Novel Kebangkitan Harvey York Bab 2545 – 2546 dalam bahasa Indonesia. Menyadur novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Agung Ye Hao“.
Harvey York’s Rise to Power Chapter / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Bab 2545 – 2546.
Bab 2545
Bagi mata awam, kejadian yang tengah berlangsung saat ini seolah nyata sekaligus ilusi yang menjelma dalam wujud paling mengerikan.
Di belakang Maki Takei, tampak bayangan menyerupai iblis muncul—bertaring dan bercakar tajam, sosok mengerikan yang seolah menyatu dengannya.
Bersama sosok itu, ia mengangkat pedang panjang dan menebaskannya lurus ke depan.
Tebasan itu bukan semata permainan senjata, tapi perpaduan antara ilmu pedang dan niat membunuh yang begitu pekat. Pukulan semacam ini mampu membuat siapa pun yang jiwanya lemah roboh tanpa sempat melawan.
Carol, yang secara kebetulan terkena imbas aura dari pedang itu, mendadak merasa seluruh tubuhnya lemas. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya nyaris kehilangan kendali buang air besar dan buang air kecil.
Dentang—!
Seberkas cahaya mendadak menyala. Laksana kilat suci di antara bayang-bayang iblis dan dewa, cahaya itu lalu bertransformasi menjadi bilah pedang yang menyala terang—menghantam dan menahan tebasan mematikan dari Maki Takei.
Dentang!
Tubuh Harvey terdorong keras ke belakang. Namun begitu ia mendarat, kakinya hanya mundur tiga langkah sebelum akhirnya berhasil menetralisir kekuatan pedang yang barusan menerpanya.
“Menarik,” ucap Harvey perlahan, tatapannya penuh ketertarikan. “Bukan kemampuan biasa di level dewa perang pemula.”
Ia menyipitkan mata, menilai lawannya. “Kamu bisa mencapai titik ini hanya dengan teknik Yin-Yang? Aku rasa, para dewa perang dari departemen militer di negara kepulauanmu tidak akan jadi lawan sepadan bagimu saat ini, kan?”
Ia mengangguk pelan, seolah mengakui pencapaian itu, lalu menambahkan dengan nada dingin, “Namun… kamu memaksa dirimu naik dari level Raja Prajurit ke Dewa Perang. Dan kekuatanmu… tetap begitu mengerikan.”
“Kamu benar-benar mencari kematian.”
“Aku hanya takut, setelah pertarungan ini selesai, tubuhmu akan runtuh. Kamu akan hancur… tak berguna lagi, bukan?”
Nada Harvey tampak datar, namun dalam tatapannya tersimpan pemahaman mendalam.
Ia tahu jelas metode kotor seperti ini.
Mengandalkan ilmu Yin-Yang, mantra, dan berbagai cara gelap untuk memaksa kenaikan kekuatan hanya berarti satu hal: menguras potensi dan kehidupan yang masih tersisa.
Apalagi jika pemaksaan itu terjadi di ambang batas kekuatan besar. Dampaknya bisa sangat mengerikan—bahkan fatal.
Melihat keadaan Maki saat ini, Harvey tahu, satu pertarungan lagi bisa saja membuat tubuh pria itu hancur. Kalau tidak mati, dia bisa jadi cacat seumur hidup.
Namun, Maki hanya meringis, tatapannya seperti membara, dipenuhi tekad mati-matian.
“Tuan York, asal aku bisa membunuhmu, aku tak peduli meski harus mati!” serunya parau, wajahnya gelap dan penuh amarah.
Ia tahu waktunya tidak banyak. Maka tanpa pikir panjang, ia mengangkat pedangnya lagi dan kembali menerjang ke depan.
Shua——!
Tebasan berikutnya datang tanpa ampun—penuh kekuatan liar dan kemarahan yang membara. Maki telah kehilangan kendali; ia tak lagi peduli pada pertahanan, hanya menyerang dan menyerang seperti orang gila.
Pedangnya menari di udara, setiap gerakan menyimpan niat membunuh yang mencekam.
Dentang—!
Namun Harvey tetap tenang.
Ia mengayunkan pedangnya dengan ringan, tepat mengenai gagang senjata Maki. Seketika, tubuh Maki terpental, terhuyung mundur lima hingga enam langkah.
