Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2683 – 2684 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2683 – 2684.
Bab 2683
Saat Mitchell melancarkan aksinya, sekelompok murid dari Balai Penegakan Hukum datang dari belakang. Mereka menurunkan sebuah peti mati dari jok belakang mobil.
Peti mati itu terbuat dari kayu nanmu emas yang mahal, dan dilemparkan ke tanah dengan bunyi berat, “bang!”
Mitchell berdiri dengan ekspresi dingin dan menyeramkan, lalu berkata dengan suara tajam,
“Tuan York, Coba lihat! Ini peti mati yang saya pesan khusus untuk Anda, dengan harga yang tidak murah!”
Wajahnya penuh kebencian, sorot matanya seperti bara yang menyala.
“Saat kamu mati nanti, akulah yang akan mengantar tubuhmu masuk ke dalam peti ini dengan tanganku sendiri!”
“Setelah itu, aku akan berangkat ke Lingnan, ke Shanghai…”
“Keluarga istrimu, akan kubantai semuanya, dan kujejalkan ke dalam peti ini juga!”
“Leluhurmu, akan kugali dari liang kubur dan kulemparkan ke dalamnya!”
“Bahkan jika kamu punya seekor anjing, akan kubenamkan juga ke dalam peti ini dan menguburnya hidup-hidup!”
“Tenang saja, aku akan mencarikan lokasi feng shui terbaik untuk pemakaman kalian semua. Aku pastikan, kalian akan terlahir kembali dalam keluarga baik di kehidupan selanjutnya!”
Tawa menyeramkan menggema dari tenggorokannya.
“Ahahahaha——”
Suasana menjadi semakin mencekam.
“Bajingan! Berani-beraninya kamu membunuh anakku, Mitchell!”
“Aku akan melenyapkan seluruh keluargamu!”
“Akan kuhancurkan leluhurmu sampai jadi abu!”
Pada titik ini, kendali diri Mitchell runtuh. Nada bicaranya tak lagi stabil. Ia seperti orang yang terserang kegilaan dingin yang menggerogoti dari dalam.
Para murid Balai Penegakan Hukum yang berada di sekitarnya serempak merinding. Ada hawa dingin yang menjalar di sepanjang tulang belakang mereka.
Itu pertama kalinya mereka menyaksikan kepala balai kehilangan ketenangannya secara total.
Namun Harvey tetap tenang. Wajahnya tak menunjukkan sedikit pun ketegangan. Ia menuangkan teh ke cangkir kecil, lalu menatap Mitchell sejenak dan berkata dengan datar,
“Kalau dari ucapanmu tadi, sepertinya kamu-lah yang tak perlu pergi dari sini.”
“Peti mati dari nanmu emas itu memang bagus. Mari kita gunakan untuk mengubur kamu, si pengkhianat, bersama dengan ahli pedang dari negeri kepulauan itu.”
“Saya yakin kamu akan menyukai perlakuan ini.”
Setelah kata-kata itu, Harvey mengangkat cangkir tehnya dan menyeruput perlahan, seolah sedang menikmati sore yang damai, bukan tengah berdiri di hadapan seorang pria haus darah.
“Dasar bajingan!”
“Tuan York, Anda sangat kurang ajar kepada Kepala Balai Bauer!”
“Siapa yang memberi Anda keberanian?!”
Suara-suara marah bersahutan, namun sebelum suasana memuncak, beberapa mobil Mercedes-Benz G-Class berbelok tajam dan berhenti di depan pintu masuk budokan.
Pintu-pintu mobil ditendang terbuka dari dalam. Muncullah sekelompok pemuda-pemudi berpakaian mewah, masing-masing membawa aura yang luar biasa.
Berbeda dari generasi kedua kebanyakan, mereka tidak datang bersama pengawal. Di pinggang mereka tergantung senjata api dan pedang-pedang berhias permata dan emas.
Tatapan mata mereka tajam, seperti orang-orang yang telah kenyang melihat kekejaman dunia.
Seorang wanita muda berjalan paling depan. Parasnya menawan, tubuhnya ramping, dan kali ini ia mengenakan cheongsam ketat yang menonjolkan pinggang mungilnya.
