Novel Charlie Wade Bab 7531 – 7532 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7531 – 7532.
Bab 7531
Charlie melompat ke dalam gua es sedalam seribu meter itu, dan segera terkejut saat menyadari bahwa galian beku tersebut lurus sempurna. Seperti poros vertikal yang dirancang dengan presisi tinggi, seolah diukur dengan alat yang sangat akurat.
Jelas, Brovnen telah mencurahkan perhatian dan tenaga yang luar biasa saat menggali tempat ini. Tidak ada kesan kasar atau asal-asalan; semuanya tampak disengaja.
Dalam kondisi jatuh bebas, Charlie terus mengerahkan energi spiritual untuk memperlambat kecepatannya. Ia tidak berani lengah sedikit pun.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya berhasil mendarat dengan stabil di dasar gua tanpa cedera.
Seperti yang sebelumnya ia rasakan melalui penelusuran energi spiritualnya, ruang di bawah ini telah diperluas oleh Brovnen. Bentuknya menyerupai yurt—ruang bulat yang cukup luas, namun tetap terasa tertutup.
Dinding dan langit-langitnya sepenuhnya dilapisi es yang tebal, memantulkan cahaya redup yang dingin. Sementara itu, lantainya berupa batuan gelap yang keras, kontras dengan kilau es di sekitarnya.
Di salah satu sisi, terdapat sebuah pintu masuk yang sepenuhnya hitam—gelap pekat, seolah mampu menelan semua cahaya yang mendekat.
Dalam pencahayaan yang hampir nihil itu, Charlie menatap pintu masuk gelap tersebut dengan hati-hati. Perasaan tidak nyaman perlahan merayapi dadanya.
Bahkan Brovnen pun tidak mampu memasuki tempat itu.
Lalu, apa gunanya dirinya mencoba?
Namun, satu prinsip tetap terpatri dalam benaknya: ia sudah sampai sejauh ini.
Dan setelah nyaris kehilangan nyawanya dalam perjalanan ke tempat ini, rasanya tidak masuk akal jika ia berhenti sekarang tanpa mencoba.
Meski begitu, satu hal masih mengganjal pikirannya—mengapa tempat ini disebut Gerbang Kenaikan? Bukankah “kenaikan” seharusnya berarti mendaki ke atas?
Tempat ini justru berada ribuan meter di bawah es, bahkan menembus lapisan batuan. Jika dipikir-pikir, mungkin lebih pantas disebut Gua Kenaikan.
Charlie menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat.
Dengan penuh kewaspadaan, ia berjongkok di depan pintu masuk gelap itu dan perlahan mengulurkan tangannya ke dalam kegelapan.
Awalnya, ia menduga akan ada semacam penghalang tak kasatmata yang menghalangi gerakannya, sesuatu yang bahkan tidak bisa ditembus oleh Brovnen.
Namun, kenyataan yang ia rasakan jauh berbeda dari bayangannya.
Saat tangannya menyentuh kegelapan itu, sensasinya seperti mencelupkan tangan ke dalam air hangat.
Hangat… lembut… dan sangat nyaman.
Tangannya masuk tanpa hambatan sedikit pun, seolah-olah kegelapan itu bukanlah ruang kosong, melainkan medium yang lembut seperti cairan.
Rasanya seperti merendam tangan yang membeku dalam air hangat—perlahan menghidupkan kembali sensasi yang hilang.
Namun, yang sangat mengejutkan adalah apa yang terjadi selanjutnya.
Charlie merasakan aliran energi spiritual yang sangat kaya meresap langsung ke dalam tubuhnya melalui kulit tangannya. Lebih tepatnya, bukan ia yang menyerap energi itu. Melainkan energi tersebut yang secara aktif masuk ke dalam dirinya.
Energi spiritual itu begitu melimpah, begitu padat, hingga terasa seperti arus yang mengalir deras, menembus kulitnya tanpa perlawanan.
Pengalaman seperti ini belum pernah ia rasakan sejak awal kultivasinya. Bahkan saat mengonsumsi ramuan pun, ia tidak pernah merasakan konsentrasi energi setinggi ini.
Charlie bergumam pelan, suaranya sarat keterkejutan, “Tempat macam apa ini…? Bagaimana mungkin ada energi spiritual sepekat ini…?”
Sementara ia masih mencerna situasi itu, energi spiritual terus mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Dalam waktu singkat, cadangan energinya yang semula hanya setengah terisi melonjak hingga delapan puluh persen.
Kecepatan pemulihan ini setara dengan mengonsumsi ramuan berkualitas tinggi!
Dan yang lebih mencengangkan, ini hanya melalui satu tangan.
Jika seluruh tubuhnya berada di dalam… kecepatan itu mungkin akan melampaui batas pemahamannya.
Menyadari hal itu, mata Charlie berkilat penuh tekad.
Tanpa ragu lagi, ia menguatkan hatinya dan langsung melompat masuk ke dalam gua.
Penghalang yang sebelumnya tidak bisa ditembus oleh Brovnen kini seolah tidak ada sama sekali di hadapannya.
Tidak ada resistensi.
Tidak ada hambatan.
Tubuhnya jatuh dengan mulus ke dalam kegelapan.
Charlie sempat mengira bagian dalam gua ini akan sepenuhnya gelap gulita.
Namun, begitu ia masuk, segalanya berubah secara drastis.
Lingkungan di sekitarnya tiba-tiba menjadi terang.
