Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4105 – 4106 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4105 – 4106.
Bab 4105
Di tengah riuhnya suasana, Lilian menatap Harvey dengan tajam, penuh tuduhan.
“Harvey, apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan datang ke Jinling?” tanyanya, suaranya menggema dalam ruangan.
“Apa kamu berniat memohon agar kami menyetujui pernikahanmu kembali dengan putriku?”
“Atau kamu datang dengan niat busuk, hendak meracuni kami demi menguasai seluruh kekayaan keluarga?”
“Aku tidak akan membiarkan siasat licikmu berhasil!” serunya lantang.
Lilian mengangkat dagu, membusungkan dada seolah tengah membela kebenaran yang mutlak.
“Anak angkatku tidak bersalah!” katanya tegas.
“Sekalipun lukisan itu palsu, tetap dibeli dengan uang sungguhan!”
“Dan seburuk apa pun lukisan itu, ia tak akan membunuh siapa pun!”
Jelas, Lilian secara gamblang berpihak pada Gabriel. Bagaimanapun juga, dalam pandangannya, Gabriel adalah anjing peliharaan yang telah dia jinakkan sejak lama.
Dalam hitungan detik, tatapan sarkastik para tamu kembali terarah pada Harvey.
Mereka tahu jelas bahwa pria itu bukan sosok yang disukai oleh Keluarga Zimmer. Namun ia tetap nekat datang ke rumah keluarga itu, seolah ingin terus menggantungkan hidup dari status mantan menantu.
Dan yang paling membuat mereka geli adalah: dia tidak hanya datang untuk sekadar ‘makan nasi lunak’, tapi ingin menikmatinya dengan penuh dominasi, seakan dunia harus tunduk padanya.
Tawa pun pecah di sekeliling ruangan.
Mandy menghela napas pelan, lalu mengusap keningnya. Baginya, pertemuan antara Harvey dan Lilian adalah benturan yang tak terhindarkan. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, semuanya meledak.
“Kamu dengar sendiri, kan?” ujar Gabriel menyeringai. “Di depan kedua orang tuaku pun kamu masih ingin mempermalukanku?”
“Pada akhirnya, kamu sendiri yang jadi bahan tertawaan!”
Namun Harvey hanya diam, mengabaikan Gabriel sepenuhnya. Pandangannya tetap tertuju pada Lilian. Senyumnya tenang namun menusuk.
“Apakah kamu yakin benda ini sampah?” tanyanya pelan. “Yakin kamu tidak menginginkannya?”
Lilian mendengus meremehkan.
“Kalau bukan sampah, lalu apa?” balasnya dengan nada mencibir.
“Menurutku, ini bahkan lebih buruk daripada kotoran yang berserakan di pinggir jalan.”
“Baiklah.”
Dengan tenang, Harvey mengangguk. Di hadapan semua orang, ia mengambil Ginseng Gunung Changbai dan membilasnya dengan air hangat. Tak lama kemudian, ia menelannya tanpa ragu.
Lilian tertawa dingin, “Apa maksudmu? Kamu makan itu untuk membuktikan bahwa benda itu tak beracun?”
“Kamu memang makhluk rendahan. Sejak kecil hanya terbiasa makan makanan murahan. Jadi meski menelan racun, tubuhmu pasti akan baik-baik saja.”
“Sedangkan kami? Tubuh kami terlalu berharga untuk dirusak oleh benda menjijikkan seperti itu.”
“Dan meski pun benda itu tidak beracun, tetap saja itu hanyalah sampah!”
“Aku bahkan tak sudi meliriknya!”
Harvey tidak menjawab. Ia hanya menunduk memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, layar besar di ruang tamu menampilkan sebuah berita.
“Pameran tahunan harta langka secara resmi digelar di Jinling beberapa hari lalu!”
“Salah satu artefak yang menarik perhatian adalah Ginseng Gunung Changbai yang langka dan bernilai tinggi!”
“Benda ini berhasil terjual dengan harga mengejutkan: lima juta yuan…”
Gambar di layar berganti menampilkan sepotong ginseng berlumpur, seukuran ibu jari, tampak tak istimewa.
Namun siapa pun yang melihatnya tahu—itulah ginseng yang tadi dimakan Harvey.
Pembawa acara melanjutkan dengan penuh semangat, “Ginseng Gunung Changbai ini adalah ramuan langka yang sangat berharga bagi praktisi bela diri. Ia dapat mempercepat kemajuan dalam latihan.”
“Bagi orang awam, mengonsumsi ginseng ini diyakini dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengusir segala penyakit, menjaga kecantikan, bahkan memperpanjang usia hingga seratus tahun!”
“Konon, seorang tokoh besar dari negeri kepulauan menawar hingga 10 juta yuan demi membelinya dari sang pemilik misterius!”
“Siapa sosok di balik pembelian ini, dan sejauh mana nilai ginseng ini bisa meroket, mari kita nantikan kelanjutannya!”
Ginseng Gunung Changbai?
Jarang terlihat dalam seratus tahun?
Dibeli lima juta yuan?
Dan ada tokoh besar yang siap membayarnya dua kali lipat?
