Novel Charlie Wade Bab 7537 – 7538 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7537 – 7538.
Bab 7537
Charlie melangkah menembus ruang gua yang lembap dan lorong panjang di dalam perut gunung. Namun di kejauhan, samar-samar tampak pintu keluar gua, sebuah bukaan yang menjanjikan dunia lain di luar kegelapan.
Begitu semakin dekat, cahaya dari luar menyilaukan matanya. Terang yang hangat itu jelas menunjukkan bahwa saat ini adalah siang hari. Suhu yang terasa nyaman juga memastikan satu hal penting: dia sudah tidak lagi berada di benua Antartika yang beku.
Saat hampir mencapai mulut gua, Charlie tiba-tiba teringat kejadian memalukan ketika pertama kali diteleportasi oleh cincin misterius itu. Refleks, ia menunduk memeriksa dirinya sendiri. Kali ini… hasilnya berbeda.
Sebelumnya, akibat penghancuran diri Senior Chardon, seluruh pakaiannya hancur tanpa sisa, membuatnya muncul dalam keadaan telanjang bulat di hadapan Vera. Sebuah kenangan yang masih terasa memalukan hingga kini.
Namun kali ini, mungkin karena ia tidak berada dalam kondisi bahaya, pakaian dan barang-barangnya ikut berpindah bersamanya.
Meski begitu, tetap ada hal yang membuatnya sedikit canggung.
Setelah pertempuran sengit melawan Brovnen, pakaiannya telah terkoyak oleh teknik “Sepuluh Ribu Pedang Kembali ke Asal”.
Ditambah luka dan darah yang belum sepenuhnya pulih, penampilannya saat ini benar-benar jauh dari kata layak—lebih menyerupai seseorang yang baru saja keluar dari medan perang berdarah.
Charlie menghela napas dalam hati.
“Sebaiknya aku menjauh dari orang-orang dengan penampilan seperti ini… jangan sampai malah membuat mereka ketakutan.”
Begitu melangkah keluar dari gua, pemandangan yang tersaji di hadapannya membuatnya terdiam sejenak.
Hamparan pegunungan hijau membentang luas, dipenuhi pepohonan yang rimbun dan segar. Udara musim semi terasa hidup—lembut, hangat, dan membawa aroma tanah serta dedaunan muda.
Dari semua itu, Charlie segera menyimpulkan bahwa dirinya berada di Belahan Bumi Utara. Dan berdasarkan suhu serta vegetasi, tempat ini jelas bukan wilayah tropis ataupun Arktik, melainkan zona beriklim sedang. Wilayah yang mencakup sebagian besar Tiongkok.
Dengan logika tersebut, ia menyimpulkan bahwa kemungkinan besar dirinya masih berada di Tiongkok. Namun, lokasi pastinya masih menjadi misteri.
Ia pun segera mengeluarkan telepon satelit yang sebelumnya ia gunakan di Antartika. Setelah membuka aplikasi navigasi dan memeriksa posisinya, ekspresinya berubah menjadi terkejut.
“Gunung Heming… di Sichuan barat?”
Ia bergumam pelan, alisnya sedikit berkerut.
“Gunung Tangisan Bangau… nama ini terasa familiar…”
Dalam sekejap, ingatannya tersambung.
Gunung Tangisan Bangau, itulah salah satu tempat yang dikenal sebagai asal mula Taoisme!
Kesadaran itu membuat napasnya tercekat sejenak.
“Jadi begitu… para kultivator di kota bawah tanah itu mewarisi ajaran Taoisme… pusat kompas ini ternyata mengarah langsung ke tempat kelahirannya…”
Pikirannya berputar cepat, mencoba menyusun kepingan-kepingan informasi yang selama ini terpisah.
“Mungkinkah… mereka pertama kali berkultivasi di sini?”
Saat ia masih tenggelam dalam keterkejutan dan kekaguman, tiba-tiba sebuah mantra muncul kembali di benaknya. Seolah terpatri secara alami dalam kesadarannya.
Ia langsung memahami fungsi mantra tersebut.
Itu adalah kunci untuk membuka gua ini… sekaligus mengaktifkan susunan teleportasi di dalamnya.
Dengan cepat, Charlie berbalik menatap dinding batu di belakangnya, tempat ia baru saja keluar.
