Novel Charlie Wade Bab 7519 – 7520 dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan dari novel serial berbahasa China dengan judul “Menantu Naga Tertinggi Ye Chen – Xiao Churan”. Semoga bisa menikmati kisah / ceritanya yang semakin seru.
The Amazing Son-in-Law / The Charismatic Charlie Wade (Ye Chen) Chapter Bab 7519 – 7520.
Bab 7519
Charlie memahami dengan sangat jelas bahwa dalam pertempuran seperti ini, mustahil baginya menyembunyikan tingkat kultivasi maupun energi spiritualnya dari Brovnen.
Mantra yang diajarkan Ruby untuk menyamarkan kultivasi hanya efektif jika ia tidak menggunakan energi spiritual sama sekali. Lebih cocok untuk bersembunyi sebelum keberadaannya terungkap.
Namun sekarang, mereka sudah saling berhadapan dalam pertarungan hidup dan mati; segala bentuk penyamaran dan tipu daya tak lagi memiliki arti.
Itu berarti, bahkan jika ia diam-diam menelan pil, perubahan dalam dirinya tetap akan terlihat jelas oleh Brovnen. Dalam situasi seperti ini, lebih baik bersikap terbuka, bahkan memancing emosi lawan agar kehilangan kendali.
Kata-kata Charlie sebelumnya memang berhasil menyulut amarah Brovnen. Hati Dao pria itu terguncang, dan ia pun terpaksa menilai ulang pertarungannya dengan Charlie.
Dari segi kultivasi, Brovnen jelas jauh melampaui Charlie. Di matanya, tingkat kultivasi serta cadangan energi spiritual Charlie tampak begitu gamblang, seolah tidak memiliki rahasia sedikit pun.
Ibarat dua orang bermain kartu, Charlie seakan dengan sukarela membuka seluruh kartunya, sementara Brovnen duduk sebagai pengendali permainan.
Namun, kata-kata Charlie barusan membuat Brovnen melihat dari sudut pandang lain.
Melihat kartu lawan bukanlah kunci kemenangan. Yang benar-benar menentukan adalah memiliki kartu bagus dan tahu bagaimana memainkannya dengan tepat.
Energi spiritualnya sendiri sudah terkuras hebat. Dua sambaran petir berturut-turut, ditambah gerakan menghindar dan penggunaan telekinesis, telah mendorongnya hingga batas kemampuan.
Ia berada di ambang kelelahan.
Sebaliknya, Charlie sama sekali tidak bermain dengan etika bela diri. Energi spiritualnya seolah tak ada habisnya, dan lebih parah lagi—ia memiliki sesuatu yang bahkan belum pernah didengar Brovnen sebelumnya: Pil Penguat Qi ukuran besar.
Jika pertarungan ini berubah menjadi perang ketahanan, ia tahu dirinya mungkin tak akan sanggup bertahan.
Lebih buruk lagi, lawannya bukan hanya memegang kartu terbaik, tetapi juga memiliki banyak “kartu tambahan” di luar permainan.
Dalam kondisi seperti ini, apa gunanya bisa melihat kartu lawan? Itu hanya akan membuat kekalahan terasa semakin pasti dan menyakitkan.
Brovnen mengerti, jika pertarungan ini terus berlarut, kekalahan hampir pasti menantinya. Dan dalam dunia para kultivator, hasil dari sebuah kekalahan bukan sekadar mundur—melainkan kematian. Tidak ada kesempatan kedua.
Memikirkan hal itu, rahangnya mengeras. Ia menggertakkan gigi, lalu dalam diam melafalkan mantra.
Dalam sekejap, tubuhnya meledak dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh melampaui batas normalnya. Ia menerjang ke arah Charlie seperti badai yang lepas kendali.
Charlie sudah menduga bahwa lawannya akan bertarung habis-habisan, tetapi ia sama sekali tidak menyangka kekuatan Brovnen bisa melonjak sedemikian drastis.
Kecepatannya kini hampir dua kali lipat dari sebelumnya. Cukup untuk menjangkaunya dalam sekejap mata.
Tanpa diketahui Charlie, Brovnen telah mengaktifkan teknik penyelamat nyawa yang diajarkan Victoria: Pembakaran Meridian.
Seorang kultivator meningkatkan kekuatannya dengan terus-menerus menggunakan energi spiritual untuk memperluas meridian, membersihkan sumsum, dan memperkuat tubuh fisik.
Seiring waktu, energi spiritual yang mengalir dalam meridian akan terus terakumulasi.
Ketika cadangan energi hampir habis, teknik ini memungkinkan meridian—yang telah diperkuat selama bertahun-tahun—untuk diubah menjadi energi spiritual tambahan.
Dengan kata lain, ini adalah tindakan membakar kultivasi sendiri demi memperoleh kekuatan instan.
Keuntungannya jelas: energi spiritual bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Namun kerugiannya jauh lebih besar.
Dengan memaksa meridian bekerja secara ekstrem, kultivasi akan terkuras dengan kecepatan mengerikan. Bahkan jika di masa depan seseorang mengumpulkan energi spiritual sepuluh kali lipat, belum tentu bisa menutupi kerugian tersebut.
Namun di ambang hidup dan mati, Brovnen tak lagi peduli. Bertahan hidup adalah segalanya.
Terlebih lagi, jika ia berhasil membunuh Charlie, ia bisa merebut senjata sihir pemanggil petir surgawi itu, serta Pil Penguat Qi ukuran besar dalam jumlah besar.
Energi spiritual yang hilang hari ini mungkin bisa dipulihkan berkali-kali lipat!
Lebih dari itu, keberadaan Charlie sendiri adalah “hadiah” yang tak ternilai.