Ia adalah Scarlett Leithold—putri kebanggaan Kuil Tao Wumei, tanah suci bela diri dari Lingnan.
Kehadirannya kali ini membawa nama besar kuilnya. Dengan langkah mantap, dia menaiki tangga batu dan menunjuk lurus ke arah Harvey.
“Tuan York!” serunya tajam. “Kamu memang pandai bermain trik saat di Mansion Keluarga Hamilton. Aku tak sempat mengurusmu waktu itu!”
“Kamu juga bertindak semena-mena di pelelangan milik Kuil Tao Wumei. Untung saja Biksu Suci kami berhati besar dan enggan memperpanjang masalah.”
“Tapi sekarang, kamu berani mempermalukan Mitchell Bauer, Kepala Balai Penegakan Hukum Gerbang Naga?!”
“Kamu mengabaikan hirarki, melanggar aturan, dan mengucapkan kata-kata penuh penghinaan! Perbuatanmu sungguh tak termaafkan!”
“Aku perintahkan kamu untuk berlutut sekarang juga dan meminta maaf kepada Kepala Balai Bauer! Segera! Tanpa syarat!”
“Jika kamu menolak, maka aku akan menjatuhkan hukuman atas nama lima budokan!”
Scarlett berdiri angkuh di atas tangga batu. Ia tampak seperti penguasa dunia yang turun dari langit, membawa restu dari kekuatan tertinggi.
Di matanya, perintahnya adalah titah mutlak.
Meski banyak orang tahu bahwa Harvey, Pangeran York dari Lingnan, adalah pimpinan Gerbang Naga Cabang Kota Modu, Scarlett tetap memandangnya rendah.
Bagi Scarlett, nama Harvey bukanlah sesuatu yang patut diperhitungkan di hadapannya.
Andai saja bukan karena aturan yang mengikat dari Kuil Tao Wumei, dia sudah lama bertindak sesuka hati.
Dalam pikirannya, membunuh Harvey hanya memerlukan satu tamparan ringan.
Bab 2684
Harvey menatap Scarlett dengan sorot mata dingin.
“Tak perlu repot menyuruh siapa pun untuk menyelidik. Semua orang tahu, kedatanganmu kali ini pasti atas perintah Vince,” ucapnya, nadanya datar, seolah kata-katanya tak perlu penekanan lagi.
Deretan sosok di belakang Scarlett pun tak luput dari pandangannya. Mereka adalah para tokoh dari tempat suci seni bela diri ternama, utusan dari berbagai aliran utama.
Kedatangan mereka bukan sekadar untuk menyaksikan pertarungan. Di balik kehadiran itu terselip misi lain—unjuk kekuatan dan menjabat sebagai wasit tak resmi.
Namun semua itu tak berarti apa-apa bagi Harvey. Ia tak merasa perlu memberi muka pada siapa pun. Tatapannya kembali beralih pada Scarlett, dan kali ini ucapannya lebih menusuk dari sebelumnya.
“Scarlett, otak Mitchell saja sudah dipenuhi air. Jangan bilang otakmu juga rusak?”
“Dia datang membawakan peti mati, dan bersikeras tidak akan membiarkan anjingku hidup.”
“Kamu mau aku minta maaf padanya?”
“Kenapa tidak kamu suruh dia bersujud dulu di hadapanku?”
Kata-katanya seperti cambuk—tajam dan tanpa basa-basi. Namun Scarlett tidak tinggal diam. Wajahnya yang semula tenang berubah dingin, nyaris membeku.
“Bagaimana bisa kamu menyamakan dua hal itu?” serunya penuh amarah.
“Kamu bertindak sesuka hati, membantai sahabat-sahabat terhormat kami dari negara kepulauan. Sekarang, Master Pedang Miyata sendiri datang untuk menuntut keadilan bagi para muridnya!”
“Master Bauer mempertimbangkan bahwa kamu juga berasal dari Daxia, dia menyiapkan peti mati nanmu emas kelas atas untuk membantumu beristirahat dengan tenang!”
“Seharusnya kamu sadar betapa mulianya niat ini!”
“Kamu bahkan tidak tahu caranya berterima kasih, ya?”
“Karena terlalu banyak orang tak tahu malu sepertimu, moralitas Daxia jadi semakin rusak!”
