Kebangkitan Harvey York Bab 3869 – 3870

Novel Rise to Power The Supreme Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bahasa Indonesia Lengkap.webp

Novel Kebangkitan Harvey York Bab 3869 – 3870 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.

Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 3869 – 3870.


Bab 3869

Rayne menyeringai sinis. “Tapi terus terang, kami tak akan mengembalikan uang yang sudah dibayarkan.”

“Kamu boleh saja membawa orang itu pergi, tapi jaminan seratus ribu yuan? Jangan harap bisa kembali!”

“Keluar dari sini!”

“Jangan ganggu kami dengan keluhanmu!”

Nada angkuh dokter itu membuat wajah Irene mengeras. Suaranya menggigit, “Kamu benar-benar keterlaluan!”

“Selain tidak berusaha menyelamatkan orang, kamu bahkan menolak mengembalikan uang!”

“Percaya atau tidak, aku akan melaporkan soal ini!”

“Melapor?!” Rayne terkekeh. Beberapa perawat perempuan saling melempar pandang penuh ejekan.

Ada yang mulai merapikan riasan di cermin kecil, sementara lainnya sibuk memainkan ponsel seolah tak terjadi apa-apa. Mereka jelas tak menggubris ancaman Irene.

Lagi pula, Rumah Sakit Penang bukan tempat di mana keluhan berarti sesuatu.

“Silakan, laporkan saja.”

Setelah menggambar ulang alisnya dengan rapi, Rayne menunjuk ke sederet nomor di dinding.

“Biro Industri dan Perdagangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, kepolisian—semua kontak ada di sana!”

“Kamu boleh telepon siapa pun sesukamu!”

“Kalau kamu benar-benar bisa bikin aku ketakutan dengan satu panggilan, aku rela bersujud dan memanggilmu kakek!”

“Orang desa dari Daxia berani sok jago di wilayah Nanyang?!”

“Aku ingin lihat, siapa yang mau peduli padamu setelah kamu lapor!”

Rayne tersenyum pongah. Tampak jelas mereka sudah terbiasa mempermainkan turis asing.

Meski ada yang pernah mengadu ke polisi, hasil akhirnya selalu sama—para aparat akan membela orang mereka sendiri.

“Kamu tidak masuk akal!” Irene nyaris tak bisa menahan amarahnya. Seumur hidup, baru kali ini dia bertemu orang yang begitu tak tahu malu.

Di saat itu, Harvey melangkah pelan dan menepuk bahu Irene dengan lembut. “Irene, kamu dari Gerbang Naga. Bagaimana prinsip dasar seperti ini pun kamu lupakan?”

“Hah?” Irene mengerutkan kening, belum menangkap maksud ucapan Harvey.

“Beberapa orang memang tak layak diajak bicara baik-baik. Mereka hanya bisa diajari lewat tamparan.”

Begitu kalimat itu berakhir, Harvey maju selangkah—dan melayangkan tamparan keras.

“Ah—!”

Rayne menjerit saat tubuhnya terpental ke belakang.

Meski tamparan itu tak menggunakan kekuatan penuh, tapi tetap membuat Rayne terpental beberapa meter. Jas putih yang barusan dikenakannya kusut, dan wajahnya memerah dan membengkak.

Untuk sesaat, dia terpaku. Tatapannya penuh tak percaya. Mungkin selama hidupnya yang penuh arogansi, belum pernah dia menerima perlakuan seperti itu.

Namun begitu dia sadar, dia langsung menjerit histeris. “Dia memukul orang! Ini kekerasan medis!”

“Cepat panggil satpam! Cepat!”

Beberapa perawat cantik buru-buru menghampiri Rayne untuk membantunya berdiri, sementara Harvey hanya mengangkat alis dengan tenang.

“Kamu mati! Kamu dalam masalah besar! Habis kamu!” teriak mereka dengan panik.

Rumah Sakit Penang memang terkenal bengis dan tak bermoral. Belum pernah ada keluarga pasien yang berani mengacau di sini.

Siapa pun yang membuat keributan akan langsung dideportasi atau masuk daftar hitam turis. Bahkan bisa dikenai denda besar dan mendekam di balik jeruji selama berbulan-bulan.

Jadi meskipun banyak yang merasa dirugikan, tak seorang pun berani melawan.

Namun hari ini, Harvey adalah yang pertama. Sejak rumah sakit ini berdiri, belum ada satu pun yang berani melakukan hal seperti ini.

“Tak heran industri pariwisata Nanyang berjalan di tempat selama bertahun-tahun.”

“Siapa yang mau kembali kalau dipermainkan seperti ini?”

Harvey melirik satu per satu wajah mereka dengan dingin, lalu berbalik dan menendang pintu ruang gawat darurat. Ia tak sudi membiarkan Ellen terus berada di tempat seperti ini.

