Novel Charlie Wade Bab 7533 – 7534 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7533 – 7534.
Bab 7533
Saat pertanyaan itu terlintas di benak Charlie, jawabannya seolah terbentuk dengan sendirinya, mengalir begitu alami tanpa perlu dipaksakan.
Ia memang tidak tahu dengan pasti kapan Zaman Akhir Dharma dimulai. Namun dari pengalaman Marcius, jelas bahwa era itu sudah berlangsung ketika pria tersebut mencapai pencerahan.
Artinya, para kultivator yang membangun kota bawah tanah ini pasti berasal dari masa yang jauh lebih lampau. Bahkan mungkin sebelum era Linde di Dinasti Tang benar-benar berkembang.
Jika demikian, maka sejarah pagoda persegi ini jelas jauh lebih tua dibandingkan Pagoda Angsa Liar Agung yang terkenal itu.
Dari perjalanan spiritualnya di Chang’an, Charlie memahami bahwa pagoda tersebut didirikan oleh Xuanzang bersama para kultivator sebagai simbol kejayaan Dinasti Tang.
Namun satu pertanyaan terus mengusik pikirannya: mengapa bentuknya sama—pagoda persegi?
Apakah itu hanya kebetulan? Sebuah tiruan semata? Atau justru menyimpan makna kepercayaan yang jauh lebih dalam?
Jika pagoda di hadapannya ini memang merupakan semacam totem bagi para kultivator sebelum Zaman Akhir Dharma, maka alasan para kultivator di masa Dinasti Tang membangun Pagoda Angsa Liar Agung dengan bentuk serupa menjadi jauh lebih masuk akal.
Ketika Zaman Akhir Dharma tiba, kemungkinan besar kelompok kultivator terakhir terpecah menjadi dua arus yang berbeda.
Satu kelompok memilih untuk bertahan, terus berkultivasi di dunia yang energi spiritualnya semakin menipis, meski harus menghadapi kenyataan pahit yang tak terelakkan.
Sementara kelompok lainnya mungkin memilih jalur yang lebih ekstrem—menuju tempat-tempat seperti Antartika, menganggapnya sebagai gerbang terakhir menuju kenaikan, sebuah pertaruhan terakhir melawan takdir.
Atau bisa jadi, hanya para elit terkuat yang berangkat ke sana, memikul harapan terakhir, sementara yang lainnya tetap tinggal, menjaga apa yang tersisa dari dunia kultivasi.
Namun mereka yang tertinggal tidak lantas menyerah. Mereka tetap tekun berkultivasi, menapaki jalan panjang dengan kesabaran luar biasa, bahkan masih menyisakan belas kasih terhadap seluruh makhluk hidup.
Karena itulah mereka bersama-sama membangun Pagoda Angsa Liar Agung, sekaligus menciptakan Pagoda Harta Karun Empat Sisi—sebuah artefak feng shui yang mampu memengaruhi nasib sebuah bangsa, sesuatu yang melampaui pemahaman manusia biasa.
* * *
Charlie melompat turun dari mulut gua, tubuhnya meluncur ringan sebelum akhirnya mendarat dengan stabil di sebuah alun-alun persegi selebar sekitar seratus kaki di bawah.
Begitu ia mengangkat kepala, pagoda persegi itu tampak semakin megah, menjulang dengan aura khidmat yang menekan batin, seakan menyimpan sejarah panjang yang tak terucapkan.
Namun setelah benar-benar mencapai dasar, ia baru menyadari satu hal yang jauh lebih mengejutkan. Tempat ini ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari atas.
Di sekelilingnya, tersembunyi sebuah kota bawah tanah yang sangat besar.
Tingginya sekitar lima kaki, membentang hingga tiga kilometer, dengan luas hampir sepuluh kilometer persegi—cukup untuk menampung sebuah peradaban kecil.
Bangunan-bangunan kuno berdiri dengan rapi dan teratur, seolah dirancang dengan perhitungan yang sangat presisi. Empat jalan utama membentang lurus menuju alun-alun pusat, menjadikan pagoda sebagai jantung dari seluruh kota ini.
Namun yang benar-benar membuat Charlie tertegun adalah satu hal:
Kota ini seolah menggantung di dalam batu.
Tidak ada satu pun bangunan yang menyentuh langit-langit gua.
Secara logika teknik modern, membangun ruang sebesar ini tanpa penopang adalah sesuatu yang hampir mustahil.
Bahkan di dunia modern, ruang seluas ini akan membutuhkan puluhan ribu kolom penyangga untuk menjaga kestabilannya. Namun di sini, tidak ada satu pun.
Meski begitu, seluruh struktur tetap kokoh, tak menunjukkan tanda-tanda runtuh, seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menopangnya dari segala arah.
Charlie menduga bahwa pasti ada sebuah formasi besar yang berfungsi sebagai penyangga.
Sebuah formasi yang mampu menggantikan lebih dari seratus ribu kolom, dan tetap bertahan selama ribuan tahun tanpa runtuh sedikit pun.
Energi yang menopangnya pasti berada di tingkat yang sulit dibayangkan oleh akal manusia biasa.
Dengan rasa kagum yang semakin dalam, Charlie mulai menjelajah, langkahnya menyusuri jalan utama menuju bagian dalam kota yang sunyi.
Segalanya terasa seperti set film yang dibangun dengan sangat detail.
Bersih. Rapi. Bahkan tampak hampir baru.
Namun keanehan itu justru semakin terasa. Tidak ada satu pun tanda kehidupan.
