Novel Charlie Wade Bab 7583 – 7584

si karismatik novel Charlie Wade lengkap gratis online free - stefan stefancik - unsplash @

Novel Charlie Wade Bab 7583 – 7584 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.

The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7583 – 7584.


Bab 7583

Charlie dan Vera berjalan santai menyusuri kampus Stanford. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Mahasiswa berbondong-bondong keluar dari gedung perkuliahan dan bergerak menuju berbagai fasilitas olahraga.

Di seluruh area kampus, lapangan basket terbuka, lapangan sepak bola, lapangan tenis, hingga beragam arena olahraga lainnya hampir memenuhi setiap sudut yang tersedia. Meski Stanford bukan universitas yang berorientasi pada dunia olahraga, budaya olahraga kampus di Amerika telah mengakar begitu kuat.

Karena itu, aktivitas fisik menjadi bagian besar dari keseharian mahasiswa. Bagi sebagian besar dari mereka, begitu kelas usai, tujuan pertama bukanlah asrama atau perpustakaan, melainkan lapangan latihan.

Vera tampak begitu menikmati suasana tersebut. Hampir di setiap arena olahraga, ia berhenti sejenak untuk menyaksikan para mahasiswa berlatih. Dari raut wajahnya, Charlie dapat menangkap secercah kerinduan terhadap kehidupan kampus yang penuh semangat seperti itu.

Hal itu memang wajar. Pada usia tujuh belas atau delapan belas tahun, seseorang sedang berada di puncak vitalitasnya. Atmosfer kompetitif dan gairah yang terpancar dari berbagai aktivitas olahraga tentu memiliki daya tarik yang sulit ditolak.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sisi lapangan rugby.

Saat itu tim universitas tengah menjalani pertandingan internal sebagai bagian dari latihan. Para pelatih membagi para pemain menjadi dua kubu yang saling berhadapan dalam pertandingan sengit. Cabang olahraga ini memiliki jumlah pemain sekaligus penonton terbanyak. Banyak orang berdiri di tepi lapangan sambil mengibarkan bendera dan bersorak memberi semangat, menciptakan suasana yang begitu meriah.

Charlie dan Vera memilih duduk di tempat yang agak tenang.

Sambil menopang dagunya dengan kedua tangan, Vera memperhatikan pertandingan di lapangan lalu bertanya, “Apakah Anda pernah bermain rugby, Tuan Muda?”

“Belum pernah.” Charlie menggeleng sambil terkekeh. “Bahkan sampai sekarang aku masih belum memahami aturan permainannya.”

Vera tersenyum tipis.

“Dulu aku pernah bermain. Bertahun-tahun yang lalu, tidak ada satu pun gadis di timku yang mampu menandingi kecepatanku. Mungkin itu pengaruh Ramuan Awet Muda.”

Pada saat itu, pertandingan latihan resmi dimulai.

Charlie menyaksikan jalannya pertandingan dengan sedikit kebingungan. Para pemain saling bertabrakan, berebut bola, dan terus berteriak memberi aba-aba. Hingga akhirnya, seorang pemain bernomor punggung 10 berhasil menguasai bola, dan seketika sorak-sorai histeris membahana dari pinggir lapangan.

Vera tersenyum lalu berkata, “Sepertinya quarterback itu adalah bintang di Stanford. Lihat saja, begitu banyak penggemar wanita yang bersorak untuknya.”

Charlie memang tidak memahami posisi quarterback, sehingga ia pun bertanya, “Apakah peran quarterback memang sepenting itu?”

Vera mengangguk.

“Quarterback adalah inti dari sebuah tim. Dialah otak serangan sekaligus pemimpin yang mengendalikan permainan di lapangan.”

Sambil berbicara, pandangannya tetap tertuju pada pemain bernomor 10 itu.

“Namun menurutku, kemampuan pemain itu biasa saja. Bakat maupun kualitasnya tidak terlalu menonjol. Secara logika, dengan level seperti itu, seharusnya dia tidak menjadi quarterback utama tim Stanford. Kemungkinan besar dia memiliki latar belakang yang cukup kuat.”

Charlie tersenyum.

“Sepertinya di Amerika pun koneksi tetap memegang peranan penting. Mereka yang punya hubungan istimewa tetap bisa menjadi pemain inti.”

Vera ikut tersenyum.

“Begitulah budaya tim olahraga kampus di sini sejak dulu.”

Setelah pertandingan berlangsung sekitar setengah babak, pelatih meniup peluit tanda waktu istirahat. Para pemain pun mulai meninggalkan lapangan.

Vera berdiri sambil berkata kepada Charlie, “Tuan Muda, mari kita pergi.”

Charlie mengangguk. Saat ikut berdiri, pandangannya tanpa sadar kembali melirik ke arah lapangan.

Para pemain kini berkumpul di pinggir lapangan, sementara banyak mahasiswi berhamburan menghampiri pemain favorit mereka masing-masing.

Di antara kerumunan itu, seorang gadis blasteran Asia-Amerika Utara yang berparas cantik dengan kaki jenjang dan proporsi tubuh menawan berjalan menghampiri quarterback bernomor 10 yang berambut pirang dan bermata biru.