Wajahnya tampak terkejut, bahkan nyaris tak percaya.
Ia menatap Harvey dengan pandangan yang sulit diuraikan, seolah baru menyadari bahwa segala usaha dan pengorbanan yang ia keluarkan—semuanya tampak sia-sia. Lawan di hadapannya tetap berdiri, nyaris tanpa luka.
Itu hanya berarti satu hal.
Harvey York… adalah seorang Dewa Perang sejati!
Keputusasaan pun menyelinap ke dalam hati Maki.
Ia menyadari, bahkan dengan kekuatan yang telah ia paksa keluar dari tubuhnya, ia tetap tidak bisa menyentuh Harvey sedikit pun. Jika pemuda itu tidak menggunakan seluruh kekuatannya, ia bahkan tak akan sanggup mendekat.
Dan begitu kekuatan yang dipinjamnya ini menghilang, maka hanya dengan satu tamparan, Harvey bisa mengirimnya ke alam baka.
Namun, Maki tidak menyerah.
Dengan gigi terkatup rapat, ia kembali melompat. Ia tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Pedang panjang di tangannya terangkat sekali lagi, dan dengan kekuatan terakhir yang tersisa, ia mengayunkannya ke arah Harvey.
Namun Harvey hanya mendesah kecil, wajahnya tampak jemu.
“Hanya mengulang beberapa gerakan yang sama? Membosankan.”
Dengan langkah ringan, Harvey maju selangkah. Ia memutar pedang negeri kepulauan yang ada di tangannya, lalu dalam satu gerakan cepat, mencabut bilah pedangnya.
Pah—!
Tebasan itu bukan menebas, tapi menampar.
Bilah pedang Harvey mengenai wajah Maki Takei seperti tamparan keras yang tak terhindarkan.
“TIDAK—!”
Jantung Maki bergetar hebat, tubuhnya terpental ke belakang. Tatapannya kosong, diliputi ketidakpercayaan. Namun kenyataan tak peduli pada rasa percaya atau tidak.
Ia tetap terlempar, tubuhnya terhantam keras ke lantai.
Bab 2546
Baam!
Suara menggelegar itu membelah udara, disusul tubuh Maki Takei yang terhempas keras ke lantai.
Ia berusaha bangkit, namun aliran kekuatan misterius menyapu tubuhnya bagai badai liar, memaksanya memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Sosok yang tadinya berdiri tegak dan menakutkan itu kini tampak lunglai seperti bola yang kempes. Tubuhnya tetap berdiri, tapi pancaran energinya telah padam.
Ia terlihat jauh lebih tua, jauh lebih rapuh—seolah seluruh vitalitasnya telah direnggut oleh pertempuran yang baru saja usai.
Wajah Maki pucat dan dipenuhi gurat kemarahan yang menua, namun tak ada jeritan, tak ada perlawanan.
Ia tidak meraung dalam dendam, hanya perlahan berlutut di tanah, genggaman tangannya masih erat memeluk pedang panjang khas negeri kepulauan itu.
Ia belum mati. Namun, jarak antara hidup dan ajalnya kini setipis hela napas.
Takdirnya, saat ini, berada sepenuhnya di tangan Harvey York. Jika Harvey menginginkannya, satu tamparan saja cukup untuk mengakhiri segalanya.
“TIDAK!”
Teriakan itu meledak dari mulut para master negeri kepulauan. Seolah dewa yang selama ini mereka puja dan hormati telah roboh di hadapan mata.
Sementara Harvey berdiri dengan tenang dan acuh, seperti dewa pembawa penghakiman yang tak tergoyahkan, para pria dan wanita dari pulau itu tampak kehilangan jiwa.
Sorot mata mereka kosong, langkah mereka limbung. Mereka tak lagi sanggup mengangkat pedang yang sebelumnya begitu mereka banggakan. Senjata itu jatuh dari tangan mereka, berdenting menyayat keheningan malam.
Di sudut pandangannya, Carol menyaksikan semua itu. Matanya membelalak, hatinya penuh dengan rasa tak percaya.
Dia mengenal Harvey, atau setidaknya, ia pikir begitu. Tapi kenyataan di depannya membuatnya terguncang.
Dia tidak menyangka pria itu mampu menjatuhkan Maki Takei secepat dan semudah ini. Mustahil.
