Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2671 – 2672 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2671 – 2672.
Bab 2671
“Kakek!”
Katy menjerit ketika melihat pemandangan yang begitu mengejutkan hingga wajahnya seketika pucat pasi. Tubuhnya nyaris tak bisa berdiri tegak, seakan ruhnya terbang meninggalkan raga.
Di sisi lain, Harvey mengernyit. Pandangannya terpaku pada garis hitam yang berkelok di antara alis Dean. Garis itu perlahan menyusut, namun mengarah dengan pasti ke arah jantung.
Dalam sekejap, Harvey menyadari—jika dibiarkan terus, ini bisa menjadi akhir dari segalanya.
Jika racun itu menyusup ke jantung, Dean mungkin akan tewas saat itu juga—tanpa sempat mengucap kata terakhir.
Namun Harvey bukan dokter. Menghadapi situasi sekritis ini, ia tahu dirinya hanya bisa bertindak dengan naluri dan keberanian.
Dalam sepersekian detik, Harvey menggenggam pisau bedah yang tertancap di tangan Dean. Dengan satu gerakan tegas, ia menekannya ke titik akupuntur besar di dada Dean, membuat darah kembali mengucur.
Tindakan itu bukan tanpa tujuan—Harvey berupaya mengalirkan sebagian racun keluar dari tubuh, sekaligus menghentikan aliran garis hitam terakhir yang hendak menyusup ke jalur meridian jantung.
Begitu selesai, Harvey membentak lantang, “Keluar!”
Suara itu tidak keras, tapi mengandung kekuatan tak terbantahkan—nada dari seseorang yang terbiasa memimpin dan memerintah.
Aura perintah itu membuat orang-orang seperti Kimmy terdiam, seolah otak mereka seketika beku, tak mampu bereaksi dengan cepat.
Meski Harvey belum tahu siapa wanita yang menyerangnya tadi, ia sadar satu hal: jika ia terganggu, fokusnya bisa buyar. Dan itu bisa berarti kematian bagi Dean.
Dia tidak punya waktu untuk meladeni Kimmy. Prioritasnya kini adalah bertarung melawan waktu—mengeluarkan racun yang mengancam nyawa Dean. Sedetik saja terlambat, seluruh usahanya bisa sia-sia.
Dengan pikiran penuh konsentrasi, Harvey menepuk dada Dean menggunakan tangan kirinya—tujuannya jelas: melindungi bagian darah di jantung yang belum tercemar racun.
Tak berhenti di situ, ia kemudian menekan tubuh Dean langsung ke dalam racun, membiarkan zat beracun itu saling menetralkan di dalam tubuh—sebuah pertaruhan besar demi menyelamatkan nyawa.
Langkah selanjutnya, Harvey mengangkat pisau bedah dan menusuk tajam ke titik Baihui di puncak kepala Dean.
Seketika, darah hitam menyembur deras, mengejutkan semua orang yang menyaksikan. Tapi serangan racun ke jantung pun langsung terhenti.
Untuk sementara, Harvey berhasil menghentikan kematian yang sudah menggantung di ambang.
“Dasar bajingan!”
“Beraninya kamu menyakiti Penatua Cobb?!”
“Beraninya kamu menyuruhku keluar?!”
“Apakah kamu tahu siapa aku?!”
Kimmy, yang akhirnya tersadar dari keterpakuannya, meluapkan amarahnya. Melihat kondisi Dean yang mengenaskan dan darah yang mengalir, ia mengangkat senjata kembali, mengarahkannya langsung ke kepala Harvey.
“Kamu orang Daxia ingin membunuh Dewa Perang Nanyang-ku!”
“Kamu pantas mati!”
Bagi Kimmy, nyawa Dean boleh saja berada di ujung tanduk. Tapi ia tidak boleh mati sekarang—tidak sebelum mengungkapkan rahasia dan pengalaman kultivasinya yang diwariskan turun-temurun.
Itu bukan sekadar ilmu. Itu adalah warisan dari generasi ke generasi para dewa perang—lebih berharga dari kekayaan, lebih mulia dari status.
