Novel Charlie Wade Bab 7535 – 7536 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7535 – 7536.
Bab 7535
Charlie berjalan seorang diri menyusuri jalanan kota kuno yang bersih dan sunyi itu. Setiap langkah yang ia ambil justru membuat hatinya semakin dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan, seolah ada sesuatu yang besar namun tak terlihat perlahan menekan batinnya.
Melihat luasnya kota ini, jelas tempat ini mampu menampung puluhan ribu orang. Sulit dibayangkan bahwa dahulu, puluhan ribu kultivator pernah hidup dan berkumpul di satu lokasi seperti ini.
Terlebih lagi, bahkan di masa sekarang, menemukan beberapa ratus kultivator saja sudah merupakan hal yang sangat langka.
Charlie terus mengembara, menyusuri setiap sudut kota dengan harapan yang perlahan memudar. Ia terkejut—dan sekaligus sangat kecewa.
Selain tungku alkimia yang mustahil untuk dibawa pergi, tidak ada satu pun sumber daya kultivasi tak terbatas seperti yang pernah dibayangkan oleh Brovnen.
Tidak ada pil. Tidak ada artefak sihir. Tidak ada teknik kultivasi.
Selain energi spiritual yang menyelimuti kota ini, nyaris tidak ada apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kultivasi.
Hal itu membuat Charlie tak kuasa menahan pikirannya untuk bertanya-tanya—jika para kultivator di sini memiliki tingkat kekuatan yang begitu tinggi, mengapa mereka tidak meninggalkan apa pun? Apakah mereka benar-benar membawa seluruh sumber daya mereka saat pergi?
Namun, semakin ia pikirkan, semakin terasa janggal.
Kota sebesar ini, dengan energi spiritual yang begitu melimpah sebagai fondasinya, jelas jauh melampaui kebutuhan pribadi seorang kultivator. Bahkan jika mereka membawa harta pribadi, rasanya mustahil seluruh jejak sumber daya bisa lenyap tanpa sisa.
Mereka bahkan tidak merebut kota ini, juga tidak membongkar formasi pelindungnya. Jika demikian, mengapa mereka begitu peduli pada barang-barang pribadi mereka?
Saat Charlie tenggelam dalam perenungan yang semakin dalam, sebuah kata tiba-tiba muncul dalam benaknya—sebuah konsep yang pernah dielu-elukan dunia setelah Perang Dingin: utopia.
Dahulu, orang-orang percaya bahwa utopia adalah bentuk masyarakat paling sempurna yang bisa dicapai manusia—indah, setara, tanpa penindasan, tanpa kejahatan. Sebuah dunia yang nyaris seperti surga.
Namun kenyataannya, masyarakat seperti itu hampir mustahil terwujud. Lebih sering, konsep itu hanya dimanfaatkan oleh sekte-sekte tertentu untuk mencuci otak para pengikutnya.
Tetapi saat ini, Charlie justru menyadari sesuatu.
Tempat ini—bagi para kultivator pada masa itu—sangat mungkin merupakan bentuk nyata dari sebuah utopia.
Di dalam masyarakat seperti ini, energi spiritual dibagi secara merata dan melimpah. Tinggal di sini berarti setiap orang memiliki akses terhadap sumber energi terbaik, sehingga tidak perlu lagi bergantung pada pil untuk memulihkan energi.
Adapun pil dengan fungsi lain, besar kemungkinan telah dimurnikan dan didistribusikan secara terpusat oleh para kultivator tingkat tinggi.
Setiap rumah tangga mungkin langsung mengonsumsinya begitu menerima jatah, tanpa menyimpannya. Maka wajar saja jika tidak ada pil yang tersisa di kota ini.
Para kultivator di sini tampaknya bekerja sama menuju satu tujuan bersama: peningkatan tingkat kultivasi.
Jika mereka mampu membangun masyarakat seperti ini, maka berbagi sumber daya tentu bukan hal yang sulit.
Dengan demikian, untuk apa mereka menyimpan teknik kultivasi secara pribadi?
Begitu pula dengan artefak sihir. Dalam masyarakat yang dihuni puluhan ribu kultivator tingkat tinggi, mereka sudah cukup kuat untuk menghadapi apa pun.
Di zaman kuno, mereka nyaris tidak memiliki musuh. Terlebih lagi, lokasi ini berada di Antartika yang tandus—tempat yang bahkan makhluk hidup selain penguin pun sangat jarang ditemukan. Ancaman bagi kultivator hampir tidak ada.
Jika mereka telah mencapai keseimbangan sempurna, tanpa konflik internal maupun ancaman eksternal, maka artefak sihir pun menjadi tidak lagi diperlukan.
