Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2749 – 2750 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2749 – 2750.
Bab 2749
Senyum penuh kemenangan mengembang di wajah Lexie.
Tatapannya sinis, tak berkedip, seolah menikmati setiap detik yang berlalu.
Dia begitu enggan melewatkan momen Harvey dihancurkan secara brutal—detik demi detik yang dinantinya dengan sabar, kini akhirnya hampir tiba.
Akio menyunggingkan senyum tipis dan berkata dengan santai, “Nyonya York, tunggulah sampai anak buahku membunuh Harvey. Jangan lupakan janji yang kamu dan Tuan Muda York buat padaku!”
Lexie menanggapi dengan suara dingin penuh ketegasan. “Tak perlu membuang waktu dengan basa-basi. Selama kamu berhasil menyingkirkan Harvey, status diplomatik khusus yang kamu inginkan akan langsung kuberikan!”
“Mulai saat ini, Perguruan Shindan boleh bertindak semaunya di Hong Kong!”
“Sekalipun kalian melanggar hukum kota ini, selama aku dan Vince mendukungmu, tak satu pun yang berani bersuara!”
“Sudah cukup. Diamlah dan biarkan aku menikmati pertunjukannya!”
Akio hanya tersenyum samar. Ia menyukai tipe rekan seperti Lexie—mereka yang tak ragu menjual kepentingan bangsanya demi ambisi pribadi.
Sementara itu, di tempat kejadian, cahaya dari jurus pedang Delapan Putra Guntur dan Angin telah mengelilingi seluruh tubuh Harvey.
Pada saat itu, gerak-geriknya telah terkunci oleh pusaran cahaya. Bahkan untuk menghindar pun dia tak memiliki celah.
Di hadapan serangan gabungan yang demikian mengerikan, Harvey hanya tersenyum tenang. “Akio, kamu memang luar biasa. Bisa membesarkan Delapan Putra Guntur dan Angin hingga seperti ini.”
“Tapi sayangnya, kamu bertemu denganku, Harvey.”
“Di mataku, bahkan seorang Dewa Perang sejati pun hanyalah seekor semut. Apalagi Dewa Perang palsu seperti mereka?”
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, Harvey tidak mundur satu langkah pun. Sebaliknya, dia justru menerobos ke arah kerumunan dan melayangkan tamparan horizontal yang menghantam udara.
Wajahnya tenang, tubuhnya santai seolah tidak sedang bertarung, namun gerakannya seketika mengubah raut wajah lawan-lawannya.
Bagi Delapan Putra Guntur dan Angin, Harvey yang semula tampak biasa saja kini menjelma bagai raksasa tak terukur. Tamparan itu seolah mengguncang alam semesta, mengaburkan cahaya matahari, menyapu langit.
Seakan-akan, yang tersisa di dunia ini hanyalah satu telapak tangan milik Harvey.
“Baka!”
Salah satu pendekar dari negeri kepulauan yang tampaknya telah dibius oleh hawa pertarungan tetap memaksa menjatuhkan pedangnya.
Namun detik berikutnya—
Kraak!
Suara patahan yang nyaring terdengar jelas.
Seluruh anggota Delapan Putra Guntur dan Angin mendadak gemetar hebat, lalu tubuh mereka terlempar ke udara dalam posisi mendatar.
“Ugh!”
Di tengah terbang, mereka memuntahkan darah segar secara bersamaan.
Saat tubuh mereka menghantam lantai geladak, semua terbaring dalam keadaan linglung, wajah pucat, tanpa mampu bangkit lagi.
Delapan pendekar yang digadang-gadang sebagai penjaga terkuat itu hancur lebur hanya dengan satu tamparan!
Harvey berdiri tegak, tak tergoyahkan. Sikapnya santai, tapi kehadirannya menebar aura mutlak yang membuat siapapun gentar.
Bahkan Dewa Perang yang digadang tak terkalahkan pun takkan pernah memiliki kebesaran hati seperti ini.
Kraak!
Dari seberang sambungan telepon, ponsel Lexie jatuh menghantam pahanya, tapi ia sama sekali tidak menyadarinya.
Yang tergambar di matanya hanyalah ketakutan yang dalam, tak berujung.
