Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2639 – 2640 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2639 – 2640.
Bab 2639
Di saat itu, rona wajah Louis berubah-ubah, seperti badai yang tak menentu.
Apa yang terjadi di hadapannya kini, bukan sekadar ancaman—ini adalah penghinaan telak bagi harga dirinya.
Louis, sang penjelajah tangguh yang telah menaklukkan setiap sudut Benua Hitam, dikenal karena keberaniannya menghadapi maut tanpa gentar.
Namun hari ini, dia tidak menyangka akan berada dalam posisi tertekan seperti ini. Sosok yang berdiri di depannya, tak hanya lebih kejam, tetapi juga lebih mengerikan dari siapa pun yang pernah dia hadapi.
Granat yang digenggam orang itu seperti simbol ajal—siap meledak kapan saja dan menyeret mereka semua menuju kematian.
Selama ini, Louis meyakini dirinya tak kenal rasa takut. Ia percaya, bahkan di ambang kematian sekalipun, ia masih bisa menampar wajah musuh-musuhnya dengan angkuh.
Tapi kali ini, kehadiran pria misterius itu mengguncang keyakinannya.
Ketakutan yang selama ini tersembunyi, muncul ke permukaan—dan Louis akhirnya menyadari satu hal: keberaniannya selama ini lahir dari keyakinan bahwa ia tidak akan benar-benar mati.
Namun, begitu kehilangan kendali atas situasi, nyawanya pun bisa melayang kapan saja.
“Aku… akan menjadi pengecut seperti orang lain!” Kesadaran pahit itu menghantam kesombongannya. Wajah Louis mengeras, penuh duka dan amarah yang bercampur ketakutan.
“Wah, berani-beraninya kamu! Pembunuh keluarga Mendoza! Bagaimana bisa kamu berani mendaftar?!”
“Lihat saja besok! Aku akan membantai seluruh keluargamu! Aku akan menggali tulang belulang leluhurmu dan menghancurkannya jadi abu!”
Meski nada bicaranya tetap nyaring, namun jelas terlihat bahwa wajah Louis kini kusam dan muram.
Dia tak lagi memiliki keberanian untuk mati bersama musuhnya, tetapi ego dan gengsinya menolak untuk sepenuhnya menyerah.
Baam!
Sebuah tamparan telak mendarat dari punggung tangan Harvey, menghantam wajah Louis tanpa ampun. Wajah Harvey tetap datar, dingin, dan tak menyisakan belas kasihan sedikit pun.
“Mengapa kamu banyak mengeluh?”
“Entah kita mati bersama, atau kamu berlutut dan meminta maaf.”
Harvey sangat paham bagaimana cara menghadapi orang seperti Louis.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun di medan perang, menari bersama kematian. Apa dia akan takut pada pria muda yang baru tumbuh dan hanya tahu bermain tipu muslihat?
Wajah Louis kini bengkak parah, merah padam seperti bara. Mungkin inilah pertama kalinya dalam hidupnya dia benar-benar dipermalukan, sehingga rona wajahnya berubah drastis seolah tak percaya ini nyata.
“Ah!”
Teriakan serempak meluncur dari sekelompok wanita anggun yang berada di sana. Wajah-wajah mereka seketika memucat, tampak panik dan putus asa.
Mereka takut Louis akan kehilangan kendali. Jika itu terjadi, masa muda dan hidup mewah mereka akan sirna dalam sekejap.
Wajah Katelyn juga berubah pucat pasi. Ia tak pernah membayangkan akan ada orang yang berani memperlakukan mereka seperti ini—apalagi dia, yang merasa memiliki segalanya.
Meski ia berusaha memanggil Louis, namun tidak ada hasil yang memuaskan.
Katelyn hanya menundukkan kepala, berniat meninggalkan tempat itu. Namun belum sempat ia melangkah jauh, matanya menangkap satu hal.
Seluruh pintu masuk dan keluar telah diblokade oleh pasukan Istana Naga. Sikap mereka jelas: jika ada yang mati, maka semuanya akan mati bersama.
Rasa takut menggerogoti Katelyn dari dalam.
Dia masih muda, masih banyak hal yang ingin ia nikmati. Kekayaan, kehormatan, masa depan—semuanya belum ia genggam sepenuhnya. Ia tidak ingin mati di tempat ini.