Seluruh ruangan terdiam. Para tamu tampak terpaku, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Lilian perlahan berdiri, tubuhnya lunglai, wajahnya memucat seperti habis kehilangan darah.
Tangannya mengepal erat, berusaha menahan tubuhnya agar tidak tumbang.
Sebab pada saat itu, gelombang penyesalan begitu kuat menggerogoti hatinya.
Bab 4106
“Bajingan! Mengapa kamu tidak mati saja?!”
“Mengapa kamu tidak mati saja?!”
“Keluar! Angkat kaki dari rumah kami, dari Keluarga Zimmer!”
“Kami tidak sudi menerima kehadiran kalian di sini!”
“Pergilah sejauh mungkin dariku!”
Begitu para tamu meninggalkan ruangan, amarah yang sejak tadi tertahan dalam dada Lilian akhirnya meledak. Ia berteriak histeris, kehilangan kendali.
Harvey telah mempermalukan putra angkatnya, Gabriel Lee, di depan umum. Bukan hanya itu—secara tidak langsung, ia juga telah menampar wajahnya sendiri.
Padahal selama ini, Lilian dengan gencar menyebarkan kabar bahwa Harvey adalah menantu tak berguna, benalu keluarga, dan pria yang tak layak kembali kepada putrinya.
Namun kini, fakta pahit menamparnya lebih keras dari siapa pun—Harvey, pria yang dianggapnya sampah, justru mampu melihat kebenaran yang tidak ia sadari.
Itu artinya dia bahkan tak secerdas menantu yang selalu dia remehkan!
Namun tentu saja, Lilian tak bisa mengakui bahwa ia sengaja membela Gabriel.
Dia hanya ingin mengusir Harvey, menjatuhkannya, menginjak harga dirinya!
Terutama karena Harvey telah memakan Ginseng Gunung Changbai di hadapannya dengan santai, seolah menertawakannya.
Itu bukan sekadar tamparan di wajah. Itu penghinaan tingkat tinggi!
Lilian tak hanya merasa dipermalukan—dia merasa benar-benar ditelanjangi di depan publik.
Bahkan, dia sampai lupa kapan terakhir kali Harvey berani menatap matanya, apalagi berbicara dengannya tanpa rasa takut.
Dulu, menantu laki-laki harus patuh, rendah hati, dan siap dimarahi kapan saja, bukankah begitu?
Namun sekarang? Apakah dunia sudah jungkir balik?
“Keluar!” teriak Lilian sambil menggertakkan gigi.
“Keluarga Zimmer tidak butuh pengkhianat sepertimu, serigala tak tahu diri!”
Simmon hanya bisa menatap Harvey dengan ekspresi rumit, tetapi akhirnya memilih untuk diam.
Harvey tetap tenang, duduk santai dan menuangkan teh untuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar lembut namun jelas.
“Bu, izinkan aku mengingatkan sesuatu.”
“Kepala cabang kesembilan Keluarga Jean di Kota Modu adalah Mandy, bukan kamu.”
“Vila ini terdaftar atas nama cabang kesembilan. Artinya, pemiliknya adalah Mandy.”
“Jika seseorang berhak mengusirku, maka itu hanyalah Mandy—bukan Anda.”
“Lagipula, lukisan palsu itu bukan dariku, melainkan dari putra angkatmu. Kalau ingin memarahi seseorang, marahilah dia.”
“Dan Ginseng Gunung Changbai itu, awalnya aku ingin memberikannya sebagai hadiah pada pertemuan ini.”
“Tapi karena kamu menganggapnya racun yang disiram dengan limbah nuklir dari negeri kepulauan dan bisa membunuh siapa saja, maka tak ada pilihan selain aku memakannya sendiri. Untuk membuktikan bahwa aku tak berniat jahat.”
Ia menatap Lilian dalam-dalam sambil tersenyum tipis.
“Jadi meski kamu merasa sangat terganggu, kamu tak berhak menyalahkanku!”
“Setidaknya, seseorang seharusnya masih punya akal sehat.”
Lilian mendesis, hatinya penuh amarah. Namun ia tetap mencoba membantah.
“Akal sehat? Kamu pikir aku sebodoh itu, tidak bisa membedakan lukisan palsu dan ginseng asli?”
“Aku tahu sejak awal benda itu asli!”
“Tapi di hadapan banyak orang, apa aku harus mempermalukan Gabriel?”
“Dia bukan hanya anak baptis suamiku dan aku!”
“Dia juga tokoh penting di Jinling, punya perusahaan bernilai ratusan juta yuan, dan koneksi kuat!”
“Kalau dia marah karena kamu mempermalukannya, apa jadinya Keluarga Zimmer?!”
Harvey menatap Lilian tanpa gentar. Nada suaranya tetap santai.
“Seseorang yang bisa memanggilmu Ibu hanya karena uang, apa kamu benar-benar percaya pada kemampuannya?”
“Dan kalau kamu tak sanggup menampar wajah putra angkatmu, mengapa kamu begitu ingin menampar wajahku?”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4105 – 4106 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4105 – 4106.
Leave a Reply