Dia tahu Harvey bukan orang biasa, namun tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa pria itu mampu memusnahkan Delapan Putra Guntur dan Angin hanya dengan satu tamparan.
Itu bukan sekadar kekuatan biasa—itu adalah kekuatan setara Dewa Perang.
Vince York kini benar-benar bertemu dengan lawan sepadan.
* * *
Di atas kapal pesiar, Harvey memandangi Akio Yashiro tanpa ekspresi.
Kemudian dia mengangkat jari telunjuk kanannya dan mengaitkannya pelan, memberi isyarat sederhana namun menantang.
Beberapa pria bersenjata dari Jepang yang bersembunyi dalam bayang-bayang awalnya sudah bersiap melepaskan tembakan. Namun saat melihat pemandangan itu, tubuh mereka langsung membeku.
Keringat dingin menetes, dan seluruh nyali mereka seketika lenyap.
Tak satu pun berani menarik pelatuk.
Mereka tak pernah membayangkan bahwa Harvey mampu membinasakan Delapan Putra Guntur dan Angin yang selama ini dididik khusus oleh Akio Yashiro dengan sangat mudah.
Pada saat itu, sebuah keyakinan dalam hati mereka hancur berkeping.
“Hebat, sungguh hebat,” ucap Akio, tersenyum getir.
“Kini aku percaya padamu.”
“Sekalipun Dean tak hadir, kamu tetap layak untuk menghabisi Miyata Shinnosuke!”
Harvey York Bab 2750
Akio menurunkan ponselnya perlahan, mengakhiri panggilan video dengan Lexie. Ada sorot aneh yang berkelebat dalam tatapannya—campuran keterkejutan, kewaspadaan, dan kekaguman yang tak ia sembunyikan.
“Kekuatan seperti itu… hampir menyentuh kekuatanku,” gumamnya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Itu adalah kekuatan yang sangat dekat dengan puncaknya seorang Dewa Perang.”
Ia menarik napas panjang, seolah mencoba mencerna apa yang baru saja ia saksikan.
“Jika kamu tidak memiliki kekuatan sebesar itu, bagaimana mungkin kamu bisa dengan mudah menghadapi Delapan Putra Guntur dan Angin-ku?” tanyanya lirih, retorik, diselingi rasa tak percaya.
Akio menggelengkan kepala pelan, lalu mendesah—sebuah isyarat dari orang yang merasa kalah, namun tidak iri.
“Tuan York, Anda sosok muda yang mengesankan. Di usia semuda itu, Anda telah memiliki kekuatan luar biasa yang bahkan sulit dibayangkan. Sangat menjanjikan…”
Kemudian ia menatap kosong ke kejauhan, sebelum kembali berujar dengan suara yang lebih rendah, “Tapi mengapa kamu tidak memperlihatkan kemampuanmu itu pada dunia luar?”
Lalu, dengan suara getir yang mengandung ironi, ia menambahkan, “Jangan pamer, jangan biarkan orang lain tahu… Bagi orang seperti kita, menyembunyikan kekuatan bukan pilihan, tapi keharusan.”
“Jika aku belum siap hari ini, kamu bisa saja membunuhku. Dan jika itu terjadi, siapa yang akan membela kita? Siapa yang akan memberi kita keadilan?”
Senyum kecil terukir di bibir Akio—bukan senyum kemenangan, melainkan senyum dari seseorang yang telah menempuh jalan panjang dan menyadari betapa rapuhnya dunia.
“Untungnya, aku telah menyepi selama bertahun-tahun. Dalam kesunyian itulah aku menemukan keharmonisan antara manusia dan alam… Ilmu pedangku pun berkembang jauh dibandingkan sebelumnya.”
“Kalau bukan karena itu, mungkin kali ini aku tak bisa menandingi kekuatanmu!”
Ia menarik napas lagi, matanya berkabut oleh sesuatu yang menyerupai penyesalan.
“Sangat menyedihkan… Negeri Daxia tampaknya akan kehilangan seorang Dewa Perang!”
Akio kembali menggeleng, raut wajahnya penuh penyesalan.
Di sisi lain, para penduduk pulau yang menyaksikan kejadian itu mulai saling berpandangan. Awalnya mereka sempat diliputi rasa gentar, mengira tak ada harapan lagi.
