Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4349 – 4350 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4349 – 4350.
Bab 4349
“Qinhuai Luxe Estate, Antony Lee!”
Tatapan Harvey membeku, seolah menembus udara malam yang menggantung pekat.
Ia baru menyadari bahwa Mandy rupanya turut terseret dalam kekacauan ini. Dan Antony, atas perintah Ronny, menjadi eksekutor dari rencana kotor tersebut.
Atau jangan-jangan, Antony memang datang untuk Mandy—dan perempuan itu telah terperdaya, didorong oleh tekanan untuk menyelesaikan krisis keuangan yang melilit perusahaan Keluarga Zimmer.
Mendengar kabar bahwa Mandy terancam, Thomas spontan menginjak pedal gas sekuat tenaga hingga mobil melesat nyaris membelah malam.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, mereka sudah tiba di depan Royal Club.
Begitu mobil berhenti, Harvey menendang pintu hingga terbuka dan langsung melompat keluar.
Matanya segera menangkap sosok Mayla—wajahnya pucat dan tubuhnya tampak lebam-lebam, dibalut kecemasan yang menguar.
“Tuan York!”
Melihat Harvey muncul, tubuh Mayla seolah tersengat. Ia segera berlari menghampiri, napasnya memburu di antara kegugupan dan harapan. “Tuan York, akhirnya Anda datang juga!”
Kedatangan Harvey seolah menyulut secercah keberanian dalam dirinya.
Mayla takkan pernah lupa saat Harvey menghajar Sonnie Lee dan para preman tempo hari hingga wajah mereka membengkak seperti dipukul bertubi-tubi. Sejak saat itu, ia tahu—Harvey bukanlah pria biasa.
Tanpa basa-basi, Harvey langsung bertanya dengan nada tegas, “Di mana Mandy?”
“Lantai delapan, kotak 888!” jawab Mayla cepat.
“Tuan Muda York, orang itu… Antony… dia bukan orang sembarangan!”
“Selain menjabat sebagai wakil presiden Qinhuai Luxe Estate, katanya dia punya saudara yang berkecimpung di dunia hitam!”
“Dia orang yang menguasai dua sisi dunia: terang dan gelap! Banyak yang mencoba melawannya, tapi semuanya diinjak-injak hingga tak berdaya!”
“Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?!”
Nada Mayla mengandung ketakutan yang masih membekas.
Sebelum Harvey datang, dia bahkan tak berani menghubungi aparat, takut dirinya kembali jadi korban kekerasan.
Kini setelah Harvey muncul, ia pun ingin memastikan keselamatannya dengan meminta lapisan perlindungan ekstra.
“Sudah terlambat,” ujar Harvey dingin. “Aku akan menyelesaikannya sendiri.”
Ia tak menggubris keraguan Mayla dan langsung melangkah cepat memasuki lobi Royal Club.
Royal Club adalah tempat elite nan tersohor di Jinling—tempat hiburan mewah yang tak pernah sepi oleh hiruk-pikuk malam.
Koridornya dipenuhi perempuan-perempuan cantik yang saling menggoda dengan tawa dan lirikan manja.
Namun Harvey sama sekali tak terusik. Ia berjalan lurus, penuh tekad, lalu naik lift menuju lantai delapan.
Lantai itu terasa lebih sepi, lebih tersembunyi, seolah memang diperuntukkan untuk urusan yang tak layak disaksikan publik.
Beberapa penjaga bertubuh kekar berdiri di lorong, dan begitu melihat Harvey dan Mayla muncul, mereka segera berseru galak.
Namun sebelum sempat beraksi lebih jauh, mereka langsung disapu Harvey dengan tendangan tajam hingga terkapar di lantai.
Saat ini, keselamatan Mandy berada di ujung tanduk. Harvey tidak punya waktu meladeni ocehan tak penting.
Siapa pun yang menghalangi langkahnya, akan dihancurkan tanpa ampun.
Tanpa ragu, Harvey tiba di depan pintu bertuliskan “Kotak 888”.
Itulah kotak terbesar dan paling eksklusif di Royal Club. Di depannya berdiri beberapa pria berjas hitam dengan senyum miring yang menjengkelkan.
Begitu Harvey muncul, mereka bahkan tak melirik. Salah satu dari mereka hanya berkata dengan nada meremehkan, “Pergi!”
Tanpa sepatah kata pun, Harvey melangkah maju dan menampar pria itu.
Plaak!
Belum sempat yang lain bereaksi, pria pertama itu sudah terlempar jatuh ke lantai, menggeliat seperti kesetrum.
Plaak! Plaak! Plaak!
Tamparan susulan mendarat ke pipi penjaga lainnya. Mereka terpelanting satu demi satu, lalu Harvey menghentakkan kakinya ke pintu.
Pintu terbuka lebar dengan dentuman keras.