Wajah Scarlett berubah sendu, penuh rasa kecewa yang ditumpahkan tanpa tedeng aling-aling.
“Saat kamu dengan pongah membunuh Naoto Takei, apa membayangkan bahwa hari ini pasti datang?”
“Coba renungkan! Sebenarnya manusia macam apa dirimu itu?”
“Pangeran York dari Lingnan? Ketua cabang Gerbang Naga?”
“Hentikan lawakan ini!”
“Dengan kekuatanmu yang hanya segitu, kamu masih berani memancing murka para bangsawan negeri pulau. Dan kini, Pendekar Pedang Shinkage datang sendiri. Hidupmu sudah di ujung tanduk, Harvey!”
Namun Harvey tetap tenang, matanya tak menunjukkan perubahan emosi sedikit pun.
“Jadi kamu begitu yakin Miyata Shinnosuke adalah lawanku?”
“Apa?!” Scarlett melangkah mundur setengah jengkal, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan. “Tuan York, apa maksud Anda?”
“Jangan bilang kamu pikir kamu bisa mengalahkan Master Pedang Miyata?”
“Berhentilah bercanda, tolong!”
“Aku katakan padamu! Kalau kamu bisa mengalahkan Tuan Miyamoto, aku akan berlutut di hadapanmu dan memanggilmu ‘Ayah’!”
Nada suaranya sarkastis, wajahnya penuh penghinaan. Kepercayaan dirinya seakan tak tergoyahkan.
“Anak muda, percaya diri itu bagus. Ttapi percaya diri tanpa dasar hanyalah kesombongan yang bodoh! Kamu akan mati dengan tragis!”
Bagi Scarlett, semua kemarahannya pada Harvey kini telah meledak. Baginya, pria itu adalah simbol kesombongan tanpa dasar, dan ia ingin menertawakannya, merendahkannya, hingga hancur di hadapan umum.
“Aku beri kamu satu kesempatan terakhir. Jika kamu tidak berlutut dan meminta maaf, maka kamu akan menanggung akibatnya!”
Percaya dirinya tak tergoyahkan, sebab dia berasal dari Kuil Tao Wumei—salah satu tempat suci yang disegani di dunia seni bela diri.
Kali ini, Kuil Tao Wumei datang langsung untuk menyaksikan pertarungan bersejarah.
Bahkan tokoh-tokoh penting dari Hong Kong dan Makau pun menunjukkan rasa hormat yang besar padanya. Namun Harvey? Pria itu menolak menunjukkan sikap sopan sedikit pun!
Sikap tak tahu terima kasihnya bukan hanya pelecehan terhadap dirinya, tapi juga penghinaan terang-terangan terhadap nama besar Kuil Tao Wumei!
Scarlett tak bisa menerima itu.
Para wanita di sekelilingnya yang berasal dari tempat suci lainnya pun menatap Harvey dengan jijik dan mencibir terang-terangan.
Mereka semua adalah pejuang yang telah berlatih sejak belia, dengan teknik dan insting yang tajam. Dan mereka sepakat: Harvey, meski tampan, tak lebih dari gigolo nekat yang tak tahu tempat.
Berani-beraninya dia memprovokasi sosok penting seperti Kepala Balai Bauer?
Dan lebih gila lagi—berani membunuh bangsawan dari negara kepulauan?
Bagaimana bisa dia memiliki keberanian sebesar itu?
Bagaimana dia bisa percaya diri menyebut dirinya orang nomor satu?
Namun kini, akibat dari semua kesombongan itu datang mengetuk pintu.
Dewa perang dari negeri kepulauan, pendekar pedang dari Shinkage—Miyata Shinnosuke—datang langsung menuntut darah.
Semua orang menanti, ingin melihat bagaimana Harvey akan menemui ajalnya.
Melihat Scarlett berdiri dengan angkuh di sisinya, Mitchell pun terkekeh pelan. Senyum liciknya memperlihatkan kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
“Harvey,” katanya sambil menatap pria itu dengan tatapan meremehkan. “Aku mengirimkan peti mati itu padamu karena kamu adalah murid Gerbang Naga.”
“Kamu seharusnya berlutut dan berterima kasih padaku!”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2683 – 2684 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2683 – 2684.
Leave a Reply