Keheningan di tempat itu begitu pekat, seolah waktu sendiri telah berhenti mengalir.
Bab 7534
Charlie mencoba membuka salah satu gerbang halaman.
Pintu itu tidak terkunci. Bahkan tidak ada pengunci sederhana sekalipun, seolah-olah tempat ini memang tidak pernah membutuhkan perlindungan dari siapa pun.
Halaman tersebut berukuran sekitar dua hingga tiga ratus meter persegi. Tidak terlalu luas, tetapi juga tidak sempit. Cukup untuk sebuah kehidupan sederhana.
Namun yang aneh, tidak ada fasilitas hidup sama sekali.
Tidak ada tempat mencuci, tidak ada alat penggilingan, tidak ada kandang ternak, bahkan tidak ada sumur.
Seluruh lantai hanya dilapisi batu bata biru yang halus dan bersih, tanpa noda, tanpa bekas penggunaan, seolah waktu tak pernah benar-benar menyentuhnya.
Di dalamnya terdapat tiga ruangan.
Ruang utama kosong dari perabotan. Hanya terdapat tikar rotan yang tersusun rapi dengan beberapa bantal bundar. Jelas diperuntukkan untuk meditasi dalam waktu lama.
Dua ruangan lainnya bahkan terasa lebih ganjil.
Ruangan sebelah kiri tampak seperti ruang kultivasi tertutup, sunyi dan terisolasi.
Sementara ruangan kanan berisi sebuah buaian bayi dan beberapa mainan kayu sederhana—sebuah pemandangan yang kontras dengan kesunyian keseluruhan tempat itu.
Charlie menduga bahwa hampir semua penghuni di sini telah mencapai tingkat **辟谷 (bigu)**—sebuah kondisi di mana mereka tidak lagi membutuhkan makanan, minuman, ataupun kebutuhan biologis lainnya.
Itulah sebabnya tidak ada dapur, tidak ada tempat makan, bahkan tidak ada fasilitas dasar seperti toilet.
Hal lain yang tak kalah mencolok: seluruh ruangan diterangi oleh energi spiritual.
Tanpa sedikit pun cahaya matahari, tempat ini tetap terang benderang seperti siang hari.
Seolah-olah seluruh kota ini digerakkan oleh satu formasi besar, menyerupai pembangkit energi raksasa yang tak pernah berhenti bekerja.
Namun yang paling membingungkan adalah: Tidak ada satu pun barang kultivasi.
Tidak ada pil. Tidak ada artefak. Tidak ada teknik yang tertinggal.
Charlie memeriksa beberapa halaman lainnya dengan teliti.
Hasilnya tetap sama.
Kosong.
Seolah-olah semua orang pergi dengan tertib, membawa seluruh milik mereka tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, meninggalkan kota ini dalam keheningan yang hampir sakral.
Akhirnya, Charlie duduk bersila di salah satu ruangan dan mulai berkultivasi.
Energi spiritual di tempat ini begitu melimpah, bahkan terasa hampir tak terbatas.
Baginya, kondisi ini seperti memiliki kendaraan yang langsung terhubung ke ladang minyak tanpa ujung—energi mengalir tanpa henti, tanpa perlu dicari.
Kecepatan kultivasi di sini bisa meningkat puluhan kali lipat dibandingkan di dunia luar.
Marcius membutuhkan waktu seribu tahun untuk mencapai tahap Pendirian Fondasi.
Namun seorang anak yang lahir di tempat ini, dengan bimbingan yang tepat, mungkin hanya membutuhkan satu dekade untuk mencapai tingkat yang sama.
Perbedaan yang nyaris tak masuk akal.
Di dalam kota ini, selain halaman pribadi, terdapat pula berbagai bangunan umum.
Ada yang menyerupai sekolah, tempat pembelajaran diwariskan dari generasi ke generasi. Ada pula bangunan yang tampak seperti kantor pemerintahan, pusat pengelolaan kehidupan komunitas.
Dan di antaranya, terdapat sebuah tempat bernama **Balai Raja Obat**.
Di tengah aula utamanya, tidak ada patung dewa atau simbol kepercayaan seperti yang biasa ditemukan.
Sebagai gantinya—
Berdiri sebuah tungku alkimia raksasa, menjulang setinggi lebih dari dua zhang, memancarkan aura kuno yang dalam dan menekan.
Charlie langsung menyadari bahwa benda itu adalah artefak magis.
Satu-satunya artefak yang berhasil ia temukan sejauh ini.
Dengan hati-hati, ia menyalurkan energi spiritualnya ke dalam tungku tersebut.
Namun sensasinya terasa seperti melempar batu kecil ke lautan tanpa batas—tidak ada riak berarti, tidak ada respons yang jelas.
Energinya bahkan tidak cukup untuk “menggoyahkan” tungku itu sedikit pun.
Saat itulah ia memahami, tungku ini bukanlah milik individu.
Melainkan pusat produksi pil untuk seluruh kota.
Untuk mengoperasikannya, mungkin dibutuhkan puluhan, bahkan ratusan kultivator tingkat tinggi secara bersamaan.
Jika kuali miliknya hanya setara dengan penanak nasi rumah tangga—
Maka tungku ini adalah tanur peleburan baja raksasa.
Sesuatu yang berada jauh di luar jangkauan kemampuannya saat ini, sebuah simbol perbedaan tingkat yang begitu mencolok dan tak terbantahkan.
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7533 – 7534 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7533 – 7534.
Leave a Reply