Bab 7532
Ia segera menyadari bahwa meskipun pintu masuknya sempit, ruang di dalamnya melebar puluhan kali lipat. Apa yang awalnya hanya cukup untuk satu orang kini dapat menampung puluhan orang berdampingan dengan leluasa.
Dinding batu di sekitarnya tampak sangat halus, seolah dipoles dengan teknik yang luar biasa. Pada permukaannya terukir berbagai rune yang tidak dapat dipahami oleh Charlie.
Rune-rune itu memancarkan cahaya kuning hangat, menerangi seluruh ruang dengan aura yang tenang namun misterius.
Sejauh mata memandang, lorong itu memanjang setidaknya tiga hingga lima ratus meter.
Yang lebih aneh lagi, dinginnya Antartika sama sekali tidak terasa di sini.
Sebaliknya, udara di dalam terasa hangat dan nyaman. Seperti ruangan yang dijaga pada suhu konstan sekitar dua puluh enam derajat Celcius, dengan kelembapan dan kadar oksigen yang sempurna.
Namun, keanehan tidak berhenti di situ.
Charlie segera menyadari adanya perbedaan pada gaya gravitasi.
Meskipun ia masih dalam kondisi jatuh, sensasinya sama sekali berbeda dibandingkan saat ia melompat ke dalam gua es sebelumnya.
Di gua es, ia harus terus mengendalikan kecepatan dengan energi spiritual. Jika tidak, dampak dari jatuh sejauh ribuan meter bisa sangat mematikan, bahkan baginya.
Namun di sini—
Ia tidak perlu melakukan apa pun.
Jatuhnya terasa lambat, lembut, dan stabil.
Seperti menyelam bebas di dalam air.
Tubuhnya melayang turun dengan anggun, seperti sehelai daun yang jatuh tertiup angin musim gugur.
Akhirnya, ia mendarat dengan ringan di dasar.
Pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun.
Di bawah sana terbentang sebuah terowongan besar—setidaknya setinggi sepuluh meter dan berdiameter sekitar dua puluh meter. Dindingnya vertikal, halus, dan dipenuhi ukiran jimat yang memancarkan cahaya lembut.
Charlie berjalan mendekat, lalu menyentuh salah satu ukiran itu.
Begitu tangannya menyentuh cahaya tersebut, ia langsung merasakan konsentrasi energi spiritual yang sangat tinggi.
Ia segera memahami—
Energi spiritual yang memenuhi tempat ini tampaknya berasal dari ukiran-ukiran jimat tersebut, yang terus memancarkan energi dalam bentuk cahaya.
Keterkejutan kembali menyelimuti dirinya.
Jika tempat ini benar-benar dibangun oleh para kultivator sebelum era Akhir Dharma, maka usianya pasti telah melampaui seribu tahun.
Namun, bagaimana mungkin jimat-jimat ini mampu terus memancarkan energi spiritual dengan konsentrasi setinggi ini selama ribuan tahun?
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya.
Tanpa sadar, ia mempercepat langkahnya, menyusuri terowongan sepanjang seratus meter itu.
Di ujungnya, tampak sebuah ruang yang jauh lebih luas—dengan cahaya yang jauh lebih terang.
Begitu ia keluar dari terowongan, pemandangan di hadapannya benar-benar melampaui imajinasi.
Sebuah ruang berbentuk kubus raksasa terbentang di hadapannya—setidaknya selebar seratus zhang dan setinggi seratus zhang.
Dari posisi Charlie, hanya satu sisi ruang yang terlihat, membuat ukuran sebenarnya sulit dipastikan.
Namun dari pintu keluar terowongan saja, ia sudah bisa melihat sebuah plaza persegi luas di bawahnya, setidaknya selebar seratus zhang.
Seluruh permukaannya dilapisi batu biru besar yang tampak kuno dan lembap, memancarkan aura sejarah yang panjang.
Anehnya, gaya konstruksi itu lebih menyerupai peradaban Tiongkok kuno daripada lingkungan Antartika yang seharusnya asing dan liar.
Namun, hal yang paling mengejutkan adalah apa yang berdiri di tengah plaza itu.
Sebuah pagoda persegi menjulang tinggi.
Struktur itu diperkirakan setidaknya mencapai lima puluh zhang. Ukirannya rumit, detailnya halus, dan keseluruhannya memancarkan kemegahan yang luar biasa.
Meskipun terbuat dari kayu, bangunan itu tampak seperti baru saja selesai dibangun. Catnya halus tanpa cela, tanpa retakan atau noda sedikit pun.
Charlie menatapnya dengan napas tertahan.
Ada sesuatu yang sangat familiar.
Pagoda itu… sangat mirip dengan Pagoda Angsa Liar Agung yang pernah ia lihat dalam perjalanan mimpinya di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang.
Lebih dari itu—
Struktur ini juga memiliki kemiripan mencolok dengan pagoda persegi yang pernah ia peroleh dari keluarga Rothschild!
Rasa dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya.
Mungkinkah tempat ini… memiliki hubungan dengan Pagoda Empat Arah?!
Jika benar para kultivator sebelum era Akhir Dharma telah membangun Pagoda Empat Arah di tempat ini—dan bentuknya begitu mirip dengan Pagoda Angsa Liar Agung—
Maka pertanyaannya menjadi semakin membingungkan dan dalam:
Yang mana yang lebih dulu ada?
Pagoda Empat Arah…
atau Pagoda Angsa Liar Agung?
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7531 – 7532 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7531 – 7532.
Leave a Reply