Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2747 – 2748 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2747 – 2748.
Bab 2747
Masyarakat negara kepulauan begitu mengagumi budaya Daxia. Mereka menjadikan Daxia sebagai tolok ukur peradaban dan kemajuan.
Secara khusus, mereka menjunjung tinggi nilai perencanaan matang dan pengambilan keputusan yang cermat sebelum bertindak.
Prinsip ini telah mendarah daging dalam setiap langkah mereka, seolah menjadi warisan tak tertulis yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Bagi penduduk pulau, jika suatu hari mereka ingin berevolusi dari negara kepulauan menjadi kekuatan besar di daratan benua, maka satu hal mutlak yang harus dilakukan adalah memulai dari Daxia.
Selama mereka mampu merebut sebagian wilayah Daxia, secercah harapan akan terbuka. Itu adalah jalan satu-satunya untuk benar-benar bangkit dari keterbatasan dan memasuki panggung kekuatan global.
Keberhasilan Harvey dalam menggagalkan serangkaian rencana Jepang, baik di Shanghai maupun di Hong Kong, telah mengguncang fondasi mereka.
Serangkaian manuvernya yang gemilang mengguncang keyakinan mereka, dan itulah alasan utama mengapa para pendekar papan atas seperti Miyata Shinosuke dan Akio Yashiro terpaksa turun tangan sendiri.
Mereka tak bisa lagi mengandalkan pion-pion biasa—Harvey bukanlah lawan yang bisa diremehkan.
Ketakutan mereka sederhana namun nyata: munculnya sosok pelatih kepala kedua di Daxia, sebuah legenda baru yang akan mengguncang dominasi mereka di wilayah Asia Timur.
Sementara Harvey tengah berpikir, Delapan Putra Guntur dan Angin mulai bergerak. Gerakan mereka serempak, seirama, dan menebarkan tekanan yang luar biasa.
Ekspresi wajah mereka yang semula dingin perlahan berubah menjadi serius. Aura membunuh menguar dari tubuh mereka, seakan angin dan petir telah menemukan wujudnya dalam delapan sosok manusia.
Langkah mereka satu demi satu menutup ruang, membentuk formasi mengepung Harvey. Lingkaran itu mengeras, seperti pusaran badai yang terus menyempit, bertekad untuk menelan pusatnya.
Akio Yashiro menyipitkan mata, menatap Harvey penuh ketegasan. Suaranya dingin, nyaris menusuk:
“Angin dan guntur menyatu, dunia akan hancur!”
Kata-kata itu belum selesai menggema ketika dua pendekar pulau menyerbu dari sisi, pedang panjang mereka meluncur deras menuju kaki Harvey.
Refleks Harvey terlatih—dia melompat ke udara, menghindari sabetan maut itu dalam sekejap. Namun, dua pendekar lainnya langsung mengisi posisi kiri dan kanan, menutup ruang geraknya.
Dari belakang, dua lainnya menerjang, menyegel jalan mundurnya. Dan tepat dari depan, sepasang pendekar terakhir menyerbu dengan pedang terhunus, niat mereka jelas—mengakhiri hidup Harvey saat itu juga.
“Menarik.” Harvey bergumam pelan, nyaris seperti sedang menikmati pertunjukan seni bela diri.
“Perguruan ini pantas menyandang gelar salah satu dari perguruan utama di negara kepulauan ini.”
“Seperti yang kuduga, Perguruan Shindan jauh lebih kuat dibandingkan Shinkage.”
Apa yang dihadapi Harvey saat ini bukan sekadar pendekar biasa. Delapan Putra Guntur dan Angin adalah Raja Prajurit, delapan sosok yang telah menembus batas kemampuan manusia biasa.
Jika delapan orang ini bersatu, kekuatan mereka bisa mengalahkan dewa perang sekalipun.
Di tengah tekanan hebat, Harvey justru tampak mengagumi kemampuan mereka.
Tanpa ragu, dia menendang salah satu pedang panjang yang menyerang dari samping, lalu memutar tubuhnya memanfaatkan daya tendang itu sebagai tumpuan untuk terbang ke udara.
Gerakannya tampak ringan, bahkan sederhana, tetapi justru itulah yang membuat wajah Akio Yashiro mengeras. Ia menyadari bahwa Harvey bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng.
