Novel Kebangkitan Harvey York Bab 3681 – 3682 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 3681 – 3682.
Bab 3681
“Bukankah ini Tuan York? Sudah lama kudengar namamu.”
Ketika Harvey hendak melangkah menuju tempat istirahat tim Daxia di sisi timur arena, pandangannya bersirobok dengan sosok Raqesh yang sedang melintas, ditemani oleh Danar dan beberapa pengikutnya.
Dengan senyum hangat membalut wajahnya, Raqesh menjulurkan tangan kanannya, seolah ingin menyambut dengan penuh ketulusan.
“Ketika aku berada di Tianzhu, aku mendengar namamu, Tuan York, ratusan kali setiap harinya, hingga telingaku nyaris kebal karena terlalu sering mendengarnya!” ujarnya dengan tawa kecil yang terselip kepura-puraan.
“Tapi jujur saja, ini pertama kalinya kita benar-benar berjumpa secara langsung.”
“Tuan York, seperti kata desas-desus, Anda bukan hanya muda dan berbakat, tapi juga laksana naga di antara manusia—pilar harapan bagi Daxia dan Gerbang Naga.”
Namun, nada suaranya berubah sejenak, menyiratkan makna terselubung.
“Tapi, bukankah ada pepatah bijak dari negaramu? ‘Pohon tertinggi akan lebih keras diterpa angin.'”
“Ketika seseorang menjulang tinggi dan jadi sorotan, usianya kadang tak panjang… Seperti para jenderal wanita legendaris dari masa silam.”
“Tapi ah, kenapa aku mengatakan ini langsung di hadapanmu?”
“Daxia adalah negeri berperadaban lima ribu tahun. Sebuah negeri luhur. Aku yakin Tuan York tak akan mudah tersinggung, bukan?”
Raqesh menutup kalimatnya dengan senyum yang lebih terasa seperti topeng munafik daripada keramahan tulus.
Sementara itu, Danar dan para pengikut lainnya memperhatikan Harvey dari ujung kepala hingga kaki.
Meski mereka telah membaca banyak informasi tentang pria ini, begitu menyaksikannya secara langsung, mereka merasa sosok Harvey terlihat biasa saja.
Seandainya mereka tidak yakin bahwa lelaki ini adalah orang yang telah membunuh Cody Garcha, mereka mungkin akan menganggap Harvey hanyalah pria Daxia biasa yang tak menarik perhatian.
“Tak perlu seramah itu, Tuan Garcha,” jawab Harvey dengan senyum ringan, namun kata-katanya menggigit. “Seperti kata pepatah: dari mulut anjing, jangan harap keluar gading.”
“Apa pujian bisa kuharapkan darimu?”
Nada bicaranya tenang, namun menohok.
“Namun aku harus jujur,” lanjutnya, “Aku agak menyesal, kenapa baru hari ini kita bertemu.”
“Seandainya pertemuan ini terjadi lebih awal, mungkin kita takkan sampai di titik yang sekarang ini.”
“Benar, bukan?”
Wajah Harvey tak berubah, tetap tersenyum.
“Tapi tak mengapa. Ada saja orang yang merasa dirinya layak tampil di panggung megah.”
“Kalau tak ada panggung besar, bagaimana dia sadar bahwa dirinya tak lebih dari sekadar badut?”
Makna tersirat dalam ucapannya begitu jelas—seolah memberi peringatan bahwa jika Raqesh berani bertingkah sebelumnya, maka nasibnya sudah pasti tak akan selamat dari tamparan Harvey.
“Ahahahaha! Aku memang tahu Tuan York ini hebat, dan aku tahu Amber serta kedua rekannya pun luar biasa.”
“Tapi siapa sangka, lidahmu pun tajam bak pisau, Tuan York!”
Raqesh terkekeh sinis.
“Meski begitu, Daxia punya peribahasa juga, bukan? ‘Anjing yang menggonggong, tidak menggigit.'”
“Kalau kamu begitu lantang berbicara, aku jadi makin penasaran dengan kemampuanmu.”
“Aku harap kamu tak membuat kami kecewa!”
Zoena Garcha, yang berdiri di belakang Raqesh, menyambung dengan suara meremehkan.
“Benar, apa yang perlu dibanggakan?”
“Jangan lupa, kami dengan mudah menumbangkan tiga puluh lima juara provinsi dari Daxia!”
“Kamu, bakat unggulan Daxia, tetap tak berdaya di hadapan kami!”
Zoena tampak berusia awal dua puluhan. Wajahnya oval, bibir mungil, dan paras eksotis yang menawan. Ia anggun dan memikat, dengan tubuh semampai nan molek.
Gaun tradisional India yang dikenakannya membalut pinggang ramping yang berhias permata. Cukup berdiri di sana saja sudah membuat napas para lelaki tertahan.