Namun yang ia lihat membuatnya tercengang.
Pintu masuk gua itu… telah lenyap sepenuhnya.
Tidak ada celah, tidak ada retakan, bahkan tidak ada jejak sedikit pun yang menunjukkan keberadaan sebuah pintu.
Dinding batu itu tampak utuh, seolah gua tersebut tidak pernah ada sejak awal.
Namun Charlie tahu kebenarannya.
Pintu itu tidak benar-benar hilang. Hanya tersembunyi oleh formasi yang hanya bisa dibuka dengan mantra tertentu.
Ia pun menyadari bahwa setiap titik teleportasi dilindungi oleh formasi semacam ini, mengisolasinya dari dunia luar. Dari manusia biasa, maupun dari musuh yang mungkin mengincar.
Setelah itu, ia kembali memeriksa navigasi satelit.
Hasilnya menunjukkan bahwa Gunung Tangisan Bangau hanya berjarak kurang dari 1.500 kilometer dalam garis lurus dari Aurous Hill. Cukup dekat dengan markasnya.
Seketika, sebuah ide muncul dalam benaknya.
Jika tidak ada titik teleportasi lain yang lebih dekat ke Aurous Hill, maka membeli lahan di sekitar Gunung Tangisan Bangau dan menjadikannya markas baru adalah pilihan yang sangat menarik.
Dengan begitu, ia bisa dengan mudah berpindah ke kota bawah tanah di Antartika kapan pun ia ingin berkultivasi. Tempat di mana energi spiritual melimpah, memungkinkan kecepatan kultivasi meningkat hingga seratus kali lipat.
Memikirkan hal itu, hati Charlie dipenuhi kegembiraan.
Awalnya, ia mengira kota bawah tanah di Antartika akan sulit dijangkau. Bahkan dengan pesawat sekalipun, tidak ada rute langsung, dan jarak yang terlalu jauh membuat perjalanan menjadi hampir mustahil.
Namun sekarang, semuanya berubah.
Dengan adanya susunan teleportasi ini, ia tidak hanya bisa berpindah langsung dari Tiongkok ke Antartika, tetapi juga menjadikan tempat itu sebagai titik transit untuk menjangkau delapan lokasi misterius lainnya di dunia.
Pikiran itu membuat darahnya berdesir penuh antusias.
Tanpa membuang waktu untuk lebih lama menikmati suasana Gunung Tangisan Bangau, Charlie segera melafalkan mantra di dalam hatinya.
Dalam sekejap, dinding batu di hadapannya bergetar halus, lalu perlahan membuka, memperlihatkan kembali pintu masuk gua yang tersembunyi.
Ia melangkah masuk tanpa ragu.
Tak lama, ia kembali berada di ruang gua berbentuk persegi yang familiar.
Lingkaran cahaya di tanah masih berputar perlahan, memancarkan aura misterius yang tenang namun kuat.
Charlie berdiri di tengah lingkaran itu dan sekali lagi melafalkan mantra.
Cahaya menyelimuti tubuhnya.
Dalam sekejap mata, ia kembali ke pagoda persegi di kota bawah tanah Antartika. Berdiri tepat di pusat kompas.
Ia menatap sekeliling, lalu merenung dalam diam.
Pusat kompas ini… ternyata terhubung langsung dengan Gunung Tangisan Bangau—akar dari Taoisme itu sendiri.
Delapan arah pada kompas—Kan, Gen, Zhen, Xun, Li, Kun, Dui, dan Qian. Mewakili utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, dan barat laut.
Masing-masing berjarak 45 derajat dari satu sama lain dalam lingkaran 360 derajat.
Secara logis, semua titik ini pasti berpusat pada Gunung Heming di Sichuan barat.
Artinya, memilih posisi Kan akan membawanya ke wilayah utara dari Gunung Heming, sementara posisi Zhen akan mengarah ke timur.
Namun, satu hal masih belum ia ketahui.
Seberapa jauh sebenarnya jarak tiap titik itu dari pusatnya?
Bab 7538
Charlie memikirkan sejenak, lalu menyadari sesuatu.
Aurous Hill terletak di timur Gunung Heming.
Jika demikian, maka mencoba posisi Zhen, yang mewakili arah timur, akan menjadi langkah yang masuk akal.
Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah ke posisi Zhen di dalam lingkaran kompas, lalu melafalkan mantra tersebut dengan tenang namun penuh fokus.
Detik berikutnya—
Cahaya keemasan meledak, menyelimuti tubuhnya.
Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya masih berada di dalam sebuah ruang batu buatan manusia.
Namun, sensasi di udara terasa berbeda.
Ia berjalan keluar dari gua.
Di luar, suasana masih sama, siang hari, dengan musim semi yang semarak. Pepohonan tumbuh subur, angin berhembus lembut, dan langit cerah tanpa cela.
Tetapi medan di sini jelas berbeda.
Bentuk puncak gunung tidak menyerupai pegunungan Sichuan barat. Struktur tanahnya lebih kasar, lebih liar… bahkan menyerupai gunung berapi.
Perasaan asing itu membuat Charlie segera mengeluarkan telepon satelitnya.
Begitu GPS diaktifkan, ia terpaku.
“Gunung Ontake… Jepang?”
Lokasinya berada di sebelah barat Tokyo.
Gunung Ontake—salah satu gunung suci yang terkenal di Jepang, sekaligus situs keagamaan penting dalam tradisi setempat. Bahkan, Shintoisme dipercaya memiliki akar kuat di wilayah ini.
Charlie mengerutkan kening.
“Kenapa para kultivator itu membangun susunan teleportasi di Jepang…?”
Pikirannya mulai dipenuhi spekulasi.
“Mungkinkah… ini dulunya termasuk wilayah aktivitas mereka?”
Awalnya, ia mengira bahwa kesembilan titik teleportasi itu berada di dalam wilayah Tiongkok.
Namun kenyataannya, posisi Zhen saja sudah membawanya keluar negeri, ke Jepang.
Tanpa menunda, Charlie kembali ke pagoda pusat.
Ia segera mencoba posisi berikutnya.
Posisi Gen—timur laut.
Dalam sekejap, ia berpindah ke Yakutia, wilayah terpencil di Timur Jauh Rusia yang dingin dan luas.
Ia mencoba lagi.
Posisi Kan—utara.
Kali ini, ia muncul di Greenland bagian utara, bahkan sudah masuk ke dalam Lingkaran Arktik yang ekstrem.
Posisi Xun—tenggara.
Ia tiba di Pegunungan Great Dividing Range di Australia tenggara.
Posisi Li—selatan.
Ia muncul di Gunung Semeru, Indonesia.
Posisi Kun—barat daya.
Ia berada di Gunung Kilimanjaro, Tanzania.
Posisi Dui—barat.
Ia sampai di pegunungan Sierra Nevada, California, Amerika Serikat.
Dan terakhir—
Posisi Qian—barat laut.
Ia tiba di Pegunungan Alpen, di perbatasan Prancis dan Italia.
Hanya dalam waktu setengah jam, Charlie telah melintasi hampir seluruh benua di dunia.
Pengalaman itu terasa seperti mimpi yang mustahil.
Namun satu hal yang membuatnya benar-benar terpukau adalah kenyataan di balik semua ini.
Para kultivator di masa lalu, sebelum berakhirnya era Dharma, ternyata telah menjelajahi seluruh dunia.
Bahkan setelah mereka mundur ke Antartika, mereka tidak pernah benar-benar terputus dari dunia luar.
Dengan susunan teleportasi yang tersembunyi di berbagai pegunungan, mereka dapat bepergian dengan mudah antara Antartika dan berbagai penjuru dunia.
Lebih dari itu—
Fakta bahwa mereka membangun jaringan teleportasi sebesar ini menunjukkan satu hal penting.
Mereka tidak hanya sesekali mengunjungi tempat-tempat tersebut.
Mereka… membutuhkan perjalanan itu.
Sering.
Teratur.
Dan dengan tujuan tertentu.
Charlie berdiri diam di tengah pagoda, tatapannya dalam dan penuh pertanyaan.
“Pada masa itu… kebutuhan apa yang begitu besar… hingga mereka harus terus berpindah antar benua seperti ini?”
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7537 – 7538 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7537 – 7538.
Gunung semeru indonesia..wkwkwk.. coba klo dimerapi..bisa ketemu mak lampir dan grandong..
“Posisi Li—selatan.
Ia muncul di Gunung Semeru, Indonesia”
sepertinya aku harus berkultivasi ganda bersama di situ.