PLaak! Plaak!
Dua suara tamparan tajam menggema di udara. Saat tubuh Harvey melayang, ia meluncurkan tendangan ke kiri dan ke kanan. Kedua tendangannya menghantam tepat ke wajah dua pendekar pulau yang menyerang pertama kali.
Tubuh mereka terlempar mendatar seperti daun tertiup angin. Saat mendarat, darah menyembur dari mulut mereka.
Di wajah masing-masing, dua jejak kaki tercetak jelas, menjadi bukti kecepatan dan kekuatan tendangan Harvey.
Dalam sekejap, Harvey mendarat kembali ke lantai, namun kali ini kedua tangannya bergerak bersamaan, menampar dua pendekar yang sebelumnya menghadang dari belakang.
PLaak! Plaak!
Tamparan itu tak hanya menghasilkan suara tajam, tapi juga mengirimkan dua tubuh melayang ke sisi perahu.
Mereka membentur keras dinding kapal dan tak bisa bangkit dalam waktu lama. Dunia mereka seolah berputar, dan kesadaran mereka perlahan memudar.
Ketika Harvey akhirnya berdiri mantap, hanya empat pendekar yang tersisa. Wajah mereka tampak pucat, dan ketakutan mulai menyusup dalam sorot mata mereka.
Mereka mundur beberapa langkah, seolah Harvey bukan lagi manusia, melainkan makhluk buas yang baru saja melepaskan sebagian kekuatannya.
Mereka tahu betul siapa diri mereka. Di negara mereka, mereka dianggap tak terkalahkan. Namun kini, baru bersua sebentar, setengah dari kekuatan mereka telah runtuh oleh tangan kosong Harvey.
Jika Harvey memiliki senjata di tangannya, tak menutup kemungkinan mereka sudah berubah menjadi tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di dek.
Tepat saat Harvey hendak melangkah maju untuk menyelesaikan pertempuran, keempat pendekar yang tersisa saling bertukar pandang.
Tanpa aba-aba, tangan kanan mereka bergerak cepat. Dari balik lengan baju mereka yang longgar, shuriken meluncur ke segala arah, berkilat di bawah cahaya.
Harvey menyipitkan mata, lalu bergerak ke belakang dengan cepat. Ia berhasil menghindari serangan tiba-tiba itu, namun langkah mundurnya juga membuatnya kehilangan momentum untuk menghabisi lawan yang tersisa.
Bab 2748
“Baka!”
Seruan kasar itu meluncur dari mulut salah satu pendekar pulau ketika Harvey sekali lagi berhasil menghindari serangan mereka dengan gesit.
Melihat Harvey yang begitu lincah, empat pendekar yang tersisa saling berpandangan, lalu tanpa aba-aba, mereka bergerak serentak, mengeroyok dari berbagai arah.
Namun, Harvey tetap tenang. Ia meraih sebuah shuriken yang menancap di dek kapal, lalu mengangkat tangan kanannya.
Dalam sekejap, cahaya tajam dari bilah shuriken memancar, menyerupai sinar bulan purnama yang muncul dari balik samudra malam.
Wajah Akio Yashiro seketika berubah saat menyaksikan kilatan pedang itu. Ia berteriak lantang, “Delapan Putra Guntur dan Angin, aktifkan teknik kebal!”
Detik berikutnya, keempat pendekar yang tersisa menarik mundur tubuh mereka. Dalam satu gerakan serempak, mereka mengangkat pedang panjang dan menyusunnya menjadi benteng baja yang saling bertumpuk di hadapan mereka.
Koordinasi mereka begitu rapi dan padu, seolah mereka bisa membaca pikiran satu sama lain. Tak bisa dimungkiri, kemampuan Akio Yashiro dalam membina para pendekar itu telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Ding! Ding! Ding!
Bunyi logam berdenting terdengar ketika shuriken Harvey menghantam bilah pedang mereka. Percikan api memancar liar di udara.
Namun untuk saat ini, Harvey belum mampu menembus pertahanan kokoh mereka.
Di saat bersamaan, empat pendekar pulau lainnya yang sebelumnya terluka dengan cepat menelan pil berbau menyengat. Begitu obat itu larut dalam tubuh mereka, tatapan mata mereka berubah merah membara, dan mereka kembali menyerbu tanpa ragu.
