Kebangkitan Harvey York Bab 3951 – 3952

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 3951 – 3952 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 3951 – 3952.


Bab 3951

Ellen juga dibuat tercengang. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Harvey memiliki kecakapan setinggi itu.

“Kamu bisa memperbaiki kesalahan dan bersikap baik,” ucapnya dengan nada pelan.

Harvey tersenyum ringan, lalu mengambil selembar kertas dan pena. Dengan gerakan santai, ia menulis beberapa kata, lalu melemparkan kertas itu ke arah Tuan Philip.

“Sebenarnya,” ucapnya tenang, “saat aku mencicipi hidangan ini, aku merasa kamu seharusnya menambahkan sesuatu.”

“Bukan hanya akan membuat rasanya lebih lezat, tapi insiden yang barusan terjadi bisa dihindari,” lanjut Harvey, kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Tuan Philip menundukkan kepala, matanya menangkap dua kata yang tertulis di atas kertas: telur puyuh. Sejenak ia tertegun, lalu pemahaman perlahan menyusup dalam benaknya.

Meskipun ukuran telur itu lebih kecil, daya ledaknya pun lebih minim. Ledakan hanya terasa di mulut dan tak sampai mengganggu sistem pernapasan.

Langkah Harvey tampak sederhana, tetapi nyatanya solusi itu sangat jitu—sebuah jalan keluar yang tak hanya efektif, tetapi juga elegan.

Menyadari hal ini, Tuan Philip tak mampu menahan diri untuk tidak mengangkat jempolnya. “Luar biasa, sungguh luar biasa! Orang Timur memang hebat!”

Pujian itu membuat Noemi sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Harvey memiliki wawasan sedalam itu.

Sementara itu, Ellen hanya terpaku sejenak sebelum buru-buru menyusul Harvey ke luar ruangan. Tanpa sadar ia bertanya, “Harvey, apakah kamu pernah menyantap hidangan seperti itu sebelumnya?”

Harvey menoleh sambil tersenyum. “Mana mungkin aku pernah mencicipinya?”

“Hanya saja, ada seorang blogger populer dari Kerajaan Inggris yang pernah membagikannya secara daring,” jelasnya santai.

Jawaban itu membuat Ellen terdiam. Di wajah mungilnya, tersirat rona kekecewaan yang tak mampu disembunyikan.

Awalnya, ia mengira Harvey menyimpan identitas tersembunyi yang penuh misteri.

Mungkin saja, ada peluang tipis untuk kedekatan di antara mereka.

Namun kini, meskipun Harvey luar biasa, ia tetaplah seorang koki beruntung yang menjual obat untuk luka memar.

Perbedaan identitas mereka terasa kian lebar.

Setelah meninggalkan Hotel Penang, Harvey kembali ke tokonya. Ia melanjutkan persiapan untuk membuka BaiYao CobbCare.

Ia juga meminta Irene mengirim beberapa anak dari Gerbang Naga Cabang Makau-Hong Kong, anak-anak yang memahami dasar pembuatan ramuan obat Tiongkok—untuk mulai menyiapkan beberapa sampel.

Katy, meski tengah terpukul hebat dan harus tinggal bersama Dean, tetap menunjukkan dukungan. Ia mengirim orang-orang terpercaya di sekelilingnya untuk membantu Harvey.

Di sisi lain, Ellen yang merasa sedikit bersalah, kembali datang ke toko untuk membantu.

Ia bahkan menyewa wartawan guna mempublikasikan kabar tentang toko, serta memasang beberapa papan iklan untuk Harvey.

Meski awalnya Harvey menolak dengan sopan, Ellen tetap bersikeras. Baginya, Harvey terlalu kaku dan masih terikat emosi karena telah dimarahi oleh Noemi.

Pada akhirnya, Harvey hanya bisa menghela napas dan membiarkan Ellen melakukan apa yang ia mau.

“Harvey, temani aku ke aula seni bela diri!”

Sore itu, hampir semua urusan toko telah selesai. Hanya tinggal menunggu waktu pembukaan.

Ellen, yang kebetulan tak memiliki kesibukan, mencoba mengajak Harvey keluar.

Harvey menarik napas dan bertanya, “Untuk apa kita ke sana?”

“Kamu tidak tahu? Di Nanyang, seni bela diri sangat digemari. Banyak orang suka berlatih tinju!” jelas Ellen bersemangat.

“Aula yang akan kita kunjungi berada di bawah Aliansi Seni Bela Diri Penang.”

“Ayo ikut aku. Siapa tahu kamu bisa membantuku memilih guru yang andal dan mencarikan sesuatu untuk kulakukan.”

Ellen bahkan menggenggam tangan Harvey, seolah-olah akan menangis bila ajakannya ditolak.

Mendengar nama Aliansi Seni Bela Diri Penang, Harvey sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku ikut.”

Sebenarnya ia berniat menolak, tetapi setelah berpikir sejenak, ia jadi penasaran. Ia ingin tahu seberapa besar perbedaan antara aula bela diri yang berada di bawah aliansi itu dengan aula bela diri di Daxia.

