Novel Kebangkitan Harvey York Bab 3821 – 3822 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 3821 – 3822.
Bab 3821
“Ah——!”
Dengan pekikan nyaring, pencopet asal Nanyang itu terlempar, melayang lalu menghantam keras sisi kabin. Ia menggeliat sembari menutupi wajahnya, tak mampu bangkit dalam waktu lama.
Pemandangan mengejutkan itu kontan membuat para penumpang yang sebelumnya bersuka ria menjadi terpaku. Seorang pria dari Daxia berani menyerang warga Nanyang di wilayah kekuasaan mereka sendiri?
Ini sungguh di luar batas!
“Anak muda, kamu sepertinya datang ke sini untuk berlibur, ya?”
“Kamu seharusnya tahu, bahwa menjaga ketertiban adalah hal utama saat berada di negeri orang!”
“Kamu harus sadar! Saat orang Daxia datang ke negara kami, kalian seharusnya bersikap sopan santun dan memberikan tip kepada staf kami di pintu masuk dan keluar, agar tidak menyulitkan diri sendiri!”
“Kamu mungkin merasa puas dengan tindakanmu, tetapi yang kamu lakukan ini justru mencoreng nama baik seluruh warga Daxia!”
“Kamu bertindak sewenang-wenang di tanah Nanyang, memukul orang sesuka hati. Apa pun alasanmu, itu jelas melanggar hukum negeri ini!”
“Cepat minta maaf! Segera!”
Beberapa pria muda berbaju jas dan sepatu mengkilap menunjuk wajah Harvey sembari memaki dengan nada tinggi.
Tak hanya mereka, beberapa wanita cantik dari Nanyang pun ikut bergerak mendekat, berdiri di sisi pencopet itu dengan ekspresi penuh kemarahan.
Mereka melotot tajam ke arah Harvey, seakan tak percaya ada orang Daxia yang berani menyentuh warga Nanyang yang mereka anggap mulia.
Apakah dia tidak sadar, akhir-akhir ini orang Daxia sudah tidak disambut baik di negeri ini?
Dan kini, dia justru mengangkat tangan memukul warga setempat. Bukankah itu sama saja dengan mencari masalah?
Namun Harvey tetap tenang. Suaranya datar ketika berkata, “Dia mencuri dompetku lalu merasa sok hebat di hadapanku. Apa aku tidak berhak mengambil tindakan?”
Seorang pria botak dalam balutan jas mencibir sambil menimpali, “Kami tak melihat dia mencurimu. Tapi kami menyaksikan kamu memukul dia. Kamu jelas-jelas tidak menghormati hukum!”
Seorang wanita Nanyang yang tampil modis ikut menyahut dengan nada mengejek, “Tahukah kamu betapa kayanya negara kami? Justru orang-orang Daxia-lah yang sering datang ke sini untuk berlibur!”
“Bagaimana mungkin ada pencuri di negara semakmur ini?!”
Orang lain ikut menyambung dengan suara sinis, “Dari tampangmu saja sudah kelihatan kamu terbiasa bersikap arogan di Daxia. Sama sekali tidak tahu diri!”
“Kamu harus sadar, sekuat apa pun jaringan atau dukungan yang kamu miliki di Daxia, semuanya tidak berarti apa-apa di negeri kami!”
“Jangan merasa setara hanya karena duduk di kelas satu!”
“Di mata kami, kalian orang Daxia itu pelit dan rendahan!”
“Kalian datang jauh-jauh hanya untuk menghamburkan uang di sini. Benar-benar orang bodoh dengan dompet tebal!”
Harvey hanya menggeleng perlahan. Ia mencibir terhadap sikap picik dan munafik yang dipertontonkan orang-orang ini.
“Bodoh!”
Ia tidak ingin meladeni kerumunan itu lebih lama. Dengan langkah mantap, ia menembus kerumunan dan merogoh saku pencopet yang sedang dibela dengan penuh semangat oleh mereka.
Tanpa banyak bicara, Harvey mengangkat dompet miliknya sendiri yang baru saja diambil pencopet itu.
Ia membukanya. Di dalamnya, tergeletak kartu identitas atas namanya.
Adegan itu begitu gamblang. Hanya orang bodoh yang masih membela si pencuri.
Seluruh penonton mendadak bungkam. Suasana membeku.
Wajah orang-orang Nanyang yang tadinya menyeringai kini memerah, entah karena malu atau marah.
Namun belum selesai rasa malu mereka menguap, seorang wanita cantik mendesis, “Lalu mengapa kalau pun dia mengambil barangmu?”
“Anggap saja itu bentuk penghormatan kami padamu! Harusnya kamu merasa bangga!”
“Lagipula, Nanyang bukan seperti Daxia. Negara kami menjunjung tinggi hukum dan ketertiban!”
“Meski warga kami berbuat salah, kamu tidak berhak menyentuh mereka begitu saja!”
“Kamu kira ini tempat di mana orang sepertimu bisa berlaku semaunya?”
“Aku peringatkan! Minta maaf pada pria ini sekarang juga! Atau kamu akan menghadapi konsekuensi berat!”