Di sisi lain, para wanita dari negeri pulau hanya bisa menahan napas. Mereka menutup mulut mereka rapat-rapat, takut mengeluarkan satu desah pun, khawatir Harvey akan mengarahkan amarahnya kepada mereka.
“Kamu kalah.”
Ucapan Harvey meluncur pelan, disertai senyum tipis yang nyaris tak terbaca maknanya. Ia menatap Maki Takei dengan tenang, tapi dalam ketenangan itu tersimpan penghinaan mendalam.
“Aku sudah memperingatkan, jika kamu memilih bunuh diri, setidaknya kamu masih bisa menyelamatkan kehormatanmu.”
“Tapi lihatlah sekarang—kamu tak percaya padaku.”
“Tentu saja, belum terlambat.”
Dentang—
Dengan satu tendangan ringan, Harvey menjatuhkan sebilah pedang pendek bergagang kayu di hadapan Maki Takei. Senjata khas negeri kepulauan itu, lambang kehormatan terakhir bagi mereka yang dikalahkan.
“Kabarnya, samurai dari negerimu akan memilih seppuku jika kalah di medan perang.”
“Kalian bawa dua pedang: satu panjang untuk menebas musuh, dan satu lagi pendek untuk mengakhiri hidup sendiri.”
“Karena kamu tak membawa belati itu, aku memberimu satu.”
“Aku penasaran, apakah Tuan Takei bersedia menunjukkan semangat Bushido yang agung dari negeri kepulauanmu?”
Kata-kata itu dingin, nyaris tanpa emosi, namun mengguncang seluruh jiwa para penduduk pulau yang menyaksikan.
Mereka saling menatap, tubuh mereka bergetar, bukan karena dingin, tetapi oleh rasa takut dan rasa malu yang menyesakkan.
Mereka tahu Harvey tak ingin melepaskan mereka. Tidak malam ini. Ia ingin menghabisi hingga ke akar.
“Baka!”
“Lancang!”
“Bertarung sampai mati!”
“Kami, penduduk pulau, lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut!”
Teriakan-teriakan itu pecah di antara keputusasaan. Dengan gemetar, mereka kembali meraih pedang panjang yang sempat terjatuh. Mata mereka dipenuhi tekad palsu yang mencoba menutupi rasa gentar.
Namun Harvey hanya menghela napas, kecewa.
“Inikah semangat Bushido kalian? Kalau memang tidak ingin mati, maka hiduplah. Tapi jangan berbicara seolah kalian siap mati jika pada akhirnya hanya bisa menggertak.”
Nada suaranya dingin, namun jelas mengandung ejekan. Ia menatap mereka dengan mata yang tajam namun hampa. Tak ada rasa hormat di sana—hanya kehampaan.
“Kalau seppuku saja tak bisa kalian lakukan, kalian ini orang Jepang macam apa?”
Tepat saat Harvey hendak melangkah maju, sebuah ledakan lain mengguncang malam.
Baam!
Suara itu datang dari gerbang vila. Pintu besar yang semula tertutup rapat kini terhempas terbuka. Serentetan mobil Toyota Land Cruiser melaju masuk, dan ketegangan pun memuncak.
Suara mesin yang menggeram, jejak ban yang menggores kerikil, dan lambang kekuasaan yang tersemat di kendaraan—semuanya menghadirkan tekanan luar biasa.
Maki menyipitkan mata, menatap kedatangan mereka. Tiba-tiba, bibirnya menyunggingkan senyum ganas.
“Tuan York,” katanya dengan nada penuh kemenangan, “malam ini, Anda tak akan bisa membunuhku!”
Carol, yang semula berdiri dalam kecemasan, segera melihat pelat nomor kendaraan itu. Ia menarik napas lega, lalu perlahan-lahan mundur dari garis depan.
Kemunculan orang-orang ini menyapu segalanya—dan juga menutup mulutnya. Ia tak lagi punya ruang untuk berbicara.
Semoga terhibur dengan cerita Novel Harvey York dan Mandy Zimmer (Ye Hao dan Zheng Man’er) Bab 2545 – 2546 gratis online.
Harvey York’s Rise to Power / The Supreme Harvey York / Kekuatan Harvey York untuk Bangkit Chapter bab 2545 – 2546.
Leave a Reply