“Hebat!” seru Ellen dengan semangat menggelora.

“Ayo kita pergi!”

Bab 3952

Setengah jam kemudian, Harvey dan Ellen tiba di Aula Seni Bela Diri Penang.

Tempat ini merupakan bagian dari industri yang dikelola langsung oleh Aliansi Seni Bela Diri Penang.

Biasanya, selain digunakan untuk melatih murid internal, aula ini juga membuka kelas untuk orang luar. Khususnya para bangsawan muda dengan bayaran mencapai ratusan ribu per bulan, sekadar demi ‘lapisan emas’ alias gengsi.

Metode seperti ini sebenarnya lazim diterapkan oleh banyak aliansi seni bela diri di berbagai daerah. Apa yang mereka ajarkan pun umumnya hanya dasar-dasar permukaan.

Ellen, dengan antusias, bercerita tentang kursus kilat yang pernah ia ikuti. Ia bahkan membayar biaya hingga satu juta untuk itu.

Dari penjelasan yang didengarnya, Harvey menyimpulkan bahwa program ini hanya membutuhkan dua hingga tiga pertemuan setiap pekan—untuk mengajarkan teknik tinju paling dasar.

Setelah lulus, peserta akan menerima sertifikat penyelesaian sebagai bukti bahwa mereka pernah dilatih di bawah bendera Aliansi Seni Bela Diri Penang.

Mendengar semua itu, Harvey tak bisa menahan tawa dalam hati. Jika ia bersedia membuka semacam ini di Wucheng, mungkin Martial Hall miliknya akan jadi terkenal dalam waktu kurang dari setahun.

Sembari merasa geli melihat betapa naifnya orang-orang kaya dengan banyak uang, Harvey mengikuti Ellen menuju aula pelatihan utama.

Di sana, sudah berkumpul puluhan pemuda dan gadis dari keluarga terpandang. Semuanya mengenakan seragam bela diri yang tampak indah dan mewah.

Sebagian duduk di lantai sambil berbincang santai, sebagian lain saling mengadu teknik—walau menurut pandangan Harvey, apa yang mereka lakukan tak lebih dari permainan anak-anak.

Tiba-tiba, terdengar suara menyapa. “Ellen, lama tak bertemu. Sungguh kebetulan bisa bertemu di sini.”

Seorang pria dengan jubah bela diri yang elegan melangkah mendekat bersama rombongan kecil. Gerak-geriknya angkuh dan percaya diri, seperti naga dan harimau yang sedang melintas.

Begitu menatap Ellen, wajahnya langsung dipenuhi raut penuh kasih. “Beberapa hari terakhir, aku terus memikirkanmu, Ellen. Tanpamu, dunia terasa hanya hitam dan putih.”

“Kembalilah padaku.”

Harvey hanya mengangkat alis, ekspresinya sedikit geli.

Pria tampan yang baru muncul itu adalah Eden dari keluarga Cobb.

Tak jauh di belakangnya, Valery juga terlihat di antara kerumunan. Ia melirik Harvey dengan sinis, bahkan mengacungkan jari kelingkingnya—sebuah isyarat penuh tantangan.

Ellen tampak jengkel begitu melihat Eden. Dengan nada ketus ia berkata, “Tuan Cobb, mengapa kamu tidak pergi saja menemani cinta sejatimu? Mengapa malah datang padaku dan mengatakan hal-hal tak masuk akal seperti ini?”

“Sudah kubilang, hubungan kita sudah lama berakhir. Tidak ada lagi yang perlu diungkit.”

Di saat itu, Ellen seperti seorang gadis kecil yang sedang kesal. Ia benar-benar mengabaikan pesona Eden yang tampan dan menawan.

“Ellen, aku sangat menyesal atas kesalahanku,” ucap Eden, melangkah lebih dekat.

“Waktu itu aku mabuk, pikiranku kacau, dan aku membuat keputusan bodoh!”

“Beri aku kesempatan terakhir, kumohon!”

“Aku benar-benar menyesal!”

Ia mengulurkan tangan, hendak menggenggam tangan Ellen, raut wajahnya penuh kepedihan.

“Ellen, aku bersumpah demi langit, di hadapan semua orang di sini, aku akan mencintaimu, melindungimu, dan membuatmu bahagia seumur hidupku!”

“Aku, Eden, bersedia mempertaruhkan nama baik keluarga Cobb demi membuktikan ketulusanku!”

“Selama kamu bersedia memaafkanku, kamu akan menjadi nyonya muda keluarga Cobb!”

“Aku akan memberimu seluruh dunia!”

Penampilan Eden memang tampan. Tinggi semampai, wajah rupawan, ditambah potongan rambut bergaya khas drama televisi. Ia benar-benar tampak seperti tokoh utama dari drama idola kelas tiga.

Beberapa gadis cantik yang menyaksikan adegan itu langsung menunjukkan binar kagum di mata mereka.

Bagaimanapun juga, Eden adalah sosok yang sangat ideal, baik dari segi latar belakang keluarga maupun penampilan fisik.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 3951 – 3952 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 3951 – 3952.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*