Rupanya, pil tersebut tak hanya menunda rasa sakit, tapi juga membangkitkan potensi bertarung mereka hingga batas maksimal.
“Angin dan petir berubah menjadi hujan, dan gelegarnya mengguncang langit!”
Tatkala menyaksikan Harvey yang tak kunjung dapat ditaklukkan, Akio kembali memberi komando. Nada suaranya tegas, disertai derit gigi yang ditekan dalam kegusaran.
Formasi Delapan Putra Guntur dan Angin kembali disusun. Pedang panjang khas negeri kepulauan di tangan mereka disarungkan dalam irama yang nyaris identik.
Dan dalam waktu yang nyaris bersamaan, mereka kembali mencabutnya.
“Bunuh!”
Teriakan ini menggema bersamaan dengan teknik khas negeri kepulauan: iaido, jurus tebasan cepat ala kendo yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ini bukan sembarang jurus—melainkan seni membunuh tercepat dan paling mematikan yang hanya bisa dikuasai oleh pendekar kelas atas.
Delapan pendekar elit itu kini mengayunkan pedang mereka bersamaan, menyatu dalam satu irama yang menggema seperti deru badai.
Serangan mereka mengalir bak tsunami tak terbendung, menyapu segalanya di hadapan mereka, mengarah lurus ke Harvey.
Kekuatan gabungan ini begitu dahsyat. Satu tebasan mereka bagaikan bisa merobek langit. Bahkan dewa perang pun bisa binasa dalam sekejap.
Wajah Akio yang tadinya penuh tekanan, kini berubah menjadi ekspresi tenang. Ia tahu, bahkan dirinya tak akan mampu bertahan jika berada di posisi Harvey.
Dan dalam hati kecilnya, muncul satu penyesalan: Mengapa dirinya tidak mengundang saksi untuk menyaksikan pertarungan luar biasa ini?
Andai saja orang-orang tahu, pertarungan ini bisa mengangkat nama besar Perguruan Shindan ke puncak kejayaan.
Dengan pemikiran itu, Akio segera merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Jemarinya dengan cekatan menekan layar, menghubungi seseorang melalui panggilan video.
Sambungan terhubung nyaris seketika. Di layar, muncul wajah Lexie yang memesona. Separuh wajahnya tertutup, dan dia masih duduk di balik kemudi Ferrari, tampak tak sabar.
Dengan ekspresi kesal, dia bertanya, “Sudahkah kamu menghapus Harvey dari sejarah?”
“Belum,” jawab Akio dengan santai. “Tapi sebentar lagi akan selesai.”
“Aku mengundang Nyonya untuk menyaksikan momen bersejarah ini.”
Sambil berbicara, Akio menaruh ponselnya di atas meja kopi di sisinya, memperlihatkan medan pertarungan pada layar.
Di seberang layar, mata Lexie membelalak saat melihat Harvey terkepung oleh Delapan Putra Guntur dan Angin. Raut wajahnya berubah dari kaget menjadi dingin dan sinis.
“Delapan Putra Guntur dan Angin!” serunya, suaranya tajam seperti belati.
“Harvey, kamu sial hari ini karena bertemu mereka!”
“Kalau kamu bisa selamat dari jurus pamungkas mereka, aku bersumpah akan mengganti nama belakangku dengan nama keluargamu hari ini juga!”
“Kamu hanyalah lelaki muda yang mengandalkan kekuatan orang lain untuk menindas, berpikir bahwa kamu bisa mengguncang Hong Kong dan Makau sekehendak hati?”
“Hari ini, semua keangkuhanmu, semua kesombonganmu—akan runtuh di hadapanku!”
“Aku sudah menyarankan kamu untuk menjadi anjing Vince, tapi kamu memilih jalan lain!”
“Lihat akibatnya sekarang!”
“Karena kelancanganmu, delapan belas generasi leluhurmu akan dikutuk, tulang-tulang mereka akan digiling menjadi debu!”
“Bahkan kura-kura kesayanganmu akan dipotong-potong dan dijadikan sup jeli kura-kura!”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2747 – 2748 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2747 – 2748.
Leave a Reply