Novel Charlie Wade Bab 7523 – 7524 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7523 – 7524.
Bab 7523
Brovnen tidak mampu memahami Charlie.
Namun, keraguan itu hanya bertahan sekejap, segera tersapu oleh bayangan kemenangan yang terasa begitu dekat dan nyata.
Ia tahu tingkat kultivasi Charlie belum cukup tinggi.
Tetapi kemenangan beruntun pemuda itu atas empat bangsawan dari Perkumpulan Penghancuran Qing membuktikan satu hal—meskipun kekuatan fisiknya kurang, ia menutupinya dengan teknik yang halus dan kecerdikan luar biasa.
Bisa jadi, anak ini memiliki banyak harta langka dan pil ajaib. Jika Sepuluh Ribu Pedang Kembali Menjadi Satu berhasil menyingkirkannya, semua itu tentu akan menjadi milik dirinya.
Terlebih lagi, Brovnen sendiri telah menguras banyak energi spiritual dalam beberapa hari terakhir.
Setelah membakar meridiannya, kultivasinya merosot tajam. Tubuhnya terasa kosong, seolah-olah inti kehidupannya terkikis sedikit demi sedikit.
Ia sangat membutuhkan pil milik Charlie untuk segera memulihkan energi spiritual yang telah hilang.
Sementara itu, Charlie—yang berada di bawah tekanan mengerikan dari Keluarga Ackern Gui Zong—telah memilih untuk berhenti melawan.
Pukulan mematikan yang dilancarkan Brovnen dengan membakar kultivasinya benar-benar luar biasa dahsyat.
Bahkan sebelum tekanan itu benar-benar menyentuh tubuh Charlie, kekuatannya sudah merobek pakaian yang dikenakannya hingga hancur berkeping-keping.
Kulitnya terasa seperti disayat ribuan bilah tak kasatmata, menghadirkan rasa nyeri yang menusuk hingga ke tulang.
Pada saat itu, ia menyadari bahwa terus melawan hanyalah tindakan sia-sia. Perlawanan yang dipaksakan hanya akan memperparah rasa sakit dan memperpanjang penderitaan.
Itu seperti perbedaan antara dipotong perlahan dan dipenggal dalam satu tebasan—yang pertama mungkin memberi waktu lebih lama untuk hidup, tetapi penderitaannya jauh lebih kejam dan tak tertahankan.
Karena itu, pikirannya perlahan menjadi tenang.
Ia memilih untuk menunggu teleportasi dimulai.
Namun, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang diam-diam menggerogoti hatinya. Bagaimana jika fungsi teleportasi itu gagal? Jika benar begitu, tubuhnya akan hancur tanpa sisa.
Tetapi sekarang, ia tidak punya pilihan. Penyesalan tidak lagi berguna.
Satu-satunya hal yang terlintas di benaknya adalah benda misterius yang selama ini membimbingnya.
Tepat ketika pedang terbang Brovnen hendak menembus tengkoraknya, Charlie tiba-tiba meraung, suaranya menggema di tengah angin dingin yang menggigit, “Jadi ini yang dimaksud dengan ‘keberuntungan berpihak pada yang berani’! Hari ini aku akhirnya benar-benar mengerti arti pepatah itu!”
Setelah itu, ia langsung menarik kembali seluruh energi spiritual yang tadi ia gunakan untuk bertahan, seolah menyerahkan segalanya pada takdir yang akan datang.
Pedang terbang itu sendiri memiliki kekuatan yang mengerikan. Dengan tingkat kultivasi Charlie, perlawanan terakhir pun tak ubahnya seperti belalang sembah yang mencoba menghentikan laju kereta perang—sia-sia dan menyedihkan.
Namun kali ini, ia tidak ingin lagi membuang waktu.
Bertarung mati-matian hanya akan memperpanjang hidupnya beberapa detik. Dan itu tidak berarti apa-apa.
Melihat Charlie tiba-tiba berhenti melawan, sudut bibir Brovnen terangkat membentuk seringai kejam. Ia bahkan bisa membayangkan wajah Charlie yang akan hancur di bawah tekanan pedang terbangnya.
Dalam sekejap, ledakan dahsyat mengguncang udara.
Wujud asli pedang terbang itu, bersama ribuan bayangan klonnya, menghujani Charlie secara bersamaan.
Suara gemuruh memekakkan telinga menyusul, diiringi debu yang membubung tinggi, serpihan es yang pecah dari lapisan salju, serta berbagai puing yang beterbangan liar.
Dari luar, Brovnen sama sekali tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam pusaran kehancuran itu.
Ia mengernyit bingung.
Charlie hanyalah seorang manusia biasa. Serangan seperti itu seharusnya cukup untuk membuatnya mati dengan tubuh tertembus seribu bilah pedang dalam sekejap. Lalu mengapa dampaknya terasa begitu luar biasa besar?
Sebelum ia sempat memastikan keadaan, ekspresinya langsung berubah drastis.
Wajahnya menggelap, dipenuhi kengerian yang sulit disembunyikan.
Ia tidak bisa lagi merasakan pedang terbangnya!
Bab 7524
Jantung Brovnen berdegup kencang. Rasa dingin yang lebih menusuk daripada angin Antartika menjalar di punggungnya. Ia sama sekali tidak menyangka keadaan akan berubah seaneh ini.