Bahkan, bukan tidak mungkin para pengelola kota ini pernah mengeluarkan aturan yang melarang kepemilikan artefak sihir ofensif, demi mencegah potensi konflik.
Semakin dalam Charlie menganalisis, semakin ia yakin bahwa semua ini masuk akal.
Dan dengan kesimpulan itu, ia pun sepenuhnya menghilangkan niat untuk mencari sumber daya kultivasi di tempat ini.
Tak lama kemudian, langkahnya membawanya ke gerbang sebuah kuil Taois.
Gerbang itu tampak megah dan agung, seluruhnya dipahat dari marmer putih yang bersih. Di bagian tengahnya, terukir tiga karakter besar berlapis emas: Kuil Sanqing.
Sesuai namanya, Kuil Sanqing adalah tempat pemujaan bagi Tiga Yang Maha Suci—entitas tertinggi dalam Taoisme dan leluhur utama ajaran tersebut.
Para kultivator ini, bahkan saat menjelajah hingga ke Antartika, tetap tidak melupakan untuk membangun Kuil Sanqing. Hal itu cukup untuk menunjukkan bahwa mereka mewarisi garis keturunan Taoisme.
Namun, hal ini justru menimbulkan kebingungan baru bagi Charlie.
Pagoda Empat Arah dan Pagoda Angsa Liar Agung dahulu dibangun bersama oleh biksu Xuanzang dan para kultivator Taois. Sementara itu, ia sendiri memperoleh segel tangan Tathagata Matahari Agung di bawah cahaya aurora.
Semua ini seolah menunjukkan bahwa Buddhisme dan Taoisme memiliki hubungan yang sangat dalam.
Namun sampai sekarang, Charlie masih belum mampu memahami dengan jelas apa persamaan mendasar di antara keduanya dalam jalur menuju keabadian.
Dengan pikiran yang masih diliputi pertanyaan, Charlie akhirnya melangkah masuk ke Aula Sanqing.
Di dalamnya berdiri tiga patung yang begitu hidup: Yuqing Yuanshi Tianzun, Taiqing Daode Tianzun, dan Shangqing Lingbao Tianzun.
Bab 7536
Charlie telah mengunjungi banyak kuil dan biara Taois sebelumnya, tetapi belum pernah sekalipun ia melihat patung yang memiliki tingkat realisme setinggi ini.
Setiap detailnya—raut wajah, postur tubuh, hingga ekspresi halus yang terpancar—terlihat jauh lebih hidup dibandingkan manusia biasa.
Bahkan di balik keagungan mereka, terselip nuansa hangat dan bersahabat, seolah tiga makhluk surgawi itu benar-benar berdiri di hadapannya, menatapnya dengan senyum tipis yang penuh makna.
Meskipun Charlie belum memahami sepenuhnya hubungan antara Buddhisme dan Taoisme dalam kultivasi, ia secara naluriah lebih condong menganggap dirinya sebagai pewaris garis Taois.
Karena itu, ia memandang Tiga Yang Murni sebagai leluhurnya sendiri.
Sebelum meninggalkan Aula Sanqing, ia dengan penuh hormat berlutut di hadapan ketiga patung tersebut dan bersujud sebanyak tiga kali. Gerakannya perlahan dan penuh kesungguhan, seakan ia sedang menyampaikan penghormatan terdalam dari lubuk hatinya.
Namun tepat saat ia bangkit dan hendak melangkah pergi—
Sebuah lingkaran bercahaya tiba-tiba muncul di bawah kakinya.
Lingkaran itu bersinar dengan cahaya keemasan, dihiasi dengan berbagai jimat misterius yang berkelap-kelip. Dalam sekejap, cahaya itu memancar semakin terang, menyelimuti seluruh tubuh Charlie.
Kilauan emas itu semakin intens, hingga memantul dari tubuhnya dengan cahaya yang menyilaukan.
Dalam hitungan detik, Charlie bahkan tidak lagi dapat melihat tubuhnya sendiri dengan jelas. Saat ia menunduk, yang terlihat hanyalah lautan cahaya keemasan yang menelan segalanya.
Kemudian, sensasi aneh menyergapnya.
Ia merasa tubuhnya seolah terkuras habis, seperti melebur ke dalam cahaya itu sendiri. Ringan, kosong, dan kehilangan wujud.
Detik berikutnya, segalanya berubah.
Cahaya keemasan itu menghilang.
Dan Charlie mendapati dirinya sudah tidak lagi berada di Aula Sanqing.
Ia kini berdiri di sebuah ruangan asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ruangan itu berbentuk persegi, dengan panjang sekitar sepuluh zhang di setiap sisi, total luasnya mendekati seratus meter persegi. Dari lantai hingga balok penyangga dan langit-langit, semuanya terbuat dari kayu.