Jika dia berhasil mendapatkan warisan itu, bukan tak mungkin keluarga Moreno akan melahirkan seorang dewa perang baru.
“Berhenti!”
Katy, yang sedari tadi terdiam karena syok, akhirnya bergerak. Ia melompat maju dan berdiri tepat di hadapan Harvey, tubuhnya menjadi perisai hidup.
Tangannya mencengkeram pergelangan Kimmy, menahan gerakan gegabahnya.
“Nona Moreno,” katanya dengan suara dingin, “berhenti!”
“Wanita jalang! Ada yang mencoba mencelakai Dewa Perang Nanyang kita, dan kamu malah berdiri di pihaknya? Sebagai pemimpin Geng Nanyang, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?”
“Ini kakekmu sendiri!”
“Kamu rela melihatnya mati?!”
“Kamu membantu musuh dan mendukung kejahatan!”
Wajah Kimmy merah padam oleh amarah.
“Aku bisa paham betapa frustrasinya kamu selama bertahun-tahun merawat lelaki tua yang sudah tak berguna!” serunya tajam.
“Tapi dia tetaplah kakekmu! Bagaimana mungkin kamu tega seperti ini?”
“Katy, aku sangat tak mengerti, bagaimana mungkin seorang perempuan lemah seperti kamu, yang bahkan tidak tahu arti kesetiaan dan bakti kepada keluarga, bisa dipercaya memimpin Geng Nanyang?!”
“Apakah kamu tidak tahu bahwa menghormati yang tua dan menyayangi yang muda adalah kebajikan paling dasar?!”
Bab 2672
“Kimmy, jangan menuduhku dengan tuduhan seberat itu!”
Nada suara Katy terdengar tegas namun menahan emosi. Ekspresinya membeku, seperti mata air musim dingin yang mendadak membeku di puncak salju.
Ia menggenggam erat pergelangan tangan Kimmy, seolah ingin menghentikan badai yang tengah mengamuk.
“Tuan York adalah ahli yang aku undang secara pribadi!” katanya, suaranya penuh keyakinan.
“Dia menguasai ilmu pengobatan sekaligus memahami bagaimana cara menetralisir racun mematikan yang menggerogoti tubuh Kakek.”
“Sebenarnya, jika tahap terakhir hari ini berhasil diselesaikan, maka Kakek akan selamat.”
“Bukan hanya sekadar hidup, ia bahkan bisa memperpanjang usianya puluhan tahun dan memulihkan kekuatan tempurnya seperti sediakala.”
“Ini bukan hanya penting bagi Geng Nanyang, tapi juga menyangkut martabat seluruh Negeri Nanyang!”
Napas Katy mulai berat, namun ia tetap berdiri tegak. “Sekarang saat paling genting untuk mengeluarkan racun dari tubuh Kakek. Nona Moreno, kumohon, jangan ganggu Tuan York!”
Sebagai seseorang yang dikenal tangguh dan penuh aksi, seharusnya Katy sudah melayangkan serangan balasan.
Tapi di detik ini, ia memilih menahan diri. Ia sadar, pertempuran terbuka hanya akan merugikan Harvey dan membahayakan nyawa sang Kakek.
Dia hanya bisa menggantungkan harapan pada kemampuannya berbicara, mencoba menyadarkan Kimmy yang jelas-jelas memiliki niat tersembunyi.
“Anda—”
Kimmy mencoba melepaskan diri, namun genggaman Katy begitu kuat. Wajahnya yang semula dingin kini dipenuhi dengan emosi yang tak tertahankan—campuran antara murka dan keterkejutan.
Ia tak pernah menyangka, Katy yang selama ini penurut, kini berani melawannya secara terang-terangan.
Di balik kemarahan yang mendidih, ada ketakutan samar yang menyelinap ke dalam hati Kimmy. Jika Dean benar-benar pulih dan racunnya bisa disingkirkan, maka semua rencananya akan runtuh.
Tanpa pikir panjang, ia mengayunkan tangan kirinya dengan kasar.
Plaak!
