Kebangkitan Harvey York Bab 3873 – 3874

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 3873 – 3874 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 3873 – 3874.


Bab 3873

Harvey sedikit menyipitkan mata setelah mendengar ucapan itu.

Ia hanya bisa menyimpulkan satu hal—Penang memperlakukan hukum seperti dagelan belaka.

Kolusi terang-terangan antara pejabat dan pengusaha, sedemikian telanjang dan tak tahu malu, sangat memuakkan.

Namun, Nellie justru salah paham akan ekspresi Harvey. Ia mengira pria itu gentar.

Di saat itulah, rasa percaya diri Nellie memuncak. Dengan gigi terkatup dan tatapan menusuk, ia mencibir tajam, “Apa? Kamu takut?”

“Kamu sadar tidak, kamu sedang membuat kekacauan besar?”

“Aku beri tahu! Masih belum terlambat kalau kamu mau berlutut dan mohon belas kasihan!”

“Atau, bersiaplah menerima nasib sialmu!”

Seiring ucapannya, Nellie mengisyaratkan pada Rayne untuk segera memanggil tenaga medis serta petugas keamanan lainnya. Dalam sekejap, Harvey dan kelompoknya telah dikepung rapat dalam formasi tiga lapis.

Kerumunan orang itu menatap Harvey dengan pandangan penuh tekanan dan postur intimidatif, seakan siap menerkam kapan saja.

Nellie yang melihat situasi itu malah semakin sombong.

Dengan nada melecehkan, ia menyeringai, “Nak, cepat berlutut, sujud, dan minta maaf! Jilat sol sepatuku sampai bersih!”

“Kalau tidak, malam ini kamu akan dilempar ke penjara hitam dan seumur hidupmu akan tinggal di sana!”

Wajah Irene tampak cemas dan sedikit tegang.

Sementara Julian hanya mendengus pelan, menatap mereka semua dengan rasa muak.

Beberapa orang yang menonton dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala pelan, menyayangkan nasib Harvey.

Setangguh apapun kemampuan bertarungnya, apa gunanya jika dihadapkan pada sekelompok aparat bersenjata?

Apakah dia masih berencana untuk menentang hukum?

Namun, Harvey menatap Nellie dengan sorot tenang dan berkata, “Aku tak tahu apakah aku akan masuk ke penjara hitam atau tidak.”

“Tapi satu hal yang pasti—rumah sakitmu dan kamu sebagai direkturnya, akan membayar mahal malam ini.”

“Kalian tak hanya kehilangan etika medis, tapi juga menjadi hamba dari keserakahan, tak peduli pada nyawa manusia.”

“Rumah sakit yang semestinya jadi tempat menyelamatkan nyawa justru menjelma sarang kejahatan dan penipuan.”

“Apalagi menjebak wisatawan, itu sudah menjadi kebiasaan kalian.”

“Mulai hari ini, masa kejayaan kalian telah usai.”

“Rumah sakit ini tak akan lama lagi ditutup.”

Mendengar ucapan Harvey, Rayne dan para perawat lainnya hanya menanggapinya dengan ejekan sinis.

Mereka sudah terlalu sering menghadapi orang-orang ‘sok hebat’ yang gemar mengobral ancaman. Tapi pada akhirnya semuanya hanya omong kosong belaka.

Ada yang menggertak.

Ada pula yang coba memanggil bala bantuan, namun tetap saja tak mampu mengubah keadaan.

Bagi mereka, Harvey tak lebih dari sekadar badut baru yang akan segera dilumat situasi.

Nellie ikut tertawa penuh penghinaan. “Wah, ternyata kamu lebih jago bicara daripada bertindak!”

“Kamu bilang ingin menutup rumah sakit kami?”

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Percaya tidak, air comberan di sini saja bisa menenggelamkanmu seratus kali!”

“Kamu bermimpi bisa menjatuhkanku? Teruslah berhalusinasi!”

Rayne dan para staf lainnya pun tertawa dan mengangguk setuju, mengangkat dagu dengan pongah, seolah kematian Harvey hanya tinggal menunggu waktu.

Melihat situasi yang makin tak menguntungkan, Julian mendekat dan berbisik, “Tuan Muda York, apakah Anda ingin saya panggil seseorang?”

Namun Harvey hanya tersenyum samar. “Tidak perlu. Aku hanya ingin melihat apakah aparat Penang masih punya akal sehat.”

Julian sempat ragu, namun akhirnya ia memilih diam.

Tak lama berselang, suara deru mesin mobil terdengar dari gerbang rumah sakit.

Belasan pria berseragam muncul, masing-masing dengan senjata tergantung di pinggang.

Pemimpin mereka adalah pria berambut cepak. Dengan wajah dingin dan langkah mantap, ia menerobos kerumunan, langsung mengarah ke Nellie.

“Direktur Padlow, kudengar ada yang bikin masalah di rumah sakitmu?”