Melalui jendela kayu, ia dapat melihat dinding batu yang halus dan tersusun rapi.
Charlie tertegun.
Dengan langkah hati-hati, ia mendekati jendela dan melihat keluar. Pemandangan itu membuatnya semakin terkejut—tanpa ia sadari, ia ternyata berada di dalam sebuah pagoda berbentuk persegi.
Yang lebih aneh lagi, posisi dirinya terasa tidak masuk akal.
Saat ia melihat ke bawah, ia merasa berada di ketinggian yang luar biasa. Namun saat mendongak, ia tidak berada di lantai teratas. Dan ketika ia mengamati ruangan itu, lantai ini sepenuhnya tertutup, tanpa tangga atau jalur yang menghubungkannya dengan lantai lain.
Seolah-olah ruang ini berdiri sendiri, terisolasi dari struktur lainnya.
Saat Charlie masih mencoba memahami situasi aneh ini, papan lantai kayu di bawahnya tiba-tiba berubah.
Perlahan, sebuah pola kompas besar muncul, memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan.
Kompas itu menutupi hampir seluruh permukaan lantai, sekitar seratus meter persegi.
Berbeda dengan kompas feng shui biasa, pola ini memiliki sembilan lingkaran cahaya—satu di tengah, dan delapan lainnya berada di arah: Kan, Gen, Zhen, Xun, Li, Kun, Dui, dan Qian.
Charlie menatapnya dengan saksama, pikirannya berputar cepat.
Dan tepat saat itu, sembilan mantra tiba-tiba muncul di dalam benaknya—jelas, utuh, seolah telah tertanam sejak lama.
Secara naluriah, ia memahami bahwa setiap mantra berkaitan dengan satu lingkaran cahaya. Untuk mengaktifkannya, ia harus melafalkan mantra tersebut dalam hati.
Charlie menyadari bahwa ini pasti merupakan semacam wahyu dari tempat ini.
Untuk memastikan, ia melangkah ke tengah kompas.
Berdiri di pusat lingkaran, ia menenangkan napasnya, lalu diam-diam mengucapkan mantra yang sesuai.
Seketika—
Lingkaran cahaya itu memancarkan sinar yang jauh lebih terang, lalu mulai berputar perlahan.
Cahaya itu kembali menjadi begitu kuat hingga ia tidak dapat melihat tubuhnya sendiri.
Dan seperti sebelumnya, ia kembali merasakan sensasi energi yang terkuras habis dari dalam dirinya.
Detik berikutnya, saat ia membuka mata—
Ia telah berpindah tempat.
Kini, ia berada di dalam sebuah gua yang sama sekali asing.
Gua itu tampak jelas dipahat oleh tangan manusia. Dindingnya halus seperti cermin, menyerupai kota bawah tanah yang tadi ia jelajahi. Namun ruangan ini kosong. Hanya ada satu lingkaran cahaya yang bersinar redup di bawah kakinya.
Charlie terpaku, napasnya sedikit tertahan.
Ia tidak pernah menyangka bahwa lingkaran cahaya itu ternyata berfungsi sebagai alat teleportasi.
Jelas bahwa sembilan lingkaran di kompas sebelumnya mewakili sembilan lokasi berbeda. Namun ia belum mengetahui ke mana lingkaran di tengah membawanya.
Selain itu, saat di pagoda terdapat sembilan lingkaran, tetapi di sini hanya ada satu.
Dalam benaknya, sebuah dugaan mulai terbentuk.
Sembilan lingkaran di Pagoda Empat Arah kemungkinan besar terhubung ke sembilan lokasi berbeda, namun antar lokasi tersebut tidak saling terhubung langsung—semuanya hanya terhubung ke pagoda sebagai pusat.
Dengan kata lain, Pagoda Empat Arah adalah titik inti yang memancar ke sembilan arah berbeda.
Ia memungkinkan seseorang berpindah secara instan ke salah satu dari sembilan titik tersebut. Namun untuk berpindah dari satu titik ke titik lain, seseorang harus kembali terlebih dahulu ke pagoda.
Memikirkan hal ini, dada Charlie dipenuhi semangat yang membuncah.
Jika ia dapat mengetahui ke mana masing-masing titik itu mengarah, bukankah itu berarti ia bisa berpindah ke sembilan lokasi berbeda secara instan?
Kota bawah tanah ini dipenuhi energi spiritual yang melimpah.
Jika salah satu titik teleportasi itu berada di Tiongkok, maka ia akan memiliki cara yang jauh lebih mudah untuk mengisi kembali energi spiritualnya.
Memikirkan kemungkinan itu, jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia tak sabar untuk mengetahui, di manakah sebenarnya ia berada sekarang.
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7535 – 7536 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7535 – 7536.
Leave a Reply