkali Wuling Hongguang, atau paling banter Volkswagen Jetta.
Kalau sampai ada yang memotret dirinya berada di mobil seperti itu, seluruh citra sebagai perempuan kaya dan elegan yang telah ia bangun dengan susah payah bisa runtuh dalam sekejap.
Lebih baik dia naik taksi pribadi daripada harus turun derajat.
Sambil berbicara, Eisley pun mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi, dan mulai memesan kendaraan.
“Xynthia, tak perlu repot. Dia sudah dewasa dan jadi selebritas besar, masa urusan begini saja tak bisa ditangani sendiri?”
Nada Harvey terdengar malas. Ia lantas mengambil koper Xynthia dan memasukkannya ke dalam Audi.
“Boom—”
Suara mesin mobil meraung tajam, lalu melaju melintasi Eisley.
Dari dalam mobil, Xynthia menurunkan jendela dan melambaikan tangan ke Eisley dengan senyum hangat.
Namun, senyum di wajah Eisley langsung memudar begitu matanya menangkap plat mobil itu.
Audi A8…
Nomor platnya…
Lima angka delapan.
Bab 4558
“Kakak ipar, biar kujelaskan ya… Kali ini aku pulang ke Jinling secara diam-diam,” ucap Xynthia sambil bersandar santai.
“Sutradara sialan itu menjadwalkan beberapa drama baru untukku. Aku sampai harus bekerja bergiliran!”
“Rasanya lelah sekali!”
Xynthia tampak tak peduli dengan mobil yang dikendarai Harvey. Baginya, selama yang menyetir adalah kakak iparnya, maka tidak peduli apakah itu Rolls-Royce atau Wuling, semua terasa sama saja.
“Tapi aku sedang mengejar karier yang berkualitas. Mana mungkin aku mau menerima peran seadanya?”
“Ngomong-ngomong, aku dengar Bank Jinling sedang berencana kolaborasi dengan perusahaan film dan televisi buat bikin film besar yang inspiratif.”
“Jadi, aku kembali untuk mencoba mendapatkan peran utama wanitanya!”
“Kalau berhasil… siapa tahu, aku bisa jadi terkenal!”
Harvey, yang sedang mengemudi, sedikit mengernyit. “Bank Jinling juga ikut bikin film? Kamu bercanda?”
Xynthia langsung memasang ekspresi serius, seolah sedang mengajari Harvey sejarah negara.
“Kakak ipar, kamu ini benar-benar tidak tahu, ya?”
“Bank Jinling punya sejarah panjang. Berdiri sejak Dinasti Qing!”
“Saat Daxia didirikan, mereka bahkan membantu negara mengumpulkan dana militer dalam jumlah besar!”
“Itu sebabnya Bank Jinling dikenal sebagai lembaga yang bersejarah dan penuh semangat nasional.”
“Kalau mereka memproduksi film besar bertema patriotik, pasti hasilnya luar biasa!”
“Dan mereka takkan memilih aktor populer yang sering kena skandal. Mereka pasti lebih memilih pendatang baru.”
“Itulah alasanku kembali ke sini.”
“Kamu lihat, meskipun kamu belum pernah memperkenalkanku pada pekerjaan apa pun, aku tetap bisa bersinar atas usahaku sendiri!”
Harvey hanya tersenyum simpul. Ia tahu Xynthia memang penuh semangat dan tekad.
Sambil menyusun rencana untuk menyapa Stannis nanti, ia menanggapi santai, “Kamu sudah sangat siap. Sepertinya kamu benar-benar ingin terbang tinggi dengan kemampuanmu sendiri.”
Xynthia mengerucutkan bibirnya. “Tentu saja. Aku ingin mandiri dan membuktikan diri.”
“Kalau aku tidak sukses, mengingat cara berpikir orang tuaku, mereka pasti akan menikahkanku dengan pangeran entah dari mana segera setelah lulus!”
“Aku tidak mau menikah hanya karena mereka memaksa!”
“Apalagi pria baik seperti kamu, kakak ipar, langka sekali di dunia ini!”
Harvey langsung memberi peringatan halus, “Kalau ibumu mendengar ucapanmu itu, bisa-bisa kita berdua celaka.”
“Oke, oke!” Xynthia terkikik dan menutup mulut. “Aku nggak akan bicara macam-macam lagi!”
“Ngomong-ngomong, malam ini aku ada pertemuan dengan beberapa petinggi dari Goldie Studio. Kabarnya, posisi mereka cukup berpengaruh.”
“Meskipun perusahaan itu berada di bawah naungan Bank Jinling, tapi urusan film tentu ditangani oleh Goldie Studio sendiri.”
“Semoga saja mereka bisa membantuku mendapatkan peran utama.”
“Aku bahkan sudah menyiapkan hadiah-hadiah spesial untuk mereka!”
Saat berkata begitu, ekspresi Xynthia terlihat bangga, seolah ia menunjukkan kualitas bintangnya.
Namun, begitu Harvey melihat isi tasnya—berisi cinderamata khas dunia film dan televisi yang tampak nyentrik—ia hanya bisa diam. Rasanya mustahil orang-orang itu akan terkesan dengan barang seperti itu.
Kalau mau memberi hadiah, lebih baik batang emas sekalian.
Tapi Harvey tidak tega menghancurkan harapan dan imajinasi polos Xynthia. Ia hanya merenung sejenak lalu berkata lembut, “Perlu aku temani?”
Ia khawatir jika Xynthia pergi sendiri, akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Xynthia sempat ingin menolak. Tapi kemudian teringat bahwa selama Harvey berada di dekatnya, ia selalu merasa aman.
“Baiklah. Kamu ikut saja, bilang kamu adalah pengawalku.”
“Masukkan dulu barang-barangmu ke mobil, dan ayo kita langsung berangkat.”
Sambil berbicara, Xynthia menyodorkan sebuah alamat pada Harvey.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4557 – 4558 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4557 – 4558.
Leave a Reply