“Siapa bajingan buta itu?”

“Biar aku ajari dia cara menghormati hukum Penang!”

Bab 3874

Melihat pria berambut cepak itu muncul, wajah Nellie langsung berbinar. Ia menggandeng lengan sang pria dan menatapnya dengan mata berbinar penuh harap.

“Inspektur Miller, kamu datang tepat waktu! Orang itu, dialah pelakunya!”

“Selain menjelek-jelekkan kami dengan tudingan tak punya etika medis, dia juga berani memukulku!”

“Dia menendang perutku!”

“Kamu harus segera membawanya pergi, buat dia tahu rasanya hidup di balik jeruji!”

Nellie menunjuk Harvey dengan sorot penuh dendam, seakan ia sudah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis.

Rayne dan para staf lainnya juga berseru serempak, menuding Harvey sebagai biang masalah yang harus segera diamankan.

“Apa?! Dia berani memukul Direktur Padlow di dalam rumah sakit?”

“Dunia sdah terang benderang, apa dia pikir tak ada hukum di dunia?”

Inspektur Miller kini memandang Harvey dengan tajam. Setelah menyadari bahwa pria itu bukan penduduk lokal, ia pun mencibir.

“Ayo, tangkap dia! Bawa ke kantor dan interogasi dengan serius! Selidiki sampai tuntas!”

“Kalau dia berani melawan, tembak di tempat!”

Senyum tipis kembali menghiasi wajah Harvey. Ia menyipitkan mata, menatap Inspektur Miller dengan santai.

“Sebagai inspektur, kamu seharusnya menjadi perpanjangan tangan hukum. Mengapa kamu tidak selidiki dulu kebenaran sebelum mengambil tindakan?”

Inspektur Miller mengejek, “Kamu pikir aku butuh belajar hukum darimu, orang luar?”

“Kamu sudah memukul orang dan melanggar hukum. Sudah sewajarnya aku membawamu pergi!”

“Atau kamu ingin melawan hukum?”

“Kalau kamu melawan, bersiaplah, aku akan menembakmu!”

Nada suara Inspektur Miller meninggi, seperti singa yang meraung marah. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Harvey.

Namun, Harvey dengan tenang mengangkat tangannya, menahan serangan itu. Ia melirik Julian dan berkata singkat, “Telepon.”

Julian tampak sedikit bingung, tapi segera memahami maksud Harvey.

Ia mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, ia menyerahkan ponsel itu kepada Inspektur Miller dengan dingin.

“Bosmu ingin bicara. Jawablah.”

Wajah Inspektur Miller mengerut, tapi ia tetap menerima telepon itu.

Sesaat kemudian, rona wajahnya berubah drastis.

Setelah menutup telepon dengan wajah kelam, ia menatap Harvey dengan mata yang kini jauh lebih berhati-hati.

Lalu, ia berkata pada Nellie, “Direktur Padlow… aku tak bisa menyentuh orang ini.”

Jelas bahwa Inspektur Miller tidak pernah menyangka bahwa Harvey dan kelompoknya memiliki hubungan langsung dengan Kepala Inspektur Tiongkok Kantor Polisi Penang.

Meski nada bicara Kepala Inspektur terdengar datar, hanya menyebut Harvey sebagai ‘teman’, itu sudah cukup menunjukkan siapa sebenarnya Harvey.

Inspektur Miller tahu betul, ia bukan tandingan orang seperti itu.

“Tak bisa disentuh?”

Wajah Nellie berubah drastis.

“Inspektur Miller, mereka itu cuma turis biasa, apa hebatnya mereka? Kenapa kamu tidak bisa bertindak?”

Namun, Inspektur Miller tak memberi penjelasan. Ia hanya menatap Harvey dalam-dalam, kemudian bersiap untuk pergi.

Tapi Harvey menahan langkahnya dengan suara pelan namun tajam, “Inspektur Miller, siapa yang izinkan kamu pergi?”

Kelopak mata pria itu berkedut. Ia berbalik, menatap Harvey penuh amarah.

“Anak muda, aku sudah beri kamu muka. Jangan terlalu lancang dan malah merobek muka itu!”

“Kamu pikir aku takut padamu?”

“Menolong yang salah, menindas yang benar, melanggar hukum padahal kamu seharusnya menegakkannya, dan bahkan tidak tahu caranya meminta maaf. Sekarang malah mau kabur?”

Dengan langkah tenang, Harvey maju selangkah dan…

Plaak!

Sebuah tamparan mendarat telak di wajah Inspektur Miller.

“Kamu pernah menghormatiku? Kamu pernah menghormati hukum yang kamu agung-agungkan?”

“Argh—!”

Inspektur Miller memekik kesakitan. Tubuhnya terlempar, meninggalkan jejak merah bekas tamparan di wajahnya.


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 3873 – 3874 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 3873 – 3874.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*