Namun kini, setelah melihat Akio Yashiro tetap berdiri dengan tenang dan percaya diri menghadapi Harvey, semangat mereka pun perlahan bangkit kembali.
Pendekar Shindan itu… benar-benar layak menyandang gelar Santo Pedang.
Keberanian yang sempat pudar kini tumbuh kembali di dada mereka. Suara-suara penuh keyakinan mulai terdengar.
“Baga! Kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Santo Pedang kami, Akio Yashiro?!”
“Siapa kamu hingga berani pamer di hadapan tokoh sebesar dia hanya karena kamu seorang Dewa Perang?”
“Wah, kamu ini masih terlalu hijau!”
“Bahkan jika kamu mulai belajar bela diri sejak dalam kandungan, kamu tetap tidak akan bisa menandingi Pendekar Pedang Suci Yashiro!”
“Cepat sujud! Mungkin kalau kamu menunjukkan rasa hormat, Santo Pedang Yashiro akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup. Bukankah kamu adalah Dewa Perang?”
“Kalau menurutku, kamu lebih cocok menjadi anjing Tuan Yashiro… atau paling tidak, pelayan kami di pulau ini!”
“Dasar, banyak omong!”
Namun kali ini, bukan Harvey yang merespons ocehan itu. Akio Yashiro melangkah ke depan, dan dengan gerakan secepat kilat, menampar salah satu penduduk pulau.
Tamparan itu bukan hanya keras—itu seperti kilatan petir yang menyambar tiba-tiba. Tubuh si penduduk terpental jauh, menghantam mesin kapal pesiar dengan suara dentuman yang menggetarkan.
Suara mesin yang sebelumnya meraung kini hening seketika. Bagian kapal yang ditabrak hancur, dan suasana berubah mencekam. Tak satu pun dari mereka berani mengeluarkan sepatah kata.
Dalam keheningan itu, suara Akio terdengar jelas, tenang, tapi penuh wibawa.
“Tuan Muda York adalah Dewa Perang sejati. Bagaimana kalian bisa meremehkannya?”
“Dengan usia semuda itu, dan kekuatan seperti itu… bahkan orang tua sepertiku harus mengerahkan seluruh kemampuan!”
“Lawan seperti ini… layak dihormati.”
Ia lalu membungkuk, memberikan penghormatan dalam tradisi seni bela diri kepada Harvey. Gerakan itu tulus, penuh respek.
Setelahnya, ia melangkah pelan menuju tepi geladak. Matanya menyipit menatap Harvey, dan dengan nada bangga yang tak terselubung, ia mengumumkan:
“Tuan Muda York, hari ini saya hanya akan mengayunkan tiga pedang!”
“Jika kamu mampu menahan tiga serangan terkuatku…”
“Aku akan mengaku kalah… dan melakukan seppuku di hadapanmu!”
“Tapi jika kamu gagal menahannya… maka terimalah takdirmu.”
Pernyataan itu keluar dengan penuh semangat—bukan sekadar gertakan, tapi sumpah dari seorang kesatria sejati.
Sambil memberi isyarat halus, ia memerintahkan seorang pengikutnya untuk menyerahkan sebilah pedang panjang khas negeri kepulauan kepada Harvey.
Pertarungan ini akan dilakukan dengan adil, dengan senjata dan hati yang sama-sama terbuka.
Harvey menerima pedang itu. Namun ekspresinya menunjukkan kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan.
Baru kali ini ia menyaksikan langsung seseorang dari Jepang yang begitu serius dengan semangat Bushido—semangat kehormatan dan pertempuran yang jujur.
Namun, ketika tangannya menyentuh gagang pedang, pandangannya terhalang oleh pengikut yang tadi menyerahkan pedang.
Detik berikutnya—tanpa peringatan—Akio Yashiro meloncat ke laut, tubuhnya lenyap dalam riak air.
Melarikan diri!
Harvey memandangi air yang bergelombang, matanya berkedut, antara kesal dan tak percaya.
Dewa perang dari negeri kepulauan… pendekar dari Perguruan Shindan… seorang guru yang telah mencapai kesatuan antara manusia dan alam…
Dia takut!
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2749 – 2750 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2749 – 2750.
Leave a Reply