Wajah quarterback itu sebelumnya masih dipenuhi rasa tidak puas terhadap penampilannya sendiri. Namun, begitu melihat gadis tersebut datang, sorot matanya seketika kembali berbinar.

Bab 7584

Gadis itu menyerahkan sehelai handuk bersih kepada sang quarterback, lalu membuka sebotol minuman isotonik. Namun, ia tidak langsung memberikannya. Ia menunggu hingga Robert selesai mengusap keringat dan mengembalikan handuk itu. Barulah ia menerima handuk tersebut dan menyodorkan minuman kepadanya. Sikapnya begitu telaten dan penuh perhatian.

Dengan pendengaran yang sangat tajam serta fokus yang tertuju kepada keduanya, Charlie dapat menangkap setiap kata yang mereka ucapkan.

Saat itu, gadis tersebut berbicara dalam bahasa Inggris Amerika yang fasih sambil tersenyum.

“Robert, tadi kamu bermain dengan sangat baik. Kalau lain kali kamu bisa menyesuaikan taktik lebih cepat sesuai situasi di lapangan, performamu pasti akan jauh lebih baik.”

Sang quarterback mengangguk pelan.

“Kamu benar. Menurutku juga, kelemahan terbesarku adalah terlambat menyesuaikan strategi.”

Gadis itu kemudian menepuk lembut punggungnya sambil menghibur.

“Tidak apa-apa. Penampilanmu sudah sangat bagus. Setiap hari kamu terus berkembang. Aku yakin tidak lama lagi kamu akan benar-benar menguasai pertandingan. Aku selalu percaya padamu. Bagiku, kamu adalah yang terbaik.”

Quarterback itu memandang gadis tersebut dengan sedikit terkejut. Seberkas cahaya muncul di matanya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum getir sambil merendahkan diri.

“Semua orang memang bilang aku yang terbaik. Tapi aku tahu, sebagian besar dari mereka mengatakannya hanya karena nama belakangku, Rothschild. Kalau bukan karena nama keluarga itu, mungkin tak seorang pun akan memperhatikan pencapaianku di Stanford.”

Kening Charlie sedikit berkerut.

Rothschild?

Ternyata quarterback itu berasal dari keluarga Rothschild?

Kalau begitu, mengapa Steve tua tidak pernah menyebutkan hal ini?

Saat Charlie masih tenggelam dalam pikirannya, gadis cantik bertubuh semampai itu kembali tersenyum lembut.

“Robert, di mataku kamu memiliki sejuta kelebihan. Nama keluarga Rothschild hanyalah salah satunya. Yang benar-benar kukagumi adalah kedisiplinanmu, ambisimu, integritasmu, dan ketenanganmu. Jika boleh meminjam ungkapan klasik dari Tiongkok, kamu ibarat bunga teratai yang tumbuh dari lumpur tanpa ternoda olehnya, dibasuh air jernih tanpa menjadi angkuh, selalu menjaga jati dirimu apa adanya.”

“Benarkah?”

Quarterback itu tampak benar-benar terkejut.

Keraguan yang semula memenuhi tatapannya seolah berkurang dari tujuh bagian menjadi tiga, sementara rasa takjub yang sebelumnya hanya tiga bagian kini berubah menjadi tujuh.

Charlie menghela napas dalam hati.

Gadis ini sangat piawai.

Semua yang dilakukannya terasa begitu tepat. Ia perhatian, teliti, dan yang terpenting, sangat mahir memberikan dukungan emosional. Ia memang sedang memuji Robert, tetapi setiap kalimatnya terdengar begitu tulus, seolah lahir dari lubuk hatinya sendiri.

Melihat Charlie sudah berdiri tetapi belum juga berniat pergi, bahkan masih terus memandangi lapangan, Vera bertanya dengan heran,

“Tuan Muda, apakah Anda masih ingin menonton? Kalau begitu, kita bisa tinggal sebentar lagi. Sepertinya mereka masih akan memainkan setengah babak berikutnya.”

Kerutan di dahi Charlie semakin dalam.

Tatapannya tetap melekat pada gadis blasteran itu.

Ia menyaksikan bagaimana gadis tersebut, hanya dengan kecerdasan emosionalnya yang luar biasa, berhasil mengubah quarterback yang semula murung menjadi tersenyum lebar. Saat itulah Charlie memperoleh jawaban yang dicarinya.

Sorot matanya perlahan berubah dingin.

Itu adalah tatapan seorang pemburu yang akhirnya menemukan buruannya.

Charlie menarik Vera untuk kembali duduk, lalu berkata pelan,

“Nona Lavor, apakah Anda melihat gadis yang berdiri di samping quarterback itu?”

Vera mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu. Dia sangat cantik dan tinggi. Tingginya pasti sekitar satu meter tujuh puluh delapan. Proporsi tubuhnya juga luar biasa. Sulit rasanya untuk tidak memperhatikan gadis seperti itu. Mungkin dia sesuai dengan selera Anda, Tuan Muda?”

“Tidak.”

Charlie menggeleng pelan. Senyum dingin terukir di sudut bibirnya saat ia berkata dengan suara rendah,

“Menurutku… dia adalah seorang Cendikiawan.”


Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7583 – 7584 gratis online. Semoga terhibur.

The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7583 – 7584.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*