Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4283 – 4284 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4283 – 4284.
Bab 4283
“Feng Shui dan fisiognomi?”
“Tuan York?”
“Fortune Hall?”
Mandy memandangi kartu nama yang tergenggam di tangannya. Seketika, rona ketidaksenangan membayang di wajahnya.
“Harvey, apa maksud dari semua ini?”
“Kamu tak punya pekerjaan tetap, tapi sekarang mengaku sebagai ahli peruntungan?”
“Aku sudah cukup lama mengenalmu, tapi tak pernah sekalipun kamu menyebut bahwa kamu paham soal Feng Shui.”
“Kamu tahu seberapa serius bidang itu? Itu bukan hal yang bisa dipermainkan!”
“Kamu tak bisa sembarangan bicara lalu menipu orang demi bayaran!”
“Kalau kamu tak berhati-hati, kamu bisa mencelakai nyawa orang! Apa kamu menyadari risiko itu?”
Mandy memandang deretan gelar yang tercetak di kartu nama Harvey—Fortune Hall, Master Kitab Perubahan…
Amarahnya memuncak.
Baginya, Harvey tak melakukan apa-apa selain berleha-leha sepanjang hari.
Dulu, saat mereka masih tinggal di Yangcheng, Wucheng, bahkan Modu, Mandy masih bisa percaya bahwa Harvey punya kapasitas. Tapi sejak mereka pindah ke Jinling, segalanya terasa berbeda.
Kedekatan Harvey dengan Kairi yang mencolok di mata, ditambah kartu nama mencurigakan ini, membuat hatinya disergap keraguan.
Bisa jadi, semua sikap dan pencapaian Harvey selama ini hanyalah sandiwara—ilusi yang sengaja dibangun untuk mengelabui dirinya dan mendapatkan pengakuan dari Keluarga Zimmer.
Dan dalang di balik ilusi itu tak lain adalah perempuan bernama Kairi, wanita yang diduga menjadi simpanan Harvey.
Kairi dari Klan Patel Jinling—dia cukup punya pengaruh untuk mewujudkan semua itu.
Foto-foto yang berserakan di lantai menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan.
Menyaksikan kemarahan yang meletup di wajah Mandy, Harvey hanya bisa menghela napas. Dengan nada tenang, ia mencoba menjelaskan:
“Pertama, kamu tak perlu memandangku seperti itu.”
“Aku bisa jamin, Kairi dan aku baru saling mengenal di pesawat saat menuju Jinling.”
“Segala hal yang terjadi sebelumnya, tidak ada hubungannya dengan dia.”
“Kedua, hubungan kami biasa saja. Kami hanya bekerja sama dalam beberapa urusan, dan untuk saat ini belum bisa aku ceritakan padamu.”
“Ketiga, aku mendirikan Fortune Hall bukan karena iseng. Kalau aku berani membukanya, itu berarti aku yakin dengan apa yang kulakukan.”
“Haha, begitu ya?” Mandy terkekeh sinis, lalu merobek kartu nama Harvey menjadi dua bagian dengan gerakan tegas.
“Kalau memang semua perkataanmu itu jujur, dan kamu ingin aku mempercayaimu…”
“Baiklah, aku akan memberimu satu kesempatan untuk memilih!”
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi—kesulitanmu, alasanmu, apa pun itu—dan aku tak hanya akan memahaminya, tapi juga berdiri di pihakmu.”
“Atau, tutup saja Fortune Hall milikmu, dan hentikan semua ini sebelum kamu menyakiti orang lain—atau bahkan dirimu sendiri!”
Mandy ingin percaya. Nalar dan hatinya mencoba membenarkan kata-kata Harvey.
Namun, bayangan tangan Harvey dan Kairi yang saling menggenggam di benaknya kembali menyulut bara api di dadanya.
Ia enggan mengakui bahwa yang ia rasakan adalah cemburu.
Baginya, penyebab kemarahannya semata-mata adalah kelakuan sembrono Harvey. Pria itu memang menyebalkan!
Namun justru ketika amarah membuatnya semakin menawan, Harvey tersenyum getir.
“Maaf,” ujarnya lirih, “Aku benar-benar tak bisa memberitahumu. Karena jika aku melakukannya, kamu akan terluka.”
Masalah yang terkait dengan Fortune Hall, pada akhirnya terhubung ke Evermore. Bila Mandy mengetahui keterlibatan pihak sebesar itu, yang ada hanya luka di hatinya.
Harvey tak ingin Mandy ikut terseret dalam kekacauan ini.
Lagi pula, kekuatan yang dimiliki Evermore saat ini tidak bisa dianggap remeh.
“Terluka?” suara Mandy meninggi. Kemarahannya tak kunjung reda.
“Harvey, kalau kamu memang punya kemampuan, jelaskan saja! Kalau tidak, angkat kaki dari sini!”
Harvey hanya menggeleng pelan tanpa sepatah kata pun.
Amarah Mandy meledak hingga tubuhnya bergetar.
“Bagus sekali! Kamu memang luar biasa!”
“Ingat baik-baik, besok aku akan menyuruh seseorang untuk menutup tempat omong kosongmu itu!”
“Aku ingin lihat, sampai sejauh mana kamu bisa menipu orang sebagai ‘peramal!'”