Di dalam ruangan, Mandy tergeletak di atas sofa kulit. Wajahnya merona karena alkohol, dan mabuk membuatnya tampak semakin menawan.
Kulitnya bening seperti batu giok, mulus dan bercahaya, menambah aura menggoda dalam kesadarannya yang memudar.
Di sampingnya, Antony berdiri dengan sabuk yang sudah terlepas, senyum mesum mengambang di wajahnya.
Bab 4350
BRAK——!
Suara benda berat menghantam meja terdengar nyaring. Separuh tenaga yang tadi dijaga Antony kini lenyap tak bersisa.
Ia teringat bahwa ia sudah menelan tiga butir pil demi ‘malam besar’ ini. Tapi semua suasana telah dihancurkan dalam sekejap.
Wajah Antony berubah kelam begitu melihat Harvey berdiri di ambang pintu. Amarahnya meledak, “Sialan, kamu cari mati?!”
Plaak!
Harvey tak menanggapi ocehan itu. Ia hanya melangkah maju dan melayangkan tamparan ke wajah Antony.
Antony menjerit keras, tubuhnya melayang dan menghantam meja kopi dari marmer. Gelas dan cangkir berhamburan ke lantai, lalu pecah berkeping-keping.
Darah menyembur dari mulut Antony saat tubuhnya menggelosor ke bawah.
Mandy sedikit tersadar, matanya perlahan terbuka meski masih berkabut oleh alkohol.
Ketika samar-samar melihat Harvey, tubuhnya seolah menemukan ketenangan terakhir. Ia pun jatuh pingsan dalam peluk kelegaan.
“Siapa kamu, brengsek?!”
“Kamu tahu akibat dari mengacaukan urusanku?!”
Antony mengerang dari lantai, napasnya terputus-putus. Ia masih kesal dan kesakitan, terutama karena ia kawatir ‘adiknya’ tidak akan berguna lagi di masa depan. Siapa yang harus bertanggungjawab.
Luka yang diderita bukan cuma fisik—tapi juga kehormatan.
Giginya bergemeletuk saat ia mengeluarkan perintah penuh amarah, “Bunuh dia!”
Beberapa anak buah yang sejak tadi duduk mabuk di sudut langsung bangkit, menggenggam botol bir dan menyerbu.
Namun Harvey menyambut mereka dengan tendangan demi tendangan. Satu per satu tubuh mereka terpelanting seperti karung pasir.
Raungan kesakitan menggema, mereka terkapar tak berdaya tanpa sempat membalas serangan.
Tanpa memberi waktu, Harvey kembali menendang Antony yang mencoba bangkit. Tendangan itu menghantam tepat di dada.
Bang!
Antony terhempas hingga keluar ruangan, lalu kepalanya membentur pilar marmer di luar.
Darah langsung mengucur dari pelipisnya, dan jeritannya terdengar seperti babi yang disembelih.
Tak lama berselang, para penjaga dan beberapa tamu Royal Club berdatangan setelah mendengar keributan.
Harvey menarik selimut, lalu menutupi tubuh Mandy yang masih terkulai lemah, dan berbisik pada Mayla, “Jaga dia.”
Saat itulah puluhan penjaga keamanan menyerbu masuk ke dalam kotak.
Di saat yang bersamaan, seorang wanita cantik dengan sepatu hak tinggi masuk dengan langkah terburu-buru. Dialah Ravenna, pemilik Royal Club.
Sosoknya tinggi semampai, wajahnya memesona, dan kakinya bening seperti giok yang dipoles halus.
Begitu melihat Antony terkapar dan berlumuran darah, dia bergegas menghampiri dengan panik.
“Tuan Lee! Apa yang terjadi?! Mengapa kamu seperti ini?! Siapa yang berani macam-macam denganmu?!”
“Cepat panggil dokter! Lapor polisi sekarang juga!”
Ekspresi Ravenna dipenuhi ketakutan. Antony adalah klien penting bagi tempatnya. Selain sering menghabiskan banyak uang di sini, ia juga dilindungi oleh adiknya yang berkuasa.
Ravenna membantu Antony bangkit dan langsung memelototi Harvey. “Hei, bocah! Siapa yang memberimu hak untuk melukai orang di tempatku?! Kamu tahu risikonya?!”
“Melukai orang?” Harvey mengangkat alis, nada bicaranya tenang namun menusuk.
“Matamu yang mana yang melihatku menyakiti siapa pun?”
“Lagipula, kamu tidak melihat apa yang dilakukan Antony di tempatmu?”
Raut wajah cantik Ravenna langsung berubah, bibirnya menyeringai sinis. “Yang kulihat, kamu yang melakukan kekerasan di sini.”
“Aku tak melihat Tuan Lee melakukan kesalahan apa pun!”
“Jangan coba-coba berdalih. Kalau tidak, aku pastikan kamu akan membayar mahal!”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4349 – 4350 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4349 – 4350.
Leave a Reply