Sementara itu, Louis menyentuh pipinya yang lebam dengan tangan kiri. Ia tertawa kecil, namun tawa itu getir—penuh kemarahan yang tak tertahankan.
“Apa kamu yakin bisa menentukan semuanya sekarang?”
“Sudah kukatakan, aku tak tertarik dengan dua pilihan yang kamu sodorkan padaku!”
“Aku akan menciptakan jalan ketiga. Bukan hanya aku akan tetap hidup, tapi aku juga akan membunuhmu!”
Tatapannya tajam mengarah ke Edwin. Ia menyipitkan mata, lalu berbicara dengan suara menekan:
“Tuan Muda Mendoza, kamu bukan orang jahat. Tapi dengan seseorang seperti dia di sisimu, tak heran Keluarga Mendoza semakin berjaya selama ini.”
“Tapi sebaiknya kamu jaga baik-baik dia… Karena jika tidak, aku akan membunuhnya.”
Tersirat jelas bahwa Louis, meski baru bertemu Harvey hari ini, telah menyimpan niat membunuh pria itu. Ia tidak bisa membiarkan rasa malu ini berlalu begitu saja.
Bagi pria sekuat Louis, yang telah lama menguasai dua kota besar seperti Hong Kong dan Makau, tamparan itu lebih dari sekadar penghinaan—itu adalah deklarasi perang. Dan dia bersumpah untuk membalasnya.
Edwin hanya memasang ekspresi datar. Ia tahu, di hadapan Harvey, dirinya tidak punya tempat untuk bicara.
Jika Harvey memang ingin mati bersama musuh, maka Edwin juga telah menyiapkan dirinya untuk berjuang mati-matian di sisinya.
Harvey menepuk pipi Louis pelan, dengan sikap tenang dan santai, seolah tidak ada yang serius sedang terjadi.
“Tuan Muda Caston, jangan banyak bicara kosong. Jalan ketigamu itu bukan sesuatu yang bisa kuterima.”
“Berlutut atau mati. Itu saja pilihannya. Cepatlah ambil keputusan.”
“Waktumu hampir habis.”
“Neraka sudah menunggu.”
Bab 2640
Kelopak mata Louis berkedut hebat. Di tengah situasi yang telah memojokkannya habis-habisan, kehadiran Harvey justru membuatnya merasa semakin tak berdaya.
Seolah-olah semua pilihan telah dirampas darinya, bahkan untuk mempertahankan martabat pun terasa sia-sia.
Dalam keputusasaan yang terbungkus sindiran, Louis membuka suara, “Wah, apa benar kamu tidak takut mati?”
“Saya takut. Siapa yang tidak takut pada kematian?” jawab Harvey dengan nada tenang, tanpa sedikit pun keraguan dalam tatapan matanya.
“Tapi aku bukan siapa-siapa. Lalu bagaimana denganmu?”
Harvey melanjutkan dengan santai namun penuh makna, “Kamu salah satu dari empat tuan muda terhormat di Kota Hong Kong. Kamu pernah tak terkalahkan di Benua Hitam dan memiliki masa depan yang cemerlang.”
“Jika kita mati bersama, tak peduli dari sudut mana pun aku menghitungnya, aku tak akan rugi, bukan?”
“Saat aku mati, semua orang akan melupakanku.”
“Tapi semua orang akan tetap ingat, bahwa Tuan Muda Caston adalah seorang tolol. Ia memilih mati bersama orang kecil hanya demi mempertahankan harga diri yang tak seberapa.”
Percakapan itu terdengar ringan—seolah dua sahabat tengah bercakap santai. Namun bagi Helma dan yang lain, kata-kata itu bagai cambuk petir yang menyambar tanpa ampun.
Satu orang gila saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduk meremang. Tapi dua orang gila yang berdiri bersama dengan pandangan senada? Itu sangat mengerikan.
Ketegangan merambat ke sekujur tubuh semua orang. Bahkan sebagian dari mereka merasa seolah tak mampu menahan diri untuk buang air kecil.
Louis menyipitkan mata, mencoba menangkap secercah ketakutan di wajah Harvey. Namun yang ia lihat hanyalah ketenangan. Sosok itu berdiri kukuh, acuh tak acuh, seolah telah terbiasa bermain-main di ujung kematian.