Bab 7520
Dengan tekad membara, ia kembali mengaktifkan pedang terbangnya, menuangkan energi spiritual yang jauh lebih kuat ke dalamnya.
Ujung pedang itu melesat lurus ke arah wajah Charlie, secepat anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
Charlie belum pernah menghadapi teknik seperti ini sebelumnya. Melihat lonjakan kekuatan Brovnen yang begitu tiba-tiba—ditambah kecepatan pedang terbang yang kini jauh lebih ganas—ia tak bisa menahan keterkejutannya.
Semua ini benar-benar di luar perkiraannya.
Dalam kepanikan yang terpendam, ia hanya bisa terus memanggil petir surgawi ke arah Brovnen sambil mundur cepat. Ia mengumpulkan seluruh energi spiritualnya, bersiap menghadapi pedang terbang itu secara langsung.
Brovnen, belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak lagi memegang pedangnya.
Ia mengendalikan pedang itu sepenuhnya dengan energi spiritual, menjaganya tetap berjarak lima zhang darinya—khawatir pedang itu kembali menarik sambaran petir dan justru mencelakainya sendiri.
Selain itu, setelah mengaktifkan Pembakaran Meridian, kecepatan reaksinya meningkat drastis. Menghindari petir Charlie kini bukan lagi hal sulit.
Satu sambaran petir turun dari langit, namun Brovnen dengan ringan menghindarinya. Pedang terbangnya, seolah memiliki kehendak sendiri, terus memburu Charlie tanpa jeda, tak terpengaruh oleh gerakan menghindar tuannya.
Charlie mulai kehabisan akal. Ia tidak memiliki harta sihir ofensif yang memadai. Baik Kitab Sembilan Surgawi maupun Segel Tangan Tathagata Matahari Agung tidak efektif dalam pertarungan jarak dekat.
Sebaliknya, Brovnen semakin menemukan ritmenya.
Setelah sempat kebingungan di awal, kini ia sepenuhnya menguasai alur pertempuran.
Ia sangat mahir mengendalikan pedang terbang. Meski pedang itu bukan jenis yang memungkinkan terbang bebas, dengan kendali energi spiritualnya, pedang itu tetap menjadi senjata mematikan.
Pedang tersebut adalah harta sihir buatan Victoria, memiliki kemampuan memanjang hingga sepuluh kali lipat. Dalam kondisi normal, panjangnya hanya sekitar satu kaki—sederhana, namun sangat tajam.
Ia mampu membelah besi seperti lumpur, menembus batu layaknya kertas. Lebih mengerikan lagi, pedang itu bisa dikendalikan sepenuhnya oleh kehendaknya, bahkan mampu mengejar target secara otomatis.
Dibandingkan dengan Pedang Penembus Jiwa milik Charlie, senjata ini jelas jauh lebih unggul.
Meskipun Charlie mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghindar, kecepatan pedang itu terlalu luar biasa.
Ia hanya bisa mencari celah untuk berhenti sejenak, lalu menggunakan energi spiritualnya mencoba menangkap pedang tersebut.
Namun pedang itu begitu lincah. Saat Charlie berusaha mencegatnya, pedang itu tiba-tiba berbelok tajam sembilan puluh derajat, melesat ke langit, lalu menukik kembali dengan kecepatan mengerikan.
Frustrasi mulai menggerogoti hati Charlie. Ia kembali mengumpulkan energi spiritual di atas kepalanya, tetapi lawannya sekali lagi mengubah arah.
Menangkap pedang terbang hanya dengan energi spiritual membutuhkan konsentrasi dan kepadatan energi yang sangat tinggi. Sesuatu yang jauh lebih sulit dan tidak efisien dibandingkan cara lawan mengendalikannya.
Kali ini, Charlie hampir berhasil memusatkan perhatian pada pedang di atas kepalanya. Namun pada detik berikutnya, pedang itu sudah melintas dan menyerang dari belakang.
Ia tak punya waktu untuk bereaksi sempurna.
Dalam keadaan terdesak, ia hanya bisa menahan napas, membentuk perisai energi spiritual tak kasatmata di punggungnya, sembari menerjang ke depan untuk menghindar.
Detik berikutnya—
Sebuah kekuatan dahsyat menghantam punggungnya.
Perisai itu hanya mampu menahan sekejap sebelum hancur berkeping-keping. Untungnya, jeda singkat itu memberi Charlie waktu untuk bergerak, sehingga pedang tidak menembus punggungnya sepenuhnya.
Namun, saat ia melesat maju, ujung pedang tetap menggores punggungnya—dalam, hingga hampir mencapai tulang.
Rasa sakit yang tajam menyambar, diikuti sensasi panas dan basah. Ia bisa merasakan darah mengalir deras, meresap melalui pakaiannya. Udara di sekitarnya dipenuhi aroma besi yang pekat.
Charlie tak berani memikirkan hal lain. Ia segera mengerahkan energi spiritual untuk menutup luka itu secepat mungkin.
Jika ia harus menghindar lagi dalam kondisi ini, lukanya bisa semakin parah—bahkan berakibat fatal.
Di ambang hidup dan mati itu, sebuah pemahaman muncul dalam benaknya.
Dalam pertarungan antara tombak dan perisai, yang diuji bukan hanya ketajaman atau kekuatan, tetapi juga kecepatan.
Jika tombak bergerak lebih cepat daripada perisai, maka bahkan pertahanan terkuat pun akan menjadi sia-sia.
Demikian kisah/cerita dari Novel Charlie Wade Bab 7519 – 7520 gratis online. Semoga terhibur.
The Charismatic Charlie Wade / The Amazing Son-in-Law Chapter bab Novel Charlie Wade Bab 7519 – 7520.
Leave a Reply