Kebangkitan Harvey York Bab 4039 – 4040

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 4039 – 4040 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 4039 – 4040.


Bab 4039

Tak masuk akal!

Suasana pun mendadak hening, membeku seiring gema tamparan yang menggema di udara.

Seluruh hadirin membisu. Tatapan mereka terpaku, penuh keterkejutan.

Apa yang dilakukan Harvey barusan jauh melampaui dugaan siapa pun—terlalu tak masuk akal untuk dipercaya.

Baik para taipan yang disebut-sebut sebagai pengusaha elit, maupun Ellen dan rombongannya, tak seorang pun bersuara selama beberapa saat.

Bagaimana mungkin Harvey, dengan santainya, menampar Silas Johnings?

Silas bukan orang biasa. Dia adalah putra ketiga dari keluarga Johnings!

Meski hanya anak angkat dari istri tertua keluarga itu, darah Johnings tetap mengalir dalam tubuhnya, walau tidak murni.

Ia memang tak memiliki hak waris utama, tapi statusnya tetap diperhitungkan—seorang pewaris garis samping sekaligus tangan kanan putra sulung keluarga Johnings.

Identitas, kedudukan, serta pengaruh yang ia miliki, jauh di atas bayangan orang biasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sosok seperti Silas ibarat bintang di langit—dikelilingi pujian dari kalangan atas dan pejabat penting.

Itulah martabat seorang bangsawan!

Di luar para pewaris kelas satu Daxia, siapa yang berani tak menghargainya?

Namun hari ini, seorang pria bernama Harvey, dengan wajah datar dan sikap cuek, justru menamparnya… di atas kapal pesiarnya sendiri.

Siapa yang sanggup menerima kenyataan seperti ini?

Bahkan nyonya tua dari keluarga Cobb sampai berkeringat dingin. Matanya membelalak, tak mampu mempercayai apa yang dilihatnya.

Bajingan seperti Harvey… ternyata begitu angkuh dan mendominasi?

Dan saat itu pula, muncul sebuah pikiran yang tak berani ia ungkapkan selama ini.

Mungkinkah—perlindungan dari keluarga Johnings yang dianggap tak terkalahkan—sebenarnya tidak sebegitu mutlak?

“Tuan Muda Johnings!”

“Tudan Muda!”

Suara panik terdengar, seiring sekelompok orang berlari mendekat.

Ellen buru-buru menopang Silas yang terjerembab ke lantai, kemudian dengan tergesa menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu.

Namun tak peduli seberapa sering ia menyeka, bekas telapak tangan itu tetap jelas membekas di pipi Silas yang pucat.

Harvey jelas tidak menunjukkan belas kasihan dalam tamparan itu—ia benar-benar berniat menghina.

“Kurang ajar! Kamu berani menyentuh Tuan Muda Ketiga dari keluarga Johnings?!”

“Cepat! Habisi dia!”

Pemuda berambut pendek yang sebelumnya masih linglung akhirnya sadar, dan mengamuk sembari menutupi wajahnya yang membengkak.

Begitu ia berteriak, lebih dari selusin pengawal meraung serentak, menghunus senjata api mereka dan maju ke depan.

Namun, Trey yang berdiri di sisi Harvey hanya menyeringai dingin.

Ia melangkah ke depan dengan cepat dan tanpa basa-basi, menendang senjata dari tangan si pemuda.

Dalam gerakan secepat kilat, ia menjambak rambut salah satu dari mereka dan menghantamkan kepalanya ke pilar marmer di samping.

Bang!

Suara dentuman keras menggema, darah muncrat, dan bau amis segera menyebar.

Tanpa ragu, Trey mengeluarkan pedang khas Nanyang yang terselip di pinggangnya, dan menekannya ke leher pemuda berambut pendek itu.

Ia tersenyum sinis.

“Siapa bajingan yang ingin main tembak-tembakan?”

“Ayo, mari kita buktikan—senjatamu yang lebih cepat atau pedangku?”

Pemandangan itu membuat belasan pengawal lain bergidik.

Dengan tubuh kaku dan pelipis berkeringat, mereka tak berani menarik pelatuk. Tak satu pun berani bergerak.

Si pemuda yang dipermalukan juga tak berani mengucap sepatah kata pun. Moncong senjata yang menempel di dahinya membuatnya gemetar hebat.

Sekali lagi, Harvey dan kelompoknya menunjukkan arogansi yang tak tertandingi.

Ellen masih menopang Silas, namun matanya kini dipenuhi kemarahan saat menatap Harvey.