Louis tidak habis pikir—dari mana datangnya keberanian seperti itu?
Apakah dia pernah berada di garis depan medan perang? Apakah dia pernah merangkak keluar dari timbunan mayat, mencicipi bau darah yang tak bisa hilang dari ingatan?
Kalau tidak, mana mungkin seseorang memiliki kepercayaan diri semacam itu?
Pikiran itu membuat Louis menarik napas panjang dan akhirnya berkata, “Harus kuakui, kamu memang hebat. Kamu benar-benar kuat, aku mengagumimu.”
“Karena kamu sehebat itu, aku menyerah.”
“Saya minta maaf.”
“Saya salah tadi. Saya minta maaf kepada kalian semua.”
Namun Harvey menatapnya tanpa goyah, suaranya tetap datar namun menusuk, “Tuan Muda Caston, kalau ingin menyerah, bukan seperti ini caranya.”
“Berlututlah, minta maaf, dan lepaskan Irene.”
“Ketiganya tak bisa dipisahkan.”
“Kalau salah satu saja tidak kamu lakukan, kita semua akan mati bersama.”
Mata Louis kembali berkedut. Nada suaranya mengeras, penuh emosi, “Bocah tengik, jangan terlalu kurang ajar!”
“Saya melihat kamu sebagai orang yang punya nyali, maka saya bersedia minta maaf kepada Edwin.”
“Tapi soal Irene… apa urusannya denganku kalau dia bermasalah dengan Katelyn?!”
“Lagipula, kamu yakin aku takut padamu?”
“Kalau memang harus, saya bisa perintahkan semua orang untuk melepaskan tembakan sekarang juga. Kita lihat siapa yang akan mati!”
Begitu kata-kata itu meluncur, para pengawal Louis yang berkulit hitam melangkah maju serempak. Mereka membuka pengaman senjata masing-masing dan mengarahkan moncong senapan langsung ke kepala Harvey.
Namun Yoana tidak tinggal diam. Dengan satu isyarat tangannya, orang-orang dari Istana Naga pun melakukan hal serupa. Situasi berubah menjadi sangat genting, satu detik lagi saja bisa meledak menjadi pertumpahan darah.
Di tengah ketegangan, Harvey memandang Louis yang kini berusaha menunjukkan keberaniannya. Namun senyum samar terbit di wajah Harvey, lalu ia berkata ringan, “Mati itu mudah. Jadi buat apa repot-repot membuang peluru timah?”
“Kamu yang akan melepaskannya, atau aku yang akan melakukannya?”
Sambil berkata begitu, Harvey dengan cekatan mengeluarkan granat lain yang tadi ia rebut dari tangan Louis. Dalam gerakan cepat dan bersih, ia mencabut pin pengamannya.
Wajah Louis seketika berubah pucat pasi. Ia mungkin mampu menahan diri untuk tidak menarik pelatuk, tetapi tidak dengan pemuda ini—yang tampaknya tak ragu untuk menyeret semua orang ke jurang maut.
“Biarkan dia pergi!” seru Louis, suaranya mulai mengandung ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
Namun Harvey tetap berdiri tenang, seolah dirinya hanya sedang menghitung mundur dalam permainan anak-anak.
“Aku beri kamu waktu tiga detik.”
“Tiga… dua… satu!”
Adegan ini, nyaris identik dengan saat Louis memaksa Edwin untuk menyerah. Tak ada perbedaan sedikit pun—kecuali kali ini, peran mereka terbalik.
Louis menatap Harvey dengan ekspresi keras kepala, tetapi wajahnya jelas menyiratkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Harvey tersenyum tipis—lalu melepaskan genggaman tangan kirinya.
“Ah—!!”
Terdengar jeritan nyaring. Helma yang cantik jelita tiba-tiba terjatuh, berguling dan merangkak di lantai, ketakutan setengah mati.
Pikiran Katelyn pun kosong seketika, seolah semua fungsi logikanya berhenti bekerja.
Di saat yang sama, punggung Louis basah kuyup oleh keringat dingin.
Dan dalam detik berikutnya, ia benar-benar kehilangan kendali—ia mengompol.
Bau pesing yang menyengat menyebar cepat, begitu menusuk hingga membuat orang-orang di sekelilingnya merasa jijik.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2639 – 2640 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2639 – 2640.
Leave a Reply