Irene dan Julian saling menatap, lalu mengikuti Harvey tanpa ragu.

Bab 3870

Di ruang gawat darurat, Ellen masih belum sadarkan diri. Wajahnya pucat, mabuk berat, dan tubuhnya terbaring tanpa perawatan.

Perut yang seharusnya sudah dicuci, luka yang seharusnya dirawat, dibiarkan begitu saja. Tenaga medis hanya menempatkannya di ranjang—tanpa sedikit pun kepedulian.

Kening Harvey mengernyit tajam. Ia segera menekan perut Ellen beberapa kali untuk menstimulasi reaksi tubuh, lalu membantunya duduk dan memberi isyarat kepada Julian untuk mengambil tempat sampah.

Begitu Ellen muntah dan mengeluarkan sebagian besar alkohol dari tubuhnya, napasnya jadi lebih lega.

Harvey lalu meminta Irene mengambil cairan antiseptik dari lemari darurat untuk mengobati luka-luka Ellen secara sederhana.

Setelah itu, Harvey menemukan kursi roda di sudut ruangan dan mengangkat tubuh Ellen ke atasnya dengan hati-hati.

Mereka bersiap untuk segera meninggalkan tempat laknat itu.

Namun baru saja mereka hendak keluar, terdengar derap langkah terburu-buru di luar. Suara keras disertai teriakan dalam dialek Nanyang menggema dari lorong.

Jelas, para petugas keamanan tengah bersiap masuk.

Harvey hanya menatap dingin. Saat itu juga, Julian melangkah cepat dan menghantam pintu darurat dengan satu tendangan.

BRAAK!

Pintu terbuka keras. Tujuh hingga delapan satpam berbadan besar langsung terpental ke belakang—bahkan salah satu dari mereka tak sengaja menabrak Rayne hingga jatuh terjerembab.

Sungguh memalukan.

Nyaris bersamaan, dari ujung lorong, terlihat sekelompok orang datang dengan langkah cepat dan sikap penuh tekanan.

Di antara mereka, seorang wanita paruh baya berjalan di depan.

Meski usianya tak muda lagi, ia masih memancarkan aura kuat. Tubuhnya tinggi dan tegap, penampilannya berkelas, namun menyimpan keangkuhan yang mencolok.

Melihat wanita ini, beberapa perawat cantik langsung menegakkan punggung dan menunduk diam-diam. Wajah mereka pucat seketika.

Sebab perempuan itu bukan sembarang orang—dia adalah direktur Rumah Sakit Penang, Nellie Padlow.

Langkah Nellie berhenti di depan mereka. Wajahnya datar, namun matanya tajam dan penuh tekanan.

“Siapa yang berani membuat onar di rumah sakitku? Apa kamu sudah buta?”

“Direktur Padlow!” Rayne segera berseru, suaranya serak namun penuh semangat,

“Ini orang luar! Mereka bilang kita tak punya etika medis! Mereka memukul staf, menendang pintu gawat darurat, bahkan membahayakan pasien!”

“Kami ingin menyelamatkan nyawa pasien, tapi mereka mengacau!”

Rayne menunjuk Harvey dan kelompoknya, berusaha keras menumpahkan semua tuduhan.

Tatapan Nellie membeku saat menatap Harvey. Ia langsung tahu, orang-orang ini bukan warga Nanyang. Aura mereka berbeda. Ia menyeringai, lalu berseru dingin, “Panggil semua petugas keamanan!”

“Katakan pada mereka, ini kasus gangguan medis!”

Jelas, di mata Nellie, selama orang itu bukan pejabat penting lokal, maka siapa pun bisa dia tekan.

Mau dari Daxia, dari negara kepulauan, atau dari manapun asalnya—selama mereka datang ke Penang, maka mereka hanya harimau tanpa cakar, burung phoenix tanpa sayap.

Tak lebih dari ayam di mata penguasa lokal seperti dirinya.

Lalu, Nellie menyapu pandangan penuh penghinaan pada Harvey dan yang lain, dan berkata angkuh, “Kamu boleh hina kualitas teknologi kami, soal efisiensi atau dekorasi—aku malas menanggapi.”

“Tapi kamu berani bilang etika medis kami buruk? Itu penghinaan!”

“Semua dokter di sini lulusan terbaik dari sekolah kedokteran di negara kepulauan!”

“Kamu lihat ini? Kami disebut Rumah Sakit Penang! Itu bukan nama kosong!”

“Etika medis kami mencerminkan standar tertinggi di sini!”

“Kamu seenaknya mencemarkan nama kami. Siapa yang memberimu keberanian? Siapa yang memberimu kekuatan?”

“Kamu tahu tidak, berapa harga yang harus kamu bayar untuk fitnah seperti itu?”


Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 3869 – 3870 gratis online.

Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 3869 – 3870.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*