“Harvey, kamu sudah sangat keterlaluan!”

“Apa kamu tidak tahu artinya langit tinggi, bumi luas?”

“Apa kamu memang tidak mengerti arti hidup dan mati?”

“Brengsek! Kamu benar-benar cari mati!”

Bab 4040

Amarah Ellen benar-benar tak terbendung—dan itu bisa berakibat fatal.

Ia merasa telah memberikan segalanya untuk membantu Harvey.

Ia telah menengahi, menawarkan kesempatan, bahkan berusaha mencarikan jalan keluar bagi pria itu.

Tapi apa balasan yang ia terima?

Pria bermarga York itu tak hanya tidak tahu berterima kasih—ia malah menyerang Silas!

Ini sama saja seperti membawa lentera ke kamar mandi—perbuatan tolol yang hanya akan mempercepat ajal!

Siapa yang memberinya hak?

Siapa pula yang memberinya keberanian sebesar itu?

“Kamu memang nekat! Punya nyali juga rupanya!”

Silas yang semula terpancing emosi kini menahan amarahnya dalam-dalam. Ia menatap Harvey dengan dingin, tatapan penuh niat membunuh.

“Aku sudah sering melihat orang-orang sombong di Jinling.”

“Entah itu dari lima klan kuno, atau sepuluh keluarga elite!”

“Namun tak satu pun dari mereka berani bersikap seperti ini di hadapanku!”

“Dengar baik-baik! Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang Ellen perjuangkan untukmu, juga sudah sukses membuatku, Silas, marah besar!”

Silas mengusap pipinya yang masih memerah dan membengkak.

“Hari ini, kamu akan membayar mahal atas kelancanganmu!”

“Oh?” Harvey bersuara santai. “Tuan Muda Johnings, Anda sehebat itu?”

Ia menyipitkan mata. Sikapnya tetap santai, nyaris tak menunjukkan ketegangan.

“Silakan, keluarkan semua kemampuan Anda.”

“Saya tidak tahu sudah berapa banyak tuan muda yang merasa tak tersentuh… yang saya injak hingga hancur setiap bulannya.”

“Jadi saya tidak keberatan kalau Anda ingin unjuk gigi terlebih dulu.”

“Sebab setelah itu, saya sendiri yang akan menginjak Anda sampai hancur.”

Sinar dingin melintas di mata Harvey.

Siapa pun Silas, hari ini ia pasti harus menyerah.

Jika ada dewa yang menghalangi, maka dewa itu akan ia bunuh. Jika ada Buddha menghadang, Buddha pun akan ia jatuhkan.

Karena jika mereka tidak menyingkirkan orang-orang seperti nyonya tua keluarga Cobb sekarang juga, Dean dan Katy bisa saja menjadi sasaran berikutnya.

Silas mendengus marah, tapi tetap tersenyum sambil mengangkat jempol ke arah Harvey.

“Menarik… sangat menarik!”

“Saya belum pernah melihat orang searogan ini sejak saya lahir.”

“Kamu jelas sedang menuju kematian, tapi tetap berlagak seperti pahlawan!”

“Seolah kata kematian tidak ada dalam kamusmu!”

Keangkuhan Harvey benar-benar membuat Silas muak.

Sementara itu, Ellen hanya bisa menggeleng dan mendesah.

Berlagak!

Apa yang perlu dipertontonkan?

Dia tak punya kemampuan nyata, tapi bersikap seolah penguasa dunia.

Apakah pria bernama Harvey itu benar-benar sehebat itu?

Dalam pandangan Ellen, Harvey tak punya latar belakang, tidak punya kekuatan, dan jauh kalah dari Silas.

Ia mengira Harvey bersikap kasar pada Silas karena sakit hati atas pertunangannya yang kandas hari ini.

Pria itu sudah tidak peduli lagi pada dunia, dan siap mati demi mempertahankan ego.

Orang yang sedang jatuh cinta… memang tidak masuk akal. Dan Harvey, tak diragukan lagi, kekanak-kanakan.

Ellen mendesah panjang, kecewa sekaligus geli.

Ibunya ternyata punya mata tajam—bisa menilai bahwa Harvey hanyalah pria yang tampak tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Tidak rasional dan tidak cukup dewasa.

Syukurlah, ia tidak memilih pria seperti itu.

Kalau tidak, bisa-bisa sisa hidupnya akan dihabiskan dalam penderitaan dan ketakutan.

Memikirkan hal itu, Ellen menatap Harvey dengan tatapan iba. Kasihan… sungguh kasihan.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 4039 – 4040 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 4039 – 4040.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*