“Apa ini?”
“Kamu Nona Suci dari India?”
Alih-alih marah, Harvey justru melangkah maju dan menggenggam tangan Zoena dengan semangat.
“Sudah lama aku dengar tentang Nona Garcha—tak hanya cantik jelita, tapi juga petarung paling berbakat di negara Tianzhu!”
“Bertemu langsung denganmu jauh lebih memukau daripada sekadar mendengar namamu.”
Bab 3682
“Nona Garcha,” ujar Harvey dengan tatapan tulus, “Di antara semua jenius di India, kamulah satu-satunya yang benar-benar aku hormati.”
“Konon kamu bukan hanya tercantik di negara Tianzhu, tapi juga petarung terkuat generasi ini.”
“Bertemu denganmu hari ini adalah sebuah kehormatan besar!”
“Aku kebetulan memiliki jaringan sekolah bela diri dengan puluhan cabang.”
“Aku penasaran, apakah Nona Garcha tertarik untuk menjadi instruktur utama?”
“Tak perlu khawatir, kamu hanya akan menjadi pemimpin boneka.”
“Namun, aku bersedia memberimu 30% saham Martial Hall, ditambah gaji tahunan seratus juta!”
“Lebih dari itu, aku bisa menjamin bahwa pihak India takkan berani mengusikmu hanya karena keputusan ini.”
“Asalkan kamu bersedia mengangguk, mulai hari ini kita bisa berbagi kejayaan bersama.”
“Bersamaku, kamu bisa meraih satu miliar hanya dalam setahun. Dan jika Martial Hall melantai di bursa, kekayaan bersihmu bisa melesat hingga puluhan atau bahkan ratusan miliar!”
Nada Harvey terdengar sungguh-sungguh. Ekspresinya tak menunjukkan sekadar basa-basi.
Ucapan ini membuat Danar dan Ryland secara refleks menatap Zoena.
Terlebih ketika melihat Zoena tidak segera menarik tangannya dari genggaman Harvey, wajah mereka seketika berubah masam.
Bagaimana tidak—Zoena adalah ikon kecantikan India, panutan generasi muda. Tapi kini, ia tak menolak sentuhan pria asing dari Daxia.
Kelopak mata Zoena berkedut. Ia buru-buru menarik kembali tangannya dan tersenyum canggung.
“Terima kasih atas kehormatanmu, Guru York, tapi kamu terlalu menyanjungku.”
“Kemampuanku terbatas. Aku tak layak untuk menjabat posisi setinggi itu.”
Namun, pandangan matanya kepada Harvey menyiratkan sesuatu yang lain.
Meski pria itu bukan tipikal tampan seperti selebritas, gaya hidupnya yang mewah dan keberaniannya menantang seluruh negeri memberi aura tak kasat mata yang begitu memikat.
Walau mereka berasal dari dua kubu yang berbeda, di dalam hati Zoena tak bisa menahan diri untuk mengakui bahwa di antara generasi muda Tianzhu, jarang ada yang bisa menyamai Harvey York.
“No Garcha, kamu terlalu merendah.”
“Tahukah kamu, kesopanan yang berlebihan bisa jadi bentuk lain dari kemunafikan?”
Alih-alih mundur, Harvey kembali menggenggam tangan mungil Zoena, mengelusnya seolah bersikap akrab.
“Dengarkan baik-baik. Aku tidak peduli dengan tanah suci bela diri Tianzhu-mu, apalagi keluarga kerajaan kalian.”
“Bahkan jika pemimpin kasta pertama datang ke hadapanku, aku takkan sudi menoleh.”
“Tapi kamu, Nona Garcha, berbeda!”
“Kamu bukan hanya orang India yang paling aku kagumi, tapi juga satu-satunya yang paling aku takuti.”
“Jika aku bisa memilih, aku tak ingin menjadi musuhmu.”
“Masih belum cukup ketulusan dariku?”
“Tak masalah. Aku bahkan bisa memberimu 49% saham, asal kamu mau bergabung dengan Martial Hall-ku.”
“Walau kini kita berdiri di sisi berbeda, aku harus mengakuinya…”
“Selain kamu, Nona Garcha, sisanya di India hanyalah ayam dan anjing.”
Nada Harvey tak berubah, tapi tatapannya menyala oleh pujian yang terbungkus keberanian.
Ucapan itu membuat wajah Danar dan yang lainnya makin menggelap.
“Terima kasih, Tuan York. Tapi aku tetap menolak.”
Zoena akhirnya menarik tangannya dengan paksa.
Wajahnya menegang, dan tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan pergi ke tempat istirahat barat—dengan langkah cepat yang nyaris seperti pelarian.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 3681 – 3682 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 3681 – 3682.
Leave a Reply