Tamparan keras itu membuat Katy terhuyung ke belakang. Jejak telapak tangan merah merona langsung membekas di pipi cantiknya.
“Katy, apa kamu sudah kehilangan akal?” Kimmy membentak, matanya menyala seperti api yang baru disiram bensin.
“Kalaupun kamu mengundang tabib Daxia untuk mengobati Penatua Cobb, aku bisa memakluminya…”
“Tapi siapa yang kamu bawa? Seorang pembunuh? Penipu?”
“Apakah kamu menganggap ini lelucon?”
“Bagaimana mungkin seseorang yang tahu cara membunuh bisa menyelamatkan nyawa orang?”
“Apakah kamu ingin menyelamatkan Penatua Cobb atau justru berusaha menghabisinya?”
“Aku pikir kamu sudah gila, Katy! Kamu hanya ingin menyiksa kakekmu sendiri sampai tewas!”
Kimmy kini tak hanya marah—ia nyaris kehilangan kendali.
“Kamu pikir, hanya karena kamu cantik dan memiliki tubuh menggoda, kamu bisa bertindak semaumu?”
“Tapi jika kamu sampai menyebabkan kematian Penatua Cobb, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Kamu harus membayarnya dengan nyawamu sendiri!”
“Kamu undang orang asing seenaknya, lalu membiarkannya menyentuh tubuh Penatua Cobb—satu-satunya tokoh tertinggi dalam struktur kekuasaan Negeri Nanyang?”
“Ini sangat keterlaluan! Sangat keterlaluan!”
“Apa kamu pikir aku buta? Itukah yang kalian sebut menyelamatkan orang?”
“Dia langsung menusukkan pisau bedah ke kepala Penatua Cobb! Kalau itu bukan upaya pembunuhan, lalu apa?”
“Katy, jika kamu tidak segera menghentikannya, jangan salahkan aku bila aku bersikap kejam!”
“Sebagai pemimpin Geng Nanyang, kamu malah bekerja sama dengan orang luar untuk membunuh Dewa Perang, Penatua Cobb?”
“Kamu pantas mati!”
Ucapan itu meluncur deras seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Penuh kebencian dan kesumat.
Namun di sela amarah itu, Kimmy melirik ke arah Harvey. Pandangannya tajam, penuh kewaspadaan.
Saat itu, Harvey sedang mengangkat tubuh Dean dengan hati-hati, lalu dengan tenang mencabut pisau bedah yang tertancap di kepalanya.
Anehnya, alih-alih menyebabkan pendarahan atau trauma, tindakan tersebut justru membuat rona hitam di wajah Dean perlahan memudar.
Ekspresinya yang semula tegang kini melonggar, seperti orang yang baru saja bebas dari cengkeraman mimpi buruk.
Pemandangan itu membuat pupil mata Kimmy menyempit.
Ia tahu, jika Dean pulih, maka segalanya akan berubah. Ia bahkan rela menyerahkan rahasia kultivasi Dewa Perang. Tapi satu hal yang tak bisa ia terima: kebangkitan Dean.
Karena jika Dean pulih…
Maka dirinya akan binasa.
Tatapannya kini berubah dingin, mengarah lurus ke Katy. Tak ada lagi sekadar kemarahan di sana—yang tersisa hanyalah niat membunuh yang mendidih.
Namun Katy, meski tak tahu isi kepala Kimmy, tetap berdiri teguh dalam pendiriannya.
“Karena aku yang memutuskan untuk memanggil orang ini demi mengobati Kakek, maka aku juga yang akan bertanggung jawab.”
“Jika Kakek meninggal… akulah yang akan menanggung akibatnya.”
“Bagaimanapun juga, dia kakekku. Ini bukan urusanmu, Kimmy!”
“Katy, kamu sudah gila!” Kimmy berteriak. Ia berusaha keras melepaskan diri dari genggaman Katy, namun gagal.
Akhirnya, dia memberi perintah pada para pengawal di sekitarnya dengan suara nyaring:
“Cepat! Tangkap penipu itu dan selamatkan Penatua Cobb!”
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2671 – 2672 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2671 – 2672.
Leave a Reply