Suara teriakan mulai bercampur aduk, kebenaran dan kebohongan tumpang tindih. Harvey terus menjadi sasaran umpatan.
Sementara itu, si pencopet malah memasang senyum licik ke arah Harvey.
Jelas sekali, ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal semacam ini.
Di tanah Nanyang, ia sudah terbiasa memanfaatkan status dan situasi, dan selalu keluar sebagai pemenang.
Dari situlah timbul keberaniannya untuk terus berbuat seenaknya.
Bab 3822
“Kamu menyuruhku minta maaf pada monyet Nanyang ini? Kamu bercanda?” Harvey menatap mereka satu per satu dengan sorot mata penuh ejekan.
“Keterlaluan!”
Seorang wanita berwajah tegas dengan riasan yang mencolok menerobos kerumunan. Ia menatap Harvey dengan penuh rasa jijik dan arogansi.
“Dasar bajingan! Bukan hanya kamu memukul orang tanpa alasan, sekarang kamu malah menghina kami, warga Nanyang yang terhormat!”
“Aku sudah bilang, kamu harus memberi penjelasan soal ini, atau kamu akan benar-benar menyesal!”
“Penjelasan?” Harvey menanggapi dengan santai, nyaris tak peduli.
“Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu layak mendapatkan penjelasan dariku?”
“Hanya karena aku tak ingin menyerahkan dompetku kepada kalian, lalu kalian bilang aku menghina kalian?”
Wanita itu mendekat dengan tatapan buas, memperlihatkan kesombongan yang tak tertutupi.
“Minta maaf sekarang juga! Berlutut dan minta maaf!”
Harvey menyipitkan mata, menatap wanita yang begitu memuja orang asing hingga merendahkan bangsanya sendiri. Dengan dingin ia bersuara, “Bagaimana jika aku menolak?”
“Menolak?”
“Kalau kamu berani menolak, kami takkan biarkan kamu masuk ke negara ini! Kami akan menyeretmu ke kantor polisi bandara dan menahanmu tiga hari tiga malam!”
“Aku akan tunjukkan apa akibatnya menyinggung orang Nanyang!”
Wanita itu melangkah mendekat dengan pongah, dadanya terangkat seperti seekor merak kecil yang tengah memamerkan bulu-bulunya.
“Sudah kubilang, meski kamu duduk di kelas satu dan berdandan rapi, di mataku, kamu bukan siapa-siapa!”
“Aku akan hitung sampai tiga. Kalau kamu belum berlutut, aku akan menamparmu sampai puas!”
“Satu! Dua! Tiga!”
Namun, Harvey tetap berdiri tegak tanpa bereaksi sedikit pun.
Wanita itu meraung dan melayangkan tamparan.
Plaaak!
Suara nyaring bergema. Tapi bukan Harvey yang terkena, justru wanita itu yang terlempar jatuh karena ditampar balik dengan punggung tangan Harvey.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu memukulnya?!”
Beberapa pria Nanyang bergegas maju hendak menyerang Harvey.
Plaaak! Plaaak! Plaaak!
Tapi sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh, Harvey sudah melayangkan tamparan bertubi-tubi. Tanpa ampun, menghantam para penyerang itu satu per satu hingga bergelimpangan di lantai kabin.
Sisa orang-orang Nanyang yang belum sempat bertindak langsung terpaku di tempat.
Mereka terbiasa menindas dan memamerkan kekuasaan di wilayah mereka.
Namun, baru kali ini mereka menghadapi seseorang seperti Harvey—dingin, tegas, dan tak bisa dipermainkan.
Plaak!
Harvey melangkah maju dan menendang si pencuri dengan tenang, lalu berkata, “Jadi, siapa sekarang yang bisa memberitahuku sebesar apa masalahku?”
“Bajingan! Selesai kamu! Selesai!” beberapa orang Nanyang meraung sambil menutupi wajah mereka yang memar.
“Kami akan melapor pada polisi! Kamu akan dipenjara seumur hidup!”
“Kamu akan membayar mahal untuk semua ini!”
“Kamu akan menyesali tindakanmu selamanya!”
Plaak!
Tamparan punggung tangan Harvey mendarat lagi di wajah pria yang melontarkan ancaman itu. Kali ini, Harvey tersenyum tipis.
“Maaf,” katanya ringan. “Menurut hukum penerbangan internasional, sebelum pesawat ini mendarat, wilayah di bawah kaki kita masih termasuk dalam yurisdiksi Daxia.”
“Dan di tanah kami, hukum kami yang berlaku.”
“Hukum negara kalian tidak berlaku di sini.”
“Jadi tampaknya, aku tak perlu membayar harga apa pun.”
Selesai berbicara, Harvey dengan tenang mengeluarkan tisu dan mulai membersihkan jari-jarinya, seolah semua ini hanya rutinitas biasa.
Orang-orang Nanyang menggertakkan gigi, wajah mereka memucat. Tapi mereka tahu betul, apa yang dikatakan Harvey tadi adalah kebenaran mutlak.
Bahkan bila mereka melapor ke polisi bandara setelah turun dari pesawat, hukum Nanyang tak akan bisa menyentuh urusan internal Daxia.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 3821 – 3822 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 3821 – 3822.
Leave a Reply