Kemenangan sudah berada di depan mata. Lalu mengapa semuanya tiba-tiba berbalik?
Mengapa pedang terbangnya yang begitu kuat tiba-tiba kehilangan koneksi? Dari mana datangnya benturan aneh yang begitu dahsyat itu?
Secara naluriah, ia melangkah maju untuk menyelidiki. Namun baru satu langkah, firasat buruk langsung mencengkeramnya erat.
Ia berhenti seketika, menahan napas, dan dengan waspada menatap gumpalan asap yang masih berputar di hadapannya.
Di sisi lain, Charlie—yang tadi sudah siap menerima kehancuran—juga terpaku.
Ia merasakan dengan jelas bahwa tepat saat ribuan pedang itu hampir menembus tengkoraknya, semuanya tiba-tiba hancur menjadi debu oleh kekuatan yang tak terlihat namun luar biasa besar.
Pedang terbang Brovnen, yang sebelumnya mendorongnya ke ambang keputusasaan, lenyap seketika tanpa sisa.
Debu yang mengepul di sekitarnya sebagian berasal dari lapisan es yang hancur akibat benturan hebat, dan sebagian lagi merupakan sisa-sisa pedang terbang Brovnen.
Termasuk klon yang terbentuk dari energi spiritualnya saat menggunakan teknik “Sepuluh Ribu Pedang Kembali Menjadi Satu”.
Brovnen tidak menyadari hal itu. Ia hanya merasa koneksi dengan pedangnya terputus, tanpa tahu bahwa senjata itu telah benar-benar hancur menjadi debu.
Ketika angin dingin Antartika berembus kencang, perlahan menyapu bersih debu yang melayang di udara, pemandangan di hadapannya membuatnya terpaku.
Charlie masih berdiri di tempat yang sama.
Padahal, dengan benturan sehebat itu, seharusnya tidak ada yang bisa bertahan hidup.
Namun bukan hanya Charlie yang masih hidup, pedang terbangnya sendiri justru lenyap tanpa jejak.
Meski begitu, kondisi Charlie jelas tidak baik.
Pakaiannya compang-camping, tubuhnya dipenuhi ratusan luka sayatan yang masih mengalirkan darah.
Darah itu membeku di permukaan pakaiannya akibat suhu ekstrem minus enam puluh derajat Celcius, menciptakan pemandangan yang mengerikan dan dingin.
Brovnen menatapnya dengan mata terbelalak, lalu meraung, “Nak, di mana pedang terbangku?!”
Charlie mendongak menatapnya, lalu sekilas melihat tubuhnya sendiri. Keterkejutannya tak kalah besar, tetapi ia segera menenangkan diri.
Apa pun yang baru saja terjadi, jelas berpihak padanya.
Ia sudah siap untuk diteleportasi, bahkan siap menghadapi kemungkinan terburuk. Namun sekarang keadaan justru berbalik.
Lalu apa yang perlu ditakutkan?
Dengan tatapan dingin, ia berkata, “Pedang terbangmu sudah hancur menjadi debu. Apa kamu tidak merasakannya?”
Ekspresi Brovnen berubah drastis, dipenuhi rasa ngeri yang tak bisa lagi disembunyikan.
Meskipun semuanya terjadi begitu cepat, ia tetap tidak percaya.
Bahkan Victoria pun tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Menetralisir serangan dari meridian yang terbakar sekaligus menghancurkan pedang terbangnya.
Apalagi pemuda berusia dua puluhan di hadapannya ini.
Dengan sorot mata tajam, ia menegur dingin, “Nak, sihir apa yang kamu gunakan? Bagaimana kamu bisa merebut pedang terbangku dengan begitu mudah?!”
Charlie sudah kelelahan, napasnya berat, tetapi ia tetap berdiri tegak dengan keras kepala.
“Sudah kubilang, pedangmu sudah musnah begitu saja, tapi kamu tidak percaya,” ujarnya dingin.
“Kamu masih punya trik lain? Tunjukkan padaku. Kalau tidak… giliran aku yang akan menghajarmu.”
Jantung Brovnen berdebar semakin cepat.
Ia merasa kata-kata Charlie bukan sekadar gertakan. Namun tetap saja, ia tidak bisa memahami bagaimana pedang terbang sekuat itu bisa lenyap begitu saja.
Ia mendengus, berusaha menutupi kegelisahannya. “Nak, kamu sudah kehabisan napas. Aku bahkan bisa mengalahkanmu dengan tangan kosong!”
Charlie mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Lihat aku sekarang,” katanya tenang. “Memang benar, aku sudah kehabisan napas.”
Setelah itu, ia mengeluarkan dua Pil Penguat Qi berukuran besar dari saku dalamnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menelannya.
Aura di sekitarnya perlahan berubah.
Lalu, dengan tatapan dingin, ia kembali bertanya, “Sekarang bagaimana menurutmu?”
Brovnen menatapnya tak percaya.
Hatinya seperti diremas.
Ia tahu Charlie memiliki barang bagus, tetapi ia tidak pernah menyangka pemuda ini akan sebegitu borosnya—menelan dua pil kelas atas sekaligus tanpa ragu.
Pada saat itu, sebuah firasat buruk muncul dalam benaknya. Seolah-olah… langit sendiri sedang berdiri di pihak Charlie, dan menentangnya.
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7523 – 7524 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7523 – 7524.
Leave a Reply