Harvey terdiam sejenak, menggelengkan kepala dengan pasrah, lalu melangkah naik ke lantai atas.
Untuk saat ini, ia belum bisa membuka mulut soal Evermore. Hal-hal yang terjadi di Jinling, ia putuskan untuk menunda membicarakannya.
Ia percaya, akan tiba saatnya Mandy memahami semuanya.
Namun untuk urusan Silas—meski Harvey belum akan bergerak sekarang—ia sudah menaruh perhatian khusus padanya.
Jika pria itu berani main kotor, Harvey tak akan segan untuk menghancurkannya hingga tuntas.
Bab 4284
Keesokan paginya, Harvey bangun lebih awal dan melangkah keluar kamar.
Ia sempat ragu ketika melewati pintu kamar Mandy, sempat menimbang untuk mengetuknya, tapi urung. Ia khawatir pertengkaran akan kembali terjadi.
Sesampainya di aula, ia melihat Lilian sedang menelepon seseorang dengan wajah serius.
Begitu melihat Harvey lewat, Lilian langsung membuang muka, tak sudi menatapnya barang sedetik pun. Sorot matanya dipenuhi rasa jijik.
Jelas sekali, ia sudah mendengar pertengkaran Harvey dan Mandy semalam—dan kini tak segan menunjukkan penghinaan terhadap pria itu.
Harvey meliriknya sekilas tanpa berkata apa pun. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, telinganya sempat menangkap suara Lilian menyebut nama Bibi Sun.
Ia tercengang sejenak. Lilian masih berhubungan dengan Bibi Andersen?
Padahal wanita itu pernah mendapat tamparan keras dalam kasus yang melibatkan Novia.
Namun, itu masalah kecil. Harvey memilih tak terlalu ambil pusing dan langsung menuju mobil, meluncur ke Fortune Hall.
Begitu sampai di depan gedung, Leondra telah berdiri menyambutnya.
Matanya yang dulu terluka kini sudah pulih sepenuhnya, dan ia mulai aktif mengurus berbagai urusan Fortune Hall.
“Tuan York, sudah sarapan?” sapanya dengan senyum cerah.
Harvey tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
Leondra langsung menawarkan, “Kebetulan aku membuat beberapa kudapan, mau mencicipi?”
Hari ini, Leondra tampil anggun dengan rok mini bermotif bunga, rambut panjang terurai rapi, langkahnya ringan dan cekatan.
Saat mendekat, aroma segar khas anak muda menyeruak dan seketika mengguncang fokus Harvey.
Ia tersenyum kecil, menenangkan pikirannya, lalu berkata pelan, “Terima kasih, Leondra.”
“Kamu tak perlu berterima kasih padaku. Kamu sudah menyelamatkan penglihatanku dan membawaku kembali ke kehidupan yang normal.”
Leondra menjawab dengan semangat. “Sayangnya, Kakek melarangku membaca nasib orang lagi. Katanya, umurku pendek, dan kalau aku terus melakukannya, rahasiaku akan mudah terbuka.”
“Kali ini aku bertemu kamu, Tuan York. Tapi jika lain waktu aku dalam bahaya, mungkin tak akan ada yang bisa menyelamatkanku.”
Sambil menyeruput teh hangat dan menyantap makanan ringan, Harvey termenung sejenak lalu angkat suara:
“Kakekmu benar. Dengan kondisimu sekarang, lebih baik kamu berhenti membaca nasib orang. Ada risiko besar.”
“Bagaimana kalau begini—aku akan mengenalkanmu pada sebuah pekerjaan. Kamu bisa bekerja di Jinling Real Estate. Bantu aku memilih lokasi dan merancang tata letak bangunan berdasarkan feng shui.”
“Lebih dari itu, aku butuh bantuanmu untuk mengawasi kualitas beberapa proyek baru.”
Mendengar itu, Leondra terbelalak.
“Tuan York, kamu serius?”
“Kamu ingin aku jadi ahli feng shui di Jinling Real Estate?”
Harvey tertawa ringan. “Bukan ahli feng shui, tapi asisten feng shui.”
“Dan satu lagi—aku ingin kamu juga membantuku dalam urusan manajemen perusahaan. Kamu akan menjadi juru bicaraku.”
Wajah Leondra berseri. “Tak masalah! Waktu kuliah dulu aku belajar manajemen bisnis di Amerika, jadi aku punya sedikit pengalaman.”
“Bagus!”
Tanpa banyak basa-basi, Harvey berdiri sambil berkata, “Mulai sekarang, kamu jadi konsultan feng shui dan juru bicara pribadiku.”
“Kalau aku tidak di tempat, kamu bisa bantu ambil beberapa keputusan.”
“Tapi semua hal di perusahaan tetap harus melalui pertimbangan Tuan Hoffman.”
Leondra berkedip geli. “Maksudmu, aku harus mengawasi Tuan Hoffman?”
Harvey tertawa kecil. “Tak perlu sejauh itu. Meski aku pemegang saham utama Jinling Real Estate, aku bukan tipe bos yang ikut campur urusan kecil.”
“Lagi pula, aku hanya orang luar di Jinling. Jadi tak usah terlalu dibebani pikiran.”
“Alasan utama aku memilihmu sebagai juru bicara… karena aku malas.”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4283 – 4284 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4283 – 4284.
Leave a Reply